Don’t Judge A Boy by His Face

15815945

Judul Buku : Wonder
Penulis : R. J. Palacio
Penerbit : Atria
Tahun Terbit : 2012
Tebal : 428 Halaman
Rate : 5 of 5 stars
Harga : Rp 49.900,00

Don’t Judge A Boy by His Face

WOW! (tanpa koprol dan kayang)

Sekali lagi. Wow! Yep, 2 kali wow untuk buku yang satu ini. Simple, tapi ngena. Ngena banget. Alasan saya memilih buku ini untuk dibaca pada bulan Januari, yang mana bulan Januari adalah reading challenge dengan tema buku favorit, ternyata tidak salah. Sebelum membaca, memang saya tidak tahu apakah ini buku favorit atau tidak. Tapi, sebelum membaca, saya sempat mengintip di Goodreads untuk meilihat rating buku ini. Dan voila! Ternyata banyak yang kasih bintang 5, perfect star, untuk buku ini. Yak! Setelah selesai membaca pun saya juga kasih bintang 5 untuk Wonder. Saya juga menyukai buku ini. 

Awal mula saya tertarik baca buku ini adalah karena kavernya yang berwarna merah menyala dan sebuah wajah anak laki-laki yang digambarkan dengan tidak sempurna ; satu mata (woiii… ini bukan illuminati loh, kekekek…) dan kedua telinga yang tidak sinkron. Simple but elegant. Sesuai dengan isi ceritanya yang menggambarkan bagaimana si tokoh utama dalam buku ini.

Adalah August Pullman, untuk seterusnya akan saya sebut Auggie, adalah seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun yang harus menjalani kehidupan di sekolah menengah dan lingkungan sekitarnya dengan tidak biasa. Kenapa tidak biasa? Well, Auggie menderita kelainan genetika yang disebut Mandibulofacial Dystosis. Bukan, bukan kelainan takut mandi dan di-facial atau apa. Tapi, Auggie mengalami kondisi rumit yang membuat wajahnya tampak tidak biasa.

Kalau boleh saya deskripsikan (hmmm… boleh nggak yaaa…)  wajah Auggie ini sangat abstrak. Dengan mulut seperti mulut kura-kura, telinga yang tidak berdaun, mata yang sedikit turun ke bawah mendekati pipi, dan lain-lain. Hanya cacat itu saja yang terdapat wajahnya. Selebihnya, Auggie adalah anak biasa. Bukan seorang anak yang harus disekolahkan di sekolah luar biasa dan sebagainya. Auggie pintar, lucu, dan menyenangkan.

Untuk kali pertama dalam hidupnya, seorang Auggie akhirnya bersekolah di sekolah menengah umum, setelah selama ini ia tidak bersekolah. Hanya ibunya saja yang mengajarinya di rumah. Tentu tidak mudah menjalani kehidupan di sekolah umum, bagi Auggie. Banyak omongan-omongan miring tentang wajah Auggie yang tidak biasa. Beberapa teman-temannya bahkan tidak mau bermain dengannya. Hanya ada beberapa teman seperti Summer dan Jack yang mau bermain dan menjadi sahabat Auggie. Awalnya, Auggie merasa rendah diri dan malu akan keadaan dirinya yang ternyata tidak bisa diterima oleh teman-temannya. Untuk anak seumuran Auggie, hal itu tentu saja merupakan pukulan berat darinya. Tapiii… beruntunglah Auggie karena ia mempunyai keluarga yang amat sangat sayang sekali kepadanya! Dad yang lucu, Mom yang baik dan Via, kakak perempuannya, yang bangga punya adik seperti Auggie.

Hari demi hari di sekolah Auggie jalani dengan perasaan campur aduk. Kadang ia bahagia saat tahu ternyata masih ada anak sekolahnya yang tidak jijik makan siang satu meja dengannya, kadang ia sedih dan terpukul berat saat mengetahui teman yang selama ini baik padanya ternyata karena terpaksa saja, atau kadang ia ingin marah kepada Mom dan Dad yang menyuruhnya sekolah di sekolah menengah umum. Namun, berkat support orang-orang yang menyayanginya, Auggie akhirnya bisa melewati itu semua.

Well, konsep cerita dalam novel ini sebenarnya sederhana. Eits, tapi tidak biasa kok. Meskipun tidak ada konflik yang terlalu naik turun seperti roller coaster. Terus kenapa dong cerita ini bisa dibilang perfect? Jalan ceritanya itu looohhh… sepanjang say abaca buku ini, buanyak banget pesan-pesan moral yang nancep dan mengena ke hati saya. Tentang bagaimana menyayangi semua yang kita punya, baik ataupun buruk. Tentang bagaimana mensyukuri hidup. Tentang bagaimana mencintai dengan tulus, tentang bagaimana belajar menerima semua kejadian baik atau buruk yang menimpa kita. Pokoknya, buku ini WAH!

Alur dalam buku ini ditulis dengan alur maju. Agak lambat menurut saya. Namun hal itu bukan masalah besar dan tetap tidak mengurangi kenikmatan saya dalam membacanya. That was nice.

Banyak tragedi yang menimpa Auggie yang menyentuh perasaan saya.Sikap Auggie dalam menghadapi semua cemoohan teman-teman dan orang-orang di sekitarnya membuat saya trenyuh. Saya belajar banyak dari sosok Auggie. Dan mungkin itu juga yang diharapkan pleh penulis, R.J Palacio. Membuka mata kita tentang bagaimana mengasihi orang-orang yang terlahir dengan kondisi “berbeda”.

Tokoh favorit saya adalah Olivia dan Mom. Juga Summer! Wah banyak sekali ya. Hihihiy… Tokoh Mom adalah tokoh ibu yang sabar dan selalu mensupport Auggie dalam hal apapun. Olivia, kakak perempuan yang waktu pertama kali melihat wajah Auggie juga sempat jijik. Namun hanya sebentar. Dalam banyak hal, Olivia sangat menyayangi Auggie dan bangga sekali punya adik seperti Auggie. Olivia juga tidak malu punya adik dengan “cacat” di wajahnya itu. Dia sangat menyayangi Auggie. Lebih dari apapun. Dan Summer, hei, Summer adalah teman sekolah Auggie yang sangat tulus berteman dengan Auggie dan tidak takut atau jijik berteman dengan Auggie. Ia sangat ramah dan baik pada Auggie. Nah, saya ingin sekali kelak jadi ibu seperti Mom, kakak seperti Olivia, dan teman seperti Summer 

Hal lain yang membuat saya menyukai buku ini adalah teknik penulisan sudut pandang dengan multi point of view. Sehingga, buku setebal 400-an halaman ini tidak membuat saya jenuh dan ngantuk. Jenis dan ukuran font yang pas juga merupakan poin lebih tersendiri bagi buku ini. Sungguh saya tidak bisa membayangkan apabila buku ini ditulis dengan font kecil-kecil dan spasi yang rapat-rapat. Salut untuk Penerbit Atria!

Meskipun ini buku terjemahan, kerennya adalah saya hampir tidak menemukan adanya typing error dalam buku ini. Semua kata ditulis dengan bahasa yang baik dan dapat dengan mudah saya mengerti dengan gaya bahasa yang sederhana dan sesuai dengan gaya bahasa Indonesia. Sama sekali tidak kaku. So, two thumbs up buat editor dan buat penerjemahnya!

Buku ini ringan. Cocok dibaca siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Saya sendiri, saat membaca buku ini, seperti sedang melihat serangkaian adegan demi adegan sekumpulan bocah dengan segala kelucuan dan keluguannya yang tidak jarang membuat saya bergumam “so… sweet!” atau senyum-senyum sendiri membaca adegan anak-anak yang lucu. Semacam teringat tingkah polah adik saya dan teman-temannya. Hehehehe… Sangat recommended untuk dibaca.

Akhir kata, 5 of 5 stars untuk Wonder oleh R. J Palacio. Untuk cerita yang menginspirasi dan pelajaran hidup yang berarti 

2 thoughts on “Don’t Judge A Boy by His Face

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s