Teka-teki Terakhir

Teka-teki Terakhir by Annisa Ihsani, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, 27 Maret 2014, 256 hlm., Rating: 3.5/5

Teka-teki Terakhir by Annisa Ihsani, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, 27 Maret 2014, 256 hlm., Rating: 3.5/5

Cerita ini bermula ketika Laura, gadis kecil berusia dua belas tahun, mendapatkan nilai nol dalam ujian matematikanya. Dengan kertas ujian itu, ia membuat perahu yang tidak ia alirkan ke sungai tetapi ia buang ke tong sampah di depan rumah di jalan Eddington nomor 112. Rumah itu sudah 15 tahun ditempati oleh sepasang orangtua yang tidak sekalipun pernah berinteraksi dengan tetangga sekitar sehingga kerap dicap aneh. Muncul rumor-rumor yang mengatakan bahwa mereka adalah pasangan penyihir, orang gila atau apalah.

Tuan Maxwell lalu menemukan perahu kertas yang dibuang Laura tersebut dan mengembalikannya kepada anak itu sambil memberikan sebuah buku matematika tentang asal-usul angka nol. Blah, Laura mana mau baca itu. Dia ‘kan tidak suka matematika!

Tapi ternyata Laura salah. Lama-lama dia menyukai buku itu. Ia lalu bingung ketika akan mengembalikan buku itu ke Tuan Maxwell. Maksudnya, ia bingung apakah ketika tempo hari Tuang Maxwell memberikan buku itu kepadanya untuk dipinjamkan atau boleh dimiliki. Laura yang bingung akhirnya mendatangi rumah yang banyak rumor tak sedapnya itu. Di situlah hidupnya mulai terasa berbeda.

Sejak saa t itu, Laura jadi tahu kehidupan sesungguhnya tentang keluarga Maxwell. Tentang perkerjaan sehari-harinya, tentang masa lalu Nyonya Maxwell, tentang ilmu matematika, dan tentang suatu proyek besar yang sedang dikerjakan oleh Tuan Maxwell selama 40 tahun!

Sebenarnya, apa yang dikerjakan Tuan Maxwell dan istrinya di dalam rumah itu selama bertahun-tahun? Laura tahu jawabannya!

Saya bisa katakan novel ini bukan novel teenlit biasa. Sama sekali bukan tentang kehidupan percintaan anak remaja yang biasa saya baca. Novel ini menawarkan tema yang berbeda: MISTERI MATEMATIKA.

Saya suka dengan tema yang fresh seperti itu. Beberapa contoh teka-teki matematika juga dituliskan di buku ini lengkap dengan solusinya. Waow. Seperti belajar saja rasanya, but in a fun way, of course. Apalagi memasuki bab yang berisi teka-teki antara Kesatria dan Bajingan. Walaupun saya pernah mengetahui teka-teki serupa sebelumnya, tetap saja buku ini memberikan penyegaran. Pokoknya membaca buku ini bikin kita jadi tahu sedikit banyak tentang tokoh ahli matematika dan sejarah matematika.

Membaca buku ini seperti membaca buku terjemahan. Padahal ini pure novel lokal aseli Indonesia lho. Ini karena nama-nama karakter dan setting tempatnya memang kebarat-baratan. Lihat saja nama-sama seperti Laura Welman, Jack Welam, James Maxwell dan Eliza Maxwell. Atau juga setting tempat seperti kota kecil Littlewood dan jalan Eddington nomor 112. Gaya berceritanya pun sangat khas novel terjemahan. Tapi itu tidak mengurangi kenyamanan saya menikmati cerita ini secara keseluruhan kok. Saya bahkan sempat merasa dipermainkan menjelang ending buku ini. Saya salah tebak. Haha… oh iya. Salah satu hal yang menarik perhatian saya juga yaitu sampulnya yang unyu-unyu. Hehehe…

Penulis ternyata bergelar Master yang didapat dari University of Groningen jurusan ilmu komputer. Hm, pantas saja kalau tulisannya agak-agak ilmiah begini ya. Hihihi…

Pada akhirnya saya hanya bisa kasih 3,5 dari 5 bintang. Recommended buat kalian yang suka teka-teki dan matematika!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s