Solusi Patah Hati

restart cover

Judul Buku: Restart

Penulis: Nina Ardianti

Penerbit: Gagas Media

Tahun Terbit: 2013

Genre: Romance

Tebal: 446 halaman

Rate: 3 of 5

“Semua orang pernah patah hati
All you have to do is move on”

Jleb. Jleb. Jleb.
Tiga kali, cuy.
Gue ulangin yah. Ti-ga ka-li! *biar dramatis*

Adalah benar kalau habis patah hati, sebaiknya kita jangan terlalu lama berlarut-larut dalam kesedihan. Membaca novel init uh hmmm apa yah…semacam terapi juga mungkin buat saya? Mengingat saya masih dalam tahap move on juga *hasek*

Eniwei. Sebelum masuk ke reviewnya, ada baiknya saya tulis warning di pendahuluan bahwa sebagian isi review ini mungkin akan mengandung sedikiiiiit curcol. Hak hak hak hak! *ketawa dzolim*

Oke ya? Gapapa ya? Siap lanjut kan? Ridho baca curhatan saya? Really??? For sure??? Yakiiinnn???

Oke. Here we go…

Pertama, kata salah satu tokoh di novel ini, patah hati bisa disembuhkan dengan dua cara:

  1. Membiarkan waktu mengalir begitu saja dan menghapus semuanya perlahan, atau
  2. Menemukan orang baru sebagai penggantinya

Terserah sih mau pilih paket yang mana. Yang jelas nggak ada hadiah mini figure minions. *apaan sik*

Saya pribadi kalau dihadapkan pada pilihan itu, mungkin akan lebih memilih yang pertama. Yeah, walaupun pasti bakal perih banget menahan sakitnya sendiri dan jelas akan memakan waktu yang agak lama. Anyway, kenapa saya pilih paket nomor 1? Simply because menurut saya, tidak akan semudah itu mengganti posisi seseorang yang pernah begitu berarti dalam hati kita dengan seseorang baru, sejahat apapun dia. Selain itu juga dibutuhkan waktu yang lama untuk menata rumah (baca: hati) kembali sebelum ada tamu (baca: orang baru) yang akan masuk ke dalammnya, kelak. *yakin masih mau lanjut baca curcolan???* *kepo atau emang sabar sih ngadepin saya?*

But hey! Kalau cinta sudah datang mengetuk *omagah! Bahasa guwaaa*, siapapun tidak akan bisa menolaknya. Seperti Syiana, misalnya, tokoh perempuan utama dalam novel ini. Setelah memergoki dengan mata kepalanya sendiri bahwa Yudha, pacarnya yang sudah menjalin hubungan selama tiga setengah tahun dengannya, ternyata tidur bersama wanita lain, hatinya seketika hancur luluh lantak. *ya iyalah siapa pula yang enggak???* Sejak saat itu ia memutuskan untuk pergi sejauh-jauhnya dari Yudha tanpa pernah mau mendengar penjelasan apa-apa lagi dari Yudha. Iya sih cyiiin… ketangkap basah sih doi lagi check in di hotel sama entah cewek mana.

Hingga pada suatu hari di Hongkong (salah satu bentuk pelariannya), tanpa sengaja ia bertemu Yudha. Syiana merasa terlempar ke masa lalu saat masih bersama Yudha. Udah jauh-jauh “kabur” ke Hongkong, eh, masih aja ketemu si cecunguk itu. Siapa yang nggak kesel coba? Syiana kemudian pergi ke suatu club untuk menenangkan diri sambil menenggak beberapa gelas minuman beralkohol. Di situlah ia bertemu dengan  Fedrian, laki-laki yang membawa warna baru buat Syiana.

Namun, ternyata Syiana masih meragu akan hubungannya dengan Fedrian, sang selebritis. Kehidupan seorang seleb yang kerap dinilai serba bebas dan jauh dari hidup yang berkualitas versi Syiana, membuatnya insecure. Luka lama yang ditorehkan Yudha saja rasanya belum sembuh benar, lalu bagaimana bisa ia melihat Fedrian si seleb yang bisa cipika cipiki dengan perempuan mana saja atas nama keartisannya?

Kepercayaannya diuji.

Mampukah Fedrian menggantikan sosok Yudha? Akankah hubungan Syiana dan Fedrian akan berjalan sampai ke tahap yang Syiana inginkan, atau akhirnya Syiana memutuskan untuk menyendiri sampai datang orang lain lagi yang lebih baik baginya?

*****

Pertama, saya mau bilang saya jatuh cinta dengan kavernya. Yaiyalah, Gagas Media sih nggak diragukan lagi desain-desain kavernya selalu ciamik. Tapi bukan itu Cuma itu aja yang bikin saya akhirnya memutuskan untuk membaca buku ini (saya nggak beli, saya minjem lho, wkwk). Terus terang, nama Nina Ardianti nggak begitu familiar di telinga saya. Ini adalah karyanya yang pertama saya baca. Entah karena editornya Chrismor atau gimana, saya merasa buku ini masih terasa suasanya Chrismornya banget. Tentu saja dalam versi yang lebih “sopan”. Hehehe… atau mungkin karena kata kunci “pop culture” ya yang membuat buku ini rasanya hampir sama dengan novel-novel Gagas yang lain?

BISAAAAA JADIIIIIIIIII!!! *kemudian digetok pake gayung*

Cukup tebal namun nggak membosankan. Semua ceritanya mengalir dengan baik dan menyenangkan. Termasuk salah satu buku yang ringan dicerna. Tidak ada masalah dengan jenis maupun font size. Semuanya membuat mata saya nyaman saat melihatnya.

Issue yang dituangkan dalam buku ini juga menarik dan banyak dirasakan banyak orang, yaitu perselingkuhan. Saya sendiri pernah diselingkuhi. Jadi ekspektasi saya saat membaca buku ini sekedar ingin tahu apa yang dilakukan si tokoh utama, apakah mirip dengan yang saya lakukan saat masa tahap penyembuhan luka? Hehe… ternyata kurang lebih sama kok😛

Adalah benar kalau kita disakiti seseorang, mungkin mudah untuk memaafkan (beberapa orang punya prinsip BUKAN “forgiven, not forgotten”, MELAINKAN “not forgiven and not forgotten”) tapi pasti akan sulit untuk melupakan. Bahkan membuat si korban jadi hati-hati dan cenderung trauma untuk memulai relationship yang baru. Terus, whats next? Akankah kita berdiam diri aja dan meratapi itu semua berlama-lama? Kenapa kita harus berlarut-larut dan terjebak dalam sItuasi yang merugikan diri sendiri?

MOVE ON, GIRLS!!!

Itulah pesan yang ingin disampaikan novel ini. Apalah artinya galau kelamaan. Ibarat nunggu bus yang kamu tahu bus itu nggak akan lewat situ karena trayeknya bukan itu.

Tokoh yang paling saya sukai di novel ini adalah Aulia. Sahabat lelaki yang baik hati buat Syiana. sedikit mengingatkan saya dengan sahabat lelaki saya yang duduknya sama seperti Au; di sebelah kubikel saya. Tanpa perlu saya bilang apa-apa, dia tahu saya sedang sedih, atau bahagia. Saya sempat terkecoh di awal bab.  Saya pikir Syiana pada akhirnya akan berpacaran dengan Au. Tapi ternyata? Ah.

Saya juga mau bilang, walaupun di buku ini banyak kejadian yang unik dan menarik (seperti misalnya ternyata Fedrian adalah seorang artis yang Syiana tidak tahu karena dirinya terlalu sibuk mengobati patah hati), tapi endingnya sangat bisa ketebak oleh saya. So typical.

In the end, 3 bintang aja deh. Untuk rasa yang sama dengan novel-novel lain dan untuk cerita yang begitu bisa ditebak. Fair enough.

“Dan ketika kita menyayangi orang sepenuh hati, kita akanmelakukan apapun untuk membuatnya nyaman” – p.412

13 thoughts on “Solusi Patah Hati

  1. iyah sih… covernya memang bagus..
    cuma penasaran aja, apakah ilustrasi alat musik dan warna merah itu punya ksamaan filosofi cerita dalam bukunya? ^___^

    Patah hati yah….
    enaknya di aku sih biasanya membiarkan waktu yang jadi juaranya.
    Proses healing, ngerasain pain, dan memaknai detik-detik yang berjalan lambat, bisa ngebuat kita ngesyukuri banyak hal setelahnya.
    kalau milih kedua, takutnya kena batunya aku nanti. Karena ngelakuin sesuatu dimuali dari niat pelarian.
    nyerahin ke waktu, dan biarkan kejutan yang menentukan chemistry akunya..

    • oh iya lupa aku jelasin di reviewku hehe…
      si Fedrian itu iya dia artis, tepatnya anak band. tapi kayaknya ga dijelasin dia main alat musik apa. atau emang aku yg kurang notice -_-a

      yup, bener. setiap org emang punya cara masing2 ya buat heal the pain. ada yg kalo ga move on, jatohnya malah terjebak nostalgia. nah, yg opsi kedua ini “tugasnya” buat meminimalisir itu kayaknya😀

      tapi aku pribadi, pilih nomor 1 sih. cuman ya kalo ada yg dtg mengetuk, kenapa ga dipersilakan masuk? :p

      • betul banget… terjebak di nostalgia… itu kok ngingetin aku sama film keren terbaru kita “Pacific Rim”. Udah nonton? keren lho filmnya kalo tentang nostalgia… hihihi #ngelantur
        —-
        AKu juga akan pilih no 1, tapi bener banget katamu… kalau ada yang mengetuk, why not.. makanya waktu harusnya untuk mempersiapkan kita buat kejutan berikutnya juga yah? gak sekedar buat nuntasin duka lama. _^.. mantap!

      • oh udah nonton😀
        iya pacific rim soalnya kan menguhubungkan syaraf dua orang jadi kenangannya melekat satu sama lain, hehe…

        iyap.. karena kalo kita masih mikirin yg lama, orang yg mau masuk juga jadi males kan. merasa ga punya tempat ^^

      • yoi… setuju banget…. kita musti bijak menyewakan lapak hati kita.. hihi

        hore udah nonton pacific rim….
        memang keren itu film
        kombinasi dari beberapa era dan teknologi… ^_^
        see you later

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s