Too Much Love Will Kill You

Judul Buku : Apologia Latte (Ketika Cinta Menyisakan Luka)
Pengarang : Irfan L. Sar
Penerbit : PT Elex Media Komputindo
Tahun Terbit : 2011
ISBN :978-602-00-0831-8

Fiuh! Baru kali ini saya dikerjain sama buku. Langsung saja, this is it…!

***

Rafli adalah sesosok pemuda, bisa dikatakan, idaman wanita. Jabatannya sebagai ketua paskibra di sekolah membuat ia digandrungi teman-teman wanitanya. Terlebih setelah dia sukses menjadi paskibraka, namanya semakin melejit. But, nobody’s perfect. Kisah cintanya dengan banyak gadis membuatnya harus berhadapan dengan masalah besar di kemudian hari.

And the story goes…

Rafli dan Gia adalah sepasang kekasih saat SMP. Hubungan keduanya datar sekali. Sampai akhirnya Rafli menginjak bangku SMA dan bertemu dengan Sarah. Rafli dan Gia tidak satu SMA. Rafli yang bosan dengan hubungannya bersama Gia, memutuskan untuk jatuh hati pada Sarah dan menutuskan Gia secara sepihak. Sarah dan Rafli akhirnya berpacaran di saat Gia masih menyimpan cinta pada Rafli.. Hubungan mereka mulus di awal masa pacaran. Sampai akhirnya, Lia (cewek yang pernah dekat dengan Rafli, sekaligus teman satu genk Sarah saat SMP) membeberkan masa lalu Sarah yang nggak banget itu. Rafli awalnya tidak percaya dengan apa yang dikatakan Lia, sampai akhirnya dia mengalaminya sendiri.

Sarah menyukai kopi susu. Ia menyebut kopi susu sebagai latte. Sarah selalu suka latte yang dibuat Mia, perempuan misterius yang tinggal serumah dengannya. Sarah mempunyai mesin pembuat kopi yang ia beri nama Apologia. Melihat mesin itu, membuat Sarah teringat pada Gia, mantan pacar Rafli. Dan… ia benci itu.

Gia sendiri bukan tipe cewek yang ribet memikirkan mantan pacarnya sudah mencintai gadis lain di saat dirinya masih mencoba menata hatinya karena ditinggal Rafli. Ia sadar Sarah lebih dari dirinya. Gia tidak pernah sekalipun mengusik hubungan Sarah dan Rafli. Walaupun sakit, Gia selalu menyimpan semua sisa-sisa cintanya untuk Rafli. Ia tidak pernah berhenti mencintai Rafli. 

Singkat cerita, saat Rafli tahu siapa sebenarnya Sarah, lama-lama, rasa cinta Rafli ke Sarah mulai berkurang. Mereka putus. Rafli dekat lagi dengan Gia. Sarah yang cinta mati pada Rafli tidak rela Rafli kembali pada Gia. Sarah pun menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Rafli kembali. Di buku ini, dijabarkan pula bagaimana kehidupan dalam organisasi paskibra. Membacanya mengingatkan saya pada jaman muda dulu (aiiiih). Ada pula cerita galaunya Rafli saat galau mengenai pacaran. Di satu sisi dia doyan pacaran, tapi di sisi lain guru ngajinya melarang Rafli, murid kesayangannya, pacaran. Kalut saat dia harus mematuhi guru atau nafsunya. Pengetahuan tentang pacaran dalam agama Islam, penyakit kejiwaan dan mati suri juga dipaparkan dalam buku ini. Saya bisa menilai penulis sangat niat menulis novel ini. Terbukti dengan berentetannya daftar pustaka di bagian belakang buku. Terdengar menarik, bukan? 

Kalau dikatakan cinta segitiga, jelas bukan. Di buku ini digambarkan kalau Rafli adalah sosok Don Juan di sekolah. Tak kurang dari sekitar 8 cewek (yang dituliskan di buku ini) pernah dipacarinya.  Tipe laki-laki yang suka tebar pesona. Tidak digambarkan sesempurna tokoh-tokoh dalam drama korea yang tampan, kaya, pintar, alim  . Benar-benar manusiawi dengan karakter yang ambisius, sedikit egois, plin plan, alim tapi doyan ciuman juga  Well, kisah cinta yang cukup rumit untuk ukuran anak SMA

Ini novel roman? Ya. Picisan? Tidak sama sekali (paling tidak menurut saya begitu, hee). Penulis dengan apik merangkai alur cerita sehingga membacanya pun menjadi suatu hiburan tersendiri. Awalnya saya sempat underestimate dengan novel ini. Sampai tiba di sepertiga buku, saya baru merasakan ketegangannya. Epic! Saat membaca buku ini, awalnya saya berpikir, begitu banyak tokoh-tokoh yang muncul tanpa ada peran sama sekali. Tapi lagi-lagi saya salah! Ternyata tokoh-tokoh itu justru “pemegang kunci” dari jalan cerita! Penulis benar-benar senang mempermainkan pikiran pembacanya mungkin. Hee.

Terlepas karena covernya yang, menurut saya, kurang menjual, juga karena saya pesimis dengan isinya ; apakah akan penuh dengan rengekan dan ratapan galau seperti novel-novel roman lain pada umumnya? Ternyata saya salah besar! Buku ini… memukau! Saya kagum bahwa novelis laki-laki bisa sangat romantis namun tetap “berada pada jalurnya” sebagai laki-laki dalam menuangkan ide cerita menjadi sebuah bacaan bermutu. Alur maju mundur dengan flashback yang dituliskan secara jenius dan berbeda. Cara penuturan kisahnya seperti membaca novel terjemahan. Dengan bahasa yang baku dan kaku dibandingkan novel-novel remaja lain. Agak aneh menurut saya kalau benar-benar ada anak SMA berbincang bincang dengan bahasa seperti ;

“ Oh Demi Tuhan, Rafli, aku tidak ingin kau melakukan itu terhadapku”

“Oh tak apa. Kau datang saja aku sudah senang”

“Oh sungguh aku tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi, maksudku, semua ini, Rafli, bukan salahku!”

“Kau tahu kan Mbak Mia? Ya, Mbak Mia, jika aku boleh memanggilnya begitu, dia menemuiku kemarin”

Menurut saya, kalimat yang seperti itu yang membuat novel ini terkesan maksa dan bikin males. Terlihat berlebihan untuk kapasitas novel lokal sekalipun dengan gaya penulisan sesuai bahasa EYD. Tapi, mungkin itu memang gayanya Si Pengarang. Selain itu, banyaknya typo membuat saya agak terganggu membacanya. Typo hampir di setiap halaman. Errr… Good job, Editor! :mad

Oh iya, meskipun saya bilang novel remaja, namun saya yakin tidak sembarang remaja bisa dengan mudah membaca novel ini karena sudut pandang yang digunakan sangat banyak. Lebih dari5 (lima) sudut pandang dengan pemikiran masing-masing tokoh yang detail. Saya bisa merasakan bagaimana sakitnya Gia, bingungnya Rafli, dan marahnya Sarah. Secara garis besar dibagi dalam 2 bab inti masing-masing berisi 24 dan 27 sub-bab. Kisah cinta yang disuguhkan sangat berbeda dan sulit ditebak. Latar belakang kehidupan masa SMA memang tidak pernah tidak menarik untuk dibahas. Dengan klimaks yang berakhir indah. Kalau buku ini diadopsi menjadi sebuah film, mungkin saya akan memberikan standing applause di akhir penayangannya.

So, kira-kira apa yang akan Gia lakukan pada mesin pembuat kopi bernama Apologia itu?

Sebenarnya bagaimana masa lalu Sarah? Siapa itu Mbak Mia?

Cara yang bagaimana dan seperti apa yang akan dilakukan Sarah untuk mendapatkan Rafli kembali?

Siapa yang akan Rafli pilih? Gia atau Sarah, atau malah ada gadis lain yang datang menggoda sang Don Juan?

Akhir kata, saya cuma mau bilang kalau buku ini sebenarnya novel ke-2 dari tetralogi Sirruhart karangan Irfan L. Sar. Asiknya, tanpa perlu baca buku 1 (satu) pun, saya tetap bisa menikmati ceritanya. Two thumb’s up!

Rate 4.5/5

Available on Perpu[S]erap 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s