Bukan Kedai Kopi Biasa

kedai

 

Judul Buku : Kedai 1001 Mimpi
Penulis : Valiant Budi
Tahun Terbit : 2011
Penerbit : Gagas Media
Tebal : 444 Halaman

 

“Selamat datang di negeri 1001 dongeng.
Berharaplah ini memang sekedar dongeng.” @Vabyo

 

Buku ini menceritakan kisah nyata si penulis. Sebut saja Vibi, seorang penulis yang punya tujuan untuk membuat sebuah buku. Bukan tentang Korea Selatan yang seperti kita tahu sedang ngehip dengan K-pop. Bukan juga tentang Amerika, Jepang, dan Negara-negara lain yang biasa dijadikan destinasi wisata kebanyakan orang. Timur tengah! Yap, Vibi mendambakan Timur tengah sebagai ambisi untuk dijadikan buku travel. Karena itu, ia mengajukan CV, melamar pekerjaan untuk salah satu kedai kopi berstandar internasional di daerah timur tengah sana. Dan .. jeng jeng! Vibi diterima bekerja di Saudi Arabia sebagai barista! Ahey!

Syahdan, haiyah, berangkatlah Vibi ke sana. Tentunya setelah sebelumnya ia menanti panggilan dari tempat ia melamar itu sekitar 10 bulan. Sesuatu!

Di sana, ternyata ga seperti yang ia bayangkan. Menjadi barista ternyata tidak hanya sebatas meracik kopi dan menyajikannya untuk customer. Vibi melakukan lebih, lebih dan lebih. Hahahahaha. Ups. Maaf aku teringat bagaimana sabarnya Vibi menghadapi para kustomernya yang ajaib bin aneh. Entah kalau aku yang ada di posisi dia, mungkin itu customer sudah aku racun satu-satu saking menjengkelkannya! Mulai dari melakukan kegiatan seksual yang meninggalkan ‘jejak’ di kedai tersebut, seorang om-om yang eksibisionis gemar pamer alat vitalnya (sumpah jijik) sampai ditawarin jadi penari liar sama customer ibu-ibu dengan dandanan menor. Untungnya, si penulis sabaaarrr banget dan berani tapi tetap dengan gaya yang sopan dan bermartabat *hasik* ! Salute to Vabyo!

Di buku ini juga diceritakan bagaimana budaya dan gaya hidup masyarakat Arab. Ternyata, negara yang setiap tahunnya didatangi seluruh muslim dari berbagai penjuru dunia, justru tidak sesuci yang aku bayangkan. (Hey, ini fakta lho. Bukan asal bicara dan sama sekali ga bermaksud SARA). Baca sendiri deh. Mihihihiy. Bahkan di sana kedai kopi biasa dijadikan tempat transaksi pelacur-pelacur. Euw! Aku sangat bersyukur lahir, besar dan tinggal di Indonesia. Thanks to Vibi!

Aku sendiri heran sama yang ngatain penulis kafir lah, atau apa. Dan masih bingung di mana letak kekafirannya???!!! Yang aku lihat justru si penulis (dan TKI di sana pada umumnya) lebih beradab dan lebih rajin ibadahnya ketimbang penduduk asli sana. Nah lho?!

Intinya, aku dibikin melotot hebat dan menganga lebar. Selebar apa? Just read this book an find your own experience!

Baca buku ini, aku seperti menemukan teman baru di weekend yang lalu. Selesai baca buku ini, aku seperti kehilangan teman baru itu. Aaaaa tidaaaaakkkkk buku ini bagus luar biasa! Rasanya aku ga mau berhenti dan lepas dari buku ini. Membacanya membuat aku sungguhan merasa sedang berada di daerah timur tengah sana. Vibi dengan apik mendeskripsikan setiap tempat (bagaimana suhu, angin, cara berpakaian, dan bentang alam di sana). Serius deh. Saya sampai ngakak-ngakak ketawa baca buku ini setelah sekian lama gak pernah ketawa ngakak kalau baca buku humor sekalipun. Biasa hanya cengengesan atau cekikikan. Tapi, dengan buku ini, aku bisa ngakak lho. Hahahaha. Gaya humor yang ditawarkan cocok dengan selera humor aku. Ouch, aku nampaknya jatuh cinta dengan gaya penulis yang satu ini. Alamaaaaakkkkk!

Sama sekali gak membosankan baca buku ini karena setiap kalimat ditulis dengan gaya penulisan yang menurut saya ekspresif. Sebut saja saat adegan Vibi kaget karena bangun kesiangan ;

Kudapatkan ponsel yang ternyata bergumul di bawah bantal. Kupelototi layarnya, dan tampak angka-angka mengejutkan jiwa. APA?! Pukul sepuluh?!! (p.11)

Dari tulisan ‘apa’ yang ditulis dengan capital dan tanda baca yang pas membuat aku mendapatkan feeling ‘kaget’ yang tepat. Cerdas.
Atau begini kalimat saat Vibi panik ;

Waduh, jangan-jangan si Ahmed sudah menunggu di lobi? Atau dia sudah pergi karena kelamaan menunggu? Aku nanti naik apa? Terus ke mana?! (p.11)

Dari kalimat itu, aku jadi bisa membayangkan dengan baik bagaimana paniknya Vibi. Hal ini, tentu saja memudahkan saya dalam memahami isi cerita dan mendalami karakter tokoh utamanya, yaitu si penulis. Keren!

Meskipun buku ini terdiri dari 40 bab, jangan bayangkan buku ini akan bikin ngantuk. GAK SAMA SEKALI! Aku malah bela-belain mata stay melek demi karena penulis sukses membuat aku curious akan terjadi apa lagi yah I hari-hari selanjutnya. Dan, mmm, sorry to say Vib, aku ketawa saat kamu menderita. Hahaha. Vibi dengan gaya penulisannya yang adorable banget bikin aku sukaaa banget setiap kali Vibi marah atau sebel dengan kustomernya. Vibi kadang menanggapi dengan becanda atau nyinyiran yang makjleb! Aku sampai menjuluki Vabyo dengan sebutan Mr. nyinyir karena nyinyirannya yang (sialnya) sangat BENAR dan nusuk abisss!

Seorang anak muda berambut jenggot dan pirang belang membeli kemasan biji kopi. Kebetulan kami mempunyai promosi beli kemasan biji kopi gratis secangkir Americano. Setelah diberikan secangkir kopi, ia terlihat kecewa,

“HAH? Cuma kopi? Mana tekonya?!”

Aku lalu menjelaskan maksud isi promosi tersebut sambil tetap tersenyum pengen nyetrum. Si cowok belang jenggot belang mala beringas,”Kalau gitu jangan ada gambar tekonya dong! INI PENIPUAN namanya!!”

Kesucian hatiku lenyap seketika. Senyum hilang, aku terpaksa menjawab lantang, “Anda pernah lihat iklan bank yang hadiahnya mobil? Yang foto mobilnya dipenuhi keluarga besar?”

“Apa hubungannya?” tanya si jenggot belang nyolot.

“Jadi menurut anda, kalau menang mobil itu mesti dapet si keluarganya juga?”

Si jenggot menaikkan sebelah alisnya.

“Terus kalau ada iklan supermarket berhadiah setrika yang dipegang bencong, kalau menang bencongnya mesti diambil juga?!”
Mimik si mas jenggot makin tak terdefinisikan. Andai raut wajah itu ada dalam museum muka, pasti akan diberi judul ‘tertangkap tolol’.

Hal positif yang bisa diambil dari buku ini adalah belajar tentang mensyukuri. Vibi membuat aku berpikir 100x untuk main di Aran Saudi sana, apalagi untuk bekerja. Euh, nggak deh. Makasi loh. Buku ini juga mengajarkan aku untuk berani bersuara selama kita benar dan selama itu untuk membela diri. Eits, gak mau kan bangsa Indonesia dijelek-jelekkan sedemikian rupa sama bangsa lain? Nah! Di buku ini, Vibi menuliskan bagaimana ia mengatasi situasi tersebut. Juga tak lupa tentunya cerita-cerita seluk beluk TKI dan TKW di sana.

Di belakang buku ini ada rangkuman mengenai jenis-jenis pelanggan yang sudah dikelompokkan oleh Vabyo. Dijamin menghibur deh. Ada customer yang ngotot minta wifi ke Vibi. Dia pikir wifi itu laptop. Jadi ia pikir kalau ngopi di situ dapet laptop. Lha? Kedai kopi punya mbahmu opo piye? ada juga customer yang cuma numpang duduk tanpa membeli apa-apa. eh giliran ditegur sama Vibi, tau gak apa jawabnya? Kalau orang Indo, pasti akan minta maaf atau apa gitu yah, ini malah… ah baca sendiri saja deh…

Oooh iyaaa! Buku ini ratenya DEWASA ya. Banyak bahasa yang lumayan vulgar tapi masih nyaman buat dikonsumsi kok. Hanya mungkin buat yg ga terbiasa agak sedikit mengernyit membacanya. (oh, jadi aku udah biasa ni ceritanya?) Hahaha. Makin penasaran kan buat baca? :p

Kalau bisa kasih bintang 10, aku pasti akan kasih bintang 10. Sayangnya, ada yang kurang. Yaitu kurang banyak! Hueueue! So, kali ini perfect score, rating 5/5 untuk buku travel yang sangat amat membuka wawasan dan informatif. Sangat recommended!

5 thoughts on “Bukan Kedai Kopi Biasa

  1. Pingback: Kedai 1002 Mimpi | Atas Nama Buku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s