Bertemu Eka Kurniawan dan Ratih Kumala

Eka Kurniawan, Saya, dan Ratih Kumala

Kegalauan saya tadi sore ternyata bullshit (baca di sini). HAHAHAHAHA!

Akhirnya saya bisa bertemu dengan penulis-penulis favorit saya. Kebetulan dalam kesempatan kali ini, Eka dan Ratih tampil sepaket. Wah! Keren pokoknya.

Waktu jam dinding di kantor menujukkan pukul setengah 5 teng, saya langsung beberes memasukkan semua barang-barang secara serampangan ke dalam tas. Padahal pekerjaan saat itu belum selesai. Tapi untungnya masih bisa dilanjut esok hari. Procrastinator! Ha!

Saya menjalankan motor saya dengan pelan tapi pasti. Ternyata tidak terlalu banyak gangguan yang berarti selama perjalanan. It means, saya masih keburu mengikuti diskusi sastra sore ini, meski sudah telat.

Singkat cerita, sampai di sana saya masih melihat Eka Kurniawan, Ratih Kumala, dan Maggie Tiojakin sedang memberikan pelajaran berharga. Mengetahui pemikiran-pemikiran mereka soal karya sastra Indonesia kontempore rupanya makin membuat saya jatuh cinta dengan mereka bertiga dan dengan dunia sastra pastinya.

Banyak hal yang dituangkan para narasumber. Tidak detail yang akan saya jelaskan, yang jelas sastra Indonesia memang sedang dalam tahap “pencarian jati diri”.

Apalagi ya yang bisa saya ceritakan? Pokoknya diskusi hari ini berjalan sangat menyenangkan dan bermutu.

Selepas acara, Mbak Feby Indirani, moderator yang cantik dan sangat ramah itu mempersilakan para hadirin untuk ngobrol dengan para narasumber di Kedai Penulis. Nah, saat di Kedai Penulis ini adalah saat mendebarkan buat saya karena saya malu-malu buat minta foto bareng sama Eka Kurniawan. Hahahaha… Gak perlu dijelaskan deh ya gimana prosesnya. Kebetulan saya juga gak pandai menceritakannya dalam bentuk tulisan.

Ada satu kejadian yang lucu. Waktu saya minta foto sama Eka, saya juga bilang ke Eka bahwa saya ingin foto sekalian dengan Ratih. Saya lalu panggil Ratih, “Mbak Ratih, Mbak Ratih,” namun yang bersangkutan sedang ngobrol dengan orang lain jadi mungkin ga dengar. Sampai akhirnya Eka berteriak, “Bunda! Nda! Ini foto,” kira-kira begitu kata Eka. Kemudian Ratih segera sadar dan dengan sangat friendly bergaya berfoto bersama saya dan suaminya itu.

That was a nice moment for me. Berkesan sungguh! Walau saya gak bisa ngobrol dengan mereka. Tapi bertemu dan berfoto saja sudah bahagia. Semoga kali lain bisa ketemu lagi, bisa menyimak diskusi-diskusi dengan sastrawan-sastrawan lain.

6 thoughts on “Bertemu Eka Kurniawan dan Ratih Kumala

  1. Duileeee, gayanya gak nahan dahhh..
    woh, pak Eka sekilas mirip Joko Anwar ya, klo Mbak Ratih mirip Wanda Hamidah :hammer

    :ngakaks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s