Cinta Hanya Menimbulkan Penderitaan

Judul Buku : Eleven Minutes
Penulis : Paulo Coelho
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2007

Cinta Hanya Menimbulkan Penderitaan

SINOPSIS

Demikian anggapan Maria, gadis Brazil yang sejak remaja begitu yakin tak akan pernah menemukan cinta sejati dalam hidupnya.

Seseorang yang ditemuinya secara kebetulan di Rio de Janeiro berjanji akan menjadikannya artis terkenal di Swiss, namun janji itu ternyata kosong belaka. Kenyataannya, dia mesti menjual diri untuk menjalani profesi sebagai pelacur. Pekerjaan ini semakin menjauhkannya dari cinta sejati.

Namun ketika seorang pelukis muda memasuki hidupnya, tameng-tameng emosional Maria pun diuji. Dia mesti memilih antara terus menjalani kehidupan gelap itu atau mempertaruhkan segalanya demi menemukan “cahaya di dalam dirinya” Mampukah dia beralih dari sekdara penyatuan fisik ke penyatuan dua pikiran atau bahkan dua jiwa… ke suatu tempat di mana seks merupakan sesuatu yang sakral?

Tokoh utama dalam novel ini bernama Maria. Seorang wanita berumur 22 tahun yang masih dalam proses mencari jati diri. Tinggal di daerah pinggiran Brazil membuat Maria tumbuh menjadi selayaknya gadis desa ; lugu, sederhana, punya mimpi-mimpi besar dan cukup relijius. Maria menjalani masa mudanya dengan normal. Pacaran dan bergaul sebagaimana remaja putrid seusianya. Seiring berjalannya waktu, Beranjak dewasa, Maria mulai bimbang menemukan arti akan cinta sejati. Dia bekerja di sebuah toko. Sang majikan menyukainya. Namun Maria hanya sebatas menggoda Si Majikan tanpa berniat sedikitpun untuk membalas cintanya. Sampai suatu hari, Si Majikan melamar Maria. Dia menjanjikan segalanya untuk Maria asalkan Maria mau menikahinya. Sayangnya, Maria menolaknya.

Suatu hari Maria berlibur ke pantai. Di sana dia bertemu dengan orang asing yang terbius oleh kecantikan Maria. Orang asing itu kemudian menawarkan Maria untuk datang ke pestanya nanti malam. Maria menurut. Dibelikannya Maria oleh orang asing itu gaun dan sepasang sepatu untuk datang ke pesta itu. Di pesta itu, Maria mengobrol dengan orang asing itu (orang asing itu sebenarnya tidak begitu paham Bahasa Brazil, maka dia membawa penerjemah). Orang asing itu menawarkan Maria sebuah pekerjaan menjadi artis, katanya, di Swiss. Maria tentu senang bukan kepalang mendengar kabar itu. Maka, segera ia tuntaskan liburannya untuk mengabarkan sang ibu. Maria yang saat itu sedang dalam tahap proses pencarian cinta sejati, begitu terlena oleh tawaran orang asing itu. Dengan iming-iming imbalan yang besar, yang ia pikir bisa untuk menyenangkan hati ibunya kelak jika ia sudah sukses, ia akhirnya mau berangkat ke Swiss.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Sesampainya di sana, ia malah bekerja di sebuah kelab malam menjadi penari perut dengan upah yang kalau disisihkan setiap bulannya, ia baru akan bisa beli tiket pesawat pulang ke Brazil 2 tahun lagi. Maria ditipu. Tapi dia sudah tidak bisa berbuat apa-apa selain berjuang keras mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya agar bisa segera mungkin pulang ke kampungnya.

Singkat cerita, Maria menjadi pelacur. Terjadi pergulatan dalam batinnya bahwa ia tahu dirinya tidak boleh melakukan itu namun keadaan yang memaksanya berbuat demikian. Ia berharap Tuhan mau kompromi. Milan nama pemilik kelab itu. Milan membantu Maria membangun kariernya. Milan yang mengajarkan Maria soal keprofesionalismeannya terhadap pekerjaannya sebagai pelacur. Bahwa Maria harus pintar berakting demi menyenangkan hati pelanggannya.

Maria sukses menjadi pelacur. Kecerdasan dan kecantikannya menjadikan ia pelacur kelas atas dibanding dengan teman-temannya. Sampai suatu hari, Milan memberi Maria “tamu istimewa”. Mulanya Maria bingung apa yang dimaksud Milan dengan “tamu istimewa” sampai ia bertemu seorang pelukis di sebuah coffee shop. Lalu, titik balik kehidupan dan pendewasaan diri Maria yang sesungguhnya dimulai sejak saat itu.

Bagaimana kisah Maria selanjutnya setelah dia bertemu dengan pelukis itu?
Akankah Maria sukses menemukan cinta sejati dan mencintai profesinya?
Apakah dia akan menjadi pelacur seumur hidupnya?
Baca novelnya dan rasakan sensasinya!

***

Kalau Anda belum menikah atau paling tidak belum berumur 30 tahun ke atas, sebaiknya urungkan niat untuk membaca buku ini. Banyak tertulis adegan yang sukses membuat saya mengenyitkan dahi. Bukan jijik. Bukan takut. Tapi lebih ke ‘ngilu’. Paulo Coelho sebagai penulis tidak pernah gagal membuat sebuah tulisan yang mencengangkan pembacanya, termasuk saya.

Dalam buku ini dipaparkan pelajaran hidup mengenai kisah seorang pelacur ditinjau dari sisi pelakunya. Paulo mengajak kita untuk melihat sisi lain dunia hitam itu dengan gayanya yang khas, tidak mencoba menggurui namun terselip pesan yang sarat makna jika kita paham. Bagaimana perjuangan seorang gadis muda yang di dasar hatinya sebenarnya tidak ingin melakukan pekerjaan itu, namun demi cita-citanya tercapai ia toh rela juga melakukan itu, bahkan sudi untuk menikmatinya. Langkah apa yang harus dia ambil ketika dihadapkan pada buah simalakama. Banyak pelajaran yang bisa kita petik dari kisah hidup seorang Maria. Siapa bilang pelacur tidak boleh jatuh cinta? Siapa bilang pelacur tidak boleh pergi ke gereja dan menghabiskan akhir pekan dengan membaca di perpustakaan?

Kita, sebagai pembaca, dihadapkan pada tokoh Maria yang mempunyai lebih dari satu sisi dalam hidupnya. Kedewasaan membuat Maria pandai menempatkan posisinya. Tokoh Maria juga digambarkan sebagai perempuan yang punya kebiasaan menulis buku harian setiap malam sepulang melacur. Curhatan Maria dalam diarinya, disusun oleh Paulo di setiap akhir bab.

Lalu, apa hubungan Maria dengan judulnya, Eleven Minutes? Ya. Sebelas menit di buku ini adalah rata-rata waktu yang dibutuhkan sepasang insan manusia untuk melakukan persetubuhan. Paulo mengajak kita untuk berpikir bahwa sebelas menit itu waktu yang sangat singkat untuk bercinta, maka hendaknya sebelas menit itu dibuat khidmat. Banyak orang berpikir seks adalah hal yang tabu untuk dimunculkan ke permukaan kemudian dibahas. Namun, buku ini memiliki rangkaian kata sedemikian rupa sehingga tidak terkesan seperti buku stensilan. Tetap ada gaya penulisan yang intelek di dalamnya.

Seperti yang saya katakan di awal paragraf di atas, ini novel dewasa. Banyak adegan vulgar yang tertulis. Bagi beberapa orang, mungkin akan enggan membacanya karena Paulo menjabarkan setiap adegannya secara detail dan perlahan. Banyak pengetahuan baru tentang seks. Anda akan bertemu dengan beberapa istilah dan penjelasannya, bahkan praktiknya, yang akan membuat Anda bergiidik geli. Karena yang saya tahu, ketika kita membaca, mau tidak mau ada imajinasi yang timbul bukan? Nah, imajinasi itu yang membuat kita sebenarnya tidak ingin melihatnya namun toh terbayang-bayang juga di pikiran kita. 

Seumumnya karya-karya Paulo yang lain, buku ini saya katakan sukses membuka pemikiran saya. Bedanya, kali ini Paulo mengupas habis soal seks. Mengabarkan pada dunia bahwa banyak manusia rela menderita demi mendapatkan kenikmatan. Dalam buku ini juga kita diajak mengenal tokoh pencetus sadomasokisme, paham yang mengatakan

BUku filsafat macam begini alurnya datar dan pelan. Penulis tidak terburu-buru terlihat merampungkan ceritanya. Buku setebal 357 halaman (Edisi Indonesia) ini cukup luas menelanjangi kehidupan seorang pelacur dan sisi lainnya. Akhir kata, 4 dari 5 bintang layak untuk buku ini untuk sebuah bacaan berani, mencengangkan dan sarat akan nilai-nilai kehidupan 

*****

Rate 4/5

2 thoughts on “Cinta Hanya Menimbulkan Penderitaan

  1. blog walking..
    seperti biasanya Coelho selalu memberikan hal yang dapat ‘direnungkan’ oleh pembacanya, walaupn menurutku buku ini tidak direkomendasikan buat anak di bawah umur 🙂

    • salam kenal kak nannia, terima kasih mau mampir dan baca tulisanku hehe
      iya betul banget
      bahkan aku pun yang umurnya 22 tahun masih merasa risih baca adegan tertentu
      xixixixi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s