Mata yang Enak Dipandang

Mata yang Enak Dipandang by Ahmad Tohari, Gramedia Pustaka Utama Desember 2013, 216 hlm. Rating: 5/5

Mata yang Enak Dipandang by Ahmad Tohari, Gramedia Pustaka Utama
Desember 2013, 216 hlm.
Rating: 5/5

Saya tidak pernah tidak tersenyum mengetahui ending cerita yang ditulis Ahmad Tohari dalam kumpulan cerita pendek ini. Semacam perpaduan antara ramuan menenangkan, meneduhkan, dan membahagiakan sekaligus menampar. Rasanya sesungging senyum dan acungan dua jempol layak saya layangkan untuk setiap cerpen dalam buku ini, karena memang semuanya berkisah baik. Baik dalam arti saya setelah membacanya merasa lebih baik. Terhibur dan tercerahkan. Ceritanya memang sangat sederhana. Tapi Ahmad Tohari sangat piawai menyajikan konflik yang menyentuh dan membekas, setidaknya buat saya. Hampir semua cerpen dalam buku ini mengangkat persoalan sehari-hari kaum menengah ke bawah yang tidak jauh-jauh dari perkara “menghidupi hidup”.

Ada 15 cerita pendek dalam buku bersampul kuning dan gambar kaver sampul depan yang simple namun berkelas ini. Suka sekali. Semuanya saya suka. Kelimabelas ceritanya saya suka. Semuanya adalah cerita-cerita yang pernah dipublikasi di media cetak nasional antara tahun 1983 sampai 1997. Mulanya saya pesimis bisa terhibur oleh cerita tahun segitu. Saya takut Ahmad Tohari masih menggunakan bahasa yang sulit saya pahami dan kaku seperti sastra lama. Eh, tapi ternyata tidak lho. Setiap cerita dituliskan dengan bahasa yang sangat baik dan menghanyutkan. Tidak terasa, untuk menyelesaikan buku ini saya hanya memakan waktu sekitar 90 menit non-stop.

Cerpen favorit saya Penipu Keempat. Gila. Ini cerita yang dahsyat (baik proses maupun endingnya) dan saya rasa tidak semua penulis (atau bahkan tidak ada) yang bisa menulis dengan gaya seperti ini. Ah, mungkin saya terkesan terlalu technical padahal saya hanya penikmat sastra Indonesia yang awam dan biasa. Hehehehe…

Cerita utama yang sekaligus menjadi judul kumcer ini sangat menyentuh. Tanpa terasa mata saya berkaca-kaca membaca akhir ceritanya yang tragis. Tentang seorang pengemis buta dan seorang anak kecil yang ia sewa untuk seantiasa menuntun dan membantunya mengemis. Sungguh kisah ini membuat saya trenyuh dan membawa pandangan tersendiri bagi saya terhadap para pengemis di kereta atau di mana pun mereka berada.

Ada pula cerita tentang persahabatan dua wanita yang tumbuh dengan nasib yang berbeda. Satunya menikah dan hidup dengan baik sementara satunya lagi harus melacur. Tapi tak peduli meski sahabatnya melacur, sang sahabat satunya lagi tetap setia menemani sahabatnya itu. Bahkan mereka tinggal serumah dan kerapkali jadi omongan tetangga karena satu atap dengan pelacur.

Lalu kisah tentang seorang laki-laki yang menulis untuk membiayai hidup keluarganya namun ternyata buku-buku yang ia buat tidak laku meski hanya dijual seribu rupiah per buah.

Yang jelas semua cerita dalam buku ini pada akhirnya selalu membuat saya menjadi belajar sesuatu. Tentang keikhlasan, kejujuran, penerimaan, bersyukur, dan sebagainya.

Saya menyukai bagaimana Ahmad Tohari menamai semua tokoh-tokohnya. Ada yang bernama Jebris, Mirta, Tarsa, Kartawi, Doblo, dan lain-lain. Sangat kontras dengan fenomena kebanyakan buku jaman sekarang yang cenderung ingin menonjolkan nama yang unik sehingga mudah dicerna, tapi mengesampingkan karakter yang spesifik. Padahal, pembaca sesungguhnya harus ditempeli karakter. Soal nama urusan belakangan. Dan tidak diragukan lagi, Ahmad Tohari did it very well!

Dan mulai detik ini, saya nobatkan diri saya sebagai penggemar baru Ahmad Tohari. Walau saya tahu rasanya saya telat sekali baru menyukai beliau. Ah…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s