Sungguh, Ayah yang Rempong

Fortunately, the Milk by Neil Gaiman, September 2013

Fortunately, the Milk

Gyahahahaha. Membaca buku ini bikin saya nggak berhenti-berhenti ketawa. Gimana nggak, coba bayangin kalau ada seorang ayah yang begitu kocak dengan tingkat imajinasi yang sangat mengada-ada. Okay sih yang namanya imajinasi memang mengada-ada, tapi sosok ayah yang satu ini benar-benar konyol menurut saya. Saya pasti betah diasuh oleh ayah seperti dalam buku ini. Gyahaha!

Tahu nggak, sebenarnya ini hanya cerita tentang seorang ayah yang dititipi tugas oleh istrinya untuk menjaga anak-anaknya ketika istrinya sedang ada tugas dinas keluar kota. Sang Ayah lupa membeli susu di suatu pagi sehingga anak-anaknya tidak bisa menikmati sarapan serealnya. Hm, ide ceritanya sangat sederhana. Namun, bukan Neil Gaiman namanya kalau tidak bisa membuat suatu cerita sangat sederhana menjadi menarik untuk terus diikuti sampai akhir. Buku ini sukses menyeret saya untuk terus membaca kekonyolan-kekonyolan Si Ayah. So interesting!

Siapa sangka perjalanan tokoh Ayah di buku ini bisa menjadi segitu adventurous-nya?

Jadi begini. Sang Ayah ini keluar membeli susu terlalu lama sampai-sampai kedua anaknya panik. Hal ini menimbulkan kekesalan tersendiri buat Si Anak. Disangkanya Si Ayah ini pasti malah asyik ngegosip sama temannya yang kebetulan ketemu di jalan. Namun di satu sisi mereka juga takut kalau ternyata Si Ayah kenapa-kenapa di jalan. Lalu tak berapa lama akhirnya Si Ayah datang juga. Kedua anaknya terus menggerutu mengingat ayah mereka yang datang terlambat sehingga mereka nyaris telat ke sekolah.

Nah, kekonyolan pun dimulai. Si Ayah mulai membual.

Dia bilang dia telat karena saat dia membeli susu, dia bertemu UFO kemudian accidentally mengarungi mesin waktu dan kembali ke jaman beheula dan akhirnya ketemu sama Profesor yang berbentuk…

*hening sesaat*

… Stegosaurus (Stegosaurus ini bilang dia lagi melakukan perjalan ke masa depan dengan inovasi mesin waktunya. Ealah!)

Oh, Man, mana ada anak jaman sekarang percaya diceritain dongeng begitu (pagi-pagi pulak!) sama Si Ayah? Oh iya, kedua anak itu sudah berumur delapan-sembilan tahun kalau saya nggak salah. Bukan umur balita lagi yang bisa dengan mudah percaya dongeng.

Cerita bualan itu nggak cuma sampai di situ saja. Si Ayah juga bilang kalau ia ditahan oleh bajak laut dan di laut itu ada ikan piranha. Mendengar hal itu, salah satu anak protes, “Yah, piranha itu ‘kan ikan air tawar, mana mungkin ada di laut,”

Jiyaaah *gubrak* Si Ayah kena senjata makan tuan. Huahahaha. Saya ngakak baca bagian ini. Dalam imajinasi saya kebayang gimana malunya muka Si Ayah yang melakukan kesalahan fatal dalam dongengnya. Tapi, salut. Si Ayah ini ternyata jago ngeles sampai-sampai kedua anaknya speechless dan setia mendengarkan dongeng-dongeng lainnya.

Pokoknya Si Ayah ini menceritakan banyak dongeng-dongeng yang intinya sih menjelaskan kenapa dia datang terlambat. Tapi saya berani sumpah kedua anaknya nggak ada yang percaya. YA IYALAH! Hahahaha.

Terus kedua anaknya iseng menanyakan bukti autentik untuk menunjukkan bahwa Si Ayah tidak berbohong. Nah, Si Ayah tentu nggak mau dibilang pembohong, maka ia membawa bukti itu. Apakah buktinya???

Jeng! Jeng! Jeng!!!

Baca sendiri deh. Pokoknya dijamin ngakak mengetahui jawaban ngeles dari Si Ayah. Gyahahaha!

Saya kasih 4 dari 5 bintang untuk cerita yang fantastis dan super duper absurd tapi sukses bikin ngakak ini! What an author! *worship*

2 thoughts on “Sungguh, Ayah yang Rempong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s