Katarsis

Speechless!
Seandainya 5 bintang sudah cukup untuk mendeskripsikan bagaimana kerennya buku ini. Sayang saja, sepertinya kalian masih akan menuntutku untuk bercerita apa kerennya buku ini.
17786536Judul Buku: Katarsis
Penulis: Anastasia Aemilia
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2013
Tebal: 264 halaman
Genre: Psychology Thriller
Rate: 5 of 5

Aduh saya sebenarnya bingung mau mulai mereview dari mana. Buku ini bagusnya gila-gilaan! *tuhkan belum apa-apa, udah lebai* -_-“ Tapi aseli saya bingung mau nulis apa.

Buku ini perfect di mata saya. Mulai dari desain kaver sampai ke jeroan-jeroannya. Percaya atau nggak, awalnya saya sama sekali nggak tertarik buat baca buku ini. Bahkan waktu salah seorang teman mengadakan giveaway buku ini di blognya, saya seratus persen nggak ada minat buat ikutan. Karena apa coba? Karena saya pikir “Katarsis” itu semacam istilah kimia. Tapi dodol bin dudul, yang istilah kimia itu adalah Katalis bukan Katarsis. Hahahaha… *headbang*

Kemudian karena penasaran dengan arti kata Katarsis, layaknya manusia modern masa kini *sedap*, saya googling. Inilah yang saya temukan:
Katarsis: merujuk pada upaya pembersihan atau penyucian diri, pembaharuan rohani dan pelepasan diri dari ketegangan. – wikipedia

Saatnya untuk bilang WOW!

Bukan. Bukan untuk arti kata katarsis itu sendiri. Melainkan karena saya syok akan kemiskinan perbendaharaan kata saya yang nggak tahu apa itu katarsis -_-“

Haha. Oke, lanjut. Hmmm, agak njelimet yah untuk memahami arti kata Kataris menurut Wikipedia. Menurut bahasa popular, katarsis bisa juga berarti “curhat”. Hehe, more simple. Btw, correct me if I am wrong about this simple definition yah! ^,^

Nah, pas baca arti kata katarsis, barulah saya penasaran (dan sadar bahwa ini bukan buku tentang kimia!!!). Saya mulai membaca beberapa reviewnya di Goodreads. Dan emejing. Rata-rata pembaca berkomentar:

– Buku ini gila! Sakiiittt!
– Ah sakit banget penulisnya!
– Keren!
– Dll

Membaca hal tersebut, bagaikan kucing melihat whiskas *ceritanya kan kucing masa kini* saya kayak ber AHA! INI DIA BUKU YANG SAYA MAU! *drooling*. Iyep! Saya memang penyuka cerita-cerita yang menyangkut kejiwaan seperti buku ini. Apalagi di review yang saya baca sebelumnya dikatakan bahwa buku ini bergenre psycho-thriller. Makin bergairahlah saya. Ahey! ^,^

Maka, saya pun berkeliling mencari *pinjaman* buku ini. Hehehehe…
Buku ini adalah teman yang baik. Kenapa begitu? Karena sepanjang membaca buku ini, saya nggak pengen buru-buru menyelesaikannya kendati saya penasaran dengan endingnya. Tapi toh akhirnya saya menghabiskan waktu kurang dari 5 jam saja untuk menamatkan buku ini. Ah…

Membaca buku ini seperti mendapat angin segar di saat saya kehilangan mood membaca saya. Di tengah badai novel-novel romance yang semakin menggila, kehadiran buku bergenre ini seperti oase di padang pasir. Ah tuhkan bahasa saya mulai terpengaruh nih sama novel-novel romance yang saya baca. Huakakaka!

Terdiri dari dua tokoh utama. Tara Johandi dan Marcello. Kebetulan keduanya memiliki problem kejiwaan yang sama.

Tara, perempuan berumur 18 tahun, adalah satu-satunya korban yang selamat dalam sebuah kasus pembantaian sebuah keluarga di Bandung. Ia ditemukan meringkuk dalam sebuah kotak perkakas kayu dengan tubuh yang mengenaskan dan nyaris mati. Berita itu begitu booming dan menoreh “sejarah” tersendiri bagi warga Bandung. Misteri pembantaian itu belum juga terkuak sampai detik ini. Sampai usianya menginjak 25 tahun, Tara masih menjalani terapi kejiwaan guna memulihkan kondisi psikologisnya yang terguncang. Dibantu Alfons, sang psikiater, Tara mulai berani terbuka menceritakan apa saja yang dialaminya saat peristiwa itu terjadi. Sayangnya, kehadiran sosok Ello yang juga mantan pasien Alfons agak sedikit mengganggu proses kesembuhan Tara.

Siapa sebenarnya Ello dan apa tujuannya mendekati Tara? Adakah itu berhubungan dengan masa lalu Tara dan dirinya? Bagaimana dokter Alfons menghadapi kedua “orang gila” itu dan mampukah ia mengungkap semua misteri yang dipendam Tara selama ini? Kenapa si pembunuh tidak sekalian saja membunuh Tara alih-alih menyekapnya dalam kotak perkakas kayu yang sempit? Apa motif sebenarnya?

Kata kuncinya adalah: kotak perkakas kayu dan aroma mint.

Begitu banyak pertanyaan pastinya. Yah, namanya juga misteri. Saya rasa itulah yang membuat pembaca betah untuk keep reading buku ini sampai habis tanpa rela disela urusan apapun. Penulis dengan cerdas menjaring pembacanya untuk tetap mengikuti satu demi satu rahasia yang mulai perlahan-lahan terbuka. Brilliant!

Saya juga suka dengan gaya penulisan dan pilihan kata yang apik. Mantap deh pokoknya. Tapi nggak membuat pembaca jadi kesulitan memahami artinya. Pas saya lihat di bagian credit di belakang kaver depannya, ternyata editornya adalah editor senior kenamaan Gramedia yaitu Mbak Hetih Rusli *tepuk tangan bergemuruh* jadi wajar saja kalau debut pertama Anastasia ini sudah bisa membuat pembacanya seperti dimanjakan dengan alunan kisah yang amat menarik. Saya sendiri jadi penasaran dengan buku karya Anas selanjutnya.

Mengenai POV, agak membingungkan. Karena kedua tokoh utama ternyata memiliki pengalaman hidup yang hampir mirip. Nah, di sinilah pembaca dituntut untuk sedikit berpikir. Namanya juga novel misteri, nggak seru kalau nggak mikir kan? Hehehe…

Buku ini berisi prolog, 66 bab isi, dan epilog. Eits, jangan kaget melihat ada 66 bab dalam buku ini, karena setiap bab ditulis tidak terlalu panjang dan tidak bertele-tele kok. Saya justru suka dengan penulisan bab yang banyak namun pendek berisi seperti ini. Tidak membuat pembaca jenuh karena bisa sering-sering tarik napas buat istirahat. Hehe.

Saya juga suka dengan kaver buku ini. Simple, anggun, luwes. Dengan tulisan embed glossy tipis warna ungu dan gambar seorang anak kecil yang sedang bermain boneka. Namun, ada yang ganjil dengan boneka yang dia mainkan. Yaitu kepalanya putus. Hiy, terasa sekali bukan nuansa ngerinya?

Btw, pernah dengar seorang penulis horror sex jaman dulu bernama Abdullah Harahap? Nah sepertinya Anastasia ini sedikit banyak berguru pada beliau. Soalnya saya melihat namanya tercantum dalam ucapan terima kasih dari si penulis. Well, kalau iya hal itu benar, maka pantas saja tulisan Anastasia bisa sehidup ini. Mengingat Abdullah Harahap adalah penulis cerita misteri yang begitu terkenal pada jamannya (bahkan sampai sekarang karya-karyanya juga masih banyak diburu).

So, untuk alasan apalagi saya tidak memberi 5 bintang? Tidak ada. Maka, nikmatilah buku ini sekarang juga dan rasakan sensasi yang akan membuat merinding bulu kuduk anda. ^,^

Aku sendiri bingung harus menulis apa. Mungkin karena terlalu terpukau dengan cerita dalam buku ini.

Yang jelas, bagi pencinta psychology thriller, kamu wajib baca buku ini. Top!

26 thoughts on “Katarsis

  1. even if u said 5stars was not enough for this book, Katarsis just not my cup of tea.
    Dont mind it, this review is good ^^d

  2. udah tertarik sejak baca ripiunya Mbak Sulis (Peri Hutan), gimana ngga, komennya aja : sinting.
    Apalagi aku emang suka sama psychology thriller, makanya crime drama fave di TV tuh criminal mind.

  3. Kok jadi pengen yah. Aku belom pernah baca genre ini. Kalo Stephen King itu genre apa? Itu kayak aku ga pernah berhasil tamat satu pun. *minta dikeplak* Soalnya aku udah biasa nonton serial TV Bones, mungkin nanti bacanya ga bakal yg sampe gimana gitu? Bones itu kan visual bgt. Mayat udah busuk2 bahkan leleh2 gimana gitu. Thank God I’m a vegetarian. Minjem sapa ya?

  4. bolak balik ke gramed selalu pegang buku ini, baca2 lagi.. udah tertarik pertama justru karena novelnya dan saya suka sama buku2 berbau kejiwaan gitu, makin mantep deh buat beli buku ini..

    thanks ya reviewnya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s