Corat-Coret di Toilet

Eka Kurniawan, PT Gramedia Pustaka Utama, April 2014 (first published 2000), 132 hlm.

Eka Kurniawan, PT Gramedia Pustaka Utama, April 2014 (first published 2000), 132 hlm.

Buat saya, membaca kumpulan cerpen Eka Kurniawan ini berarti bernostalgia. Mayoritas cerita dalam buku ini sudah saya baca beberapa tahun lalu dalam kumpulan cerita Gelak Sedih dan Cerita-cerita Lainnya (Meskipun cerpen berjudul Tertangkapnya Si Bandit Kecil Pencuri Roti tidak ada). Namun bedanya, ada tambahan dua cerpen dalam buku ini yaitu Dewi Amor dan Kandang Babi yang ditulis di tahun yang sama namun belum diterbitkan, yang mungkin merupakan sebuah bonus bagi Anda yang membaca cetakan ulangnya ini.

Buat yang sudah pernah baca cetakan terdahulu seperti saya, rasanya tidak rugi juga kalau saya membeli edisi cetakan ulangnya. Sebab kaver buku ini (didesain oleh Eka Kurniawan sendiri) benar-benar unik dan berbeda. Materi kertas yang digunakan sebagai kavernya juga, meskipun sederhana namun tetap menarik, yang dicetak dengan tinta timbul (entah apa namanya). Namun sejujurnya saya agak terganggu dengan jenis huruf yang dipakai karena terkesan tipis (kurang tegas).

Buku ini berisi 12 cerpen yang hampir semuanya bertemakan isu sosial seperti kelaparan, pemberontakan, politik, dan kriminalitas. Semua kisah yang dituliskan dalam buku ini adalah kisah yang sehari-hari dapat dengan mudah kita jumpai. Sebut saja cerita tentang seorang anak perempuan yang terus dikekang orangtuanya meskipun sudah berumur 17 tahun dalam cerpen Si Cantik yang Tak Boleh Keluar Malam. Atau juga cerita yang dijadikan judul cerpen ini yaitu Corat-coret di Toilet yang menyuarakan aspirasi penggunanya. Juga cerita pendek berjudul Hikayat Orang Gila yang berakhir tragis. Cerita-cerita tersebut sangat erat kaitannya dengan kehidupan di sekitar kita bukan?

Tak hanya soal itu saja, Eka Kurniawan juga menyisipkan cerita roman dalam buku ini, antara lain Teman Kencan yang menceritakan kegundahan seorang pemuda yang ingin punya pacar namun akhirnya harus menerima kenyataan pahit perihal orang yang dicintainya dan cerita berjudul Rayuan Dusta untuk Marietje di mana dalam kisah ini ada seorang pemuda yang membual kepada pacarnya agar si pacar sudi menemui dirinya. Juga kisah sederhana Kontrolir Henri yang setiap hari mendapat kiriman bunga dari seorang yang rahasia dalam cerpen Siapa Kirim Aku Bunga?. Dalam cerpen Dongeng Sebelum Bercinta diceritakan kisah sepasang suami istri yang sampai hari ke-40 pernikahan namun mereka belum juga bercinta karena sang istri ingin menyelesaikan dongengnya dahulu yang ternyata tidak selesai-selesai sejak 40 hari lalu.

“Aku sudah berjanji akan mendongeng Alice’s Adentures in Wonderland. Setiap malam aku mendongeng dan sampai sekarang dongengnya belum selesai. Bahkan aku belum masuk bagian Through the Looking Glass.” Dongeng Sebelum Bercinta, hal. 20

Dengan membaca buku ini, Anda mungkin akan tahu bagaimana Eka pandai mendeskprisikan segala sesuatu dengan jelas sampai-sampai saya seperti ikut merasa sedang masuk ke dalam cerita itu. Namun Eka sepertinya bukan tipikal penulis yang suka memberi ending yang WAH. Justru Eka menawarkan kalimat-kalimat apik yang bisa dikunyah ketimbang rasa kenyang di akhir cerita.

“Ia membuka celananya kemudian berjongkok di atas kakus. Plung! Plung! Terkejutlah ia dengan bunyi yang nyaring itu. Dibukanya keran air agar suaranya menyaingi bunyi ‘pling, plung’ yang menjijikkan. Malu. Dan sambil menikmati saat-saat yang penuh bau itu, si bocah mulai membacai tiga kalimat…” Corat-coret di Toilet hal. 24

Sungguh cerita-cerita dalam buku ini kebanyakan menggelitik dan menohok. Sebab seperti yang sudah saya tulis di atas, cerpen-cerpen ini sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin begitulah sastrawan. Menjemput bahan-bahan sederhana untuk diolah menjadi bacaan yang bergizi tinggi bergantung dari bagaimana cara mengolahnya. 4 bintang!

 

 

 

PS: buku ini saya dapatkan langsung dari Eka Kurniawan dengan iseng dan nekat mengikuti sayembara di blog pribadinya. Seharusnya buku yang saya terima adalah novel terbaru Eka yaitu Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Namun berkaitan dengan adanya pengunduran jadwal terbit, dikirimlah buku Corat-coret di Toilet ini sebagai permohonan maaf dari Eka karena buku yang dijanjikan belum bisa dikirim. Terima kasih, Mas Eka! ^.^

2 thoughts on “Corat-Coret di Toilet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s