Aku Sayang Ayah

Gambar

Judul Buku : Ayahku (Bukan) Pembohong
Penulis : Tere – Liye
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2011
304 halaman
Rate : 4/5



Siapa tidak kenal Tere – Liye? Penulis muda yang cenderung berpenampilan santai di setiap talkshownya (menurut saya) gak pernah gagal membuat novel yang selalu menguras emosi para pembacanya. Kali ini entah novel Tere Liye yang ke berapa yang saya baca, menyajikan sejumput kisah sederhana yang meninggalkan bekas mendalam.

Sesuai judul buku, novel ini menceritakan tentang seorang ayah yang suka berbohong. Setidaknya itu menurut Dam. Sejak kecil Dam dijejali banyak dongeng yang bukan cerita sembarangan melainkan ada sosok ayahnya yang menjadi tokoh dalam setiap cerita. Bagaimana mungkin ayahnya bisa kenal Kapten internasional itu? Padahal ayahnya hanya seorang pegawai negeri biasa. Tidak kaya. Bagaimana mungkin di dunia ini ada yang namanya negeri penguasa angin? Omong kosong, menurut Dam, yang ketika menginjak dewasa ia baru sadar akan bualan ayahnya. Tapi, yang dia tidak sadari, bualan ayahnya itu sejatinya telah mendidik dia tumbuh menjadi anak yang baik hati dan sederhana.

Sampai ia sudah berkeluarga dan mempunyai dua orang anak, Zas dan Qon, ayahnya masih saja suka membual. Bercerita kalau ia pernah ditelepon oleh si Kapten itu, yang mana kapten itu adalah tokoh idola Zas dan Qon, sebagaimana dulu Dam mengidolakannya. Juga bercerita bahwa dulu neneknya adalah seorang artis terkenal. Bah! Artis terkenal apa?! Karena Dam tahu ibunya hanya ibu rumah tangga biasa. Sama sekali bukan artis terkenal seperti yang suka diceritakan ayahnya kepada Zas dam Qon.

Dam akhirnya muak menghadapi tingkah ayahnya yang suka bercerita bualan. Dam lalu meminta ayahnya agar hidup sendiri, jauh-jauh dari Zas dan Qon. Dam seakan lupa, dia bisa menjadi Dam yang seperti sekarang adalah karena kisah-kisah yang sering diceritakan ayahnya dahulu.

***

Entah saya yang terlalu sensitive atau apa, yang jelas saya gak bisa membendung air mata saat membaca bagian ending yang ditulis klimaks. Seorang Tere Liye sukses mengobrak abrik perasaan pembacanya. Ceritanya begitu menyentuh dan membuat diri kita seakan tertampar oleh serentetan peristiwa yang digambarkan. Brilliant!

Menggunakan penulisan alur yang maju mundur, campur aduk antara masa lalu dan masa depan. Dam, sebagai orang pertama serba tahu, memaparkan pandangannya dari dua sosok, saat dia masih kecil dan ketika dia sudah dewasa. Tere Liye pandai memainkan itu semua. Saat ditulis sudut pandang Dam waktu masih kecil, saya seperti membaca tulisan curahan hati anak kecil. Dan seterusnya. Begitu membaca pandangan dari sosok Dam yang dewasa, ya tertulis pula bagaimana pola piker Dam yang dewasa.

Sayangnya, latar belakang nama tempat dan nama tokoh menjadi tidak penting, sepertinya, bagi Tere Liye. Sebuah stadion tidak diberi nama stadion apa. Kota kecil tempat Dam dan keluarganya tinggal pun hanya digambarkan dengan kata “kota kecil” tidak dengan nama Jakarta atau apa. Begitu juga dengan nama orangtua Dam, nama guru, kepala sekolah, dll. Padahal tokoh-tokoh “tak bernama” ini punya peranan cukup penting dalam isi cerita. Misal, pelatih renang, hanya ditulis “Pak Pelatih”. Atau Kepala sekolah favorit Dam, hanya ditulis Pak Kepala sekolah, dst.

Tentu saja hal itu bagi saya tidak terlalu mengurangi keapikan isi buku. Karena, seperti biasa, selalu ada quote-quote yang “nendang” yang penulis bagikan untuk pembacanya. Salah satu quote favorit saya yaitu :

“Terkadang pembalasan terbaik adalah dengan tidak membalas”



Dan tentu saja masih Anda bisa temui quote-quote lain yang juga bagus di dalamnya. Justru yang sangat disayangkan adalah kaver depan bukunya yang. IMHO, kurang menjual dan menarik. Tapi, jangan khawatir, mengenai font dan kertasnya, menurut saya sudah friendly (font ukuran normal dan spasi yang tidak terlalu rapat) dan tidak mengganggu sehingga nyaman dibaca.

Akhir kata, 4/5 untuk buku ini. Lho kok Cuma 4? Katanya berhasil mengaduk-aduk emosi membaca? Hehe, iya sih, hanya saja (ini yang selalu saya sayangkan dari cerita Tere Liye kebanyakan) endingnya agak nanggung menurut saya.

Rate overall : 4/5

Rate termehek-mehek : 3/5 (masih lebih rendah ratenya dibanding buku Rembulan Tenggelam di Wajahmu yang menguras air mata banget!!!)

Advertisements

Cowok Ganteng Vs Cewek Cuek

Judul Buku : Dimi is Married

Penulis : Retni SB

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit : 2010

384  halaman

Metropop

Rate : 4/5

 

Atas nama buku, saya sampai menangis lho baca novel ini. Benar-benar menyentuh dan bikin saya teringat dengan pengalaman pribadi saya. Halah -_-

Jadi, novel ini bercerita tentang Garda (31 tahun) dan Dimi (23 tahun). Garda adalah tipe cowok ganteng, kaya, mapan, dewasa, tapi masih suka main-main dalam suatu relationship. Padahal umurnya sudah sangat cukup untuk segera berkeluarga. Papanya yang panic karena di usia setua itu Garda masih belum punya niatan untuk menikah akhirnya bertindak tegas. Papanya menjodohkan Garda dengan Dimi, anak dari sahabat papanya. Dimi sangat berbeda dengan mantan-mantan pacar Garda sebelumnya yang kebanyakan bertampang seperti seorang model internasional. Alih-alih seperti model, di mata Garda, Dimi masih tampak seperti anak kelas 1 SMA karena perawakannya yang imut. Bagi Dimi, siapa yang tidak senang mendapat calon suami macam Garda? Tentu saja Dimi senang bukan kepalang. Katakanlah dia akhirnya jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihat Garda. Meskipun begitu, Dimi tidak mentah-mentah menerima Garda begitu saja. Buatnya, perjodohan ini terasa aneh. Kenapa Garda yang nyaris sempurna begitu manut saja dijodohkan dengan dirinya, gadis yang sangat biasa saja? Pasti ada udang di balik bakwan. Dimi curiga. Jangan-jangan dia gay?! Jangan-jangan dia kena AIDS?! Atau jangan-jangan Garda itu… ah banyak pikiran negative menghantui pikiran Dimi.

Sampai akhirnya, mereka berdua resmi melakukan ijab Kabul, tanpa resepsi. See? Bagaimana mungkin anak seorang bisnisman kelas kakap di Indonesia tidak mengadakan pesta meriah untuk penikahannya? Alasannya karena Garda katanya banyak kerjaan sehingga gak memungkinkan untuk mengurus pesta resepsi. Dimi toh manut saja pada akhirnya. Dia mulai merasa beruntung menjadi istri Garda. Tapi, lama-lama, Dimi sadar. Garda seperti tidak mencintainya. Dimi gak pernah dikenalkan Garda ke teman-temannya, Dimi tidak pernah diajak Garda untuk mengenal lingkungan suaminya itu. Orang-orang kantor dan teman-teman Garda bahkan gak pernah tahu kalau Garda sudah menikah. Sehingga wanita-wanita masih suka menggoda Garda. Garda juga tidak menuntut  macam-macam dari Dimi dan bahkan gak pernah melarang aktivitas Dimi.

Dimi jadi bertanya-tanya : cintakah lelaki itu kepadanya?

Garda adalah sosok lelaki yang nyaris sempurna. Dia bisa saja mendapatkan perempuan manapun yang dia suka, yang jauh jauh dan jauh lebih baik dari Dimi. lalu, kalau dia tidak mencintai Dimi, kenapa dia mau dinikahkan dengan Dimi?

Rencana apa sebetulnya yang sedang dilakukan Garda?

***

Ini adalah buku ke-2 Mbak Retni SB yang saya baca. Overall, ceritanya hampir-hampir mirip dengan novel yang sebelumnya karena memang penulis sepertinya mengkhususkan menulis genre metropop. Yang bagus di sini adalah cara penulis membeberkan konflik yang terjadi. Bagaimana Dimi, wanita muda belia harus berurusan dengan laki-laki yang tidak pernah mencintainya, tapi ia hanya memendamnya sendiri. Penulis menceritakan kekuatan seorang perempuan sekaligus istri yang di satu sisi ia tidak dicintai, tapi di sisi lain dia harus ingat kewajibannya sebagai seorang istri. Kalau pacar gak mencintai kita, bisa kita tinggal. Lha kalau sudah jadi suami? Bisa jadi masalah serius kan?

Sudut pandang yang digunakan begitu jelas dengan subbab nama tokoh utamanya. Misal, saat sudut pandang Dimi sedang diceritakan, penulis menambahkan kata “Dimi” sebagai subbab. Sehingga pembaca gak bingung “Ini siapa sih yang lagi ngomong? Dimi atau Garda?” jenis font pun menguntungkan pembaca. Saat Garda yang berbicara, cerita diketik dengan font style A, misalnya. Saat Dimi yang berbicara, cerita diketik dengan font sytle B.

Alur cerita yang begitu cepat dan dinamis serta banyak dialog, tidak membuat pembaca cepat bosan dan jenuh, meskipun buku ini terhitung tebal. Nyaman dibaca karena font size yang digunakan cukup besar dan jelas sehingga gak membuat pembaca merasa cepat lelah matanya.

Oh iya, di buku ini saya mulai menandai kok penulis di bab-bab terakhir selalu menyelipkan latar belakang hutan dan segala informasi di dalamnya. Seperti persengketaan antara perusahaan kertas yang menebang pohon dengan penduduk sekitar, tentang perlindungan satwa langka, dsb. Tapi, sekali lagi. Don’t expect too much karena endingnya sudah bisa ketebak kok.

IMHO, novel ini pasti seru kalau diangkat menjadi sebuah film! 4 of 5 stars!

 

Anda Bingung? Saya Apalagi!

Gambar

Judul Buku : Rumah Kopi Singa Tertawa

Penulis : Yusi Avianto Pareanom

Penerbit : Banana Tahun Terbit : 2011

172 halaman

Rate : 4,5 dari 5

Biasanya kalo ditanya orang “Lagi baca apa, Sel? Ceritanya tentang apa?” saya selalu bisa njawab “Oh lagi baca ini *sebutin judul buku* ceritanya tuh tentang *ceritain intisarinya aja* Tapi beda pas saya baca buku ini. Rumah. Kopi. Singa. Tertawa. What the maksud? Judulnya aja udah bikin mikir. Tapi di situ letak menariknya. Pertama, sama sekali gak tau kalo ada penerbit namanya Banana. Kedua, meskipun udah baca ceritanya tetep gak bisa saya pahami. Oke, rumah kopi mungkin bisa berarti kedai kopi. Ada kata tertawa mungkin bisa dibilang kedai kopi yang bisa bikin ketawa, hiburan. Lha terus apa hubungannya sama singa? Aaakkk >,< *garuk-garuk dasar laut*

Sebelum baca lebih lanjut, perlu diketahui bahwa ini adalah kumcer. Terlepas dari judulnya yang terlalu nyastra sehingga membingungkan saya, intinya cerita Rumah Kopi Singa Tertawa itu menceritakan suasana di suatu kedai kopi yang memberitahukan pembaca apa saja sih hal-hal yang biasa diobrolin kalo kit lagi nongkrong di coffee shop. Menurut saya, gak ada yang special dari segi isi cerita. Tapi cara penulis menuliskannya itu yang bikin menarik. Di dalam cerita ini, dibagi lagi menjadi beberapa subbab sesuai dengan nomor meja. Misal ; meja 7, digambarkan ada seorang yang sedang merayu pacarnya. Kemudian, subbab berjudul meja 9, ditulis ada yang sedang reuni dengan teman lamanya. Dan seterusnya. Mayoritas cerpen dalam kumcer ini memiliki twist yang bikin mikir. Jadi, kalo sehari-hari kamu cuma mengasup buku-buku macam teenlit atau komik, bisa jadi agak susah mencerna pesan dan inti dari cerita itu. Jujur, di awal saya pun sempat kesulitan memahami gaya bercerita si penulis.

Sampai akhirnya pelan-pelan saya mencoba beradaptasi dengan gaya penulisannya (yang saya jamin gak banyak orang bisa bikin cerpen kayak gini!) dan saya nobatkan om Yusi Avianto ini sebagai penulis yang jenius. Cerpen ini menghibur. Humor kelas tinggi kalo saya bilang sih. Gak akan ada tawa cekakakan seperti yang terdengar kalo saya baca buku MSB atau novelnya Adhitya Mulya. Humor dalam cerpen ini lebih membuat saya tersungging senyum kecil sambil sesekali bergumam dalam hati “cuk! Keren abis!” atau “anjir! Parah nih buku” (parah! kerennya kebangetan). Seperti yang saya bilang kalo ini cerpen humor kelas tinggi, baiknya sih dibaca saat waktu anda benar-benar senggang. Jangan coba-coba baca sambil mencuri-curi waktu jam kerja di kantor misalnya (ini yang saya lakukan, alhasil saya gagal mendapat esensi kerennya buku ini karena loadnya luaamma).

Satu lagi. Meskipun di atas saya bilang twistnya bikin mikir, ada juga yang endingnya sama sekali biasa aja. Jangan harap kita akan selalu dapet ending yang menampar. Ada beberapa cerita yang justru endingnya antiklimaks. Tapi, mayoritas, ending dalam setiap cerpen ini adalah “something”. Saking sastranya, saya sampai terkagum-kagum gimana caranya penyakit ecek-ecek macam cacar air, bisulan, dan gondongan bisa jadi bahan cerita yang super keren dan gak kampungan. Kalo ibarat koki, mungkin Yusi Avianto ini ibarat masak oncom rasa daging kali yah? Hehehehe.

Gak Cuma ketawa ketiwi aja, di dalam buku ini juga ada cerpen tentang beberapa jenis phobia dan penjelasannya. Aha! Nambah pengetahuan banget pastinya. Ada juga cerita tentang suami kehilangan istri atau istri kehilangan suami dalam cerpen Kabut Permata dan Kabut Suami. Penulis mengajak kita untuk sedikit beromantisme-ria tapi gak picisan. Pun ada cerita dengan latar belakang kehidupan di dunia pewayangan. Intinya sih, saya yang tadinya gak minat karena gak nangkep dengan sisi humornya, akhirnya menutup buku dengan komen “gila ini buku!”.

Biar kata nama penerbitnya Banana (yang mana kita semua pasti jarang banget nemu buku terbitan Banana) tapi penulis ini tuh terlalu bagus untuk jadi penulis yang adem ayem aja. Kurang terekspos aja kalo menurut saya (atau sayanya aja yang kuper?) –__–

Akhir kata, rate 4,5 dari 5!

Lu Nikah Sama Pacar Gue!

Judul Buku : His Wedding Organizer

Penulis : Retni SB

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit : 2008

Hahaha! Judul review di atas bisa juga diganti menjadi Gue Selingkuh Sama Calon Suami Lo! atau Gue Pacaran Sama Calon Suami Sahabat Gue! Sounds crazy, huh? Itulah yang dialami Harsya, cewek berumur 28 tahun, pengusaha wedding organizer. Sebuah telepon mengagetkannya di suatu hari lantaran Karin, sahabat jaman SMA dulu, akan menikah. Oh my God! kenapa harus Karin yang lebih dulu menikah? Karin yang dulu paling takut deket sama cowok karena sifat pemalunya, sekarang malah menikah lebih dulu di antara ke-4 temannya. Dan dia masih ingat janji itu, janji bahwa kalau Karin menikah paling cepat di antara ke-4 temannya, mereka harus datang ke resepsi pernikahan Karin dengan bikini bersayap, dan mereka menyanggupinya! Dan Karin (ternyata) tidak lupa!

Mati aku! pikir Harsya

Well, sebenarnya itu bukan masalah besar bagi Harsya. Masalah justru datang ketika Harsya tahu bahwa lelaki yang kan dinikahi Karin adalah laki-laki yang sudah dipacarinya selama 2 bulan terakhir, Figo. Jadi selama ini Figo sudah membohongi dirinya mentah-mentah! Harsya marah. Di pertemuan terakhirnya dengan Figo, Harsya sukses meluapkan amarahnya kepada Figo. Mereka berpisah (tentunya Karin tidak tahu menahu perihal hubungan Harsya dengan Figo).

Dalam kalut, Harsya meminta Adra, sahabat laki-lakinya sejak kecil, untuk datang ke pesta pernikahan Karin dan Figo dengan mengaku sebagai calon suaminya karena gengsi di umur segitu belum punya gandengan. Xixixi… Sayangnya, Adra yang akhirnya tahu kalau ia hanya dimanfaatkan oleh Harsya, marah. Padahal Adra sudah menyukai Harsya sejak kecil. Tapi Harsya gak pernah sadar, dan masih terus mengejar Figo. Dan perselingkuhan babak kedua dimulai lagi. Ah, dasar Harsya bodoh!

Suatu ketika, di saat Harsya sadar ia tidak seharusnya berselingkuh (apalagi dengan suami sahabatnya sendiri!) Karin akhirnya mengetahui hubungan antara Harsya dan Figo. Persahabatan mereka akhirnya putus. Pun hubungannya dengan Adra merenggang.

Penasaran gimana endingnya kisah cinta Harsya? Baca aja… 😀

***

Ini adalah buku pertama Mbak Retni SB yang aku baca. Seperti judulnya His Wedding Organizer, udah ketebak kayak gimana jalan ceritanya. Dan, sesuai banget endingnya ternyata sama tebakan aku. Bagusnya, bahasa yang dipakai itu bukan bahasa baku, memudahkan pembaca lebih cepat memahami jalan ceritanya. Alurnya maju dengan arus yang lumayan cepat. Penulis gak membuat kita berkutat dan terpaku pada bahasan sesuai judul yaitu “the wedding”nya tapi lebih ke bagaimana kehidupan Harsya setelah dia jadi wedding organizer pacarnya.

Banyak konflik soal perselingkuhan dan persahabatan, maka banyak pula pesan moral yang bisa diambil tentang kedua hal tersebut. Dijelaskan bagaimana sesungguhnya selingkuh bukan cara yang tepat mengatasi kejenuhan dalam suatu hubungan, sekalipun hati kadang gak bisa bohong ketika harus mencintai dua orang dalam waktu yang bersamaan.

Novel ini gak begitu tebal, lebih kurang267 halaman, sehingga saya pribadi hanya butuh waktu kurang dari 2 jam untuk menyelesaikannya. Cocok dibaca sebagai selingan bacaan serius Anda.

So, 3 dari 5 rate untuk buku ini.

Happy reading!