Mungkin (Takkan) Ada Lagi

“Bude, kita pulang saja , yuk. Mas Januar besok pulang ke Jakarta lho” Resti merajuk

“Aduh, Nduk, kita kan baru sebentar di sini, baru dua hari, mosok sudah mau balik ke Jakarta tho?”

“Iya, Bude, Res ngerti. Tapi kan Res kangen banget, Bude, sama Mas Jan. Bude kan tahu, kalau bukan libur lebaran, Mas Jan jarang pulang ke Indonesia”

“Iya Res, Bude tahu itu. Masalahnya kita ndak sedang berada di pulau yang sama dengan Jakarta. Kita di Papua lho. Berapa ribu kilometer coba jauhnya dari Jakarta? Lha bukannya kamu sendiri tho yang kemarin bilang mau liburan ke sini? Lha sekarang sudah di sini kok malah minta pulang, piye tho?”

Resti tahu Bude Mar benar. Adalah mustahil untuk ke Jakarta sekarang juga. Mereka sedang di Indonesia bagian timur. Menikmati objek wisata Raja Ampat yang katanya air lautnya jernih itu. Bukan sejuta-dua juta yang sudah mereka habiskan untuk ke sini. Itu sebabnya Bude Mar menolak permintaan Resti untuk pulang ke Jakarta. Paket liburan belum selesai kok sudah minta pulang, ya rugi tho, begitu pikir Bude Mar. Tapi apalah tahu Resti, bocah perempuan berusia 12 tahun itu hanya bisa merajuk tanpa mengerti sikonnya. Sekalipun Bude Mar sudah berbohong. Katanya, pesawat hanya terbang pada waktu tertentu. Tidak setiap hari. Namun, ah, dasar anak jaman sekarang sudah pada pintar, Resti tidak percaya begitu saja pada budenya itu. Ia tahu budenya bohong. Tapi bukan Resti namanya kalau tak pandai merajuk. Kunjungan ke Raja Ampat kali ini pun lantaran rengekannya sebulan lalu, minta diberi hadiah liburan ke Raja Ampat kalau ia bisa lulus sekolah dasar dengan nilai di atas rata-rata. Dan, ya, memang Resti berhasil menjadi juara umum di sekolahnya.

Tadinya Bude Mar mau mengajak Mak Juju juga ke sini. Mak Juju yang selama ini merawat Resti sejak Ratna, ibunya Resti, meninggal 5 tahun silam. Sayang, Mak Juju sudah terlalu ringkih untuk diajak bepergian jauh. Salah-salah malah terjadi apa-apa di kota nun jauh dari ibukota itu. Bisa repot, pikir Bude Mar akhirnya batal mengajak Mak Juju. Sebagai gantinya, Mak Juju diberikan uang saku selama menjaga rumah.

Bude Mar melihat Resti menangis sesenggukan di atas tempat tidur. Sebenarnya ia tidak tega membiarkan keponakan tercintanya itu sedih karena tidak bisa bertemu dengan kakak sepupunya, Januar. Januar adalah anak Bude Mar yang sedang kuliah di Amerika. Sudah 2 tahun Januar di sana. Setahun sekali biasanya Januar pulang, tepatnya saat Hari Raya idul Fitri. Tapi kedatangannya kali ini memang di luar jadwal yang semestinya lantaran Januar sedang ada pertukaran pelajar di Singapore. Jadi ia pikir sekalian saja mampir ke Jakarta sebentar. Toh dekat ini. Bagi Bude Mar, ditinggal Januar sudah biasa. Jadi kadar kangennya Bude Mar terhadap Januar masih normal. Suami Bude Mar sudah lima tahun meninggal. Ya, bersamaan dengan meninggalnya orangtua Resti saat mereka pulang dari acara nikahan Bulik Anjani di Paris dulu. Saat itu Bude Mar tidak ikut karena sibuk mengurus sekolah Januar. Resti yang masih kecil pun tidak dibawa karena toh mereka ke Paris hanya sebentar. Jadi Resti dititipkan pada Bude Mar.

“Bude, aku beneran mau ketemu Mas Januar! Pokoknya harus! Bagaimana ini, Bude? Aku gak mau kalau nanti aku nyesel gak bisa ketemu Mas Jan seperti aku gak bisa ketemu Bapak Ibu, Bude…”

Dang!

Dada Bude Mar berdesir. Seperti ada yang menampar pipinya saat itu juga. Resti benar. Bagaimana kalau Januar dalam perjalanan ke Jakarta dan… ah, Bude Mar tidak berani melanjutkan imajinasinya.

“Yowis, toto-toto sana! Bude akan bilang ke Pak Arnold dulu kalau kita mau pulang sekarang” tukas Bude Mar akhirnya. Resti hanya nyengir lebar.

 

P.S : Flash Fiction ini adalah proyek bersama dengan beberapa blogger lain yang rencananya nanti akan dijadikan buku. Untuk lebih jelasnya bisa kunjungi 15 Hari Ngeblog FF

10 thoughts on “Mungkin (Takkan) Ada Lagi

    • ceritanya pak arnold itu travel agentnya mbak
      aku mau jelasin takutnya kepanjangan
      padahal udah duga pasti ada yg nanya “arnold itu siapa”
      hehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s