Lampau

17732143Judul Buku : Lampau
Penulis : Sandi Firly
Penerbit : Gagas Media
Tahun Terbit : 2013
Tebal : x + 346 hlm; 13 x 19 cm
Rate : 3 of 5

Karena bagaimanapun, masa lalu akan selalu menyeruak mencari jalan keluar – Khaled Hosseini, The Kite Runner

Pernah mengalami masa lalu yang tidak mengenakkan dan berharap di masa yang akan datang kita tidak akan pernah mengungkitnya lagi? Aku sih pernah. Sungguh tidak enak rasanya ketika terpaksa harus berhadapan dengan kenangan lampau yang sudah dikubur dalam-dalam. Itulah yang dialami Sadayuhun atau untuk seterusnya aku akan menyebutnya Ayuh. Ayuh adalah seorang anak Balian di daerah Kalimantan Selatan. Balian itu sendiri bisa diartikan sebagai “orang pintar” di kampung tsb yang biasanya suka mengobati orang sakit atau kesurupan, dsb.

Sebagai seorang anak tunggal dari seorang Balian perempuan yang cukup ternama di desa tsb, tentu Ayuh diharapkan bisa melanjutkan kiprah keluarganya yang sudah dikenal turun temurun sebagai Balian. Namun, Ayuh adalah Ayuh. Bukan ibunya, bukan pula kakeknya. Ayuh tidak ingin menjadi Balian. Ayuh ingin berjalan-jalan keluar dari Desa Loksado. Ia berencana melanjutkan sekolah di kota. Melihat dunia, katanya.

Keinginan Ayuh ini bisa dikatakan karena terpengaruh pamannya, Amang Dulalin, yang suka sekali membaca buku. kata Amang Dulalin, kita bisa mengintip dunia melalui buku. bagaimana laut… bagaimana gunung… kalau kita tidak bisa melihatnya secara langsung, maka bacalah sebuah buku. mainkan imajinasimu tentang bagaimana laut dan bagaimana gunung.

Uli Idang, ibu Ayuh, tidak menyetujui gagasan Ayuh. Bagaimana mungkin ia bisa mengizinkan Ayuh belajar ke kota dan membiarkan generasi balian terhenti di langkahnya? Tidak. Tidak bisa. Uli Idang tetap kekeuh berkeinginan bahwa Ayuh harus jadi balian, meneruskannya. Mendapati keinginannya ditentang ibunya, Ayuh ngambek. Ia kabur ke rumah Amang Dulalin.

Singkat cerita, setelah adu argumen yang cukup alot, akhirnya Uli Idang memperbolehkan Ayuh untuk melanjutkan sekolah ke kota. Dengan syarat, tidak keluar biaya selama sekolah. Karena Uli Idang bukan orang kaya. Maka, pergilah Ayuh dengan diantar Amang Dulalin ke kota. Ke pesantren. Ya, pesantren. Karena hanya pesantren itulah yang membebaskan biaya pendidikan kepada siapa saja muridnya yang ingin sungguh-sungguh belajar mendalami agama Islam. Lho, tapi Ayuh kan anak seorang Balian? Dan itu secara tidak langsung, kemampuan dan kekuatan seorang balian sedikit banyak sudah menurun kepadanya, yang artinya ia tidak beragama Islam. Sebagai balian, Ayuh tidak menganut agama apapun. Selama ini beribadah hanya berdasarkana adat istiadat saja. Sedangkan, salah satu syarat untuk dapat diterima di pesantren ini adalah harus bisa mengaji. Nah lho!

Untung saja Amang Dulalin bisa mengaji. Dengan kata lain, mereka mengakali pesantren itu agar Ayuh bisa masuk dan belajar di dalamnya.

Selama di pesantren, kehidupan Ayuh pelan-pelan mulai berubah. Ia merasa di sinilah ia seharusnya berada. Sholat, mengaji, dsb. Ayuh semakin yakin bahwa dirinya memang tidak ditakdirkan untuk jadi balian.

Loh… loh… terus ga ada kisah cintanya ini buku?

Ada dong. Hehehe… sabar sedikit kek…

Waktu Ayuh SD, ia sempat terpesona oleh anak baru dari Jakarta. Gadis berkepang dua bernama Ranti. Namun seiring kepindahan Ayuh ke kota, ia pun berpisah dengan Ranti. Demi melihat dunia, ia rela meninggalkan semua yang dicintainya di desa meski hanya sementara.

Pada akhirnya Ayuh tumbuh menjadi manusia yang cerdas. Siapapun tidak bakal menyangka kalau dia anak seorang dukun. Pemikirannya sudah berbeda dengan orang-orang desanya. Ayuh pindah ke Jakarta.di Jakarta kehidupannya pun semakin “kota”. Ia juga bertemu dengan seseorang gadis berwajah teduh yang membuatnya terpesona  sama seperti waktu ia melihat Ranti.

Ayuh sekarang sedang goyah. Tiba-tiba saja ia mendapat surat dari Amang yang memberitahukan bahwa ibunya sedang sakit keras dan Ayuh harus pulang. Ayuh harus mengobati ibunya, seperti halnya seorang balian mengobati orang sakit. Tapi, Ayuh kan bukan balian! Jeng! Jeng! (apaaaaahhhhh???!) Njuk aku kudu piye???! Salah gue? Salah temen-temen gue?! *gebrak meja*

Nah, penasaran kan apa yang akan dilakukan Ayuh ke depannya. Akankah dia kembali pulang ke desa kemudian menjadi balian? Bagaimana dengan ilmu dan pengalaman yang selama ini sudah ia dapatkan di kota? Apakah Alia sanggup menggantikan posisi Ranti di hatinya? Well, mau tau aja apa mau tau banget? Baca sendiri aja ya… wikikikik…

***

Gagas Media selalu bisa menyajikan kaver novel yang menarik. Maka tidak heran kalau banyak korban berjatuhan akibat terkecoh oleh kaver yang luar biasa indah tapi isinya bikin komentar “Meh.” Ya. Singkat saja.  Begitu juga dengan bait-bait puitis yang ditulis di belakang kaver. Sungguh membius. Tapi don’t expect too much karena seringkali apa yang ada di kavernya tidak sesuai dengan isinya. Sangat jauh berbeda. Yang tertulis di belakang begitu romantis dan sendu, tapi begitu dibaca isinya lho kok malah mbahas suku Dayak dan kehidupan dukun siiih??? *kepruk-kepruk buku ke kepala sendiri* *ternyata lumayan sakit rasanya*

Itulah yang disayangkan dari buku ini. Hadeeeehhh…

Mengenai gaya penulisan, buku ini mengingatkan aku akan karya-karya Tere Liye. Tanpa bermaksud membandingkan, aku rasa tipe gaya penceritaan penulis mirip-mirip dengan karya Tere Liye. Tentunya masing-masing memiliki gaya sendiri. Hanya saja “mirip”. Bahasa yang digunakan baku dan baik. Dengan konsep cerita yang menarik untuk diikuti sampai habis. Konflik yang “ramai” dan menguak cerita tentang kehidupan masyarakat suku pedalaman di Kalimantan. Menarik sekali.

Penulis juga pandai “memaksa” pembaca untuk stay membaca dari awal sampai tamat dengan menyisakan rahasia yang diberikan di awal cerita, kemudian baru dibeberkan pada bab-bab belakang buku. maka, cocoklah kalau buku ini diberi judul “Lampau” karena cerita tentang masa lalu yang berdampak pada keadaan di masa sekarang.

Untuk alurnya sendiri, buku ini memakai alur campuran antara maju dan mundur. Semuanya tertulis jelas sehingga tidak begitu menyulitkan pembaca untuk memahami setting waktu dan tempat.

Di buku ini, aku rasa juga sudah melalui proses pengeditan yang lumayan baik. Terhitung aku menemukan “hanya” 2 kali typo dalam buku ini. Itu saya lho ya… Nggak tahu deh kalau Mas Ijul yang baca. :)) Semua istilah-istilah dalam bahasa daerah juga dicetak miring dan jelas apa artinya. Good job, Editor!

Mengenai font, aku kurang suka dengan ukuran font yang terlalu kecil pada bagian  sudut pandang Amang Dulalin halaman 45 sampai halaman 59. Cukup mengganggu penglihatan.

Buku ini lucu, tidak ada jokes yang garing. Ringan, tidak menuntut konsentrasi tinggi untuk mebacanya. Cocok sebagai teman santai di waktu luang. Unik, menguak kisah hidup orang suku Dayak dan segala tradisinya. Menawarkan satu kisah yang orisinil dan sedikit berbeda. Informatif, membuat pembaca jadi tahu beberapa bahasa Dayak dan kebudayaan di sana. Membacanya membuat saya melewati lorong waktu kemudian merasa seperti berada di tanah Borneo yang sesungguhnya. Pendeskripsian yang baik.  Tapiiiiiiiiii ………. Sangat disayangkan endingnya anggung dan menggantung. Endingnya tidak jelas. Sepertinya sengaja dibiarkan mengambang. Mungkin aka nada buku keduanya? Dunno.

Akhirnya aku harus puas memberi 3 bintang saja untuk buku ini. I like it! ^,^

PS : direview untuk mengikuti event Membaca Sastra Indonesia by mademelani

membaca-sastra-indonesia-2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s