Agama atau Cinta?

piedra

 

Judul Buku : Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis

Penulis : Paulo Coelho

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit : 2005

Tebal : 224 Halaman

 

“Jarang sekali kita menyadari bahwa kita berada di tengah hal-hal luar biasa. Mukjizat terjadi di sekeliling kita, pertanda-pertanda Tuhan menunjukkan jalannya kepada kita, para malaikat memohon untuk didengarkan, namun kita tidak menyadari semua ini karena kita telah diajari bahwa jika ingin menemukan Tuhan, kita harus mengikuti rumus-rumus dan aturan-aturan tertentu. Kita tidak menyadari bahwa Tuhan ada di manapun Dia diizinkan masuk.”

 

Luar biasa bukan paragraf di atas? Itu adalah sedikit kalimat pembuka dari novel ini. Mengingatkan saya bahwa Tuhan itu ada di mana-mana. Tidak perlu ke tempat ibadah dulu, baru kamu bisa bertemu dan berbicara dengan-Nya.

Sejujurnya, saya agak kurang paham dengan jalan cerita detail novel ini. Selain karena saya kurang bias memahami novel filsafat, juga karena ini buku terjemahan yang notabene saya sebenarnya kurang suka (jadi agak kurang bergairah saat membacanya) plus satu hal lagi : ini buku Paulo Coelho! Lho? Memang kenapa dengan Paulo? Well, di mata saya, buku Paulo itu selalu masuk kategori karya sastra kelas tinggi yang hanya bisa dipahami oleh orang berotak prima. Hehehehe.

Jadi, kali ini kamu tidak akan mereview, Sel? Jadi kamu hanya akan curhat begini saja?

Ya tidak juga. Oke, begini. Sedikit banyak saya akan menceritakan apa yang berhasil saya tangkap dari membaca buku ini. Seperti karya Coelho yang lain, kita masih disuguhi sebuah kisah tentang bagaimana kita memandang hidup. Kalau di buku “Eleven Minutes” kita dihadapkan pada topik seks dan cinta, di buku Piedra ini Paulo menulis tentang agama dan cinta. Jangan harap akan ada klimaks di akhir cerita. Yang ada hanya kita diminta (secara tidak langsung tentunya) untuk mengambil buah pemikiran dari cerita ini sebenarnya itu apa sih. Kita seolah disuruh untuk membuat kesimpulan sendiri.

Pilar, seorang gadis yang tinggal di suatu kota kecil, mendapat undangan seminari dari sahabat laki-laki di masa kecilnya (yang juga merupakan cinta pertamanya). Nah, sahabat laki-laki ini ternyata telah menjadi seorang, mmm, katakanlah setara dengan ustadz kalau di Indonesia. Mulai di sini, konflik mulai muncul. Di satu sisi, ternyata si ustadz ini (kalau di buku, disebut imam) masih labil. Masih mencari jati diri sebenarnya dia mau jadi ustad atau kembali pada Pilar dan menjalin kasih seperti pasangan muda pada umumnya. Yah, intinya berkutat di seputar itu saja sih. Si imam ini (aduh, di buku ini tidak ditulis siapa namanya. Hanya menggunakan kata “ia, dia, atau –nya”} plin plan bukan main. Kalau saya jadi Pilar, saya pasti sudah cari cowok lain. Huh! Hahahaha. Tapi cinta tidak sesederhana itu sih ya. Well, akhirnya Pilar lama-lama juga jadi tidak yakin dengan si imam ini. Yah pokoknya sepanjang sekian ratus halaman itu konfliknya mbulet di situ-situ aja sih. Saya sampai skimming lagi dan lagi saking jenuhnya. Saya tidak suka dengan tokoh Pilar maupun si imam ini. Keduanya sama-sama tidak bisa meyakinkan perasaan mereka sendiri. (Emangnya lo nggak, Sel?)

 

“Aku mencintaimu”

“Aku sedang belajar mencintaimu”

“Apakah menurutmu saat yang tepat itu akan tiba?”

“Seharusnya kau tidak menanyakannya. Cinta tidak banyak bertanya karena kalau berhenti sejenakuntuk berpikir, kita menjadi takut. Ini jenis takut yang tak dapat dijelaskan; bahkan sulit digambarkan. Mungkin takut dicemooh, takut tidak diterima, takut merusak daya magisnya. Memang konyol, tapi begitulah yang terjadi. Itu sebabnya kita tidak perlu bertanya, melainkan bertindak. Seperti yang seringkali kau katakana, kau harus mengambil resiko”

 

Alurnya berjalan sangat lambat. Padahal setting yang digunakan kalau tidak salah naya sekitar kurang dari seminggu tapi bisamenghadirkan konflik yang penuh dan (sayangnya membosankan) seolah-olah Paulo sedang mencuci otak saya. Hahaha. Lebay. Setting sesebentar itu saja memakan sekitar 180-an halaman. Errr. Tapi, nilai plus dari buku ini yaitu adanya quotes-quotes yang jleb dan mengena tepat di hati dan sesuai dengan perasaan kita sehari-hari. Paulo gitu loh!

Saran saya, jangan baca buku ini sambil menunggu bus ataupun menunggu hal-hal lainnya. Karena bukannya terhibur, malah akan bosan. Lebih baik buku ini dibaca saat santai di rumah dan butuh penyegaran pemikiran dan mood sedang dalam kondisi “ingin belajar”. Meskipun hanya sekitar 200-an halaman, tapi beneran deh, lamaaa move on-nya. Entah mungkin juga karena factor kapasitas otak saya yang kurang mumpuni. Hehe.

 

Menunggu. Ini pelajaran pertamaku mengenai cinta. Hari-hari berjalan sangat lambat, kau membuat ribuan rencana, kau membayangkan setiap percakapan yang mungkin terjadi, kau berjanji akan mengubah beberapa sikapmu, dan kau semakin gelisah sampai akhirnya kekasihmu dating. Ketika saat itu tiba, kau tak tahu apa yang harus kau katakana. Saat-saat penantian menjelma menjadi ketegangan, ketegangan menjelma menjadi ketakutan, ketakutan membuatmu malu menunjukkan kasih sayang

 

 Nb : kalau Anda merasa review saya menggunakan gaya penulisan yang kaku dan formil, ini karena pengaruh saya baca novel terjemahan. Ya begini ini hasilnya. Kaku.

2 thoughts on “Agama atau Cinta?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s