My Partner, My Soulmate

Gambar

 

Judul Buku : My Partner

Penulis : Retni SB

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit : 2012

Tebal : 288 Halaman

 

“Sebenarnya waktu itu aku sedang berusaha mengingkari. Sebab kayaknya kamu anti banget padaku. Aku merasa bagai kuman. Jadi kupikir, supaya hidupmu lebih sehat dan damai, lebih baik aku membunuh keinginanku sendiri, sebelum kamu yang membunuhnya. Pengecut, ya?”

 

Nyesss! Bulu kuduk saya kontan merinding baca paragraph di atas. Soalnya, saya pernah bicara hal serupa tapi tak sama ke seseorang yang saya suka. Hehehe (malah jadi curcol). Kalimat di atas itu adalah kalimat saat Tita bertanya kepda Jodik kenapa kalau Jodik suka kepadanya, Jodik nggak pernah bermanis-manis dengan Tita, justru menampilkan kesan dingin dan keras terhadap Tita.

Oke, wait, wait, wait! Jodik, Tita? Mereka siapa sih? Selvi kok ngaco banget tiba-tiba cerita gitu aja tanpa menjelaskan siapa Jodik dan Tita? Hehehehe. Sabar kakak… here the stories goes…

Tita, seorang cewek usia 23 tahun yang sedang ketiban musibah bertubi-tubi. Mulai dari bapaknya yang dituduh korupsi sehingga harus masuk penjara selama 6 tahun, rumah dan segala asset milik papanya yang disita sebagai pelunasan hutang, mamanya yang harus di rehab di yayasan kejiwaan, pacarnya yang menjauhinya, dan teman-temannya yang perlahan menghilang karena nggak mau dekat-dekat dengan anak seorang koruptor. Wiw! Serem banget ngebayanginnya. Kalau saya jadi Tita, entah apa yang akan saya lakukan. Yang jelas, kehidupan Tita berubah 180 derajat. Dia harus bekerja untuk bisa menghidupi dirinya dan melunasi hutang ayahnya senilai 110 milyar. Hal itu, tentunya nggak gampang dong ya. Tapi, menurut saya, Tita masih untung nggak mesti membiayai adiknya seorang diri. Tita masih punya keluarga yang mau menolongnya. Fiuh.

Di tengah kebimbangannya mencari pekerjaan, tawaran kerja datang pada Tita. Jodik, seorang arsitek yang tadinya bekerja di rumah mereka membuat taman kecil, menawarkan bantuan untuk Tita bekerja di kantornya yang sederhana sebagai arsitek. Namun, sikap Jodik yang dingin dan kaku membuat Tita tidak betah sampai akhirnya Tita pindah kerja di kantor Dido. Di kantor barunya ini dia mendapatkan semuanya lebih. Gaji yang lebih, fasilitas yang lebih, tempat kerja yang lebih. Lebih apa? Lebih baik tentunya. Namun sayang, Dido ternyata bukan rekan kerja yang baik. Dia memanfaatkan situasi dan kondisi kehidupan Tita untuk memuaskan hasratnya. Karena kejadian itu, Tita akhirnya berhenti bekerja di kantor Dido.

Lagi-lagi Jodik datang membantu. Ia menawarkan sebuah proyek kecil untuk Tita. Di sini Tita mulai akrab dengan Jodik dan heran kenapa Jodik begitu baik pada dirinya. Ah, saya rasa pembaca bisa menebak bagaimana cerita selanjutnya. Hehehe.

 

***

 

Sudah lama sebenernya pengen baca buku ini tapi baru kesampean sekarang. Coba tengok deh kavernya yang simple dan elegan. Dengan warna hijau pucat member kesan kalem dan gambar seorang cewek berpayung. Saya pribadi sih jatuh cinta dengan kavernya.

Membuka halaman demi halaman sejujurnya saya agak skimming karena banyak dialog yang kurang menarik perhatian saya. Misalnya, saat Tita bercanda-canda dengan temannya atau saat dia digoda oleh salah seorang rekan kerjanya karena ketahuan ngedate sama sang bos. Tapi bagusnya, banyak dialog sehingga saya nggak mati bosan bacanya. Hanya menghabiskan waktu 3 jam untuk buku setebal 288 halaman ini.

Alurnya maju terus pantang mundur hehehe… dengan isu korupsi yang sudah akrab di telinga kita. Agak sinetron sih sebenernya, tapi masih dalam kadar realistis dan nggak lebay kok. Bukan cerita sampah. Sama sekali bukan!

Satu hal yang saya suka dari buku Retni SB adalah tokohnya selalu membuat saya jatuh cinta! Saya ambil contoh di novel Pink Project, saya jatuh cinta sama sosok Pring. Dan di novel ini saya jatuh cinta dengan sosok Jodik yang dewasa, cool, dan gentle. Well, tapi seperti ada satu kesamaan antara tokoh utama di novel Retni yang A dengan tokoh utama di novel Retni yang B ; sama-sama menampilkan sosok cowok yang awalnya jutek, judes, kaku, dingin, ternyata menyimpan sejuta cinta yang hangat di dalam hatinya. Seperti khas novel Retni yang lain, yang menyorot kehidupan satu profesi dalam setiap bukunya, kali ini Retni menulis tentang arsitektur. Kebetulan nyambung dengan jurusan kuliah saya jadi saya lumayan menikmati bacanya.

Endingnya? So sweet abis! Surprisingly!Membuka mata saya banget bahwa beneran lho sehabis badai hujan pasti akan ada pelangi. Aduh, Tuhan itu Maha Adil deh. Walaupun nggak sampai bikin saya menitikkan airmata tapi sukses membuat saya merinding dan dada agak sesak.

Berikut adalah salah satu percapakan antara Tita dan Jodik yang bikin aku merinding dan seketika pengen ketemu cowok kayak Jodik. Muehehe…

 

“Tapi kamu bisa , ya, secara sepihak ngomongin soal lamaran ke Papa tanpa perlu nanya-nanya aku dulu. Padahal itu kan urusan hidupku?” Tanya Tita.

Jodik nyengir.

“Yang namanya melamar itu kan artinya meminta, bukannya bikin kesepakatan. Jadi nggak perlu nanya kamu dulu. Papa dan kamu kan bebas kasih jawaban. Bisa menerima, bisa menolak.” (hal. 254)

 

Oh iya. Tokoh Jodik ini awalnya agak ngeselin juga. Diem. Kaku. Ngomongnya ketus. Nggak asik buat dijadiin partner deh pokoknya. Jadi wajar kalo di awal cerita saya sendiri nggak yakin apakah nanti Tita bakal jadian sama Jodik apa nggak. Sempat terkecoh juga ternyata saya.

 

“Aku masih nggak ngerti. Bisa-bisanya kamu melamar cewek yang bukan pacarmu.”

“Aku nggak pengin pacaran. Aku pengin menikah. Supaya lebih leluasa ngapa-ngapain.” (hal. 255)

 

See? Siapa coba yang nggak luluh dengan sikap cowok yang gentleman kayak gitu? Gawd! Haha. Tapi kita perlu sadar juga, kehidupan nyata apa iya bakal seindah dalam cerita di atas? Kayaknya nggak juga deh. Muehehe.

3 dari 5 bintang. Karena saya suka aja (ga pake banget) dengan ceritanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s