Antara Kesempatan dan Keputusan

sunset

 

Judul Buku : Sunset Bersama Rosie

Penulis : Tere Liye

Penerbit : Mahaka Publishing

Tahun Terbit : 2011

Tebal : 426 Halaman

Satu kata : mengecewakan. Jujur saja aku berharap aku akan menangis termehek-mehek saat membaca buku ini, seperti halnya ketika aku membaca Rembulan Tenggelam di Wajahmu. Entah apa karena mood yang sedang datar-datar saja sehingga kurang dapet emosi saat aku membaca buku ini.

Selain itu, aku juga kecewa karena sebelum memutuskan untuk memasukkan buku ini ke dalam shelf “secret santa” di Goodreads, aku melihat beberapa review teman-teman yang memberi rate cukup tinggi untuk buku ini. Antara 4-5 bintang. Wajar bukan kalau ekspektasiku juga cukup tinggi? Ah, sayang. Setelah aku membacanya sendiri, cerita ini terasa sangat datar sekali. Dengan alur yang amat sangat lambat sekali. Hhhhh… Inhale, exhale…

Dengan setting Bali dan Lombok, buku ini menampilkan kisah cinta persahabatan klasik. Dua sahabat yang saling mencintai, tapi sama-sama memendam rasa itu berpuluh-puluh tahun lamanya. Kemudian baru tersadar ketika semuanya sudah terlambat.

Adalah Rosie dan Tegar. Bersabahat sejak kecil, bertetangga, dan suka mendaki Gunung Rinjani setiap libur semester. Tegar mencintai Rosie. Tapi, Rosie? Ah, Tegar tidak pernah tahu. Yang Tegar tahu, Rosie mencintai Nathan, teman Tegar yang baru dikenalkannya pada Rosie dua bulan lalu. Semua seperti lelucon. 20 tahun penantian Tegar, ternyata hanya 2 bulan penantian Nathan kepada Rosie. Tegar kalah cepat. Nathan lebih dulu menyatakan perasaannya kepada Rosie. Tepat di puncak Gunung Rinjani, saat sunset selama 47 detik yang indah itu terjadi. Dan Rosie, untuk kali pertama, memalingkan wajahnya dari sang senja. Menatap Nathan dengan sempurna sambil tersenyum malu-malu menerima cinta Nathan. Sejak saat itu, Tegar sadar, dirinya sudah tidak punya kesempatan lagi.

Sejak kejadian itu, Tegar sempurna menghilang dari kehidupan Nathan dan Rosie. Menyibukkan diri dengan bekerja 10 jam sehari. Mencoba keras melupakan perih pedih sakit hati tentang perasaannya untuk Rosie. Nathan dan Rosie menikah. Punya 4 orang anak perempuan. Keluarga kecil itu sungguh bahagia. Selama 13 tahun, pernikahan itu selalu mulus. Sampai akhirnya Tuhan mengeluarkan skenario terbarunya. Jimbaran, tempat mereka merayakan anniversary pernikahan mereka yang ke-13, dibom. Nathan mati dengan kepala yang pecah. Karena khawatir dan panik, Tegar dari Jakarta langsung menuju ke Bali saat itu juga. Singkat cerita, Rosie menjadi depresi berat. Sering kalap berteriak-teriak, memukul dan menyakiti anak-anaknya tanpa sadar. Rosie direhab. Selama direhab, Tegar yang menjaga keempat anak-anak Rosie. Selama itu pulalah, kejadian 15 tahun lalu seperti tumbuh kembali. Tanpa siapapun menduga.

Aku pribadi tidak terlalu tertarik dengan cerita yang mayoritas dituliskan Tere Liye di buku ini. Kebanyakan menyinggung soal anak-anak Rosie yang agak “ajaib”. Masak iya, Jasmine, umur 5 tahun sudah cakap menggendong anak umur 1 tahun dan pandai merajut?! Meh. It also feels like “gue disuruh nonton kelakuan anak-anak yang rame, berisik, tapi di satu sisi menggemaskan dan adorable”. Aku bener-bener nggak suka. Bukan karena aku nggak suka anak-anak. Sama sekali bukan. Tapi seolah-olah Tere Liye sedang memaksa pembaca agar menyukai karakter anak-anak ini. Dan aku, benci itu. Seperti didoktrin.

Tidak ada tokoh yang aku sukai dari novel ini. (1) Tegar, laki-laki baik tapi tega menyakiti hati Sekar, tunangannya yang ditinggalkannya dan digantung selama 2 tahun! Kemudian begitu mengetahui Sekar akan bertunangan dengan orang lain, Tegar seakan baru tersadar akan cinta Sekar yang begitu besar padanya. Tegar kembali meminta Sekar untuk tetap bersamanya. Anjirrr, ke mana aja Mas???!!! Emosi… Errr! Inhale, exhale…

Oke, Sekar menerima Tegar kembali. Mereka merencanakan ulang pernikahan yang tertunda 2 tahun lalu. Di hari H, Tegar malah melakukan hal-hal yang menyakitkan Sekar (lagi). Errr! Cowok macam apa sih Tegar ini! Plin plan dan terlihat nggak menghargai perasaan wanita banget. (2) Rosie juga! Sama menyebalkan. Cewek yang tidak mau rugi. (3) Sekar? Ah, cewek bodoh. Cinta bisa sungguhan membuat seseorang menjadi bodoh. Di awal dia memutuskan untuk menjauh dari Tegar dan berpikiran “lebih baik menikah dengan orang yang mencintai daripada yang dicintai”, aku sudah suka. Tapi di ending, Sekar malah… Errr! RAWR!

Duh, aku sungguh tidak berharap konflik macam ini. Kenapa tidak diekspos saja perihal cinta Tegar dulu kepada Rosie dan bagaimana Rosie juga berusaha mati-matian mencari tahu jawaban atas apa yang dirasakannya kepada Tegar selama 20 tahun? Di sini, bikin aku berpikir ; Tegar tidak cukup gentle untuk menyatakan perasaannya. Cowok bukan sih? Iya. Aku tahu dan sadar bahwa menyatakan perasaan kepada seseorang yang kita suka itu tidak mudah. Salah-salah malah bisa merusak persahabatan. Ah, tapi tetep saja aku tidak setuju kenapa sosok Tegar tidak digambarkan dengan karakter laki-laki yang kuat dan besar hati menerima “kekalahan”. Kenapa cinta harus serumit ini?

Untuk penerbit, kali lain tolong hire editor yang lebih baik. Yang aku tahu, kesalahan peletakan tanda baca saja bisa membuat kesalahan penafsiran emosi bagi pembacanya, apalagi kalau tidak ada tanda baca yang seharusnya? Aku menemukan, tidak cuma hanya satu, kalimat tanya yang tidak diakhiri dengan tanda tanya. Sederhana, tapi fatal. Lha buktinya aku sampai nyinyir begini ‘kan?

Untuk novel setebal lebih dari 400 halaman, buku ini sukses membuat aku jenuh. Baru kali ini aku baca buku Tere Liye dengan mood ogah-ogahan dan tidak ada satu airmata pun menetes. Padahal buku-buku Tere Liye yang sebelumnya pernah aku baca, tidak pernah gagal mengaduk-aduk emosiku. Di 70 halaman terakhir, aku skimming. Sudah terlalu capek baca kata per kata dan mengungkit masalah yang itu-itu saja.

Pun tidak ada quotes-quotes baru dan bikin maknyess. Semua datar-datar saja. Haduh, maaf Bang Darwis. Kali ini aku tidak suka. Tapi, poin penting dan pesan moral yang aku dapat dari buku ini adalah jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan dan terlalu lama mengulur waktu atau kau tidak akan pernah mendapat kesempatan. Selamanya. Segera dipastikan daripada berlarut-larut bertengkar dengan pemikiran sendiri tentang perasaan itu.

Rate 2 dari 5. Bukan karena tidak bagus. Ah, itu relatif, kawan. Aku hanya tidak suka buku ini.

***

Tebakan saya soal siapa my secret santa : mbak Sulis alias mbak peri_hutan >.< (semoga bener!) a.k.a hewan yang hampir punah. Xixixixi

Advertisements

Membaca Sastra Indonesia 2013 – Klasik dan Kontemporer

membaca-sastra-indonesia-2013

Setelah tahun lalu ketinggalan event ini (karena baru gabung BBI pertengahan tahun, hehehehe), akhirnya tahun ini aku bisa ikut dari reading challeng ini dari awal. Jujur, ini adalah reading challenge yang paling aku tunggu-tunggu. Aku excited sekali untuk ikut berpartisipasi dalam event ini. Aku memang agak beda. Nggak terlalu suka dengan novel terjemahan. Hehe…

Event Membaca Sastra Indonesia 2013 – Klasik dan Kontemporer ini dipelopori oleh Mbak Made. Terima kasih, Mbak Made! Oh, iya. aku suka sekali dengan button event ini. Indonesia banget gitu lho!

Target tahun ini bisa baca 20-30 buku sastra Indonesia. Mungkin campuran antara kontemporer dan klasik. Semoga tahun ini bisa mencapai target. Insya Allah nggak akan terasa beban karena aku memang suka. Hihihiy…

Ini list beberapa buku yang akan aku baca tahun ini :

1. Pulang – Leila S. Chudori

2. Negeri Para Bedebah – Tere Liye

3. Sunset Bersama Rosie – Tere Liye

4. Bidadari-bidadari Surga – Tere Liye

5. Pengakuan Pariyem – Linus Suryadi

6. Rectovers0 – Dee

7. Filosofi Kopi – Dee

8. Kumcer Perkara Mengirim Senja

9. Kumcer Kompas Smokol

10. Kinanthi – Tasaro G. K

11. Aku Kesepian Sayang, Datanglah Menjelang Kematian – Seno Gumira Ajidarma

12. Doa Ibu – Sekar Ayu Asmara

13. Kumcer Kumpulan Budak Setan

14. Misteri Rubrik Kontak Hati – S. Mara Gd

15. Divortiare – Ika Natassa

16. Mata Ombak – Gol A Gong

17. Kumcer Laba-laba – Gus Tf Sakai

18. Ronggeng Dukuh Paruk – Ahmad Tohari

19. Joker – Valiant Budi

20. Bintang Bunting – Valiant Budi

21. Kumcer Sepotong Hati yang Baru – Tere Liye

22. Kumcer Menuju(h)

23. Satin Merah – Brahmanto Anindito

24. Premortem – J. Angin

25. 9 dari Nadira – Leila S. Chudori

26. Kumcer Kompas Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian

27. Kumcer Kukila – M. Aan Mansyur

28. Kumcer Kompas Dodolit Dodolit Dodolibret

29. 86 – Okky Madasari

30. Twivortiare – Ika Natassa

Yah, kira-kira segitu dulu list yang disetor. Ini baru di awal tahun. Kalau nanti ke depannya banyak buku yang lebih bagus, mungkin akan aku tambah atau switch. Kita lihat nanti. semoga bisa konsisten…

Kotbah Pun Bisa Ngawur

KOTBAH-TIMELINE

Judul Buku : #kotbahtimeline Kotbah Timeline

Penulis : @pergijauh Abdul Gofar Hilman

Tahun Terbit : 2012

Penerbit : Plotpoint Publishing

Tebal : 226 Halaman

Rate : 3/5

______________________________________________

Saya baca buku ini hanya dalam waktu sekitar 30 menit saja. Itupun saya nggak membeli buku ini lho. Saya baca di toko bukunya langsung! Hehehe. Ketauan nggak modal. Xixixi…

Yah memang sih buku itu sekarang sudah bersemayam kembali di rak di toko buku sana, tapi saya masih ingat jelas di halaman awal-awal ada sedikit introduction singkat dari penulis mengenai asal usul namanya. Tadinya ia terlahir dengan nama Raskal. Well, tahu dong “rascal”? Menjelang gedhe *iya, bahasa gw emang nggak cakeb* namanya diganti sama kakeknya menjadi Abdul Gofar Hilman, yang mana Go Far adalah bahasa inggris yang kalau diartikan ke bahasa indonesia jadi “pergi jauh”. Well, filosofis yah? Hahaha…

Di bab introduction ini juga memuat beberapa foto. Di mana dari foto itu saya bisa tahu ternyata Bang Gofar ini adalah kakak senior saya di SMA. -_-a *kemudian ingatan otomatis mem-flashback kejadian-kejadian aneh, gila, sarap, ala anak-anak SMA saya pada waktu itu* Hemmm… Pantesss!

Meskipun buku ini memiliki 226 halaman, saya nggak perlu waktu lama untuk menghabiskannya. Pertama, huruf yang digunakan di buku ini sangat amat besar sekali. *okeh, lebay, ga efisien* Hal ini bikin saya optimis bisa menyelesaikan buku ini kurang dari satu jam (kebetulan saat itu sambil menunggu antrian freebook leksika, hehe). Kedua, dibilang lucu atau nggak, jujur, buku ini lucu. Terbukti saya bisa cekekekan nggak jelas waktu baca ini. Yang paling bikin ngekek (tahapnya masih ngekek. sedikit di atas ngikik dan sedikit di bawah ngakak) adalah gambar-gambar penggunaan sarung yang BENAR dan yang SALAH. Sumprit deh. Penulisnya muka badak beud… Hahahaha!!! Super duper creative. Bisa jadi inspirasi tersendiri nih buat pencinta sarung se-Indonesia. :))

Berikut adalah beberapa contoh gambar yang saya maksud, diambil dari blog pribadi @pergijauh

tumblr_m85zacfUku1r0jdhso1_500

tumblr_m98whvVReK1r0jdhso1_500

Buku ini terdiri dari 52 chapter sesuai jumlah minggu dalam setahun. Berisi potongan-potongan tweet yang singkat namun cukup makjleb. Dan kocak! :)) Penulis punya nama tersendiri untuk jamaah-jamaah timelinenya yang diberi nama Jamaah Gofariyah. Wekekek… Kreatip abis.

Sayang, *yah namanya juga idup* nggak semua yang lucu di sini benar-benar komedi. Ada hal-hal yang nggak seharusnya dianggap komedi, namun menurut hemat saya, Bang Gofar nggak maksud apa-apa. Just take the comedy sides of this book. Kita hanya perlu melihatnya dari sudut pandang yang menyenangkan. Don’t take it too seriously. Semua kembali ke keyakinan masing-masing. Hehehe…

Overall, buku ini layak baca saat santai atau isi waktu luang, cocok buat jadi kado (khususnya bagi temen yang ga doyan-doyan amat sama kegiatan membaca).

Dari Musuh, Jadi Pacar

Good_Fight_4f556b3042998_20120707154849Judul Buku : Good Fight

Penulis : Christian Simamora

Penerbit : Gagas Media

Tahun Terbit : 2012

Tebal : 514 Halaman

Sebelumnya, aku mau buat pengakuan. Buku ini sudah lama aku baca dan selesaikan tahun 2012 lalu. Baru sempat bikin review sekarang karena baru ada mood. #dikeplak

Mmm, dan ini sebenarnya juga masih bingung mau tulis tentang apa. Mengingat buku ini sudah lumayan lama aku baca. Jadi sekarang sudah agak lupa jalan ceritanya. #didepak

HEHEHEHE…

Oke. Gimana kalau aku mulai dengan sedikit sinopsis? Hmmm, novel ini menceritakan tentang permusuhan yang jadi cinta. Pernah dengar istilah benci-benci rindu ‘kan? Nah, cucok deh dengan isi buku ini. That’s why judul novel ini adalah Good Fight, “Perkelahian yang Baik”.

Tere, seorang fashion stylish yang jadi pacar selingkuhan seorang lelaki yang terlalu pengecut untuk ditunangkan dengan wanita pilihan orangtuanya. Jet, seorang fotografer yang digambarkan dengan postur tubuh dan wajah nyaris mendekati sempurna, yang juga jadi pacar selingkuhan seorang model profesional yang suaminya sebentar lagi akan mati karena sakit kronis. Aha! Klop bukan? Nah, nasib yang sama akhirnya mendekatkan mereka dalam hubungan yang manis. Padahal awalnya Jet dan Tere ini musuhan lho di kantornya. Karena Jet suka usil dan Tere nggak suka hidupnya diganggu orang lain. Singkat cerita, mereka akhirnya menjalin kasih. (Duileh, bahasa gue). #selfdungdung. Tapi seperti layaknya roller coaster (ampun deh, jadul amat sih gue) #gakpapadehya hubungan mereka nggak jalan adem ayem aja. Ada keseruan-keseruan dan konflik yang cukup serius yang berkelebatan di hati dan pikiran mereka masing-masing.

*** Continue reading