Cinta yang Takkan Terganti

Judul Buku : Sebagai Pengganti Dirimu
Penulis : Andrei Aksana
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : Cetakan ke-2, September 2011
Tebal : 320 halaman
Harga : Rp 62.000,00
Rate : 3/5

~~~Betulkan cinta tidak pernah tergantikan? Sekalipun telah menorehkan luka dan dendam?~~~

Satu lagi karya anak bangsa, penulis romance muda pria, Andrei Aksana. Seperti apa dan bagaimana tulisannya? Let’s check it out!

***

Di awal cerita, kita akan disuguhkan cerita seorang perempuan bernama Sadira yang sejak kecil terlalu disayang oleh orangtuanya yang over protektif, menjadikan Sadira tumbuh menjadi gadis yang pemberontak. Dia melarikan diri di hari pernikahannya. Tentu karena ia tidak pernah setuju dengan perjodohan ini. Ia tidak pernah mau menikahi Martin yang tidak dicintainya. Terlebih ia juga tahu kalau Martin hanya mengincar kekayaan keluarganya saja.

Alasan Sadira menikah muda adalah karena ia tengah berbadan dua. Pacarnya, Glenn, yang menghamilinya tidak mau mempertanggungjawabkan perbuatannya itu dengan alasan masih belum mapan secara ekonomi. Ya, mereka berdua memang masih kuliah. Padahal, Sadira ikhlas dihamili Glenn bukan karena Sadira menganut freesex melainkan karena ia tidak tahan atas kungkungan ibunya yang suka membatas-batasi pergaulannya. Makanya, ia ingin menunjukkan pemberontakkannya itu dengan hamil berharap ibunya mau menikahkannya dengan Glenn. Namun nyatanya usaha itu pun sia-sia. Ibunya tidak mau menikahkan dia dengan Glenn karena dianggap Glenn belum mampu secara finansial serta berasal dari keluarga broken home.

Sadira akhirnya nekat kabur bersama supir limusin pengantin sewaannya. Supir itu bernama Feran. Nama yang terlalu bagus untuk seorang supir. Selama di persembunyiannya, Feran lah yang membantu Sadira memenuhi kebutuhan sehari-hari, karena saat kabur Sadira tidak membawa harta benda sama sekali. Hidup bersama Feran membuat perubahan dan pelajaran banyak bagi Sadira. Ia tidak lagi menjadi gadis manja dan angkuh karena kekayaannya, serta belajar menghargai orang miskin, dan tidak arogan.

Lama-lama timbul benih-benih cinta di antara mereka. Keduanya saling menyukai namun sama-sama tidak berani mengungkapkannya. Sampai anak Sadira lahir, semua perasaan itu masih mereka simpan dalam hati masing-masing. Sadira pikir hidupnya akan berjalan bahagia dengan adanya Feran di sisinya, hingga Glenn muncul kembali ke hadapan Sadira membawa kenangan lama dan menginginkan Sadira dan anak mereka untuk hidup bersamanya. Tak memungkiri, sesungguhnya Sadira masih memiliki sebagian sisa rasa cinta untuk Glenn.

Apakah Glenn berhasil menarik perhatian Sadira kembali padanya, di saat Sadira mulai nyaman dan mantap dengan perasaannya pada Feran? Sedangkan biar bagaimanapun, Glenn adalah ayah kandung buah hatinya, Rafa. Bukankah akan lebih baik jika Rafa tinggal dan hidup bersama Glenn, ayah kandungnya, ketimbang dengan Feran, yang hanya seorang supir mobil?

Ah, tentunya beruntung saya tidak punya masalah sepelik itu. Ya, membaca buku ini membuat saya, sebagai pembaca, lebih tersadar bahwa kekayaan bukan segalanya. Bahwa hidup yang kita pikir enak dan adem ayem saja ternyata ada tantangan besar menghadang di depan dan siap tidak siap, kita harus siap menghadapinya.

Alur cerita yang cenderung maju dalam buku ini membuat saya tidak sabar ingin membaca sampai habis. Meskipun jujur konflik yang terjadi sangat biasa dan umum sekali seperti yang biasa kita lihat di sinetron-sinetron di televisi. Sarat dengan konflik keluarga, anak yang durhaka, suami takut istri, kebohongan demi kebaikan (Feran ternyata bukan supir limusin biasa), permusuhan antara ibu dan anak (Ibu Sadira memusuhi Sadira sekian tahun lamanya karena dianggapnya Sadira telah mempermalukan nama keluarga) dan ending yang bisa dengan mudah tertebak. Beneran deh, nggak perlu mengernyitkan dahi membaca buku ini. Problem antar satu bab dengan bab lain juga cepat tepat, tidak bertele-tele sehingga tidak membuat pembaca jenuh harus berkutat dengan yang itu-itu saja.

Sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang penulis serba tahu. Sudut pandang inilah yang memudahkan kita memahami dan mencerna isi cerita.

Untuk segi penulisan, Andrei menggunakan tata cara penulisan sesuai EYD (Ejaan Yang Disempurnakan). Agak sedikit kaku dan mengganggu buat pembaca yang tidak begitu menyukai novel dewasa. Dan memang, ditinjau dari segi cover depan dan belakangnya, buku ini sudah terasa “dewasa”. Jadi, buat kamu yang biasa baca teenlit dkknya, agaknya butuh iman lebih untuk bisa enjoy baca buku ini. Hehehehe.

Oh iya, meskipun buku ini cukup tebal (320 halaman) buku ini tidak menggunakan kertas yang berat kok, jadi tetap nyaman buat dibawa-bawa, dan penggunaan font dengan size yang sesuai (gak terlalu besar atau kecil) tidak membuat pembaca terganggu dan ilfil.

So, untuk cerita yang biasa-biasa saja, konflik yang umum, dan ending yang bisa ditebak, namun cukup banyak pesan moral yang saya dapat, saya kasih bintang 3 dari 5 bintang.

Advertisements

Yang Terlihat Baik, Belum Tentu Baik

Gambar

Judul Buku : Dua Sisi Susi

Penulis : Donatus A. Nugroho dkk

Penerbit : Nikko Publishing

Tahun Terbit : 2012

 Rate :3/5

 

Yap! Setuju kan dengan statement di atas? Seorang perempuan yang sekilas terlihat pendiam ternyata bisa tega membunuh siapa saja. Atau seorang anak yang selama 20 tahun disiksa ayahnya selau diam dan tidak melawan namun pada akhirnya ternyata ia mampu berontak dan kemudian membunuh ayahnya sendiri?

Jangan salah, ini kumcer lho. Temanya tentang seorang Susi yang mempunyai sisi hitam dan putih. Ya, di buku ini terdapat 21 cerita dari 21 penulis muda dan berbakat. Masing-masing penulis menggunakan nama Susi sebagai tokoh utama di setiap ceritanya. Ada yang menceritakan Susi dengan grup bandnya yang rela membunuh temannya sendiri demi menjadi vokalis di band itu. Atau Susi yang setiap hari hanya mengintip dari lubang kunci pintu, memastikan anaknya sudah makan atau belum (ia tidak bisa melakukan dengan normal selayaknya para ibu lain karena dia ternyata sudah jadi kunti). Atau Susi yang suka petualangan dengan hantu sampai suatu saat dimintai tolong oleh sang hantu untuk mengungkap kasus kematian sebenarnya si hantu tersebut. Satu tema, banyak cerita. Meskipun begitu, setiap cerita dalam buku ini punya keunikan tersendiri yang selalu membuat saya berdecak kagum. Dijamin tidak akan membosankan. Selain itu juga di beberapa cerita juga dituliskan hal-hal semacam klenik di beberapa daerah di Indonesia.

Dan seperti khas cerita misteri lainnya, terkadang ending cerita membuat pembaca berpikir dan meraba-raba sendiri maksud dari cerita itu. Walaupun ada juga beberapa cerita yang sangat mudah ditebak akhir ceritanya. Ada juga penulis yang menceritakan suatu proses kematian dengan detail. Seperti mendeskripsikan bagaimana pisaunya menembus organ tubuhnya sehingga kemudian mengeluarkan cairan kental berwarna merah yang berbau anyir. Tapi ada juga yang hanya sekelebatan menceritakan adegan pembunuhan. Overall, ceritanya oke dan cocok buat Anda yang suka horror, thriller, misteri. Bacaan ringan pengantar tidur. Hohohoho.

Terlepas dari cover, kertas, dan penjilidannya yang gak banget (lembarannya mudah lepas). Saya kasih 3 bintang untuk antologi ini. Untuk penulisnya yang imajinatif, untuk informasi tentang kleniknya, untuk ketegangan yang sukses saya rasakan saat saya membacanya.

P.S : Kalau Anda ingin lebih merasuk ke dalam ceritanya, buku ini sebaiknya dibaca pada malam hari yang sepi. Tapi dibaca saat jam istirahat di kantor pun tetap bisa terasa hawa mistisnya kok. 😀

Dibenci Mertua Karena Miskin

Judul Buku : Misteri Dilema Seorang Menantu

Penulis : S. Mara Gd

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit : 1988

Rate : 5/5

Gambar

Awalnya saya sempat underestimate dengan penulis thriller local, sampai seorang sesepuh di komunitas buku bilang kalau ternyata penulis thriller local gak galah keren dengan penulis thriller interlokal. *halah

Jadi ceritanya ada seorang laki-laki bernama Hengki yang dibenci keluarga istrinya karena miskin sedangkan si keluarga istri ini tuh berdarah ningrat banget. Kebencian keluarga Suryobroto itu begitu mendarah daging membuat Hengki tidak betah tinggal di rumah ibu mertuanya. Hengki memutuskan untuk pindah saja dari rumah itu dan mandiri bersama keluarganya tapi dilarang oleh Ibu Suryobroto karena Hengki tidak punya uang. Ibu Suryobroto takut anaknya, Ratih, akan sengsara bila hidup dengan Hengki.

Suatu hari, atas desakan temannya, Soni, Hengki memutuskan untuk benar-benar serius pindah dari rumah itu setelah sebelumnya terjadi percobaan pembunuhan dua kali terhadap dirinya. Yang pertama, saat pesta ulang tahun ibu mertuanya, dia diracuni. Untung selamat karena ternyata HCl, racun yang dicampur ke dalam obat batuk Hengki, jumlahnya sedikit. Yang kedua, saat Soni meminjam mobil Hengki, Soni mengalamai kecelakaan. Remnya blong. Hengki curiga pada tukang bengkel sebelah rumahnya karena sehari sebelum mobil itu dipinjam, mobil itu sedang dibengkelkan di bengkel samping rumahnya itu. Sejak kasus kedua ini ia merasa benar-benar ada orang yang mengincar nyawanya.

Mengenai siapa pelakunya, kecurigaan Hengki tentu saja langsung tertuju kepada keluarga Suryobroto yang begitu membenci dirinya. Hengki sakit hati benar. Kehadirannya benar-benar tidak diinginkan oleh keluarga Suryobroto. Sampai terdengar kabar, Hengki akhirnya mati ditusuk pisau oleh penodong di ujung jalan. Siapa sebenarnya dalang di balik pembunuhan Hengki? Benarkah mati ditusuk oleh penodong? Adakah motif lain di balik kematian Hengki?

Well, novel ini begitu cepat alurnya. Saya sendiri saat membacanya seperti sedang menonton adegan demi adegan dalam sebuah film thriller. Walaupun buku ini agak tebal (sekitar 370-an halaman) gak bikin cepet bosen kok. Konfiknya begitu masuk akal dan tidak berlebihan. Sudut pandang dipaparkan dari berbagai macam tokoh dan si penulis sangat piawai menggambarkan karakter-karakter setiap tokoh-tokohnya sampai saya merasa benar-benar merasuk ke jiwa. *halah

Seperti layaknya cerita thriller lainnya, penulis mampu dengan baik membawa kita menebak-nebak siapa pembunuhnya dan bagaimana cara membunuhnya. Ya! Penulis pandai mengajak kita untuk berpikir kira-kira endingnya akan seperti apa ya, hehe. Saya sendiri sempat tergoda untuk langsung baca endingnya saking penasarannya. Tapi akhirnya saya tahan juga karena ingin menikmati alur ceritanya yang begitu mengalir.

5 dari 5 bintang untuk novel thriller karya anak bangsa ini! 😀

Kumpulan Cerpen Ratih Kumala

Judul Buku : Larutan Senja

Penulis : Ratih Kumala

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Rate : 3/5

Kumpulan Cerpen milik Ratih Kumala yang pertama kali saya baca. Cerita-cerita di dalamnya ragam genre. Cocok untuk bacaan santai di sore hari atau sembari menunggu. Terdapat 14 cerita dalam buku ini. Semuanya ditulis dengan gaya bahasa yang lumayan nyastra. Salah satu cerita yang paling berkesan adalah cerita pertaman berjudul Sang Paradji.

Sang Paradji menceritakan tentang seorang paradji. Paradji di sini biasa kita tahu sebagai dukun kampung. Nah, paradji ini dituduh mengguna-guna seorang penduduk desa, suami Nastiti. Akhirnya, seisi desa termakan provokasi Nastiti sehingga paradji diarak kemudian berencana untuk dibakar hidup-hidup. Namun Nastiti membebaskan paradji dengan syarat paradji harus angkat kaki dari kampung ini. Karena tidak ada paradji di desa itu, Nastiti akhirnya menjadi paradji. Nastiti menjadi paradji dukun beranak, membantu para ibu melahirkan.

Sejak kepergian Paradji, Nastiti telah berubah sosoknya seperti mak lampir. Ia tidak lagi bergincu dan berbedak. Bajunya lusuh. Rambutnya acak-acakan. Dan paradji, Ia ternyata semakin sukses di tiga dusun lainnya. Mendengar itu Nastiti marah. Suatu hari Nastiti mendatangi rumah paradji di desa seberang. Ia menikam dada paradji dengan belati. Di penghujung ajalnya, paradji dendam kepada Nastiti dan berkata : “Aku akan datang melalui bayi yang lahir dalam jangka waktu tujuh purnama dan menusukkan belati ini ke dadamu”.

Selama tujuh purnama, Nastiti mencoba menggagalkan kelahiran bayi-bayi dengan menebar virus kepada ibu-ibu hamil dan memastikan tidak ada janin yang selamat. Tapi ternyata, ada satu perempuan pendatang yang luput dari virus Nastiti. Hmmm, seru bukan menantikan kisah Nastiti selanjutnya? Baca saja 🙂

Kumcer ini berjudul larutan senja karena ada satu cerita yang berjudul larutan senja dengan ‘tuhan’ sebagai tokoh utamanya. Menurut saya, Ratih Kumala merupakan seorang penulis yang berani membuat tokoh tuhan dianalogikan sebagai manusia. Ada pula cerita tentang kelahiran dan pengorbanan Perawan Maria dan anak yang dikandungnya, Mesias. seperti kita semua tahu bahwa dari perut Maria lah Yesus lahir. Sounds interesting kan? Tapi tenang, menurut saya tidak ada SARA di buku ini. Meskipun teknik penokohannya agak kontroversial, tapi Ratih Kumala mempu menyajikannya dengan gaya menulis yang beretika.

Mending Pacaran Sama Anjing atau Sama Cowok?!

Image

Judul Asli : Macarin Anjing

Penulis : Christian Simamora

Penerbit : Gagas Media

Rate : 2/5

Cerita percintaan anak remaja SMA biasa yang masih labil dan doyan galau. Tidak ada twist yang memuaskan. Sangat bisa ditebak jalan ceritanya. Okay, the story goes…

Mengisahkan tentang Libby (Liberache) seorang remaja putri bersama dengan dua orang sahabatnya bernama Bianca dan Miata. Ketiganya sudah bersahabat sejak lama. Mereka bertiga memiliki problem yang sama : pernah dipermainkan sama cowok. Dimulai dari Libby yang punya pengalaman buruk dengan mantan pacarnya bernama Dogma yang doyan selingkuh, Libby mewanti-wanti kedua temannya ini agar waspada sama cowok. Sayangnya, cinta terlanjur membutakan mata Bianca dan Miata.

Bianca punya pacar bernama Nariano. Cowok ganteng, jago basket, tapi sayangnya ga punya otak. Pemakai narkoba, hampir ga naik kelas, berandal kelas akut deh. Berbanding terbalik sama Bianca, cewek pintar, cantik, baik hati, dan berisi (otaknya). Bianca sayang banget sama Nariano bahkan saat teman-temannya meyakinkan kalau Nariano itu ga pentes buat BIanca, dia tetap berikukuh untuk terus jadi pacar Nariano. Sampai akhirnya, Bianca sadar, saat Nariano teler akibat narkoba yang dikonsumsinya dan memukul wajah Bianca. Sejak saat itu dia menutup pintu hatinya untuk Nariano selama-lamanya.

Miata itu ibarat Ladya Cheryl di film Ada Apa Dengan Cinta. Kalem. Dia menyukai satu cowok, namanya Saul. Sayangnya, cinta Miata bertepuk sebelah tangan. Saul hanyalah seorang pemain basket biasa yang menganggap Miata teman sekaligue fans. Gak lebih. Miata kecewa, padahal selama ini dia selalu ada untuk Saul. Herannya, meskipun Miata tahu Saul ga ada perasaan apa-apa terhadapnya, Miata masih sudi lho menonton pertandingan basketnya Saul. Fiuh, cinta… cinta…

Libby, adalah tokoh utama di novel ini. Setelah putus dengan Dogma, Libby bertemu tanpa sengaja dengan Nico, yang tak lain tak bukan adalah sahabat baiknya Dogma. Awalnya, Libby berpikir Nico akan sama saja dengan Dogma. Ternyata Libby salah. Nico sangat berbeda. Tapi… kok Nico deket banget sama Brittany yah? Adik kelas Libby yang blasteran itu. Wah, ternyata Nico sama aja kayak Dogma! Grrr!

Berdasarkan pengamatan dan pengalaman di sekitarnya, Libby berniat menulis list panjang kenapa cowok itu ga lebih baik daripada anjing. That’s why judulnya Macarin Anjing.

***

Ada hubungan apa sebenernya Brittany dengan Nico?
Kenapa Libby lebih memilih buat pacaran sama anjing aja daripada sama cowok? Apa sih pembandingnya?
Berarti Libby jadi anti cowok dong?
Yah, pokoknya baca aja!

Yang unik dari novel ini adalah penamaan tokoh-tokohnya yang ‘beda’. Seeperti misalnya : Nariano (kenapa ga naribalet?), Lieben, Miata (untung bukan miayam), Saul (tadinya mungkin Raul kali yak, dan masih banyak lagi nama-nama unik di dalamnya. Sayang sekali sampai saya tiba di akhir cerita, tidak ada ending yang mengejutkan. Semua serba standar. Meskipun begitu, seorang Christian Simamora sukses menambah pengetahuan pembacanya melalui footnote dan sudut pandang yang apik dalam memaparkan isi cerita.

Overall, buku ini termasuk jenis buku ringan yang mungkin disukai remaja jaman sekarang. Bahasanya ringan dan ga perlu mikir. Namun dengan berat hati, saya hanya memberi 2 dari 5 bintang yang saya punya. Terlalu datar dan typical sih.

Yang Baru Dari Adhitya Mulya

Judul Asli : Catatan Mahasiswa Ganteng Gila

Penulis : Adhitya Mulya

Penerbit : Republika

Tahun Terbit : 2011

Rate : 3/5

Hari di mana gw membeli buku ini adalah hari di mana gw menghabiskan buku ini. Nggak lain dan nggak bukan adalah karena gw penasaran tentang bagaimana sih kehidupan Mas Adhit (jika boleh dipanggil begitu) di kampus. Well, gw yang sudah doyan baca buku doi dari jaman sekolah pun masih nggak tahu kalau doi ternyata lulusan Teknik Sipil ITB. Nah, cerita yang disajikan di buku ini tentu saja tentang lika-liku hidupnya di dunia perkuliahan.

Banyak hal-hal yang dituangkan dalam buku ini. Yang paling gw inget adalah soal (ehem) cewek. Kisah-kisah Mas Adhit dengan cewek-cewek sipil (bikin gw gak habis pikir, kenapa cowok sipil masih cari cewek spil juga?). Lalu, ada kisah mengharukan saat Mas Adhit, katakanlah, mengabdikan dirinya sebagai pengajar dan juga orang tua asuh, mencoba menjadi wiraswasta dengan berjualan kambing kurban bersama teman-temannya (yang mana doi nggak punya modal apa-apa selain nekat!), kenakalan-kenakalan mahasiswa, dan kisah-kisah seru lainnya.

Secara kebetulan, gw anak teknik sipil juga. Jadi, otomatis gw mengerti banget segala istilah dan tetek bengek nasib mahasiswa sipil, termasuk saat menghadapi KP (Kerja Proyek) dan TA (Tugas Akhir). Sayangnya, saat gw memposisikan diri gw bukan sebagai mahasiswa sipil, gw yakin gw akan sedikit terganggu dengan banyaknya istilah teknik sipil dalam buku ini.

Setiap jeda antar bab, Mas Adhit memasukkan teori-teori pribadinya tentang segala macam dunia perkuliahan. Jujur, gw nggak terlalu fokus membacanya, karena menurut gw hal tersebut tidak menjadi bagian penting dalam isi buku secara keseluruhan, tetapi hanya sebagai lampiran saja. Buku ini juga terlihat kurang berkonsep (jika boleh gw bandingkan dengan buku personal literature lainnya).

Berbeda dengan buku-buku Mas Adhit yang pernah gw baca sebelumnya, buku ini terkesan lebih serius dan gw melihat sisi Mas Adhit yang lain (sedikit celetukan humor, dengan gaya berpikir dewasa) dalam buku ini. Actually, baca buku ini membuat gw seakan-akan sedang berkaca pada diri gw sendiri. Persis! Bagaimana Mas Adhit dkk kesulitan mencari tempat KP, partner KP, pembimbing KP. Begitu pun dengan TA. Gw banget.

Last but not least, dalam buku ini tersisip beberapa kisah yang menginspirasi hidup gw yang gw nggak pernah kira bahwa Mas Adhit akan menulis kisah sejenis itu. Tetap dengan humor gaya Adhitya Mulya yang cerdas dan menggelitik.

Too Much Love Will Kill You

Judul Buku : Apologia Latte (Ketika Cinta Menyisakan Luka)
Pengarang : Irfan L. Sar
Penerbit : PT Elex Media Komputindo
Tahun Terbit : 2011
ISBN :978-602-00-0831-8

Fiuh! Baru kali ini saya dikerjain sama buku. Langsung saja, this is it…!

***

Rafli adalah sesosok pemuda, bisa dikatakan, idaman wanita. Jabatannya sebagai ketua paskibra di sekolah membuat ia digandrungi teman-teman wanitanya. Terlebih setelah dia sukses menjadi paskibraka, namanya semakin melejit. But, nobody’s perfect. Kisah cintanya dengan banyak gadis membuatnya harus berhadapan dengan masalah besar di kemudian hari.

And the story goes…

Rafli dan Gia adalah sepasang kekasih saat SMP. Hubungan keduanya datar sekali. Sampai akhirnya Rafli menginjak bangku SMA dan bertemu dengan Sarah. Rafli dan Gia tidak satu SMA. Rafli yang bosan dengan hubungannya bersama Gia, memutuskan untuk jatuh hati pada Sarah dan menutuskan Gia secara sepihak. Sarah dan Rafli akhirnya berpacaran di saat Gia masih menyimpan cinta pada Rafli.. Hubungan mereka mulus di awal masa pacaran. Sampai akhirnya, Lia (cewek yang pernah dekat dengan Rafli, sekaligus teman satu genk Sarah saat SMP) membeberkan masa lalu Sarah yang nggak banget itu. Rafli awalnya tidak percaya dengan apa yang dikatakan Lia, sampai akhirnya dia mengalaminya sendiri.

Sarah menyukai kopi susu. Ia menyebut kopi susu sebagai latte. Sarah selalu suka latte yang dibuat Mia, perempuan misterius yang tinggal serumah dengannya. Sarah mempunyai mesin pembuat kopi yang ia beri nama Apologia. Melihat mesin itu, membuat Sarah teringat pada Gia, mantan pacar Rafli. Dan… ia benci itu.

Gia sendiri bukan tipe cewek yang ribet memikirkan mantan pacarnya sudah mencintai gadis lain di saat dirinya masih mencoba menata hatinya karena ditinggal Rafli. Ia sadar Sarah lebih dari dirinya. Gia tidak pernah sekalipun mengusik hubungan Sarah dan Rafli. Walaupun sakit, Gia selalu menyimpan semua sisa-sisa cintanya untuk Rafli. Ia tidak pernah berhenti mencintai Rafli. 

Singkat cerita, saat Rafli tahu siapa sebenarnya Sarah, lama-lama, rasa cinta Rafli ke Sarah mulai berkurang. Mereka putus. Rafli dekat lagi dengan Gia. Sarah yang cinta mati pada Rafli tidak rela Rafli kembali pada Gia. Sarah pun menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Rafli kembali. Di buku ini, dijabarkan pula bagaimana kehidupan dalam organisasi paskibra. Membacanya mengingatkan saya pada jaman muda dulu (aiiiih). Ada pula cerita galaunya Rafli saat galau mengenai pacaran. Di satu sisi dia doyan pacaran, tapi di sisi lain guru ngajinya melarang Rafli, murid kesayangannya, pacaran. Kalut saat dia harus mematuhi guru atau nafsunya. Pengetahuan tentang pacaran dalam agama Islam, penyakit kejiwaan dan mati suri juga dipaparkan dalam buku ini. Saya bisa menilai penulis sangat niat menulis novel ini. Terbukti dengan berentetannya daftar pustaka di bagian belakang buku. Terdengar menarik, bukan? 

Kalau dikatakan cinta segitiga, jelas bukan. Di buku ini digambarkan kalau Rafli adalah sosok Don Juan di sekolah. Tak kurang dari sekitar 8 cewek (yang dituliskan di buku ini) pernah dipacarinya.  Tipe laki-laki yang suka tebar pesona. Tidak digambarkan sesempurna tokoh-tokoh dalam drama korea yang tampan, kaya, pintar, alim  . Benar-benar manusiawi dengan karakter yang ambisius, sedikit egois, plin plan, alim tapi doyan ciuman juga  Well, kisah cinta yang cukup rumit untuk ukuran anak SMA

Ini novel roman? Ya. Picisan? Tidak sama sekali (paling tidak menurut saya begitu, hee). Penulis dengan apik merangkai alur cerita sehingga membacanya pun menjadi suatu hiburan tersendiri. Awalnya saya sempat underestimate dengan novel ini. Sampai tiba di sepertiga buku, saya baru merasakan ketegangannya. Epic! Saat membaca buku ini, awalnya saya berpikir, begitu banyak tokoh-tokoh yang muncul tanpa ada peran sama sekali. Tapi lagi-lagi saya salah! Ternyata tokoh-tokoh itu justru “pemegang kunci” dari jalan cerita! Penulis benar-benar senang mempermainkan pikiran pembacanya mungkin. Hee.

Terlepas karena covernya yang, menurut saya, kurang menjual, juga karena saya pesimis dengan isinya ; apakah akan penuh dengan rengekan dan ratapan galau seperti novel-novel roman lain pada umumnya? Ternyata saya salah besar! Buku ini… memukau! Saya kagum bahwa novelis laki-laki bisa sangat romantis namun tetap “berada pada jalurnya” sebagai laki-laki dalam menuangkan ide cerita menjadi sebuah bacaan bermutu. Alur maju mundur dengan flashback yang dituliskan secara jenius dan berbeda. Cara penuturan kisahnya seperti membaca novel terjemahan. Dengan bahasa yang baku dan kaku dibandingkan novel-novel remaja lain. Agak aneh menurut saya kalau benar-benar ada anak SMA berbincang bincang dengan bahasa seperti ;

“ Oh Demi Tuhan, Rafli, aku tidak ingin kau melakukan itu terhadapku”

“Oh tak apa. Kau datang saja aku sudah senang”

“Oh sungguh aku tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi, maksudku, semua ini, Rafli, bukan salahku!”

“Kau tahu kan Mbak Mia? Ya, Mbak Mia, jika aku boleh memanggilnya begitu, dia menemuiku kemarin”

Menurut saya, kalimat yang seperti itu yang membuat novel ini terkesan maksa dan bikin males. Terlihat berlebihan untuk kapasitas novel lokal sekalipun dengan gaya penulisan sesuai bahasa EYD. Tapi, mungkin itu memang gayanya Si Pengarang. Selain itu, banyaknya typo membuat saya agak terganggu membacanya. Typo hampir di setiap halaman. Errr… Good job, Editor! :mad

Oh iya, meskipun saya bilang novel remaja, namun saya yakin tidak sembarang remaja bisa dengan mudah membaca novel ini karena sudut pandang yang digunakan sangat banyak. Lebih dari5 (lima) sudut pandang dengan pemikiran masing-masing tokoh yang detail. Saya bisa merasakan bagaimana sakitnya Gia, bingungnya Rafli, dan marahnya Sarah. Secara garis besar dibagi dalam 2 bab inti masing-masing berisi 24 dan 27 sub-bab. Kisah cinta yang disuguhkan sangat berbeda dan sulit ditebak. Latar belakang kehidupan masa SMA memang tidak pernah tidak menarik untuk dibahas. Dengan klimaks yang berakhir indah. Kalau buku ini diadopsi menjadi sebuah film, mungkin saya akan memberikan standing applause di akhir penayangannya.

So, kira-kira apa yang akan Gia lakukan pada mesin pembuat kopi bernama Apologia itu?

Sebenarnya bagaimana masa lalu Sarah? Siapa itu Mbak Mia?

Cara yang bagaimana dan seperti apa yang akan dilakukan Sarah untuk mendapatkan Rafli kembali?

Siapa yang akan Rafli pilih? Gia atau Sarah, atau malah ada gadis lain yang datang menggoda sang Don Juan?

Akhir kata, saya cuma mau bilang kalau buku ini sebenarnya novel ke-2 dari tetralogi Sirruhart karangan Irfan L. Sar. Asiknya, tanpa perlu baca buku 1 (satu) pun, saya tetap bisa menikmati ceritanya. Two thumb’s up!

Rate 4.5/5

Available on Perpu[S]erap