Blue Romance

Sampul Depan Blue Romance

Sampul Depan Blue Romance

Judul Buku: Blue Romance
Penulis: Sheva
Penerbit: Plotpoint Pubslishing
Tahun Terbit: 2012
Genre: Omnibook, Fiksi
Rate: 3/5

***

Ada 7 cerita.
Ada 7 jenis kopi.
Ada 7 sudut pandang.

Tapi hanya ada satu setting tempat. Blue Romance.

Blue Romance adalah nama sebuah kedai kopi yang identik dengan suasana suram-romantis. Nah lho, seperti apakah itu?

Buku ini merupakan omnibook yang mana kalau saya tidak salah mengerti yaitu sebuah buku selayaknya kumcer, dengan judul yang berbeda-beda, namun masih memiliki benang merah, yaitu si kedai kopi itu sendiri. Ya, Blue Romance.

Ada 7 cerita pendek dalam buku ini. Kesemuanya ringan dan menghibur. Satu jenis kopi mewakili satu judul. Favorit saya yaitu cerita pertama berjudul Rainy Saturday. Tentang seorang perempuan introvert yang secara tidak sengaja berkenalan dengan seorang laki-laki stranger dan misterius yang akhirnya membawa mereka ke pertemuan selanjutnya. Kenapa saya suka? Well, I will let you know only if you wanna promise me that you will not laugh at me. Deal?

Okay. This is it. Saya suka cerita ini karena saya membayangkan pertemuan saya dengan jodoh saya kelak ternyata seperti di kisah ini. Sangat tidak disangka! Hahahaha! *bahkan saya sendiri pun menertawai imajinasi saya sendiri* -_-“

Lalu beranjak ke cerita ke-dua berjudul 1997-2002. Entah kenapa judulnya begitu, padahal dalam cerita ini kedua sahabat berpisah selama sepuluh tahun akhirnya bisa bertemu kembali. Entah saya yang melewatkan kalimat tertentu atau memang penulisnya yang salah kasih judul. CMIIW. Cerita kedua ini remaja sekali.

Cerita ke-tiga berjudul Blue Moon. Ah, ini juga cerita favorit saya ding. Maaf labil. Saya baru teringat akan cerita yang satu ini. Tentang seorang barista yang kedapatan seorang pelanggan yang mabuk karena ditinggal mati ayahnya di saat si anak telah sekian lama tidak pergi menemui bapaknya. Tragis.
Continue reading

Advertisements

Bertemu Sapardi

Waktu Kak Harun memberikan info soal Pesta Literasi 2013 yang mengadakan Bincang Seru bersama Sapardi Djoko Damono dan Gol A Gong, saya langsung daftar! Bayangkan, kapan lagi bisa ketemu Sapardi dan Gol A Gong?! Siapa penggiat buku yang tidak kenal mereka berdua? Apa? Ratu Atut? *thuthuk*

Acara tersebut berlangsung dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Agak ngaret. Gapapa. ‘Kan ceritanya nasionalis :hammer:. Lumayan bikin ngantuk, kalau saja nggak ada Mas Epri Tsaqib yang berapi-api dan lucu menceritakan pengalamannya dulu sewaktu kali pertama menerbitkan buku. Banyak sekali peserta diskusi yang hadir, terutama mereka yang memang ingin belajar lebih dalam soal penerbitan buku indie. Saya sendiri, setelah menyimak cerita Mas Epri, terus terang jadi terpacu buat menerbitkan buku sendiri. Inginnya sih buku kumpulan puisi. Hahaha.

Sekitar jam 11-an, Gol A Gong datang. Dengan gaya yang sederhana, Mas Gong tersenyum kepada setiap orang yang ditemui. Dengan memakai penutup kepala –yang bodohnya saya gak tahu apa namanya– Mas Gong terlihat sekali jiwa mudanya, walaupun sekarang usianya sudah 50 tahun. Yang bikin meringis, ketika Mas Gong berdiri di depan meja yang menjual buku-bukunya dan beliau layaknya pedagang berteriak-teriak, “Yuk peserta diskusi, yang mau beli buku saya boleh lho. Sekalian booksigning!” Hihi… Penulis yang unik ‘kan? Bersahaja sekali, saya rasa.

Continue reading