Cinta. #virtualbooktour @Bukune @Benzbara_

Kaver Depan Novel Cinta.

Kaver Depan Novel Cinta.

Cinta. (baca: cinta dengan titik)
Bernard Batubara, September 2013
Penerbit Bukune
ISBN 6022201098
Paperback, 324 halaman
Rating 3,5/5

Kau tahu apa yang lebih menyakitkan daripada sebuah kehilangan?
Menyangka bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi, tetapi akhirnya tiba-tiba saja itu terjadi padamu. – p.11

Hmmm… Cinta. Eits, bacanya: cinta dengan titik. Judul yang catchy buat gue. Pernah ga sih kepikiran gini: iya juga tuh. Kenapa sih cinta ga bisa sederhana aja? Misalnya, ada dua orang saling mencintai, lalu hidup bahagia selamanya kayak di cerita-cerita dongeng? Kenapa sih gitu aja belum cukup? Well, dalam hidup memang banyak ’kenapa’ yang biasanya sulit dimengerti.

Jadi gini. Gue mau tanya sama kalian. Siapa sih yang ga sebel sama cowok plin plan dan ga mau rugi? Pengennya mencintai dua perempuan secara bersamaan dan memilikinya pula. Bukan, itu bukan mantan lo. Itulah Demas.

Terus ada lagi cewek, namanya Nessa. Seketika menjadi bodoh karena cinta. Dia membenci ibunya yang pergi meninggalkan ia dan ayahnya demi laki-laki lain. Katanya, karena cinta. Cinta itu membutakan. Itu benar. Dan Nessa sesungguhnya tengah menjelma menjadi seseorang yang dirinya benci.

Dimas dan Nessa secara ga sengaja bertemu di sebuah pesawat.
Kedekatan di antara mereka terjalin begitu saja sampai tanpa mereka sadari ternyata keduanya sudah mulai saling menyayangi. Namun baru saja mimpi indah tersulam (gile, bahasa gue canggih amat) Nessa harus bangun menghadapi kenyataan bahwa Demas ternyata sudah bertunangan dengan perempuan lain. Ya iyalah perempuan. Mosok sama lekong sih, Cyiiin. Sampai di sini, gue kesel banget sama Demas. Rasanya pengen masuk ke buku terus ngelabrak Demas, sambil ngomong, “Eh gilak ya, udah punya tunangan masih aja nyosor cewek lain!” *adegan selanjutnya ga perlu dideskripsikan karena mengandung unsur kekerasan, huehehe*

Awalnya, Nessa kaget dan marah mendengar pengakuan Demas bahwa sebenarnya dia sudah punya pacar (namanya juga cewek waras, ya marah). Ya tapi karena udah cinta banget sama Demas, Nessa ini kekeuh dan manut aja dijadikan kekasih gelap lah istilahnya. Aduh, kesel juga sama karakter cewek kayak gini. Hodob tea. Padahal Nessa benci banget sama ibunya lantaran ibunya selingkuh juga, eeehhh dia sendiri jadi selingkuhan. Ya apalah namanya cewek kayak gini.

Udah gitu, pas lagi galau, Nessa datengnya ke Endru. Yailah, ga mau rugi amat mbak. Eh tapi gue juga pernah kayak gitu sih. Hahahaha! *selfkeplak*

Nah, gue belom cerita ya siapa si Endru ini. Endru adalah cowok yang dijodohin bokapnya Nessa karena bokapnya khawatir sejak kasus ibunya, Nessa ga terlihat deket sama cowok lagi. Maka, disusunlah perjodohan tsb yang mana sebenernya Endru juga terpaksa ngejalanin perjodohan itu. Endru ini cowok flamboyan ternyata. Si Nessa ini kalo lagi marah sama Demas, larinya ke Endru. Kalo lagi baik sama Demas, Endru disingkirin. Ah, wanita…

Waktu berjalan, Nessa akhirnya sadar bahwa ia ga bisa terus-terusan kayak gini. Ga bisa terus-terusan jadi simpenan. Ia butuh kejelasan dari Demas untuk memutuskan segera siapa yang akan dipilihnya. Nessa atau tunangannya. Tapi, again and again, namanya cinta mah, disakitin kayak apa juga bakal tetep stay. Tul gak? Nah, Nessa ini juga gitu. Biar kata Nessa udah mengultimatum Demas buat memutuskan, pada akhirnya dia ngalah juga waktu Demas bilang dia butuh waktu buat mutusin Ivon, tunangannya. Maka, Nessa menunggu dan menunggu tapi Demas tak kunjung juga memberikan keputusan. Nessa merasa dipermainkan, Saudara-saudara!!! *hemmm ke mana aja, Buuu?*

Satu hal paling percuma yang dilakukan manusia adalah mencoba berlari dari kenangannya sendiri. – p. 73

Akhirnya, atas saran sahabatnya, Bian, Nessa memutuskan buat pisah sama Demas. Apapun alasannya, Nessa ga peduli. Ia teringat gimana bencinya ia pada ibunya dan gimana posisinya sekarang. Persis. Nessa ga beda jauh dengan ibunya. Tapi Nessa ga bilang, “Aku kotor, mas… Aku kotor…” Tentu saja tidak.

Lalu, apakah yang akan terjadi di kehidupan Nessa setelahnya? Bagaimana cerita ini akan berakhir? Nessa dengan Endru atau Nessa dengan Demas? Hmmm, bacanya biasa aja kaliii jangan kayak presenter infotemen jugak😛

Di dadamu ada tulisan yang tak pernah selesai. Tentang rindu yang lumpuh di tengah jalan dan cinta yang mekar di tempat lain. jauh dari yang tak akan kembali. Jauh dari yang tak akan terjadi. – p. 154

Buku yang gue baca ini, kalau ga salah, adalah buku kelima Bara. Sebeleumnya gue belum pernah baca karya-karya Bara, selain cerpen dan beberapa tweet-tweet puitisnya. Anyway, hahahaha, kalau kalian baca review gue sedikit terkesan nyinyir dan emosi, ya emang. Gue emosi sama segala bentuk cerita yang bertemakan pengkhianatan. Apalagi kalau pengkhianatan itu ditujukan sama orang yang baiiikkk banget. Aih, neraka terbawahnya, Mas, Mbak, silakan… Masih anget lho…

Yang gue tangkep, setting tempat berada di Jogja, tapi gue ngerasa Mas Bara kurang eksplor soal Jogja. Hm, mungkin karena penulis pikir sudah banyak orang yang tahu soal Jogja kali yah? Deskripsi yang ditulis juga menurut gue lumayan jelas dan ga mbingungi

Bergeser ke gaya penulisan ya sekarang. Penulis menulis (YAIYALAH) ceritanya dengan bahasa yang baku sekali. Ya amplop. Kayak lagi baca cerita terjemahan. Tapi menurut gue justru hal ini yang bikin buku ini terlihat dewasa dan berkelas. Ciyus! Baku, tapi ga kaku. Eh, kaku sih sedikit.Tapi ga masalah buat gue yang hidupnya selalu terbiasa serius. *opooo tho mbakyuuu* *benerin kacamata*

Belum lagi, lumayan banyak sajak romantis sadis mengiris dan puisi karya Pablo Neruda. Ah ciyusan, lo pasti tau kan siapa itu Neruda? Neruda adalah salah satu mantan pacar gue. Ini jelas ngaco.

*setelah gugling*

Oke, jadi Neruda adalah seorang penyair berbahasa Spanyol terbesar pada abad ke-20. Novelis Kolombia, Gabriel García Márquez menyebutnya “penyair terbesar abad ke-20 dalam bahasa apapun. Karyanya yang paling mendunia adalah kumpulan puisi berjudul “100 Soneta Cinta” – source: Wikipedia Dan mengenai Haiku ini, gue pribadi ga terlalu suka😛

Clear ya? Jangan ada jebret di antara kita pokoknya. *lu kata komentator bola?!*

Perbandingan antara dialog dan deskripsinya cukup seimbang, menurut gue. Gaya khas Benzbara lah kalau ada kata-kata puitis di dalamnya. Tapi ga usah takut mabok kata-kata puitis. Proporsi puisi dan narasi cukup seimbang. Dan yang penting juga: gak cheesy. Tapi juga ga bikin dahi mengernyit. Indah aja gitu pokoknya, hehehe… Gue paling suka sama sajak di halaman 107, “Pada Paragraf yang Begitu Singkat”. Gokil! Ini sajak yang keren banget!!!

pada paragraf yang begitu singkat, kau sempat menulis bekas luka. di sana kau dan aku dahulu dengan tabah menyusun huruf demi huruf sambil belajar membuat narasi yang bahagia. padahal akhir cerita tak bersahabat dengan waktu dan sisa rindu di sela kata terlalu lemah untuk patuh kepada air matamu. tak ada jeda untuk kau tinggal di sini. biarkan aku membiarkanmu pergi

pada paragraf yang begitu singkat ada ingatan yang berkarat. di sana kau dan aku terperangkap dalam kalimat pasif yang tak paham bagaimana cara menunggu. sedangkan cintamu telah luput di titik terdekat dan langkahku telah lumpuh di tanda tanya terjauh. tak ada celah untukku pergi dari sini. biarkan aku membiarkanmu kembali

Bagi kalian yang baca, tetap akan merasa baca novel kok. Bukan baca kumpulan puisi. Ini jadi poin plus yang membedakan dengan novel roman yang lain. Terus, mengenai huruf dan typo, hmmm, gue rasa ga ada masalah yang terlalu berarti yah. Gue bukan proofreader dalam hal ini, jadi ga mau komen soal seberapa banyak typonya. #eaaa

Selain poin plus yang gue sebut di atas, novel ini pun mempunyai hal-hal yang lumrah ada pada novel roman pada umumnya. Yaitu potongan lirik sebuah lagu, sajak di bagian belakang cover –yang gue jamin orang yang ga romantis pasti eneg bacanya– (dear penerbit, ga ada ide lain apa?) dan ending yang –sayangnya– bisa dengan mudah tertebak. Emang ya, bikin cerita cinta itu susah susah gampang. Enakan langsung dipraktekin aja. *lho* Actually, ini buku Benzbara pertama yang gue baca. So far, gue sih ga kapok ya baca karya-karya Akang Bara yang lainnya *kedip-kedip najong* this is a good beginning.

Di buku ini, gue dapet satu informasi penting soal sajak, yaitu haiku. Apa itu haiku? Haiku adalah haimu. #MencobaBikinPeribahasaBaruTapiGagalJadinyaGituDeh

Oke. Serius dong. Katanya tadi seriooooosssss.

Jadi, Haiku (俳句?) adalah sejenis puisi Jepang, revisi akhir abad ke-19 oleh Masaoka Shiki dari jenis puisi hokku (発句?) yang lebih tua. Hokku tradisional terdiri dari 5, 7, dan 5 kata – source Wikipedia

Enaknya juga, setiap sajak atau puisi di dalam buku ini ditulis dalam sebuah box berwarna kelabu, memudahkan pembaca yang ingin mengulang baca sajak-sajaknya saja.

Last but not least, soal cover. Hm, gausah ditanya lah ya bagus apa gak. Simple but elegant, mungkin konsep dari cover buku ini. Juga konsep dari judul novel ini. Siapapun yang melihat wujud buku ini di rak toko buku, niscaya bakal nengok dua kali dan ngintip isi buku ini. Semacam punya magnet. Mengingat penerbit buku ini masih sodaraan sama penerbit sebelah yang terkenal selalu punya cover bagus. Tapi harus diingat, pembaca pengennya ga cuma cover doang yang bagus, isinya juga harus dipikirin.

Udah ya, kepanjangan gue reviewnya. Semoga visitor yang lagi berwisata di event #virtualbooktour bisa jatuh cinta sama gue menikmati isi blog ini dengan nikmat. *kagak epektip bener bahasa lu, selp* Akhir kata, gue kasih 3,5 bintang buat keseluruhan buku ini. Tadinya mau kasih 4 loh, tapi karena endingnya bisa ketebak (ah, Mas Bara mungkin bisa loh ambil kisah real punyaku buat dijadiin tulisan. Soalnya suram banget, Mas) *iyoooh sel… iyooohh* akhirnya 3,5 is enough.

Salam ketjup mandja,
@selebvi

NB: Meskipun di awal gue terlihat kesel sama ketidaktegasan Demas, tapi diam-diam gue suka Demas secara deskripsi fisik yang diberikan penulis. Gondrong dan kacamataan. Ya Allah, pesen satu, boleh ndak? Tapi biar gimanapun, gue sih lebih suka sama karakter Endru. Baik aja gitu. Hehe….. #TeamEndru

NBB: Gue begadang sampai jam dua pagi buat nulis review ini bok! 5 kali revisi dan menghabiskan 2 hari. Hahahaha… Maklum wiken😛 Jadi, kalo ada kata-kata yang ga enak, mohon maaf, mungkin lagi siwer. Thanks to Bukune yang sudah memberikan kesempatan buat saya ikutan event #virtualbooktour ^.^

7 thoughts on “Cinta. #virtualbooktour @Bukune @Benzbara_

  1. Tadi entah kenapa ngebaca perjodohan -> perjodohan..
    “Endru menerima saja perbodohan ..”
    Kemudian terpana pas baca “Jebret”😄
    Aku penasaran pengen baca ini. Yah, kayaknya cerita cinta..susah dibikin unpredictable ya?
    Pada akhirnya, milih antara perjodohan sama perbodohan aja #apasihzel
    Perjodohan -> menerima apa yang katanya “kita pantas dapatkan”
    Perbodohan -> menerima apa yang kita rasa kita harus dapatkan
    ih aku jadi panjang komennya.. pinjem dong, sel! #UUP😄

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s