Badut Oyen

Badut Oyen, Gramedia Writing Project Penulis: Marisa Jaya, Dwi Ratih Ramadhany, Rizki Novianti, 2014, 224 hlm. Rating: 4/5

Badut Oyen, Gramedia Writing Project
Penulis: Marisa Jaya, Dwi Ratih Ramadhany, Rizki Novianti, 2014, 224 hlm.
Rating: 4/5

Pria yang mati gantung diri di rumahnya dengan mengenakan kostum badut itu bernama Oyen. Warga sekitar tidak menyangka Oyen akan mengakhiri hidupnya dengan cara yang demikian tragisnya. Padahal selama ini Oyen dikenal selalu baik terhadap siapapun (terutama anak-anak) sekalipun banyak yang memperlakukan Oyen dengan tidak baik.

Sehari-hari Oyen bekerja sebagai badut panggilan. Pekerjaannya itu selalu ia lakukan dengan ikhlas walau kadang ada saja pemesan yang menunggak bayaran buat Oyen. Dan Oyen dengan segala kerendahanhatinya tentu tidak tega menagih utang kendati dia sendiri sangat butuh uang untuk membiayai utang-utangnya yang semakin lama semakin membengkak lantaran berurusan dengan rentenir bernama Syamsul.

Setiap harinya, Oyen dibantu Suparni. Perempuan yang satu ini dulu adalah teman sekampus Oyen. Selama Oyen bekerja, ialah yang membantu Oyen menjaga toko perlengkapan badutnya. Suparni sudah seperti saudara bagi Oyen karena setiap saat hidupnya selalu diurus Suparni. Mulai dari bebenah rumah hingga menyiapkan makanan buat Oyen. Suparni sebenarnya sudah lama memiliki rasa pada Oyen. Namun Oyen tampak tidak menyadarinya.

Maka, wajarlah kalau di hari tewasnya Oyen, Suparni adalah orang yang paling terpukul dan syok berat. Ia sampai pulang ke kampung halamannya untuk menenangkan diri. Sampai akhirnya desa tempat Oyen geger karena kematian beberapa penduduknya yang tidak wajar dan semua bukti-bukti mengarah pada Oyen yang sudah mati seminggu lalu.

Hantu Oyen menuntut balas. Satu persatu penduduk desa mati. Pak RT harus segera cari cara supaya teror ini berhenti. Benarkah hantu Oyen pelakunya? Pak RT ragu.

Sampai di tengah cerita saya masih berpikir bahwa ini novel horor (hantu). Ternyata mendekati akhir cerita, mulai terkuak satu per satu kebenaran yang sukses mengecoh pembaca dan akhirnya saya bisa bilang bahwa ini novel thriller.

Novel ini merupakan salah satu novel hasil Gramedia Writing Project yang ditulis oleh 3 orang. Editor novel ini adalah Anastasia Aemilia yang menulis Katarsis, salah satu novel thriller yang sangat saya suka. Walaupun tidak segelap Katarsis, novel ini recommended buat pembaca horor dan thriller. Saya, meskipun tidak terlalu, sukses merinding membaca ceritanya. Sepertinya hantu Oyen benar-benar ada di sekitar saya! Hiii…

Soal penuturan, saya tidak bisa komentar banyak. Yang jelas tidak ada yang terlalu istimewa dalam gaya penulisan. Kalimat-kalimatnya sangat ringan dan mudah dipahami. Keseruannya adalah menebak ada apa sebenarnya di balik kematian Oyen dan teror yang menghantui desa.

Meskipun ditulis oleh 3 penulis berbeda, saya tidak merasa ada gaya bercerita yang berbeda. Tapi justru menurut saya ini bagus mengingat akan aneh sekali bila tiba-tiba kita membaca satu cerita dengan gaya bercerita yang beda. Perpindahannya akan terasa sangat mengganggu pastinya.

Bicara soal fisik buku ini, desain sampulnya adalah salah satu faktor yang membuat saya akhirnya menyukai buku ini. Sebuah siluet badut yang memegang martil di tangan kanannya. Martil itu sepertinya meneteskan darah. Tapi sayang sekali di dalam buku ini tidak ditemukan satu pun adegan dengan martil kalau saya tidak salah ingat. Jadi, kenapa harus ada martil di kaver depan?

Buku ini juga memiliki ketebalan yang cukup dengan jumlah 224 halaman yang sanggup mengikat Anda untuk tetap diam di tempat menuntaskan buku ini sampai selesai sambil sibuk menerka-nerka misteri di baliknya.

Jadi, menurut Anda, kenapa Oyen gantung diri?

Konspirasi Kemakmuran???

Rencana Besar

Rencana Besar

Rencana Besar by Tsugaeda
Paperback, 384 pages
Published 2013 by Penerbit Bentang (PT Bentang Pustaka)
ISBN139786027888654. Rating 5 of 5

Sebelumnya saya ingin sedikit bercerita tentang proses mendapatkan buku ini. Buku ini saya dapat dari giveaway yang diadakan penulis, Tsugaeda, di salah satu thread di Goodreads. Saya sendiri padahal, jujur, tidak aktif dan rajin mengunjungi Group GRI. Waktu itu, seorang teman, Mas Tezar, yang terlihat di newsfeed saya tercatat habis mengomentari sebuah thread giveaway. Maka, mampirlah saya ke sana. Ternyata syaratnya cukup mudah. Hanya memposting di thread tersebut bahwa saya menginginkan buku itu dan selanjutnya oenulis yang akan menilai. Hmmm, saya tidak terlalu berharap, saat itu. Jadi yah nothing to lose saja. Buku ini sebelumnya sudah saya timang-timang ketika tempo hari saya ke toko buku.

Melihat sinopsis di belakangnya dan judulnya yang terkesan misterius membuat saya tertarik sehingga langsung memasukkan buku ini dalam wishlist saya. Sebelumnya, saat saya membaca nama penulisnya, saya kira ini novel terjemahan dari Jepang. Ternyata, lho kok? Nama tokoh-tokohnya Indonesia sekali? Hehehehe… Kemudian ndilalah, Tuhan mengabulkan doa saya, sehingga saya bisa membaca buku ini dan kemudian mereviewnya di sini. Entah apa yang membawa saya sebagai pemenang. Faktor keberuntungan, mungkin? Alhamdulillah dan terima kasih, Mas Tsugaeda ^.^

Anyway, saya rasa bukan saya saja yang penasaran dengan nama si penulis yang kejepang-jepangan. Betul? :-P

Oke. Cukup ceritanya. Sekarang saya akan mengulas buku ini secara keseluruhan berdasarkan sudut pandang saya.

Sinopsis

Kalau Anda bertanya kepada saya apakah di Negara kita ini ada profesi sebagai detektif, saya akan jawab tidak. Kenapa? Hmmm, saya pernah menanyakan hal ini kepada seorang yang saya yakini dia pintar, dan dia bilang begitu. Jadi pada dasarnya saya hanya meng-copy jawaban dia saja. Hahahaha. Eh, tapi benar ‘kan tidak ada profesi detektif di Indonesia? *make sure*

Seperti tokoh utama dalam buku ini, namanya Makarim Ghanim. Makarim bukan seorang detektif, tapi pengalamannya dalam memberi masukan bagi perusahaan-perusahaan besar dan pemerintah membuatnya cukup dikenal. Salah satunya, Agung Sudiatma. Agung adalah seorang wakil direktur sebuah bank yang bernama Universal Bank of Indonesia (UBI), ia meminta bantuan kepada Makarim untuk menyelesaikan kasus lenyapnya uang sebesar 17 milyar dari laporan keuangan UBI secara misterius.

Tersebutlah tiga nama karyawan UBI Cabang Surabaya.

Rifad Akbar.

Amanda Suseno

Dan, Reza Ramaditya.

Continue reading

Katarsis

Speechless!
Seandainya 5 bintang sudah cukup untuk mendeskripsikan bagaimana kerennya buku ini. Sayang saja, sepertinya kalian masih akan menuntutku untuk bercerita apa kerennya buku ini.
17786536Judul Buku: Katarsis
Penulis: Anastasia Aemilia
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2013
Tebal: 264 halaman
Genre: Psychology Thriller
Rate: 5 of 5

Aduh saya sebenarnya bingung mau mulai mereview dari mana. Buku ini bagusnya gila-gilaan! *tuhkan belum apa-apa, udah lebai* -_-“ Tapi aseli saya bingung mau nulis apa.

Buku ini perfect di mata saya. Mulai dari desain kaver sampai ke jeroan-jeroannya. Percaya atau nggak, awalnya saya sama sekali nggak tertarik buat baca buku ini. Bahkan waktu salah seorang teman mengadakan giveaway buku ini di blognya, saya seratus persen nggak ada minat buat ikutan. Karena apa coba? Karena saya pikir “Katarsis” itu semacam istilah kimia. Tapi dodol bin dudul, yang istilah kimia itu adalah Katalis bukan Katarsis. Hahahaha… *headbang*

Kemudian karena penasaran dengan arti kata Katarsis, layaknya manusia modern masa kini *sedap*, saya googling. Inilah yang saya temukan:
Katarsis: merujuk pada upaya pembersihan atau penyucian diri, pembaharuan rohani dan pelepasan diri dari ketegangan. – wikipedia

Saatnya untuk bilang WOW!

Continue reading

Ending yang Tidak Terduga

Judul Buku : Pintu Terlarang
Penulis : Sekar Ayu Asmara
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 264 Halaman
Tahun Terbit : 2009 (sebelumnya pernah diterbitkan oleh PT Andal Krida Nusantara [AKOER] tahun 2004)
Harga : Rp10,000 (Bazaar Buku Gramedia)

Suatu hari aku pernah ngetweet “paling sulit mereview buku yang kelewat bagus dan buku yang ancur ketulungan”. Nah, menurut aku, Pintu Terlarang masuk ke kategori yang pertama. Kelewat bagus. Entah apa karena aku begitu menyukai genre psychology thriller sehingga review cenderung tidak objektif.

Jika boleh saya katakan, buku ini terbagi dalam 3 (tiga) bagian. Di bagian awal buku, pembaca diajak untuk membaca kisah tentang seorang anak kecil berumur 9 tahun korban child abuse kedua orangtuanya. Karena memuntahkan makanan, si anak dihukum orangtuanya. Hukuman yang diberikan juga tidak main-main. Ibunya menyabet muka si anak dengan serbet dan mulut si anak dijejali kecoak! Si anak dipaksa menelan serangga kotor itu! Yaiks!

Di bab berikutnya dituturkan kisah tentang Gambir dan Talyda, sepasang suami istri yang saling mencintai. Kedua cinta mereka satu sama lain begitu besar. Gambir adalah seorang pematung terkenal. Sedang Talyda seorang direktur sebuah perusahaan. Di balik kesuksesan Gambir, Talyda ternyata memegang peranan besar. Perempuan itu menyimpan misteri tersendiri. Perempuan yang selalu mengenakan kalung dengan kunci sebagai liontinnya. Ya, kunci sebuah pintu terlarang.

Bagian ketiga memaparkan tentang kehidupan Ranti, seorang jurnalis sebuah majalah metropolitan, yang sedang melakukan penelitian atas artikel yang akan dimuat. Di sini ia bertemu dengan sosok “dia” yang selama 18 tahun mendekam di sel isolasi sebuah rumah sakit jiwa.

Selintas memang terkesan gak ada hubungan di antara ketiga bagian di atas. Eits, tapi sebenernya ada banget! Dan pembaca pasti akan terbingung-bingung selama membuka halaman demi halaman. Sulit untuk menebak apa yang sebenarnya terjadi dengan Gambir? Apa rahasia yang disembunyikan Talyda di balik pintu terlarang? Siapa sebenernya sosok “dia” yang ditemui Ranti dan apa hubungannya dengan anak kecil yang mengalami child abuse itu? Semua menjadi misteri.

Sampai aku akhirnya di bagian akhir cerita yang bahkan sampai tersisa dua halaman pun tetep belum ketebak misterinya! Benar-benar menggemaskan! Dan begitu segala rahasia terkuak, aku merinding. Satu kata untuk novel ini : gila!

Gila, karena novel ini bikin mikir, dan itu seru. dibanding novel yang datar-datar saja.

Gila karena nama tokohnya yang sangat njawi dan aku suka itu.

Gila karena di dalam novel ini dideskripsikan adegan violence dan seksual yang lumayan bikin mual.

Melihat kavernya sudah bisa terasa kesan mistis. Sayang, mungkin orang akan ilfil duluan enggan mengambil buku ini dari deretan rak di toko buku karena desainnya yang agak njadul. Oh, iya, gak perlu khawatir soal huruf yang rapat-rapat yang cenderung akan membuat pembaca bosan, karena buku ini ditulis dengan jenis dan size huruf yang friendly. Dijamin gak cepat bikin mata lelah.

Dengan alur maju mundur yang ditata apik dan tidak biasa membuat novel ini begitu menarik untuk dibaca. Recommended buat Anda pecinta thriller dan misteri. Penulis dengan lihai memainkan kata-kata sehingga sukses bikin saya penasaran sampai akhir cerita, menebak-nebak akan seperti apa endingnya yang ternyata WOW!

p.s : Ini termasuk kategori NOVEL DEWASA. Novel ini juga pernah difilmkan. Walaupun aku sendiri belum pernah nonton, tapi pas baca synopsis di Wikipedia, bisa ketahuan kalau film dan bukunya ini beda banget, meski secara garis besar jalan ceritanyanya sama. Nama tempat berbeda dan ada pembelokan cerita yang lumayan jauh berbeda.

Cetak Ulang Edisi Kaver Film

Yang Terlihat Baik, Belum Tentu Baik

Gambar

Judul Buku : Dua Sisi Susi

Penulis : Donatus A. Nugroho dkk

Penerbit : Nikko Publishing

Tahun Terbit : 2012

 Rate :3/5

 

Yap! Setuju kan dengan statement di atas? Seorang perempuan yang sekilas terlihat pendiam ternyata bisa tega membunuh siapa saja. Atau seorang anak yang selama 20 tahun disiksa ayahnya selau diam dan tidak melawan namun pada akhirnya ternyata ia mampu berontak dan kemudian membunuh ayahnya sendiri?

Jangan salah, ini kumcer lho. Temanya tentang seorang Susi yang mempunyai sisi hitam dan putih. Ya, di buku ini terdapat 21 cerita dari 21 penulis muda dan berbakat. Masing-masing penulis menggunakan nama Susi sebagai tokoh utama di setiap ceritanya. Ada yang menceritakan Susi dengan grup bandnya yang rela membunuh temannya sendiri demi menjadi vokalis di band itu. Atau Susi yang setiap hari hanya mengintip dari lubang kunci pintu, memastikan anaknya sudah makan atau belum (ia tidak bisa melakukan dengan normal selayaknya para ibu lain karena dia ternyata sudah jadi kunti). Atau Susi yang suka petualangan dengan hantu sampai suatu saat dimintai tolong oleh sang hantu untuk mengungkap kasus kematian sebenarnya si hantu tersebut. Satu tema, banyak cerita. Meskipun begitu, setiap cerita dalam buku ini punya keunikan tersendiri yang selalu membuat saya berdecak kagum. Dijamin tidak akan membosankan. Selain itu juga di beberapa cerita juga dituliskan hal-hal semacam klenik di beberapa daerah di Indonesia.

Dan seperti khas cerita misteri lainnya, terkadang ending cerita membuat pembaca berpikir dan meraba-raba sendiri maksud dari cerita itu. Walaupun ada juga beberapa cerita yang sangat mudah ditebak akhir ceritanya. Ada juga penulis yang menceritakan suatu proses kematian dengan detail. Seperti mendeskripsikan bagaimana pisaunya menembus organ tubuhnya sehingga kemudian mengeluarkan cairan kental berwarna merah yang berbau anyir. Tapi ada juga yang hanya sekelebatan menceritakan adegan pembunuhan. Overall, ceritanya oke dan cocok buat Anda yang suka horror, thriller, misteri. Bacaan ringan pengantar tidur. Hohohoho.

Terlepas dari cover, kertas, dan penjilidannya yang gak banget (lembarannya mudah lepas). Saya kasih 3 bintang untuk antologi ini. Untuk penulisnya yang imajinatif, untuk informasi tentang kleniknya, untuk ketegangan yang sukses saya rasakan saat saya membacanya.

P.S : Kalau Anda ingin lebih merasuk ke dalam ceritanya, buku ini sebaiknya dibaca pada malam hari yang sepi. Tapi dibaca saat jam istirahat di kantor pun tetap bisa terasa hawa mistisnya kok. :D

Dibenci Mertua Karena Miskin

Judul Buku : Misteri Dilema Seorang Menantu

Penulis : S. Mara Gd

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit : 1988

Rate : 5/5

Gambar

Awalnya saya sempat underestimate dengan penulis thriller local, sampai seorang sesepuh di komunitas buku bilang kalau ternyata penulis thriller local gak galah keren dengan penulis thriller interlokal. *halah

Jadi ceritanya ada seorang laki-laki bernama Hengki yang dibenci keluarga istrinya karena miskin sedangkan si keluarga istri ini tuh berdarah ningrat banget. Kebencian keluarga Suryobroto itu begitu mendarah daging membuat Hengki tidak betah tinggal di rumah ibu mertuanya. Hengki memutuskan untuk pindah saja dari rumah itu dan mandiri bersama keluarganya tapi dilarang oleh Ibu Suryobroto karena Hengki tidak punya uang. Ibu Suryobroto takut anaknya, Ratih, akan sengsara bila hidup dengan Hengki.

Suatu hari, atas desakan temannya, Soni, Hengki memutuskan untuk benar-benar serius pindah dari rumah itu setelah sebelumnya terjadi percobaan pembunuhan dua kali terhadap dirinya. Yang pertama, saat pesta ulang tahun ibu mertuanya, dia diracuni. Untung selamat karena ternyata HCl, racun yang dicampur ke dalam obat batuk Hengki, jumlahnya sedikit. Yang kedua, saat Soni meminjam mobil Hengki, Soni mengalamai kecelakaan. Remnya blong. Hengki curiga pada tukang bengkel sebelah rumahnya karena sehari sebelum mobil itu dipinjam, mobil itu sedang dibengkelkan di bengkel samping rumahnya itu. Sejak kasus kedua ini ia merasa benar-benar ada orang yang mengincar nyawanya.

Mengenai siapa pelakunya, kecurigaan Hengki tentu saja langsung tertuju kepada keluarga Suryobroto yang begitu membenci dirinya. Hengki sakit hati benar. Kehadirannya benar-benar tidak diinginkan oleh keluarga Suryobroto. Sampai terdengar kabar, Hengki akhirnya mati ditusuk pisau oleh penodong di ujung jalan. Siapa sebenarnya dalang di balik pembunuhan Hengki? Benarkah mati ditusuk oleh penodong? Adakah motif lain di balik kematian Hengki?

Well, novel ini begitu cepat alurnya. Saya sendiri saat membacanya seperti sedang menonton adegan demi adegan dalam sebuah film thriller. Walaupun buku ini agak tebal (sekitar 370-an halaman) gak bikin cepet bosen kok. Konfiknya begitu masuk akal dan tidak berlebihan. Sudut pandang dipaparkan dari berbagai macam tokoh dan si penulis sangat piawai menggambarkan karakter-karakter setiap tokoh-tokohnya sampai saya merasa benar-benar merasuk ke jiwa. *halah

Seperti layaknya cerita thriller lainnya, penulis mampu dengan baik membawa kita menebak-nebak siapa pembunuhnya dan bagaimana cara membunuhnya. Ya! Penulis pandai mengajak kita untuk berpikir kira-kira endingnya akan seperti apa ya, hehe. Saya sendiri sempat tergoda untuk langsung baca endingnya saking penasarannya. Tapi akhirnya saya tahan juga karena ingin menikmati alur ceritanya yang begitu mengalir.

5 dari 5 bintang untuk novel thriller karya anak bangsa ini! :D