Sialan Salman!

17740031
Judul Buku : Sialan Salman!
Penulis : Salman Aditya
Penerbit : Elex Media Komputindo
Tahun Terbit : 2013
Tebal : 194 halaman
Rate : 1 0f 5

“Kisah anak SMA yang tak biasa!”

Gitu sih slogan buku ini yang tertulis di kaver depannya. Dari situ, aku jadi mikir, wah “tak biasa” gimana nih maksudnya? Apakah buku ini menceritakan soal anak SMA yang lebih pilih pakai gigi emas ketimbang pakai behel, atau kisah tentang sekumpulan anak SMA yang lebih suka nongkrong di Indomaret ketimbang di Sevel? #antimainstream #yakalidah

Sayangnya, harus kukatakan. Slogan tetaplah hanya slogan. Bukan berarti mencerminkan isi buku. so, beware. Don’t ever be tricked! Marketing… *sigh

Buku ini berisi cerita anak remaja yang baru menapaki jenjang SMA. Dengan tokoh utama bernama Salman, yang agak-agak dodol. Tipikal anak SMA yang bakal jadi artis di sekolahnya karena dia berani malu. Yap, jadi popular di sekolah itu gampang. Lo kaya banget. Lo pinter banget. Lo cakep banget. Atau lo ga punya semua itu tapi lo cuex bebex pede jaya utama buat berani malu (dan aneh). (walaupun seringkali malah jadi malu-maluin di endingnya) wkwkwkwk… kira-kira begitulah karakter Salman.

Tokoh Salman  ini supel, lucu, bandel, usil, dan ganjen. Hahahaha. Dia cuma hapal nama teman-teman perempuan. Kehidupan Salman di SMA menurut aku ga bisa dibilang absurd sih. Kurang absurd. Masih absurd-an aku dulu waktu jaman SMA. #malahbangga #absurdkokbangga

Cerita berawal dari kegiatan Salman yang mulai masuk SMA. Sejak jaman MOS (Masa Orientasi Siswa), hari-hari sebagai anak kelas satu, suka duka “dibully” senior, dll. Beruntung, Salman punya beberapa teman dekat yang senasib dengannya.

Overall, buku ini menceritakan kisah Salman di sekolah. Tidak ada alur perjalanan cerita tertentu yang penulis jabarkan. Apakah pada akhirnya dia jadian dengan salah satu teman yang sudah lama dekat dengannya (ini dibahas, tapi sedikit banget porsinya),  apakah mereka lalu putus, apakah Salman sukses ujian dan naik kelas, dsb. Aku tidak membacanya. Penulis seakan-akan membiarkan pikirannya menulis apa yang dia mau tanpa konsep mau dibawa ke mana alur ceritanya. Mungkin itu yang bikin buku ini jadi tidak terasa seperti novel. Hmmm, mungkin lebih ke gaya penceritaanya aja kali yah… Buku ini harus dijelaskan apakah novel atau Jupri. Kalau tidak, pembaca akan merasa kesulitan memposisikan diri ketika membacanya. #sotoy

Membaca buku ini, entah ya apakah selera humorku yang ketinggian (atau justru kerendahan?!) atau memang buku ini memang begini adanya. Datar. Sedatar hatiku saat ini… *hem mulai ye Selvi…* seperti membaca humor khas Amerika. Kadang aku merasa waktu berhenti sesaat saat aku membaca humornya. Ya, berhenti. Karena aku ga bisa paham maksudnya apaaaaa T – T #mikirlama #jakasembung

Well, menurut aku buku ini buku yang biasa-biasa saja. Sulit kalau ditanya apa yang bisa membuat orang mau membaca buku ini. Aku baca beberapa review di Goodreads juga. Dan ternyata ada yang memberi rate 5 bintang. Dan itu sah-sah saja. Karena menurut dia buku ini memiliki humor yang agak berbeda. Hmmm, harus akui memang iya sih. Agak berbeda. Tapi aku tidak punya kata-kata lain untuk menggambarkan segimana sih bedanya dengan novel humor-humor lain, selain kata : datar. Atau yah itu tadi, mungkin it is not my cup of tea.😛

Buku ini ditulis menggunakan bahasa yang lumayan baku. Aku rasa itu yang membuat buku ini jadi terasa kaku. Walaupun si penulis bilang terserah pembaca yang menentukan apakah buku ini mau dibilang novel atau jurnal pribadi.

“Buku jurnal ini fiksi bagi yang menganggapnya fiksi, tapi nyata bagi yang menganggapnya nyata” – Salman Aditya

NJUK AKU KUDU PIYE?

Kalau menurutku sih gaya penceritaannya seperti JuPri. Menggunakan sudut pandang orang pertama dengan kata ganti aku alias si Salman. Pun tokoh utamanya bernama sama dengan nama penulisnya. Tapi kalau melihat isi buku ini, aku jadi merasa ini bisa dibilang novel juga sih. Banyak hal-hal fiksi yang lebay. Seperti misalnya teman Salman yang bernama Nana tiba-tiba minta semua orang memanggilnya dengan nama Putri. Udah gitu mintanya maksa pula! Lah… suka-suka kek orang mau manggil dia apa. Aku aja dipanggil “Mbah” kalem aja tuh… #terimanasib #suratantakdir

Mengenai typo, hmmm kayaknya nggak perlu dibahas panjang-panjang ya. Yang jelas masih lumayan banyak. Terus aku masih bingung dengan kata “Terhenyuk” bukan terhenyak? Atau terenyak?

Lalu kata semringah, bukan sumringah? Well. Aku bukan orang bahasa sih. Hehehe… so, mungkin saja memang ejaannya sudah berubah dan aku ketinggalan info soal itu.

Perkara font type atau font size aku rasa tidak ada masalah. Semua terbaca dengan baik tanpa harus membuat mata cepat lelah.

Akhir kata, buku ini ringan. Cocok dibaca kapan saja, di mana saja. Terutama buat kamu yang tidak menyukai bacaan serius atau butuh selingan buat refresh otak. Tapi lebih baik baca di pojok ruangan yang sepi supaya setidaknya kamu bisa menangkap humornya jadi bisa lah nyengir-nyengir kuda dikit.  Huehehehe …

Keep writing, Salman!

PS: buku ini kalau diekranisasi mungkin akan bagus dengan tokoh utama si fitri tropika. Hahaha soalnya gaya humornya lebai-lebai gitu…😛

6 thoughts on “Sialan Salman!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s