Cinta Segiempat Remaja SMA

Judul Buku : Remember When

Author : Winna Efendi

Penerbit : Gagas Media

Tahun Terbit : 2011

Tebal : 252 Halaman

Harga : Rp34.400,00 (bukabukudotcom)

 

Apa pun yang kau katakan, bagaimanapun kau menolaknya, cinta akan tetap berada di sana, menunggumu mengakui keberadaannya.

Bagi kita, senja selalu sempurna; bukankah sia-sia jika menggenapkan warnanya? Seperti kisahmu, kau dan dia, juga kisahku, aku dan lelakiku. Tak ada bagian yang perlu kita ubah. Tak ada sela yang harus kita isi. Bukankah takdir kita sudah jelas?

Lalu, saat kau berkata, “Aku mencintaimu”, aku merasa senja tak lagi membawa cerita bahagia. Mungkinkah kata-katamu itu ambigu? Atau, aku saja yang menganggapnya terlalu saru?

“Aku mencintaimu,” katamu. Mengertikah kau apa artinya? Mengertikah kau kalau kita tak pernah bisa berada dalam cerita yang sama, dengan senja yang sewarna?

Takdir kita sudah jelas. Kau, aku, tahu itu.

***

Pasti pernah denger soal cinta segitiga kan? Nah, kali ini Mbak Winna ‘ngasih lihat’ kita soal cinta segiempat! Wew kebayang kan gimana riweuhnya? Dua aja udah riweuh, eh terus ada lagi istilah cinta segitiga, lha ini malahan ada cinta segiempat! Maaakkk tuluuunnnggg! >,,<

Eits, tapi tenang…cerita di dalam novel remaja ini gak rumit untuk diikutin dan dipahamin kok. Bahkan saya udah bisa nebak akan jadi kayak gimana ending ceritanya, huehuehe namanya juga novel remaja buuu…genre romance pulaaa…typical.

Jadi, ini tuh cerita tentang kehidupan masa-masa SMA yang dilakoni oleh Moses, Adrian, Freya, dan Gia. Moses ini sahabatnya Adrian dari kecil. Sedangkan Freya itu sahabatnya Gia di sekolah. Di awal cerita, saya disuguhi prolog yang manis dan indah dari Winna Efendi. Dari sini, keliatan banget kualitas tulisannya Winna itu seperti apa. Singkat, jelas, tapi penuh makna!

Lanjuuut…

Moses sudah cukup lama menyimpan rasa buat Freya, cewek manis dan pinter, teman sebangkunya. Tapi, Moses yang dingin, kaku dan pemalu selalu gak kesulitan buat mengungkapkan perasaan yang sebenernya ke Freya. Beda dengan Moses (si ketua OSIS yang pemalu) Adrian, yang terkenal playboy dan populer di kalangan temen-temennya, akan secepetnya nembak Gia (cewek yang feminin banget), sasaran hatinya. Singkat cerita, mereka berdua akhirnya sukses jadian. Moses dengan Freya. Adrian dengan Gia.

Lho kok cepet banget alurnya? Kok udah jadian aja? Di mana bagian ‘galau’nya? Hahaha! Awalnya saya mikir gitu. Di awal saya pikir tadinya akan dikisahkan gimana perjuangan dan kebodohan-kebodohan yang dilakukan seseorang kalo lagi ngejar pujaan hatinya. Tapi, saya ternyata ketipu -_-

Bukan itu yang Winna ingin jabarkan.

Semakin masuk ke dalam bab-bab selanjutnya, saya mulai paham konflik apa yang sebenernya sedang terjadi di antara Moses-Freya dan Adrian-Gia. Moses yang terlalu aktif organisasi dan sama sekali gak romantis, bukanlah cowok yang selama ini Freya impi-impikan. Freya merasa hubungan mereka terlalu datar. Kadang, Freya iri dengan sahabatnya, Gia, yang bisa pulang sekolah bareng sama pacarnya, Adrian. Sedangkan pacar Freya? Kayaknya lebih milih untuk sibuk di sekretariat OSIS.

Di satu sisi, Adrian merasa Gia tipe cewek yang biasa banget. Cantik sih, tapi selama mereka pacaran, Adrian merasa hubungan mereka gak ada gregetnya. Adrian mulai jenuh.

Dari sini, kayaknya ketebak yah bakal jadi kayak apa jalan ceritanya? Yup! Freya dan Adrian yang merasa sama-sama kesepian (dan belakangan baru diketahui bahwa mereka menyukai aliran musik yang sama!) akhirnya jadi saling suka. Tapi mereka merahasiakan soal ‘rasa itu’ kepada pasangannya masing-masing. Tapi, sejauh apapun Adrian dan Freya mencoba membuang ‘rasa itu’ jauh-jauh, mereka toh gak bisa membohongi perasaan mereka sendiri.

Nah lhooo…kira-kira mereka bakal kayak gimana nih ke depannya? Melakukan hubungan gelap, mengaku ke pasangan masing-masing… atau…??? Well, apapun itu, Winna mampu menuliskannya dengan ciamik dan bikin greget saya naik turun. Hehehe…

***

Ngeliyat plotnya sih majuuu terus pantang mundur. Dengan alur yang cepet banget di awal, tapi kemudian berubah menjadi tenang menghanyutkan memasuki pertengahan bab. Hal ini pastinya bikin emosi pembaca sukses teraduk-aduk. Novel ini dibagi jadi 5 bab, yang masing-masing bab menggambarkan fase-fase hidup yang mereka lewati. Di antaranya, ada bagian saat mereka jadian, bagian saat konflik itu sendiri terjadi, bagian saat kelulusan sekolah, dan 2 bab lainnya. Pembagian bab ini menurut saya lumayan membantu kita memetakan cerita.

Karena terdiri dari 4 tokoh utama, maka penulisan sudut pandang pun dibagi jadi 4. Dari sisi Moses, Freya, Gia, dan Adrian. Setiap kali pergantian sudut pandang, Winna memilih untuk mencantumkan nama tokohnya sebagai ‘judul’. Pilihan yang tepat untuk novel dengan sudut pandang lebih dari satu tokoh utama. Bisa bayangin dong, yang tadinya mau rileks san santai baca novel remaja malah jadi dibikin mikir gara-gara bingung ‘ini siapa sih yang lagi giliran bercerita?’ huehuehe…

Satu lagi nilai plus novel ini yaitu kavernya! Setuju kan kalo saya bilang gambar di covernya elegan dan suasana romancenya kerasa banget? Terlihat simpel tapi berfilosofis. Menurut saya, kenapa kursi? Karena mungkin di kursi itu sepasang manusia akan berjumpa dan saling bertukar cerita sampai akhirnya timbul cinta. Tsaaah… yah itu sih pure kesimpulan saya sendiri, hehe… Well, apapun itu, kover berbahan doff ini sangat meneduhkan untuk dipandang (dan yang pasti sangat menjual!). Tak lupa seperti kebanyakan novel terbitan Gagas Media lainnya, selalu ada sinopsis cerita berupa sajak cinta yang membuat siapa saja yang membacanya jadi penasaran pengen mbaca isinya (setidaknya saya begitu :p )

Mengenai font, kertas, dan berat bukunya, sangat nyaman banget buat dibawa ke mana-mana. Fontnya gak bikin capek, kertasnya lentur warna kecoklatan (sama sekali gak kaku), serta berbonus pembatas buku menjadi salah satu kelebihan tersendiri di buku ini.

Rate 4/5 untuk buku ini. Cukup bagus untuk ukuran cerita romance remaja. Yang mau atau sedang galau, sila baca… :p

Advertisements

Motivasi Asyik Si Burung Zuper

Judul Buku : Kicauan Si Burung Zuper

Author : @MotivaTweet

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit : 2012

Rate : 4/5

ditinjau dari segi isi, ga terlalu beda jauh dengan buku buku motivasi yang gue suka kebanyakan. lalu, apa yang bikin gue kasih bintang 4/5 untuk buku ini?

1. bahasanya gak kaku. menurut gue ini penting banget. cocok dibaca untuk rentang usia anak anak remaja ke atas.

2. isinya variatif banget. gak melulu soal bisnis dan nikah aja, tapi juga bahas soal gaul, galau, putus cinta, galau skripsi,dll. bener bener nyasar ke anak muda banget kan?

3. gaya penulisannya menarik. kalo boleh diakumulasi, kayaknya gak bakal makan waktu lama buat bisa nyelesaiin satu buku. enak banget dibaca dalam kondisi apapun. bahasanya ringan tapi tetep ngena.

selain 3 faktor di atas, kumpulan tweet dari akun twitter @motivatweet ini juga ga menyertakan nama asli penulisnya lho. entah apa sebabnya. yang jelas, motty (begitu si admin akun ini menamai dirinya) dijelmakan menjadi seekor burung yang doyan mnegicaukan tweet-tweet bermutu dan memotivasi para followersnya.

buat saya pribadi, sebagus apapun buku motivasi, kalo hanya sekedar dibaca ya gak akan memberi Pengaruh apa-apa. seperti apa motty bilang, kita harus sempurnakan dengan #EKSYEN.

so, sahabat motty, keep your chin up and say hello to the world!

[Review] Berjuta Rasanya

Judul Buku : Berjuta Rasanya

Penulis : Tere Liye

Penerbit : Mahaka Publishing

Tebal : 205 Halaman

Tahun Terbit : 2012

Harga : Rp40.000,00 (Toko Buku Gramedia)

Untuk kita, yang terlalu malu walau sekadar menyapanya, terlanjur bersemu merah, dada berdegup lebih kencang, keringat dingin di jemari, bahkan sebelum sungguhan berpapasan.

Untuk kita, yang merasa tidak cantik, tidak tampan, selalu merasa keliru mematut warna baju dan pilihan celana, jauh dari kemungkinan menggapai cita-cita perasaan.

Untuk kita, yang hanya berani menulis kata-kata dalam buku harian, memendam perasaan lewat puisi-puisi, dan berharap esok lusa dia akan sempat membacanya.

***

Rasa senang saya pertama kali tahu buku ini terbit ternyata gak sebanding dengan kepuasan yang saya dapet saat selesai membacanya. Well, ini kumpulan cerita karya Tere Liye. Cerita tentang cinta dan kehidupan. Banyak cerita yang menye-menye tapi bisa ditulis Tere Liye dengan gaya bahasa dan ciri khasnya yang apik dan ga menye-menye. Beberapa cerita memang terkesan picisan, tapi di ending diberi twist yang lumayan baik, walaupun beberapa mudah saya tebak, hehehehe…

Terdiri dari 15 cerita tentang bermacam-macam pengalaman cinta. Termasuk di dalamnya ada kisah cinta sepanjang hayat, Laila dan Qais yang majnun, yang diceritakan ulang oleh Tere Liye dengan bahasanya sendiri. Ada pula cerita yang menyadarkan saya bahwa benar fisik itu gak penting. Berikut quotes favorit saya :

Seseorang yang mencintaimu karena fisik, maka suatu hari ia juga akan pergi karena alasan fisik tersebut. Seseorang yang menyukaimu karena materi, maka suatu hari ia juga akan pergi karena materi. Tetapi seseorang yang mencintaimu karena hati, maka ia tidak akan pernah pergi. Karena hati tidak pernah mengajarkan tentang ukuran relatif lebih baik atau lebih buruk.

Banyak hal bisa dipetik dari semua cerita yang disajikan penulis dalam kumcer ini. Ada cerita yang mengajarkan kalau cinta bisa membutakan seseorang sampai sebegitu butanya. Bahwa kecantikan seseorang bisa jadi kutukan bagi laki-laki yang ingin mendekatinya. Dan bener-bener serasa sejuta rasanya membaca cerita-cerita di dalamnya. Yang keren di sini yaitu beberapa cerita pendek ini ternyata memiliki kaitan satu sama lain. Misal ; di cerita pertama dikisahkan tentang seorang laki-laki yang mencintai seorang perempuan. Kemudian di cerita kelima diceritakan bagaimana sebenernya perasaan perempuan tsb kepada laki-laki di cerita pertama. Harus pintar-pintar kita menebak bagaimana sebenernya teknik penokohan yang dibuat sang penulis.

Jatuh cinta memang berjuta rasanya. Pernah gak sih kita naksir orang terus kita penasaran sebenernya dia naksir juga sama kita atau gak? Terus untuk mengujinya, kita pura-pura dekat dengan seseorang lain untuk mengetes apakah si gebetan kita cemburu atau gak. Dan kita gemes melihat si gebetan malah stay cool dan gak cemburu. O em ji! Serba salah kalau sudah begini… (setting cerita berjudul “Antara kau dan Aku”)

Tentunya masih banyak konflik-konflik cerita tentang cinta lainnya yang bisa kita dapat di dalam buku ini. Dan saya yakin sebagian dari Anda yang membacanya pasti akan berkomentar “Ya ampuuun ini kan gue bangeeet ceritanya!” Xixixixi…

Eh, bisa dilihat kan kavernya berbentuk pohon yang daun-daunnya berbentuk hati? Dengan warna yang gak norak, menaikkan sekian persen dari tampilan buku ini sehingga menarik untuk (paling tidak) dilirik. Simpel tapi berkelas!

Bahan kertas yang digunakan juga bukan kertas kaku. Kertasnya luwes banget dan ringan. Aroma bukunya menguar dan terasa banget dengan kertas berwarna kecoklatan, bukan putih seperti HVS pada umumnya. Dan yang lebih penting adalah ukuran buku dan jenis fontnya yang gak bikin mata yang baca jadi cepet capek. Sayangnya, dibalik kenyamanan itu semua, saya hanya bisa kasih 3 dari 5 bintang. Untuk seorang Tere Liye, buku ini kurang membuat saya terpukau lebih jauh.

Ending yang Tidak Terduga

Judul Buku : Pintu Terlarang
Penulis : Sekar Ayu Asmara
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 264 Halaman
Tahun Terbit : 2009 (sebelumnya pernah diterbitkan oleh PT Andal Krida Nusantara [AKOER] tahun 2004)
Harga : Rp10,000 (Bazaar Buku Gramedia)

Suatu hari aku pernah ngetweet “paling sulit mereview buku yang kelewat bagus dan buku yang ancur ketulungan”. Nah, menurut aku, Pintu Terlarang masuk ke kategori yang pertama. Kelewat bagus. Entah apa karena aku begitu menyukai genre psychology thriller sehingga review cenderung tidak objektif.

Jika boleh saya katakan, buku ini terbagi dalam 3 (tiga) bagian. Di bagian awal buku, pembaca diajak untuk membaca kisah tentang seorang anak kecil berumur 9 tahun korban child abuse kedua orangtuanya. Karena memuntahkan makanan, si anak dihukum orangtuanya. Hukuman yang diberikan juga tidak main-main. Ibunya menyabet muka si anak dengan serbet dan mulut si anak dijejali kecoak! Si anak dipaksa menelan serangga kotor itu! Yaiks!

Di bab berikutnya dituturkan kisah tentang Gambir dan Talyda, sepasang suami istri yang saling mencintai. Kedua cinta mereka satu sama lain begitu besar. Gambir adalah seorang pematung terkenal. Sedang Talyda seorang direktur sebuah perusahaan. Di balik kesuksesan Gambir, Talyda ternyata memegang peranan besar. Perempuan itu menyimpan misteri tersendiri. Perempuan yang selalu mengenakan kalung dengan kunci sebagai liontinnya. Ya, kunci sebuah pintu terlarang.

Bagian ketiga memaparkan tentang kehidupan Ranti, seorang jurnalis sebuah majalah metropolitan, yang sedang melakukan penelitian atas artikel yang akan dimuat. Di sini ia bertemu dengan sosok “dia” yang selama 18 tahun mendekam di sel isolasi sebuah rumah sakit jiwa.

Selintas memang terkesan gak ada hubungan di antara ketiga bagian di atas. Eits, tapi sebenernya ada banget! Dan pembaca pasti akan terbingung-bingung selama membuka halaman demi halaman. Sulit untuk menebak apa yang sebenarnya terjadi dengan Gambir? Apa rahasia yang disembunyikan Talyda di balik pintu terlarang? Siapa sebenernya sosok “dia” yang ditemui Ranti dan apa hubungannya dengan anak kecil yang mengalami child abuse itu? Semua menjadi misteri.

Sampai aku akhirnya di bagian akhir cerita yang bahkan sampai tersisa dua halaman pun tetep belum ketebak misterinya! Benar-benar menggemaskan! Dan begitu segala rahasia terkuak, aku merinding. Satu kata untuk novel ini : gila!

Gila, karena novel ini bikin mikir, dan itu seru. dibanding novel yang datar-datar saja.

Gila karena nama tokohnya yang sangat njawi dan aku suka itu.

Gila karena di dalam novel ini dideskripsikan adegan violence dan seksual yang lumayan bikin mual.

Melihat kavernya sudah bisa terasa kesan mistis. Sayang, mungkin orang akan ilfil duluan enggan mengambil buku ini dari deretan rak di toko buku karena desainnya yang agak njadul. Oh, iya, gak perlu khawatir soal huruf yang rapat-rapat yang cenderung akan membuat pembaca bosan, karena buku ini ditulis dengan jenis dan size huruf yang friendly. Dijamin gak cepat bikin mata lelah.

Dengan alur maju mundur yang ditata apik dan tidak biasa membuat novel ini begitu menarik untuk dibaca. Recommended buat Anda pecinta thriller dan misteri. Penulis dengan lihai memainkan kata-kata sehingga sukses bikin saya penasaran sampai akhir cerita, menebak-nebak akan seperti apa endingnya yang ternyata WOW!

p.s : Ini termasuk kategori NOVEL DEWASA. Novel ini juga pernah difilmkan. Walaupun aku sendiri belum pernah nonton, tapi pas baca synopsis di Wikipedia, bisa ketahuan kalau film dan bukunya ini beda banget, meski secara garis besar jalan ceritanyanya sama. Nama tempat berbeda dan ada pembelokan cerita yang lumayan jauh berbeda.

Cetak Ulang Edisi Kaver Film

Tentang Aku, Kamu, dan Rasa

Judul Buku : Empat Musim Cinta (tentang aku, kamu, dan rasa)
Penulis : Adhitya Mulya, Andi F. Yahya, Hotma Juniarti, Andi Fauziah Yahya, Okke ‘Sepatumerah’, Rizki Pandu Permana, S.A.Z Al-Fansyour, Veronika Kusuma Wijayanti
Penerbit : Gagas Media
Tebal : 174 Halaman
Tahun Terbit : 2010
Harga : Rp30,000 (Leksika Kalibata City)

Rating: 2/5

“Ketika bangun di pagi hari, aku memikirkan dirimu.
Ketika bersiap-siap tidur, aku memikirkanmu juga.
Dan, di antara rentang waktu itu, aku memikirkan kita…..”

 

Empat Musim Cinta berisi kumpulan cerita-cerita pendek beberapa penulis yang aku gak begitu kenal kecuali Adhitya Mulya. Berdasarkan sekilas info tentang siapa saja penulis yang ada di halaman belakang buku bisa aku ketahui bahwa penulis yang ada di kumcer ini sepertinya tidak menjadikan menulis sebagai pekerjaan utama. Hampir kesemuanya menulis karena sebatas kegemaran saja, kecuali seperti kita tahu, Adhitya Mulya.

Pertama kali melihat cover buku ini, aku langsung jatuh hati dengan desainnya yang berkesan teduh dan memanjakan mata. Dengan warna pink cerah bergambar jejeran pohon sakura yang berbunga indah. Bukan synopsis atau sajak yang biasa ada di belakang kaver buku terbitan Gagas Media yang membuat aku tertarik membaca buku ini, namun semata-mata karena kavernya (tentu juga karena di kavernya tertulis “Adhitya Mulya”). Jadi, pepatah don’t jugde a book by its cover seperti gak berlaku bagi aku.

Berbicara tentang konsep, penyusunan kumcer ini berisi 16 cerita pendek dari 8 penulis. Masing-masing penulis menyumbang 2 cerita dengan gaya bercerita yang bervariasi. Adhitya Mulya, misalnya, menulis 2 cerita komedi di awal buku. Tentu dengan membubuhkan sedikit bumbu-bumbu romantisme pada setiap ceritanya. Sayangnya, sorry to say, kedua cerita dari penulis komedi terkenal ini gak membuat emosi aku turun naik. Terlalu ringan dan datar.

Cerita menarik justru datang dari penulis S.A.Z Al-Fansyour. Dengan cerita berjudul “Pilihan Lamoreng” dan “Sekeping Hati yang Tersisa” sukses membuat aku merinding membaca twistnya. Apik dan gak mudah diduga.

Cerita pendek “Pilihan Lamoreng” menceritakan tentang kehidupan suami istri Lamoreng dan Banuang. Gosip sudah sampai ke telinga Banuang bahwa Lamoreng, suaminya yang sudah lama tidak pulang ke rumah karena urusan pilkada, akan menceraikannya. Perihal cerai-mencerai itu tentu menyakitkan hati Banuang. Ia takut gossip itu akan menjadi kenyataan. Masalahnya, sebelum Lamoreng pergi, mereka sempat berdebat hebat soal siapa yang akan dicoblos pada pemilihan gubernur dalam pilkada nanti, sedang Banuang dan Lamoreng memiliki pilihan yang berbeda. Selama membaca cerita ini, rasa penasaran terus menggelitik pikiran saya. Kira-kira apakah Lamoreng akan secetek itu pemikirannya sehingga harus menceraikan Banuang hanya karena perbedaan pendapat? Apakah Banuang sebegitu keras kepalanya sehingga tetap kekeuh menolak mengikuti pilihan Lamoreng?

Well, cerita dari S. A. Z ini mengingatkan saya kepada karya sastra pendek. Sangat jauh berbeda dibandingkan dengan cerita-cerita lain di dalam buku ini, yang cenderung menye-menye dan kurang berkelas. Rasanya seperti terlempar kembali ke era 90-an saat membaca kumpulan cerpen di majalah-majalah remaja yang ditulis penulis amateur.

Kebanyakan cerita-cerita dalam buku ini gak ada yang membekas di ingatan aku, menandakan cerita-cerita ini gak begitu berkesan. Kurang berbobot. Malah ada cerita yang dari awal sampai akhir cerita gak ditemui dialog sama sekali! Mana setting ceritanya tentang berbau-bau sejarah begitu. Wew, bisa dibayangkan bukan, betapa membosankannya cerita model begitu?

Meskipun begitu, harus aku akui setiap penulis memiliki gaya bercerita yang khas dan berbeda. Seperti misalnya, Rizki Pandu Pratama. Cerita-cerita ia bersetting suasana Eropa. Terkesan klasik. Juga Veronika Kusuma, yang menjabarkan tentang dunia pelacuran ABG dan cerita seorang yang mengidap sipilis. Lain hal dengan Okke ‘Sepatumerah’ yang menyuguhkan cerita sesuai dengan trend ABG masa kini ; semisal acara uji setia di televisi dan perjuangan cewek gendut yang terobsesi menjadi kurus. So drama, huh? Kemudian ada pula cerita ‘nyeleneh’ dari Andi Fauziah Yahya. Kenapa bisa aku bilang nyeleneh? Baca saja… hehehehe…

Entah kenapa, tapi aku (mungkin) merasa terlalu tua membaca buku ini. Buku ini akan menarik (mungkin) jika dibaca oleh remaja atau kalian yang menyukai genre teenlit dan sebagainya. Ringan, santai, dan gak bikin mikir. Oh iya, pun jangan pernah bertanya kenapa kumcer ini diberi judul “Empat Musim Cinta”. Karena aku rasa itu hanya sebuah ide yang terlontar tanpa memiliki konsep berarti terhadap isi buku. Gak nyambung blass.

At the end, I give my 2 of 5 stars. It’s enough for short story collection which are too commonly and almost flat.