2012 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2012 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

600 people reached the top of Mt. Everest in 2012. This blog got about 4,800 views in 2012. If every person who reached the top of Mt. Everest viewed this blog, it would have taken 8 years to get that many views.

Click here to see the complete report.

Advertisements

Satu Tahun, Sejuta Cerita

welmoetbday

Whoaaa Serapium ternyata berbintang Capricorn! Hahaha… Dirgahayu Serap!

Apa sih Serapium? Serapium adalah komunitas pencinta buku dan baca di Kaskus. Aku sendiri kenal Kaskus sejak SMA. Tahun 2009. Waktu itu forum buku belum ada. Masih bernama book review, subforum education. Baru setelah salah satu enthu bersuara, book review akhirnya resmi menjadi forum sendiri. Forum Buku.

Soal sejarah forum buku, aku gak akan membahas lebih jauh. Semua bisa dilihat di website Kaskus. Aku hanya ingin bercerita soal pengalamanku di sini.

Semenjak gabung di Serapium, mood bacaku meningkat drastis. Yang tadinya hanya tahu genre romance, humor, fiksi dan non fiksi, sekarang jadi tahu ada genre historical fiction, sci-fi, his-romance, dll. Kenal dengan banyak orang-orang baru yang menyenangkan dan misterius. Kenal dengan beberapa “teman” dekat. Sepahit apapun, aku rasa aku akan sulit untuk bisa pergi. Aku lebih memilih untuk belajar berdamai dengan keadaan. Kecuali kalau suatu saat nanti memang ada hal-hal yang sudah melewati batas.

Waktu masih book review, aku sudah sempat main-main di thread lounge. Hanya saja saat itu masih belum jelas dan aku masih nubie sekali. Xixixixi. Kemudian aku ingat tanggal aku bergabung di sana, 6 Januari 2012. Dengan modal SKSD, aku mencoba berkomunikasi dengan orang-orang di sana. Seketika aku merasa seperti menemukan rumah baru. Dengan orang-orang yang ramah (Enthu Dani, Mbak Lune, Dina, dll, waktu itu masih lebih ramai dibandingkan dengan sekarang), sampai akhirnya bisa ISO! Hehehehe… Aku merasa nyaman di sana karena itu aku rajin ngepost. Peduli setan mau dibilang junker atau apa. Jalan terus… Hehehe…

Aku juga masih ingat bagaimana ramahnya enthu dani (waktu itu belum jadi enthu) memfollow twitter aku dan menyapa aku. Beuh, sebagai anak baru pada waktu itu, aku tentu tersanjung. Ada seorang sepuh sudi menyapa newbie gitu loh… Haha… Sayangnya, enthu dani sudah menikah. Huhuhu…

Kegiatan di Serapium juga cukup ramai dan aktif. Dari kopdar pertama di toko buku Leksika, aku jadi kenal dan jatuh cinta (bagian ini hammer sehammer-hammernya) dengan anggota Serap. Karena kenal, pernah nonton bareng, karaoke bareng, nongkrong bareng deh pokoknya. Orangnya asik-asik dan ramah. Enthu Dani ternyata tidak seganteng seperti di background twitternya pada waktu itu. Muhaha…

Di Serap juga ada peri baik hati yang suka bagi-bagi buku, hehe, semoga Allah membalas semua kebaikanmu, peri… Ada kakak-kakak tempat curhat segala macam hal mulai dari percintaan, masalah keluarga, sampai masalah kerjaan. Ada adik-adik yang lucu dengan segala kegalauannya soal pacar dan kuliah. Hahahaha… Ada beberapa sudah jadi sahabat dan tempat menuangkan segala keluh kesah saya. Cinta? Ah, apa itu cinta? Muhahaha…

Beragam kisah mulai dari ditipu uang berjuta-juta (waktu itu aku belum ada), sedikit cekcok dengan komunitas sebelah, drama percintaan yang bikin kejang-kejang, dll. Paling keren adalah perpuserap dan SRC. Perpuserap nambah temen, nambah bacaan, nambah wawasan. SRC juga begitu. Nambah pengetahuan banget. Dari Serapium juga aku jadi paham dunia buku dan penulisan itu seperti apa. Bisa ketemu, foto, dan dapat tanda tangan penulis adalah hal-hal yang ga pernah aku bayangkan sebelumnya. Sekarang, lumayan kenal dengan beberapa penulis. Beberapa temanku malah sebentar lagi akan jadi penulis hebat. Lihat saja!

Kayaknya kalau dirinci satu-satu, bisa makan waktu banyak. Yang jelas, Serap itu salah satu titik balik dan pijakan terpenting dalam hidup aku. Walaupun temen-temen kantor suka mencibir “Selvi gaulnya sama yang maya-maya” atau “Ih, hati-hati loh ditipu. Dunia maya ‘kan gitu” juga pernah “Selvi gak gaul ih. Mainnya sama komputer terus. Ga normal. Apa sih enaknya gaul sama orang ga jelas gitu?” Hahaha…

Don’t care orang mau berkata apa. Aku senang, aku bahagia bisa mengenal Serapium. Toh aku juga ga menyusahkan. Jadi, santai saja. Hehe… Happy birthday, Serapium!!!

images

P.S : Ada seseorang yang pengen banget ditulis gitu deh namanya. Tapi ga bisa aku tulis. Aku malu. Hiks. Jadi, kamu cukup aku tulis di hatiku aja ya… :”>

Me Vs SRC 2013

reading_books

Heyho bookworm! Nggak terasa tahun 2012 sudah sampai di penghujungnya. Setahun ini saya menargetkan baca minimal 100 buku dan belum kesampaian. Hahaha… Masih harus menyelesaikan baca sekitar 9 buku lagi. Jumlah yang nggak sedikit, bukan? Mengingat tahun 2012 akan segera berakhir 4 hari lagi… Weits, tapi saya yakin bakal selesai sesuai target kok. Hehehe…

Nah, dalam rangka menambah wawasan (dan kerjaan juga tentunya), saya iseng ikutan Serapium Reading Challenge 2013 atau biasa disingkat SRC. Apa itu SRC? SRC adalah kompetisi membaca kemudian mereview buku yang dihost oleh Komunitas Forum Buku Kaskus ; Serapium. Tahun 2013 nanti adalah kali kedua event ini diadakan. Sedikit flashback. Berkat ikutan SRC, pengetahuan soal mereview bertambah pesat. Walaupun nggak pernah jadi juara, hehehe, tapi ilmu yang didapat bener-bener bermanfaat buat saya. Blog buku ini bisa ada tentu salah satu faktor utama adalah SRC. Karena sebelum ada SRC, saya biasanya nggak pernah mereview buku yang sudah dibaca. Padahal itu penting lho.

Continue reading

Secret Santa Episode “The Riddle”

Secret Santa adalah event tahunan Blogger Buku Indonesia. Tahun 2012 ini adalah kali kedua BBI mengadakan Secret Santa. Nah, salah satu games yaitu menebak siapa yang jadi santa kita. Si santa wajib menyertakan teka-teki, riddle, kode, atau apa saja yang merujuk ke identitas dirinya. Nantinya, si X (penerima kado dari santa) akan menebak siapakah secret santa tersebut. Aku, yang notabene lemot bin males, lumayan kesulitan pada awalnya. Ah, tapi apa sih yang nggak bisa dijawab mbah gugel selain masalah perasaan? *lho?* Hahaha… Yah, intinya begitu deh (maaf, saya memang absurd). Tanpa banyak cincong lagi, ini dia The Riddle…

A Gift from Secret Santa

Secret Santa

Thank you, my santa. Buku ini sangat berarti buat aku. Dan di dalam buku ini ada salah satu dongeng tentang dirimu, santa. Entah santa sadar atau tidak. Xixixixi…

The Riddle

Secret Santa

This is the riddle. Memang dasar aku tuh pemalas. Malas mikir. Riddle sesimpel ini saja sudah sukses membuat aku bingung lho. Satu-satunya clue adalah : “species yang hampir punah”. Aduh… Apa coba? Hampir punah? Komodo? Badak? Kudanil? Errr…

Eits, tenang… Tapi akhirnya terpecahkan juga berkat bantuan seorang malaikat baik hati dan mbah gugel. Hehehehe… I already know who is my santa. Actually, the words XOXO in the end makes me realized bahwa santa kenal aku dan aku kenal santa sehingga bisa menyampaikan kode XOXO itu. Gotcha!

Satu lagi, kalimat “I’m not spiderMAN” bikin aku berkesimpulan bahwa santa adalah perempuan. Muhaha… So, sekali lagi. Makasih kak santa… Semoga Tuhan membalas kebaikan kakak santa… Aamiin…

1st Giveaway

Giveaway image

 

Salam hulla-hulla! This is my first giveaway! Yeay! Tidak dalam rangka apa-apa. Hanya sekedar mau berbagi saja.

HAHAHAHA! Oke, aku ngaku deh. Giveaway kali ini aku bikin sebagai bagian dari rasa syukur aku karena bisa hidup di dunia ini selama 23 tahun lamanya. Duileee, tuwir ya? Hahaha…

Giveaway ini akan aku adakan mulai dari hari ini (12-12-12) sampai tanggal 23-12-12 (my birthday). Pengumuman pemenang akan aku publish tanggal 26 di blog ini atau melalui Twitter. Kenapa lama banget? Ya, emang kenapa? Hahahaha… *nyolot*

Caranya, gampang banget. Nggak perlu pakai rafflecopter segala kok, hanya saja kali ini aku challenge kalian untuk bikin pantun dengan tema “Aku & Buku”. Pantun pendek saja. Satu bait cukup kok. Rima a-b-a-b atau a-a-a-a juga boleh. Bebas! Terus jawab pertanyaan simpel di bawah ini :

Siapa penulis favorite kalian? Kenapa? Dan sefanatik/segila apa kalian mengapresiasi penulis tersebut?

Example : misalnya, kalian pencinta JK Rowling. Nah, apakah kalian rela ngantri berjam-jam di depan toko buku dari pagi sampai toko buku itu buka hanya demi Harry? Atau apakah kalian selalu jadi orang pertama yang nonton film Harry di bioskop? Atau apakah seisi kamar kalian berisi pernak-pernik Harry Potter lengkap dari mulai alat tulis sampai jubahnya?

Gampang kan? Nantinya, akan aku pilih 3 pemenang dengan rincian sebagai berikut ;

a. 1 pemenang akan diundi via random.org

b. 1 pemenang akan dipilih bersadarkan pantun yang menurutku paling orisinil

c. 1 pemenang akan aku pilih berdasarkan jawaban pertanyaan di atas yang menurutku paling gila (jawaban harus jujur lho ya)

Hadiah untuk masing-masing pemenang yaitu 1 buah buku seharga maksimal 65 ribu rupiah via BukaBuku. Jadi, pastikan buku yang kamu inginkan ada di toko buku online tersebut.

Jawaban bisa diposting di kolom komentar post ini. Jangan lupa, wajib sertakan juga akun Twitter kalian, saran dan kritik untuk blog ini, dan juga buku wishlist kalian…

Have a good day! 😉

Wishful Wednesday [1]

Allo, all. Actually, this is my first post about Wishful Wednesday. Berawal dari pemikiran bahwa postingan di blog saya ini terhitung sepi (karena sehabis baca suka malas mereview, hehe), maka saya memutuskan untuk happy-happy ikutan Wishful Wednesday kali ini.

 

wishful-wednesday

 

Dan WW kali ini adalah … *drumroll* … Bidadari Bidadari Surga! Hihihi, iya sih. I know buku ini termasuk jadul. Justru karena itu aku jadi pengen baca. Kebayang nggak sih, hari Jumat aku udah keduluan nonton filmnya di bioskop dibanding baca bukunya! Whoaaa, salah satu hal yang nggak aku banget. Selain itu, aku juga pengen tahu perbandingan komposisi cerita yang ada di buku dengan yang ada di filmnya. Dari beberapa review teman-teman yang pernah aku baca, ada adegan di buku yang tidak dimunculkan dalam film sehingga menimbulkan rasa penasaran tersendiri buatku ; sejauh apa cerita ini dipotong dan diringkas? Nah, karena beberapa hal yang bikin aku penasaran inilah, maka tentu akan lebih afdhol kalau baca bukunya. Setuju nggak, kalau aku bilang : nggak ada yang dapat menggantikan nikmatnya membaca buku sekalipun buku tersebut udah difilmkan? Yep! Tetep akan terasa bedanya. Nah, percikan-percikan kayak gitu yang aku harapkan akan ada setelah aku baca bukunya.

Sedikit sinopsis, buku ini menceritakan perjuangan dan pengorbanan seorang kakak kepada keempat adik-adiknya. Ya, 4 lho! Namanya Kak Laisa. Secara fisik, Kak Laisa bisa dikatakan tidak cantik ; rambutnya keriting kribo, kulitnya hitam, badannya gemuk, dan cara jalannya tidak anggun. Sangat berbeda dengan semua adiknya yang berkulit putih, hidung mancung, dan berwajah blasteran. Kak Laisa, selalu menekankan ke adik-adiknya bahwa hidup itu harus terus diisi dengan kerja keras. Jangan terus jadi orang susah karena kalau susah tidak akan pernah bisa membahagiakan Mamak, setiap hari makan ubi, bekerja di ladang. Yah, suram pokoknya. Sampai adik-adiknya beranjak dewasa pun, Kak Laisa masih terus mengayomi meskipun harus mengorbankan kebahagiaan, perasaan bahkan nyawanya sendiri. Semua Kak Laisa lakukan demi adik-adiknya dan Mamak tercinta.

 

Bidadari-bidadari Surga

 

Haduh, nonton filmnya saja sudah menguras airmata, apalagi kalau baca bukunya! (Eh? Menurut saya, baca buku lebih mengaduk-aduk emosi lho dibandingkan dengan nonton filmnya). Berharap kalau ada yang punya bukunya, mau meminjamkan. Atau kalau ada yang mau jual, bisa hubungi aku. Lho? Kok? Hahaha… abaikan.

**********

Whoever you are, ikutan Wishful Wednesday yuk! Caranya ;

  1. Follow Books to Share – atau tambahkan di blogroll/link blog kamu
  2. Posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kamu minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. O iya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kamu ya! 
  3. Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post WW blog Mbak Astrid berikut). Boleh juga tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian
  4. Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlist-nya di hari Rabu

Kalau Bukan Remaja, Jangan Baca Novel Ini!

___raksasa dari jogja 031012 front

 

Judul Buku : Raksasa Dari Jogja
Penulis : Dwitasari
Penerbit : Plotpoint Publishing (PT Bentang Pustaka)
Tahun Terbit : 2012
Tebal : 270

 

Pertama-tama aku mau ngucapin makasih sama Rahib BBI (udah pada tau dong siapa? hehe) yang udah ngasih buku ini ke aku (oh iya, makasih juga random.org!). tanpa mengurangi rasa hormat ke siapaun, aku bakal mereview buku ini sejujur-jujurnya (baca: sesadis-sadisnya).

Sebelum ngereview buku ini, aku search di Goodreads dulu mengenai rate buku ini. Aku pengen tahu aja gimana penilaian orang yang udah pada baca. Apakah sama dengan pandangan aku atau nggak. Dan ternyata, sama loh! Banyak yang hanya me-rate 2 bintang, bahkan yang rate 1 bintang pun ada. Dan banyak! Ada 1-2 orang yang me-rate bintang 4. Entah apa alasannya me-rate 4. Well, itu selera sih. Tapi, ketika membaca penilaian orang lain di Goodreads itu, aku jadi sedikit lega ternyata nggak Cuma aku yang sesadis itu me-rate 2 bintang. Muhehe. *kibarkan bendera YNWA*

Dari review orang-orang di Goodreads pun aku jadi tahu kalo ternyata si penulis adalah selebtweet. “Jiyah. Pantesan!” Begitu gumamku saat mengetahui kalau Dwitasari ini seorang selebtweet. Bukan underestimate atau apa yah. Belakangan ini kan banyak fenomena buku terbit hanya karena lantaran si penulis itu selebtweet. Yang kebanyakan kita tahu seperti apa UMUMNYA kualitas buku karya selebtweet itu. Aku pernah membaca beberapa buku punya selebtweet.

Penilaian aku rata-rata sama. Well, jam terbang memang nggak bisa dibohongi sih. Sangat disayangkan, padahal Dwita ini mahasiswi jurusan sastra Indonesia UI loh (eh, jaminan gak sih? Gak ya kayaknya). Hehe.

Udah ya. Itu anggap aja pembukaan atau behind the scene. Sekarang mari kita masuk ke review yang sesungguhnya. *tsaaahhh bahasa gue*

Disclaimer : aku nggak akan cerita panjang lebar soal synopsis buku ini. Karena jalan ceritanya terlalu biasa dengan konflik yang biasa pula.

Ceritanya tentang seorang cewek bernama Bianca lulusan SMA yang memutuskan untuk kuliah di Jogja. Bianca ini nggak percaya dengan yang namanya cinta. Ia benci jatuh cinta. Karena menurut dia, yang namanya “jatuh” itu ya sakit. Bapaknya melakukan KDRT terhadap dirinya dan mamanya, sahabatnya mengambil cowok yang disukainya, hal-hal itu membuatnya tidak percaya cinta. Sampai suatu hari di Jogja ia bertemu dengan seorang cowok yang mengasihinya dengan lembut. Bianca mulai membuka hatinya untuk cinta. Namun ternyata cowok itu punya masa lalu yang misterius yang lagi-lagi membuat Bianca terluka dan semakin tidak percaya cinta.

Kesan pertama baca buku ini… mmm keren! Kavernya keren, desain interior bukunya keren, nama tokoh-tokohnya keren. Dan ada sedikit ilustrasi di kop judul setiap bab yang menambah keren. Pokoknya menurut saya ini kaver anak muda banget deh. 1 bintang deh untuk kaver dan fisiknya. Oh iya, plus ada bonus bookmark berbentuk hati yang cukup bagus juga menurutku.

Hal paling menonjol yang aku rasakan saat baca buku ini yaitu logic check di buku ini tuh kayaknya nggak ada deh. Aku jadi bingung sendiri. Buku ini t uh punya editor nggak sih? Di halaman depan sih tertulis siapa “Pemeriksa Aksara”, tapi melihat banyaknya typo yang bukan sekedar typo, bikin aku merasa buku ini pasti nggak melalui proses pengeditan yang baik. Banyak banget hal-hal yang di luar logika menurutku.

Pertama, Bianca ini kan tadinya tinggal sama ortunya. Mamanya setiap hari harus jadi korban kemarahan papanya. Bianca yang menyaksikan itu setiap hari pasti tau gimana menderitanya sang mama karena gak jarang dirinya juga suka jadi sasaran kemarahan papanya. Di halaman awal Bianca terlihat nggak mau pisah dari mamanya. Akan selalu melindungi mama dan lain sebagainya. Eh tapi kok bisa-bisanya dia pas tau pengumuman keterima di kuliah di Jogja teriak seneng banget. Begitu tinggal di Jogja juga dia jarang menelepon mamanya. Maksud aku, aduuuh, kok tega sih ninggalin mamanya sendirian di rumah? Entah ya, kalau aku jadi Bianca, aku pasti gak akan ninggalin mamaku sendirian dengan papa yang temperamen kayak gitu. Plus, Bianca punya adek yang tinggal sama neneknya. Ya masak gak pernah nanya kabar adeknya barang sekali-dua kali. Egois banget.

Kedua, masih soal mamanya. Waktu ditinggal Bianca ke Jogja, mamanya itu bilang masih mau mempertahankan keluarganya. Mama gak mau cerai dari papa. Mama gak akan minta cerai dari papa. Dari sini tuh aku merasa mamanya ini udah cinta banget sama papanya. Um, oke. Wajar. Tapi pas jalan cerita berangsur-angsur maju, mamanya ini plin plan abis. Dia menelepon Bianca meraung-raung katanya udah gak tahan dengan semua ini. Laaahhh… (aku sampe komen : rasalin lo ma!) um, oke deh. Masih maklum. Mungkin mamanya baru sadar kalau papanya itu jahat. Tapi gak berapa lama setelah itu, mamanya labil lagi. Bilang masih sayang sama papa lah atau apalah. Adoooh… Arrrgh! (garuk-garuk dasar laut jawa)

Ketiga, sosok Kevin, sepupu Bianca yang udah deket banget dari kecil. Aduuuh speechless deh sama cara penulis menggambarkan tokoh yang satu ini. Di mata aku, sosok Kevin itu banci dan childish abis. Si Biancanya juga lebay maksimal. Menurut aku, penulis gagal membangun karakter yang ia mau. Seharusnya mungkin Bianca diciptakan sebagai cewek yang dingin dan cuek karena latar belakangnya yang membenci cinta. Tapi di sini, sosok Bianca yang aku dapet malah kekanak-kanakan dan manja. Aku juga melihat Kevin itu sebagai cowok yang sakit jiwa. Cemburuan nggak jelas, padahal bukan pacar Bianca. Sorry to say.

Keempat, hubungan antara Bianca dan Letisha (sahabat baiknya). Aduh ini udah seaneh-anehnya dari yang paling aneh di buku ini. Jadi ada satu setting cerita, di kamar Bianca. Pokoknya mereka lagi membicarakan cowok. Nah, tiba-tiba di Bianca nanya pendapat Letisha soal Joshua. Lethisa ini jawabnya lancer banget. Bianca mikir si Letisha ini suka sama Joshua. Dan bener aja, gak berapa lama, Letisha dan Joshua akhirnya jadian. Terus si Bianca marah. Berpikiran kalau Lethisha nusuk dia dari belakang. Lah? Sumpah bingung aku. Bianca sendiri nggak pernah bilang kalau dia suka Joshua kok. Antara Bianca dan Joshua juga ga pernah ada apa-apa. Malah si Letisha ini sampai dibilang Jalang dan brengsek segala. Jangan salahin Letisha dong. Wong Bianca aja gak pernah ngomong dia suka sama Joshua kok. Aduuuh, lama-lama aku sakit jiwa baca buku ini. Aneh abis. Coba seandainya penulis lebih mengeksplor gimana perasaan Bianca ke Joshua dan gimana hubungan mereka bertiga sebenernya.

Hubungan antara Bianca dan Vanessa, teman sekamarnya waktu ada camp di awal perkuliahan. Kok bisa sih Vanessa ini manggil Bianca dengan sebutan “Mbak”. Padahal kan jelas mereka satu angkatan. Lha wong diospek bareng-bareng gitu loh. Dan Bianca ini judes banget. Sempet negative thinking sama Vanessa. Ga penting banget pokoknya penggambaran sikapnya itu. Pointless. Terus ya bisa-bisanya tau-tau si Bianca manggil Vanessa dengan  “Nessa”. Kalau aku ya, aku pasti bakal nanya dulu biasa dipanggil apa. Gak asal sebut nama panggilan aja. Proses-proses kecil kayak gItu yang kurang dijabarkan sama penulis. Yang bikin cerita jadi kurang logis. *abaikan*

Kelima, karena penulis mahasiswi sastra, maka gak heran kalau bahasa yang digunakan di buku ini termasuk nyastra dan indah. Cuma kok yah, jadi terkesan maksa pengen setiap kata jadi indah, alhasil malah jadi annoying buat pembacanya dan terkesan lebay. Coba seandainya sesekali aja penulis menulis sesuatu sastra yang indah itu. Pasti lebih ngena dan berkesan dibanding harus “maksa” nulis di setiap kalimat. Ini bukan buku kumpulan puisi kan?

Keenam, cerita ini terkesan kayak penyanyi yang nyanyi terburu-buru gak sesuai tempo dengan maksud supaya lagunya cepat selesai. Yah, jadinya gitu. Gak dapet emosinya. Datar aja sepanjang baca. Kurang detail gimana awalnya si cowok yang di Jogjabisa naksir sama Bianca, terus kenapa Bianca bisa suka sama Joshua (gebetan jaman SMAnya dulu). Padahal mungkin kalau mau didetail soal itu, bisa jadi sedikit lebih menarik (mungkin) ceritanya.

Ketujuh, (wew banyak amat udah tujuh aja) *elap keringet di dahi*. Aku terganggu dengan kesalahan penggunaan tanda baca. Entah salah, entah gak dan atau kurang tepat ya. Seharusnya ada tanda Tanya, malah jadi tanda titik aja. Yang seharusnya tanda titik, malah jadi tanda seru. Hal-hal kayak gini bukan sepele loh. Karena itu sedikit banyak mempengaruhi imajinasi pembaca dalam menginterpretasikan emosi tokoh-tokohnya. Kemudian pada saat dialog. Sering hanya ditulis begini doang :

 

“Aku udah lakuin itu, Nessa.”
“Kamu harus tetap berjalan.”
“Enggak peduli hasilnya gimana?”
“Enggak peduli hasilnya gimana!”
“Capek kalau hasilnya nggak berkembang, Nes”
“Lebih capek lagi kalau jalan di tempat.”

 

Aduh, bahasa chatting banget gak sih? Daripada ngerepotin pakai tanda “petik” segala, mending ditulis gini aja.

 

Bianca : Aku udah lakuin itu, Nessa
Nessa : Kamu harus tetap berjalan
Bianca : Enggak peduli hasilnya gimana?
Nessa : Enggak peduli hasilnya gimana!

 

See? Toh sama-sama aja. Kelihatannya sepi malah kalau ditulis pakai tanda kutip begitu. Kayak kehabisan kata-kata mau dikasih embel-embel apa setelah tanda kutip. Biasanya kan “Ia berkata” atau “katanya”. Dan itu hampir di setiap dialog. Entah malas, entah miskin. Hhh!
Juga ketidakkonsistenan adanya footnote. Setting di jogja membuat dialog dalam buku ini sedikit mengandung bahasa daerah. Di awal-awal, disertakan footnote yang penulisannya agak gak biasa.

 

1.    Bahasa jawa: sendhiko dalam bahasa Indonesia berarti bersedia
1.    Bahasa Jawa : lali nek dalam bahasa Indonesia berarti lupa kalau
2.    Bahasa jawa : piye dalam bahasa Indonesia berarti bagaimana

 

Nyeh. Capek gak sih bacanya? Lebih praktis kalau tinggal nulis aja langsung

1.    Bersedia
1.    Lupa kalau
2.    Bagaimana

 

Entah apa itu justru penulisan footnote yang bener apa gimana, yang jelas baru kali ini aku baca footnote yang se-“menggurui” itu. Plus ga konsisten. Ke halaman belakang dan makin ke belakang, ada dialog yang pakai bahasa jawa juga tapi aku ga menemukan footnote halaman itu. Sangat disayangkan ada kata-kata “Asu” dalam dialog tapi gak ditulis di footnote apa artinya. Hehehe. Itu juga typo tuh nulis footnotenya. Udah footnote 1, kok nomor 1 lagi. Editornya manaaaaaaa???!!!

Dah ah, cuapek. Btw. Ini review terpanjang dalam sejarah yang pernah aku buat. Hahaha. Emang yah orang tuh kalo caci maki emang paling jago deh. Muhahaha!

Novel ini kalau dibaca pada waktu aku umur 15-16 mungkin akan aku bilang bagus yah. Tapi di umur yang sudah tidak lagi muda ini, agak nyesel juga baca buku ini. Malah jadi nyinyir. Hahahay!

At the end, tetep sih aku kasih 2 dari 5 bintang untuk kavernya yang oke dan penggunaan kata-kata yang puitis. Tapi inget, puitis kalo terlalu banyak, jatohnya malah jadi norak. Emang kan, yang serba “terlalu” itu nggak baik.

 

NB : kenapa judulnya “Raksasa Dari Jogja”? Karena saat di Jogja, Bianca (tokoh utamanya) suka sama cowok tinggi 196cm sedangkan dia hanya sekitar 165 cm