Balada Hidup Mantan Penjaga Counter Hape

Judul Buku : The Not So Amazing Life of @aMrazing
Penulis : Alexander Thian
Penerbit : Gagas Media
Tahun Terbit : 2012
Tebal : 220 Halaman
Harga : Rp 34.400,00 (bukabukudotcom)

“Meributkan yang tak penting,
Menyepelekan yang penting”

 

Buku berwarna kuning cerah ini bukan fiksi lho. Menurut saya, buku ini masuk kategori personal literature semacam buku Kambing Jantan-nya Raditya Dika. Berisi cerita dan pengalaman seru seorang @aMrazing saat menjadi penjaga counter hape. Who is @aMrazing actually? @aMrazing adalah akun twitter si penulis. Tadinya, saya pikir buku ini akan berisi cerita kekonyolan yang seperti biasa ditweetkan di akun twitternya itu. Tapi, ternyata (lagi dan lagi) saya salah besar. Alex, begitu nama asli @aMrazing, dulunya adalah seorang penjaga counter handphone di sebuah trade centre di Depok. Wow, siapa sangka? Saya juga tadinya gak percaya! Hehehe…

Selama menjadi penjaga counter ini, banyak hal-hal konyol, gila, ajaib, sekaligus mengharukan yang dirasakan oleh Alex. Pelanggannya macem-macem dan terdiri dari berbagai kalangan karena counter hape yang Alex jaga ini memiliki koleksi lagu-lagu paling lengkap seantero mall. Loh? Kok jadi lagu-lagu sih? Iya, soalnya counter hape ini melayani pengisian mp3 di hape juga. Pengisian lagu dari komputer ke hape dengan model begini memang sempat booming di tahun 2003-an pada waktu itu.

Kalo kamu tanya buku ini lucu atau gak, saya akan jawab : begitulah. Hehe, datar banget ya kesannya? Well, mentok-mentok palingan cengar cengir aja karena kekonyolan pelanggan-pelanggan Alex yang ajaib. Gak akan sampai tertawa terbahak-bahak (itu kalo saya loooh. Selera humor setiap orang kan beda-beda ya mas, mbak… hehehehe). Dan seperti layaknya buku-buku personal literature kebanyakan, bahasa yang dipakai dalam buku ini tentunya gak baku. Sangat santai. Cocok dibaca untuk yang lagi butuh bacaan selingan ringan. Eeeiiitttsss… meskipun kayaknya ini buku buat cengar cengir aja, jangan dikira buku ini gak punya pesan moral loh.

Ada satu cerita berjudul Dummy Seharga Dua Juta yang lumayan bikin saya merasa “nyesss” karena bercerita tentang kasih sayang seorang bapak kepada anaknya yang autis. Si bapak ini tadinya berniat membelikan anaknya hape baru di hari ulang tahun putranya. Apa daya, niat baik itu hanya tinggallah niat karena nyatanya saat membeli hape di salah satu orang, bapak itu ternyata ditipu. Kemudian dia dating ke counter hape Alex menanyakan kenapa hapenya kok nggak bisa di-charge? Setelah diteliti Alex, ternyata itu hape dummy alias hape tiruan! Bagaikan disambar petir di siang bolong (ya ampun, maafkan saya pakai peribahasa njadul) bapak itu langsung pucat mendengar penuturan Alex. Di situlah bapak itu sadar kalau dia ternyata sudah ditipu sama seseorang yang tempo hari menjual hape itu kepadanya.

Ada juga cerita soal anak perempuan 6 SD yang totally-annoying-dan-minta-dijambak-banget sampai “menyiksa” ibunya untuk membeli hape keluaran terbaru hanya karena si anak malu kepada teman-temannya bahwa hapenya hape jadul. Padahal si ibu sedang ga punya uang. Sampai akhirnya si ibu menjual hape miliknya sendiri untuk ditukar tambah dengan hape baru buat anaknya.

Tunggu dulu! Ada satu lagi yang nempel juga di pikiran saya. Salah satu pelanggan Alex adalah seorang loper koran! Waktu pertama kali si loper koran datang ke counter hape Alex, Alex sempat mengunderestimate dan berburuk sangka-ria kepada si loper. Bagaimana tidak? Lha wong penampilannya kayak gembel banget! Lusuh dengan baju yang compang camping. Tapi ternyata Alex salah besar! Loper koran itu bukan loper koran biasa! Dia jago banget bahasa inggris dan punya duit banyak buat beli hape keluaran terbaru. Kok bisa? Hahahah… baca saja… yang pasti, Alex dapat pelajaran berharga kalau kita gak seharusnya menilai orang hanya dari penampilan luar atau gadget apa yang dia punya.

Quote:
“Terkadang manusia memang hanya memandang penampilan luar. Menghakimi bahwa sebuah buku pasti jelek isinya hanya karena cover yang buruk.” – p. 34
Quote:
“Padahal, menilai seseorang dari kulit luarnya kan jahat. Kita nggak memberikan kesempatan ke diri kita untuk mengenal lebih jauh.” – p. 116

 

Well, harus aku akui, buku ini lumayan bagus. Ada nilai hidup yang bisa kita ambil. Gak hanya sekedar cerita yang bisa bikin cengengesan saja. 14 cerita yang ada di buku ini benar-benar beda. Alex benar, kadang banyak hal penting kita sepelekan. Atau banyak hal sepele yang kita anggap gak penting. Padahal gak selalu begitu loh kalau saja kita sudi meluangkan pikiran dan hati kita untuk melihat segalanya lebih dalam *tsaaah bahasa gueee*

Akhir kata, 3 dari 5 bintang! Nice book! 

Cinta Segi Banyak

Judul Buku : Antologi Rasa
Penulis : Ika Natassa
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2011
Tebal : 344 Halaman
Harga : Rp 40.800,00(bukabukudotcom)

Non mihi, non tibi, sed nobis
*Not for you, not for me, but for us

“Karena kecanggungan tidak pernah ada di antara dua orang yang tidak ada apa-apanya. So maybe there is something between us.”
“Doesn’t it scare you sometimes how time flies and nothing changes?”
“So you see, being pathetic has also been my normalcy, as your presence here, means the absence of my sanity.”

Buku ini memang berjudul Antologi Rasa. Tapi, kalau kamu pikir ini adalah kumpulan cerita pendek, kamu salah. Novel metropop bergenre drama romantic ini, bercerita tentang persahabatan dan cinta segiempat.

Adalah Keara, wanita banker yang tidak disebutkan dengan jelas oleh penulisnya berusia berapa, tapi saya menebaknya mungkin sekitar 27-28 tahun. Gaya hidup Keara begitu glamour. Keara lulusan Universitas New York, Amerika Serikat. Ketimbang bekerja di kantornya di kawasan Mega Kuningan, ia lebih suka ke salon atau shopping. Kalau kamu pernah baca Confessions of Shoppaholic atau Sex and The City, ya seperti itulah kira-kira gaya hidup Keara. Pesta, belanja, clubbing, flirting, dan… freesex. Bukan berarti Keara cewek bodoh ya. Hanya saja memang seperti itu cara dia menikmati hidup.

Sangat berbeda dengan Ruly. Cowok yang setengah mati dicintai Keara ini, alim dan workaholic. Sayangnya, Ruly gak pernah melirik Keara yang dengan begitu idealnya dideskripsikan oleh penulis sebagai sosok perempuan yang cantik dan seksi. Buat Ruly, cintanya hanya untuk Denise. Sayangnya (lagi), Denise sudah jadi istri orang.

Dan Harris. Sahabat cowok Keara ini ternyata menaruh perasaan cinta padanya. Tapi, dia tahu, Keara sebegitu tololnya mencintai Ruly yang gak pernah sedikitpun sadar kalau Keara selalu ada buat dia. Karena itu, Harris menyimpan perasaannya rapat-rapat kepada Keara seperti halnya Keara memendam cintanya untuk Ruly, yang sama halnya, memendam perasaan kepada Denise. Rumit, eh?

Permulaan bab menceritakan liburan Keara dan Harris yang akhirnya menimulkan perpecahan di antara keduanya. Keara kemudian membenci Harris setengah mati dan bersumpah tidak akan pernah mau melihatnya lagi. Harris pun tersiksa sekali. Dia tidak bisa menemui ‘cintanya’ itu. Lama-lama Keara pun menyerah akan Ruly. Dia mulai mendekati pria lain, namanya Panji. Tapi, bukannya lupa dengan Ruly, bayangan Ruly malah semakin jelas bagi Keara. Duuuh…pusiiing…!

Namun, hubungan Keara dengan Panji yang tadinya hanya untuk main-main, nampaknya mulai menjadi sedikit lebih serius. Perlahan Keara melupakan Ruly. Tapiiiii, gak lama, Keara malah dijadikan satu tim sama Ruly untuk sebuah proyek besar. Di situ Ruly mulai memandang Keara sebagai cewek yang otaknya berisi, setelah selama ini di matanya Keara hanyalah cewek tukang party. Nah, proyek itu mengharuskan mereka tinggal di Bali selama 2 minggu.

Well, kira-kira, bakal kayak apa yah Keara dan Ruly akhirnya? Apakah Ruly akhirnya bisa mencintai Keara? Terus, bagaimana perasaan Keara ke Ruly padahal tadinya sudah berpaling ke Panji? Penasaran juga kan sama nasib persahabatan Harris-Keara? Xixixi… just read the book, gan…

***

Bagi saya, novel dengan konflik model begini gampang banget ketebak gimana endingnya. Jadi, jangan berharap si penulis akan membuat twist yang heboh, karena malah akan jadi terlihat sangat aneh dan maksa. Overall, aku suka gaya penulisan Mbak Ika Natassa ini. Keren! Gimana aku bisa bilang keren? Lha iya! Teknik penokohannya kuat banget sehingga sifat masing-masing tokoh merekat dengan baik di setiap karakternya. Misalnya, saat bercerita dari sudut pandang Ruly. Penulis membuat saya seketika menjadi Ruly. Dan saya bisa merasakan rasanya jadi Ruly, perasaan apa yang sedang Ruly rasakan. Juga terasa sekali perpindahan karakter antara Ruly, Keara, dan Harris. Di mana saat bagian sudut pandang Keara, ditulis dengan gaya yang cewek banget. Full of rumpi. Hahaha! Sedangkan di bagian Ruly yang cool, kita ( pembaca), tiba-tiba (mau tidak mau) tanpa sadar menjadi sosok Ruly yang cool dan manis. Eits, baru beberapa menit ‘merasakan’ rasanya jadi Ruly, sudut pandang sudah berubah ke sudut pandang Harris dan kita akan merasakan berperan jadi Harris yang santai, rame dan humoris.

Satu hal yang cukup mengganggu adalah banyaknya kata-kata tercetak miring karena monolog dan dialog antar tokohnya yang memang menggunakan Bahasa Inggris. Hal ini mungkin dimaksudkan supaya pembaca lebih meresapi ‘perannya’ saat membaca bagian Keara, Ruly, ataupun Harris yang memang pernah kuliah di luar negeri. Well, buat saya yang ngerti sedikit Bahasa Inggris sih bukan masalah besar ya. Tapi, gak semua orang bisa dan mau baca tulisan Bahasa Inggris kan? Jangan-jangan bukannya menikmati membaca ceritanya malah sibuk buka tutup kamus, hehehehe…

Quote:
“Harris darling, udah deh, nggak usah sok manis. Go back being the chauvinistic jerk that I love.”

Satu hal yang menarik adalah setiap bab diberi judul dengan quote Bahasa Perancis dan Latin. Sangat ciri khas Ika Natassa di setiap novel karangannya. Dengan arti/makna dalam Bahasa Inggris, dijelaskan di footnote.

Physically, kesan saya pertama kali lihat kaver buku ini adalah simple dan minimalis. Sangat modern. Ada gambar jantung yang bertuliskan berbagai macam perasaan. Mungkin itu kenapa diberi judul Antologi Rasa. Karena konflik yang dihadapi para tokoh-tokoh di dalamnya menimbulkan berbagai macam perasaan. Yeah, meskipun warnanya agak butek yah. Perpaduan coklat tua dan merah hati. Mengenai font dan space using, menurut aku sih kurang nyaman di mata yah. Fontnya cukup rapat dan kecil. Satu halaman saja biasanya saya habiskan 1-2 menit, kali ini harus makan waktu 2-3 menit. Akan terasa jenuh berada di halaman itu-itu saja. Alur ceritanya dominan maju dan berjalan agak lambat, dengan setting Singapore, Bali, dan mayoritas daerah perkantoran Sudirman Jakarta Selatan. Setting ini membuat cerita terasa nyata dan serasa lagi gak baca fiksi.

Layaknya novel metropop pada umumnya, ini bacaan berkonten dewasa ya. Banyak adegan dan kata-kata makian yang cukup vulgar. Akhir kata, 4 dari 5 bintang.

[Review] 7 Keajaiban Rezeki

Judul Buku : 7 Keajaiban Rejeki
Penulis : Ippho ‘Right’ Santosa
Penerbit : Elex Media Komputindo
Tahun Terbit : 2010
Tebal : 190 Halaman (hard cover)
Harga : Rp84.800,00 (Toko Buku Gramedia)

Buku motivasi ini berisi 7 jurus ampuh sukses dunia akhirat. Jujur, dengan mengikuti semua step by step di buku ini, saya merasakan perubahan yang lumayan berarti dan semoga menambah keimanan saya akan Keesaan dan kekuatan Tuhan. Ippho juga menuliskan setiap kata-kata motivasinya dengan gaya seolah-olah dia ada di samping kita mengatakan itu semua dengan semangat berapi-api.

Terdiri dari 3 bagian, yaitu bagian lingkar diri, lingkar keluarga, dan lingkar sesama. Lingkaran ini membantu saya memetakan isi dari buku tersebut akan ditujukan ke mana.

Apa saja 7 keajaiban rejeki itu?

 

1. Sidik Jari Kemenangan (Lingkar Diri)

Pada bab ini, tidak akan ada bacaan apa-apa yang bisa kita resapi. Hanya ada lembaran kertas kosong tempat untuk Anda menuliskan apa mimpi-mimpi Anda dan bagaimana cara mencapainya. Karena menurut Ippho, setiap orang memiliki cara masing-masing dan berbeda-beda. Seperti halnya sidik jari Anda yang tidak akan pernah sama dengan sidik jadi orang lain.

 

2. Sepasang Bidadari (Lingkar Keluarga)

Sepasang bidadari bukan berarti bidadari beneran loh haha. Ini adalah istilah yang Ippho gunakan untuk menggambarkan keistimewaan orangtua dan pasangan hidup kita. Yup! Bidadari yang pasang pertama yaitu orang tua kita. Kalo ga ada restu orang tua, susah juga buat ndapetin restu dari Allah. Pun, pasangan hidup. Banyak yang galau soal ini nih. Soal menikah. Tapi, Ippho menjawab semua pertanyaan soal nikah dengan tegas dan penuh percaya diri. Benar-benar provokatif! Bikin saya pengen cepetan nikah. Hahaha!

 

3. Golongan Kanan (Lingkar Diri)

Ini menurut saya adalah dasar babnya. Ippho meminta kita untuk berpikir menggunakan otak kanan. Lho? kalau memand ini bab dasar/permulaan, kenapa dia ditaruh di urutan ketiga dalam bab buku ini? Nah, justru di sini letak kerennya, imho ya. Kata Ippho, cuma tukang urut yang mesti ngurut. Hehehehe. Para parkar otak kanan gak mengenal istilah ‘urutan’ dan ‘sistematis’. Alasannya? Ya karena kalau hidup kita terpaku pada yang namanya urutan, jika suatu waktu kita stuck di satu titik terntentu, kita akan susah move on, karena ya itu tadi, kita terlalu berpatokan pada urutan! Lebih baik spontan saja.

 

4. Simpul Pedagang (Lingkar Sesama)

Di ajaran agama Islam, yang mengatakan ‘9 dari 10 pintu rejeki, itu pintu perdagangan’ yah lebih kurang seperti itu. Artinya? Kita diminta berdagang, berbisnis. Bahkan Rasullullah SAW pun sudah berdagang sejak usia 12 tahun.

 

5. Perisai Langit (Lingkar Diri)

 

6. Pembeda Abadi (Lingkar Diri)

 

7. Pelangi Ikhtiar (Lingkar Diri)

Buku ini ga perlu dibaca secara berurutan. Bisa dibaca dari bab berapa saja. Ingat! Karena hanya tukang urut yang boleh ngurut. Hehehe! Satu hal yang penting : Action!

Misal untuk menikah, semakin tua, semakin matang, biasanya semakin banyak pemikiran untuk menikah. Pengen punya rumah dulu lah, harus mapan dulu lah, bahagiain ortu, dll. Wah, kalo gitu kapan nikahnya? Nah, Bung Ippho ini bilang : nikah saja dulu. Gak usah banyak tanya. Nikah itu kan ibadah, insya Allah, Allah pasti mencukupkan, malah bisa dilebihkan rejekinya. Intinya sih, percaya sama Allah. *saya seketika galau* hiks

Sama halnya kayak buka usaha. Takut gagal, takut bangkrut. Banyak alasan yang dikemukakan sehingga sampai sekarang belom ada eksennya. Padahal sih intinya, just do it. Kelamaan mikir, entar gak usaha-usaha deh hehe… Usaha itu butuh modal? Itu benar! Tapi, ingat, modal itu bukan cuma uang! So, Ippho mengajak kita untuk tetap buka usaha sendiri meskipun ga punya uang. Loh, terus dengan cara yang gimana? Baca saja bukunya! Hehehe…

Satu lagi yang gak kalah penting : sedekah. Buang segala kemalangan dengan sedekah. Otak kanan berpikir, jangan kaya dulu baru sedekah. Tapi, sedekahlah biar jadi kaya! Jangan ketatkan pengeluaran, tapi tingkatkan pendapatan!

Well, mungkin banyak dari kita yang berpikir bahwa buku motivasi itu bullshit ya. Tapi, saya punya keyakinan sendiri dan saya percaya buku Ippho gak begitu kok (at least bagi saya). Ambil sisi positivenya dan eksyen.

Buku ini dicetak dalam edisi hardcover. Hanya kurang dari 200 halaman. Lumayan tipis menurut saya. Font yang digunakan juga besar-besar dan gak kaku sehingga saya gak jenuh mbacanya. Disajikan juga gambar-gambar motivasi, tokoh tokoh pengnspirasi, ilustrasi yang menarik, dll. Juga terdapat bonus CD yang isinya lagu-lagu motivasi (dijamin anti galau 100%) dan cerita inspiratif dari para pengusaha-pengusaha muda semisal Mas Mono (Pemilik Ayam Bakar Mas Mono). Desain kavernya menarik menurut saya karena di situ ditulis benefit berupa bonus langsung Rp1.350.000!!! Apaan aja tuh?

Dan di belakang kavernya ditulis ‘garansi uang kembali kalau buku ini tidak bermanfaat’ ke alamat bla bla bla.

For the greatest book like this, what can I do except give it 5 of 5 stars?

[Review] Kāla Kālī

 


Judul Buku : Kala Kali
Penulis : Valiant Budi & Windy Ariestanty
Penerbit : Gagas Media
Tahun Terbit : 2012
Tebal : 332 Halaman
*freebook Leksika*

Buku ini adalah salah satu hasil proyek Gagas Duet. Well, apakah Gagas Duet itu? Saya pikir sih tadinya semacam buku yang ditulis secara estafet. Tapi ternyata bukan. Ini adalah buku dengan 2 penulis berbeda dan 2 cerita berbeda. Aduh, pengen ngomong ke penerbit gini deh rasanya, “Ya kalo gitu ini bukan duet dong??? Medley gituh!” Errr…

Tentang penulisnya, saya hanya sekedar tahu bahwa Valiant dan Windy adalah penulis. Penulis yang seperti apa? Jujur, saya belum tahu. Kala Kali ini adalah buku pertama mereka yang saya baca. Dan yah, jujur (lagi) ekspektasi saya soal kedua penulis ini lumayan tinggi. Tapi, apa yang saya dapat? Saya hanya memberi rate 2/5 . Emmm… apa yah, menurut saya cerita yang ditulis tuh kering banget. Datar. Sorry, but this is what I feel when I’m reading this book.

Mengenai Kala Kali itu sendiri, seperti yang saya baca di blog pribadinya Mbak Windy, adalah sbb :

“Kālī yang merupakan salah satu dewi dalam kepercayaan Hindu ini berasal dari Kāla—nama panggilan Shiva, Dewa Kematian. Kāla sendiri juga bisa berarti waktu yang abadi atau gelap. Karena Shiva yang dipanggil Kāla adalah sisi maskulin, maka Kāli—yang merupakan sisi feminin—juga merupakan entitas dari ‘waktu’, ‘sesuatu yang melampaui waktu’, dan ‘kematian.’ Selain itu Kāli juga dianggap sebagai dewi dari perubahan.”

Menjurus dari penjelasan di atas, memang bisa disimpulkan bahwa kedua cerita dalam buku ini beda banget satu sama lain. Cerita pertama, Ramalan Dari desa Emas, menceritakan petualangan seorang gadis kocak ke Desa Sawarna. Niatnya sih mau merayakan ulang tahunnya yang ke-18 sendirian. Siapa sangka di sana ia justru mengalami suatu musibah sampai akhirnya bertemu dengan anak kecil yang jago meramal. Ia diramal akan mati sebelum umurnya mencapai 18 tahun. Weks! Itu artinya kan beberapa hari lagi. Nah, karena ramalan itu, ia akhirnya pergi meninggalkan Desa Sawarna karena ketakutan dan bukannya selamat dari kutukan, malah ramalan it uterus menghantuinya dan akhirnya membawa dia ke suatu petualangan. Hehehe. Agak mirip film Final Destination gitu deh.

Oke, membaca cerita pertama, karya Valiant, saya lumayan terhibur dengan gaya penulisan yang lucu dan berbeda. Saya akui, Valiant pandai berhumor. Sesuatu yang menyedihkan masih bisa digambarkan dengan kegembiraan. Benar-benar orisinil sih. Lho kok ada kata ‘sih’? Lha iya. Soalnya menurut saya konfliknya datar banget. Twistnya oke laaah… dapet kok… dapet! Tapiii… untuk saya, kurang. Mungkin usia setua saya jangan baca buku genre remaja gini kali yah? Hahaha…

Eitsss, yakiiin genre remaja??? Soalnya Windy menulis cerita yang 180 derajat beda sama Valiant loh. Cerita Windy benar-benar kelas tinggi. Banyak permainan kata-kata yang keren, menurut saya. Sayangnya, (lagi-lagi) selera saya gak sebagus itu untuk bisa memahami apa sih yang sebenernya Windy mau bahas. Oke, tentang persahabatan, perselingkuhan, dan tentu saja cinta. But, hey, saya bahkan skimming hampir di setiap halaman saking datarnya. Capek sendiri menunggu klimaks yang gak kunjung muncul. Isinya pelajaraaannn terus… Infoooooo terus… yah, bagus sih kita jadi nambah pengetahuan baru tapi buat saya, hal ini melelahkan…

Secara fisik, gak ada masalah. Font sesuai. Ukuran sesuai. Desain sampulnya juga keren, dan dapet banget kesan misterinya (sesuai sama isi ceritanya ada yang berbau-bau misteri) serta 3 dimensi (menurut saya loh, hehe). Sayangnya, karena 3 dimensi ini, kaver buku malah akan jadi cepet rusak. Buktinya, kaver saya udah sobek tuh. (Ah itu sih elunya aja, Sel, yang careless –__–)

Entah ya mungkin saya yang terlalu bodoh sampai gak bisa menangkap esensi dari buku ini. Yeah, who knows? Yang jelas, saya gak menikmati saja. So, cukup kali yah bintang 2/5? Saya sangat appreciate this book. But, sorry, I cant help myself to enjoy this book.