Jakarta 24 Jam

[Kumcer] Jakarta 24 Jam by Putra Perdana, dkk Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Januari 2014, 256 hlm., Rating: 3/5

[Kumcer] Jakarta 24 Jam by Putra Perdana, dkk
Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Januari 2014,
256 hlm., Rating: 3/5

Sampul yang menarik dan judul yang “saya banget” membuat saya tertarik membeli buku ini bahkan sebelum buku ini resmi dipasarkan. Jakarta 24 Jam sejatinya adalah sebuah kumpulan cerita yang ditulis oleh tiga penulis laki-laki. Kumcer ini terbagi menjadi 3 bagian. Bagian pertama berjudul 06-14, kedua 14-22, dan ketiga 22-06. Jelas itu adalah 24 jam yang dibagi menjadi tiga kurun waktu. Dalam setiap kurun waktu tersebut terdapat 7 cerita pendek (ini berarti ada 21 cerpen) yang sudah sukses bikin saya bingung. *Horeee!*

Semua judul cerpen dalam buku ini hanya terdiri dari satu kata. Judul-judul tersebut antara lain Narkolepsi, Ketiga, Alice, Sting, Laporan, Alasan, Bayar. Entah apa yang membuat penulis-penulis ini hanya menuliskan satu kata saja untuk setiap judulnya. Bukannya tidak boleh sih. Hanya saja saya mikirnya “Ini penulis malas cari judul apa kelewat praktis sih? Jangan-jangan zodiaknya Capricorn?”. Pokoknya begitu deh.

Sudah gitu, ga dijelasin pula si penulis A nulis cerita yang mana, dst. Helloowwww. Pengin kelihatan cool apa gimana maksudnya, yang jelas saya mumet. Beruntung sih semua rasa di kumcer ini sama. Sama-sama tidak bisa saya pahami. *njengkang*

Buku ini diawali oleh sebuah Exordium. Entah apa artinya, saya belum sempat gugling di internet. Saking penginnya keren mungkin sehingga lebih memilih kata exordium ketimbang prolog, eh? Entahlah. Yang jelas dari Exordium ini saya bisa tahu *akhirnya ada juga hal-hal yang ga bikin saya bingung* bahwa Jakarta 24 Jam ini adalah benang merahnya.

Kalau Anda pernah membaca Blue Romance karya Sheva, kira-kira itulah Jakarta 24 Jam. Nama sebuah kafe di mana cerita-cerita di dalamnya dituliskan dalam buku ini. Tentang baristanya, pengamen di depan jalan kafe itu, pengunjungnya, dan sebagainya.

1. Narkolepsi – Seorang yang mabuk dan lupa kejadian yang semalam menimpanya. Saya bingung sama endingnya.
2. Ketiga – Seorang perempuan yang menyukai angka 3.
3. Alice – Dunia parallel. Persis seperti cerita Alice in Wonderland, katakanlah begitu.
4. Sting – Tentang pemain saksofon.
5. Laporan – Tentang dua orang polisi yang melaporkan suatu kejadian kepada atasan. Ini cerita yang rasa beda dan kocak!
6. Alasan – Ini cerpen yang paling panjang menurut saya. Dan itu aneh. Namanya saja cerita pendek. Lha kok ini panjang. Doyan apa gimana.
7. Berlayar – Romance gitu. Gak ngerti juga ini apa.

Nah, bagian pertama ini saja sudah memakan setengah halaman buku. kita langsung masuk ke bagian kedua.

8. Parkir – Tukang parkir yang jatuh cinta dengan salah satu customernya.
9. Pintu – Absurd. Totally. I can’t get it.
10. Rooney – Baca sendiri deh. Saya sudah speechless. Hahahaha!
11. Peringatan – Satu pesan singkat “Kau akan mati besok.”
12. Assist – Bola. Apalagi? Saya juga ga begitu paham.
13. Pesan – Auk deh.

Ups, ternyata hanya ada 6 cerpen. But still. Tidak ada satupun yang bisa saya nikmati dari cerpen-cerpen di atas. Langsung masuk ke bagian tiga.

14. …

Ah sudah deh sepertinya saya ga perlu menuliskan lagi seperti apa. Baca saja sendiri kalau pengin tahu apa saya ini benar atau mengada-ada atau memang kita beda selera. Yang jelas ekspektasi saya salah besar. Saya kira di kumcer ini akan ada kisah-kisah tragis romantis yang terjadi dalam suatu kafe seperti saya membaca Blue Sheva (Ah, memang tidak adil rasanya membanding-bandingkan. Tapi percayalah, saya hanya bermaksud memberi gambaran.)

Apalagi yang dijabarkan adalah salah satu kedai kopi di Jalan Sabang. Oi, man! Jalan Sabang itu ‘kan tempat gahul saya bangeeettt. Tapi saat saya membaca ini yang terlintas di kepala saya kok malah kedai kopi di jalan-jalan kecil di Perancis. (Saya memang belum pernah ke Perancis tapi at least saya pernah menyaksikannya lewat tivi.)

Hal lain yang mengganggu saya antara lain gambar di setiap perpindahan judul yang sering bikin saya mikir “apa dah ini”. Nah, kalau soal fotografi saya memang nyerah deh. Dalam hal ini mungkin memang otak saya yang nggak nyandak *saya menulis ini tanpa bermaksud merendahkan otak saya yang notabene anugerah Tuhan, tentunya*. Tapi memang sepertinya selain kumcer, buku ini juga merupakan buku yang memamerkan fotografi tersebut. Ini bisa dilihat jelas dari nama yang tertera di sampul depan buku selain nama ketiga penulis ada nama illustrator. Jadi mungkin ini proyek bersama antara penulis dan illustrator.

Akhir kata, saya tidak merekomendasikan buku ini bagi Anda yang ingincari hiburan. Mending baca teenlit atau apalah. Jangan baca pas weekend juga. Nanti malah jadi stress. Sekian.

P.S: Belakangan saya akhirnya tahu bahwa exordium itu artinya “permulaan”.

Advertisements

Teka-teki Terakhir

Teka-teki Terakhir by Annisa Ihsani, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, 27 Maret 2014, 256 hlm., Rating: 3.5/5

Teka-teki Terakhir by Annisa Ihsani, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, 27 Maret 2014, 256 hlm., Rating: 3.5/5

Cerita ini bermula ketika Laura, gadis kecil berusia dua belas tahun, mendapatkan nilai nol dalam ujian matematikanya. Dengan kertas ujian itu, ia membuat perahu yang tidak ia alirkan ke sungai tetapi ia buang ke tong sampah di depan rumah di jalan Eddington nomor 112. Rumah itu sudah 15 tahun ditempati oleh sepasang orangtua yang tidak sekalipun pernah berinteraksi dengan tetangga sekitar sehingga kerap dicap aneh. Muncul rumor-rumor yang mengatakan bahwa mereka adalah pasangan penyihir, orang gila atau apalah.

Tuan Maxwell lalu menemukan perahu kertas yang dibuang Laura tersebut dan mengembalikannya kepada anak itu sambil memberikan sebuah buku matematika tentang asal-usul angka nol. Blah, Laura mana mau baca itu. Dia ‘kan tidak suka matematika!

Tapi ternyata Laura salah. Lama-lama dia menyukai buku itu. Ia lalu bingung ketika akan mengembalikan buku itu ke Tuan Maxwell. Maksudnya, ia bingung apakah ketika tempo hari Tuang Maxwell memberikan buku itu kepadanya untuk dipinjamkan atau boleh dimiliki. Laura yang bingung akhirnya mendatangi rumah yang banyak rumor tak sedapnya itu. Di situlah hidupnya mulai terasa berbeda.

Sejak saa t itu, Laura jadi tahu kehidupan sesungguhnya tentang keluarga Maxwell. Tentang perkerjaan sehari-harinya, tentang masa lalu Nyonya Maxwell, tentang ilmu matematika, dan tentang suatu proyek besar yang sedang dikerjakan oleh Tuan Maxwell selama 40 tahun!

Sebenarnya, apa yang dikerjakan Tuan Maxwell dan istrinya di dalam rumah itu selama bertahun-tahun? Laura tahu jawabannya!

Saya bisa katakan novel ini bukan novel teenlit biasa. Sama sekali bukan tentang kehidupan percintaan anak remaja yang biasa saya baca. Novel ini menawarkan tema yang berbeda: MISTERI MATEMATIKA.

Saya suka dengan tema yang fresh seperti itu. Beberapa contoh teka-teki matematika juga dituliskan di buku ini lengkap dengan solusinya. Waow. Seperti belajar saja rasanya, but in a fun way, of course. Apalagi memasuki bab yang berisi teka-teki antara Kesatria dan Bajingan. Walaupun saya pernah mengetahui teka-teki serupa sebelumnya, tetap saja buku ini memberikan penyegaran. Pokoknya membaca buku ini bikin kita jadi tahu sedikit banyak tentang tokoh ahli matematika dan sejarah matematika.

Membaca buku ini seperti membaca buku terjemahan. Padahal ini pure novel lokal aseli Indonesia lho. Ini karena nama-nama karakter dan setting tempatnya memang kebarat-baratan. Lihat saja nama-sama seperti Laura Welman, Jack Welam, James Maxwell dan Eliza Maxwell. Atau juga setting tempat seperti kota kecil Littlewood dan jalan Eddington nomor 112. Gaya berceritanya pun sangat khas novel terjemahan. Tapi itu tidak mengurangi kenyamanan saya menikmati cerita ini secara keseluruhan kok. Saya bahkan sempat merasa dipermainkan menjelang ending buku ini. Saya salah tebak. Haha… oh iya. Salah satu hal yang menarik perhatian saya juga yaitu sampulnya yang unyu-unyu. Hehehe…

Penulis ternyata bergelar Master yang didapat dari University of Groningen jurusan ilmu komputer. Hm, pantas saja kalau tulisannya agak-agak ilmiah begini ya. Hihihi…

Pada akhirnya saya hanya bisa kasih 3,5 dari 5 bintang. Recommended buat kalian yang suka teka-teki dan matematika!

Lost

Lost by Eve Shi, GagasMedia, 28 Januari 2014 310 hlm. Rating: 3/5

Lost by Eve Shi,
GagasMedia, 28 Januari 2014
310 hlm.
Rating: 3/5

Pada Jumat yang selow ini, izinkanlah saya mereview buku kembali setelah sekan lama nggak mengepost postingan ;p

Buku yang kali ini saya review adalah buku horror pertama setelah sekian tahun saya nggak pernah lagi baca buku horror karena pernah kecewa (seperti hati ini yang enggan membuka kembali karena dulu sempat terluka) *njengkang*

Buku ini merupakan buku yang dibaca bareng rekan-rekan Seraper di Forum Buku Kaskus; Serapium. Awal kali seorang enthu sepuh mengusulkan buku ini buat dibaca bareng, saya sempat underestimate.

“Ciyus nih mau baca buku horror Indonesia? Penulis baru pula.”

Well, ternyata buku ini sanggup menghapus semua keraguan saya (tapi keraguanku padamu tetap tidak terhapus) *njungkel* mengenai novel horror Indonesia. Duh, novel horror Indonesia yang saya maksud di sini tuh yang itu lho, tentang seorang penjual nasi goreng di sebuah rumah angker di daerah Pondok Indah. *bayangkan saya ngomong begini dengan gaya ibu-ibu gossipi*

Ternyata ini novel BAGUS! Walaupun saya hanya kasih bintang 3. Tapi serius buku ini bagus dan tidak seperti yang saya pikir. Buku ini bisa menularkan rasa merinding saat saya membacanya. Sanggup membuat saya menutup buku karena ngeri membayangkan adegan-adegannya. Turut merasakan rasa mencekam di apartemen yang menjadi latar temapt dalam buku ini. Juga ikut merasa tegang seperti tokoh-tokoh di dalamnya.

Buku ini bercerita tentang seorang kakak adik yang menempati unit apartemen baru. Ternyata unit apartemen tersebut menyimpan sejumlah misteri di masa lalu yang belum terpecahkan. Nah, gemesnya, Maura (tokoh utama cewek dalam buku ini) tuh kepo banget. Kalau saya jadi Maura mah saya mending pindah apartemen deh. Masalahnya Maura ini berani banget. Dia yang akhirnya mengungkap misteri yang terjadi di apartemen itu.

Tentang tetangga satu lantai yang ternyata punya rahasia terpendam.

Tentang bekas penghuni apartemen lalu yang menghilang secara misterius.

Tentang petugas kebersihan yang memiliki banyak hutang.

Tentang kabar miring soal hantu-hantu di apartemen itu.

Dan tentang seorang remaja laki-laki yang numpang tinggal sementara di unit sebelah Maura demi menyembuhkan trauma lamanya.

Kebanyakan konflik sih menurut saya. Tapi justru sepertinya konflik ini yang akhirnya mampu mengikat pembaca (dalam hal ini; tentu saja saya) untuk mengikuti ceritanya sampai habis. Namun sayang, di ending saya malah mendapati akhir yang menurut saya kurang nonjok. *kemudian disamber bajaj*

Indonesia butuh banyak penulis seperti Eve Shi yang menurut saya telah mampu mendeskripsikan suasana ngeri dengan baik. Buktinya saya kebawa perasaan kok. Eh maksudnya kebawa suasana jadi ikutan ketakutan gituh. Heheheu…

Novel horror ini bisa dikategorikan novel kategori teenlit yang tokoh utamanya merupakan remaja SMA. Selain itu ada juga kisah romansa dalam buku ini yang bisa membuat pembaca cooling down sejenak karena nggak melulu disuguhi adegan yang menegangkan.

Bacaan yang cukup menghibur dan segar di antara begitu banjirnya novel-novel teenlit bergenre romance. Saya rekomendasikan bagi pembaca dan pecinta cerita horror dan misteri.