Apa Maksud Setuang Air Teh

Apa Maksut Setuang Air Teh by Syahmedi Dean Penerbit Gramedia Pustaka Utama 2009, 304 hlm.

Apa Maksut Setuang Air Teh by Syahmedi Dean
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
2009, 304 hlm.

Atas nama jodoh dan takdir akhirnya saya bisa ketemu lagi dengan AMSAT ini. Sudah sejak lama sebenarnya saya lihat buku ini di suatu bazaar buku. Karena melihat judulnya yang (boleh dibilang) aneh dan sampulnya yang dark, saya sama sekali tidak terpikir untuk membeli buku ini. Barulah di kemudian hari saya tahu bahwa ternyata buku ini merupakan buku ke-4 dari tetralogi fashion yang sekarang punya edisi cetak ulang dengan sampul yang jauh lebih ciamik dibandingkan seri lamanya ini. Kalau sampul lama, coba lihat deh, alih-alih buku metropop, siapapun yang melihat cover ini pasti bakal mikir kalau ini adalh novel misteri pembunuhan or somekind like that. Judulnya juga unik. Apa maksud setuang air teh. Hem, kira-kira apa maksudnya ya? Kenapa harus air teh dan bukan air susu? Sudah itu, penulisannya disingkat pula seperti judul-judul dalam seri sebelumnya. Sungguh unik.

Membaca isi ceritanya, yang ternyata lebih unik lagi, membuat saya bergumam beginilah seharusnya metropop. Syahmedi Dean menulis dengan sangat baik. Saya ulangi; sangat baik. Meskipun untuk ukuran metropop, novel ini kebanyakan narasi ketimbang dialog, tetapi saya malah suka lho. Karena narasi dan deskripsi yang ditulis Syahmedi ini kalimatnya asyik banget buat dicerna pelan-pelan. Nikmat gitu. konfliknya beragam mulai dari yang bikin jidat saya mengerut saking herannya sampai yang bikin saya melongo karena kaget dan tidak menyangka arah konflik tersebut akan berujung di sana. Tetralogi fashion ini adalah jenis metropop yang tidak menye-menye. Orang bilang buku ini membosankan karena terlalu banyak menyebut merek kosmetik dan produk fashion branded lainnya. Tetapi buat saya justru di situlah kerennya. Pembaca jadi tahu dunia fashion yang notabene sulit terjamah oleh orang-orang awam. Berbahagialah yang membaca tetralogi ini karena jadi tahu seluk beluk dunia fashion tanpa harus nyemplung langsung ke dalamnya.

Suatu kali saya berkesempatan bertemu dengan penulisnya dan ada teman saya yang bertanya kenapa judul novelnya kok singkatan semua. Kemudian Syahmedi Dean menjelaskan bahwa di kalangan fashion sangat identik dengan singkatan-singkatan seperti LV, BCBG, D&G, dsb. Maka jadilah tetralogi fashion ini dinamai sesuai ciri khas dunia fashion tersebut. Kreatif dan unik sekali!

Kebetulan juga saya seorang follower Syahmedi Dean @deanmedi saya sering kagum dengan cara beliau ngetwit. Semua twitnya menghibur sekaligus menyindir dengan gaya yang nyentil. Terlihat dari situ, bagaimana kreatifnya seorang Syahmedi Dean yang pandai bermain dengan kata-kata sehingga menjadi kalimat yang nikmat untuk dibaca. Semuanya tertuang dalam buku ini.

Saya sendiri sih baru baca buku kesatu, kedua, lalu lompat yang keempat ini. Selama membaca saya merasa ada scene yang saya lewatkan di buku ketiga tapi itu tidak terlalu memusingkan saya dalam membaca buku keempatnya ini. Semua ceritanya tetap dapat diikuti bahkan kerapkali penulis membimbing kita mengetahui cerita sebelumnya dengan menjelaskan ulang kepada pembaca di buku ini. Sungguh penulis yang budiman. Sesuai dengan tokoh utama dalam novel ini yang bernama Alif.

Overall, saya tidak ada masalah dengan cerita yang missed, konflik yang ‘apaan sih ni’, dan hal menye-menye sebagainya karena bisa dikatakan saya sudah cukup terpuaskan dengan cara penulis bercerita. Melalui buku ini saya jadi tahu bagaimana kehidupan para sosialita yang ternyata ada lho jasa menyewakan tas branded demi tampil di sebuah acara kemudian difoto dan dijadikan bahan tulisan media (saya pernah baca di buku Kocok! Uncut by Nadia Mulya). Saya juga sempat tercengang dengan keputusan gila Alif yang tetiba menjadi liar lantaran masalah demi masalah terus menderanya. Wait, bukannya Alif tipikal orang yang relijius ya? Kenapa malah melampiaskan dengan cara yang negative bukannya dengan mendekatkan diri pada Tuhan. Untuk hal ini, penulis boleh dibilang agak memaksakan konflik, menurut saya. Juga penampilan Raisa dan Saidah yang mencengangkan di akhir cerita. Kisah kelanjutan karier Didi. Kehamilan Nisa. Semuanya campur aduk dan buku ini memberi contoh pandangan-pandangan umum masyarakat Indonesia perihal kehidupan yang tidak lazim semisal kehidupan dunia fashion yang identik dengan gaya glamour.

Akhir kata, 4 dari 5 bintang untuk buku ini. Asal tahu saja, saya sudah mulai ketagihan membaca buku-bukunya Syahmedi Dean. Penulis yang satu ini sangat pandai meramu kata-kata. Keep up the good work, Bang Dean!

Advertisements

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas by Eka Kurniawan Penerbit Gramedia Pustaka Utama Mei 2011, 252 hlm. Rp58.000

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas
by Eka Kurniawan
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Mei 2011, 252 hlm.
Rp58.000

Seperti yang sudah-sudah, saya tidak pernah berhasil mereview novel Eka Kurniawan. Novel-novel beliau terlalu WAH dan mencengangkan sampai saya rasa kata-kata saya tidak akan pernah mampu menjabarkannya. Kosa kata yang saya tahu tidak akan cukup untuk mendeskripsikan seberapa bagusnya novel-novel beliau. Novel-novel Eka Kurniawan yang saya baca itu bobotnya merata di sepanjang cerita. Saya tidak bisa memilih mana bagian yang harus saya ceritakan, mana yang tidak. Semuanya terasa menarik bagi saya.

Baiklah begini saja. Anggap saja membaca review saya ini seperti acara kunjungan rumah ke salah satu rumah unik milik artis. Kita akan menjelajahi ruangan demi ruangan, kamar demi kamar, dan sekat demi sekat. Mungkin review ini akan terasa panjang sekali sebagaimana dengan kalimat pembukanya ini.

Dengan melihat sampulnya saja seharusnya pembaca sudah bisa menebak buku ini bercerita tentang apa. Bahkan blurb di sampul belakang buku ini semakin menjelaskan segalanya. Tapi memang dasar saya tuh suka meng-underestimate sebuah sampul buku karena akhir-akhir ini sampul buku nyatanya tidak cukup mendeskripsikan isi buku. Malah pernah suatu kali saya menemui sebuah buku yang sampul, judul, dan isinya tidak berhubungan sama sekali. BAH!

Saya menghela napas lega rupanya hal itu tidak terjadi pada novel Eka Kurniawan yang satu ini. O, tentu saja!

Seperti yang terlihat pada sampul depan, ada seekor burung unyu (setahu saya burung ini digambar oleh penulisnya sendiri) dengan mata terpejam yang meringkuk manja. Buku ini memang bercerita tentang burung yang tidak mau lagi bangun sejak melihat lubang yang merekah di antara kedua paha seorang wanita. Tragedi itu menimpa seorang bocah bernama Ajo Kawir. Peristiwa nahas itu terjadi saat ia dan sahabatnya, Si Tokek, sedang mengintip Rona Merah, perempuan sinting tapi cantik, yang diperkosa oleh dua orang polisi. Karena ketidakhati-hatiannya, Ajo Kawir akhirnya ketahuan mengintip oleh dua orang polisi itu. Ya, hanya Ajo Kawir saja. Sebagai hukumannya, Ajo Kawir dipaksa memasukkan penisnya ke dalam vagina Rona Merah. Sejak saat itu sang burung memutuskan untuk tidur panjang.

“Tak ada yang lebih menghinakan pelacur kecuali burung yang tak bisa berdiri.” hlm. 40

Sepanjang hidupnya, Si Tokek dirundung rasa bersalah. Bagaimanapun, dialah yang mengajak Ajo Kawir untuk main ke rumah Rona Merah dan mengintip Rona Merah mandi. Sampai akhirnya kedua polisi itu datang dan mengerjai Rona Merah yang menjadi sinting sejak suaminya mati dibunuh beberapa tahun silam. Secara tidak langsung semua adalah salahnya, begitu pikir Si Tokek. Untuk menebus rasa bersalahnya ini, Si Tokek berjanji pada dirinya sendiri. Perjanjian seperti apa yang dibuat Si Tokek dan dirinya? Wah, lebih baik Anda membacanya sendiri. Yang jelas, janji ini membuat saya terharu menyadari bahwa Si Tokek adalah tipe sahabat yang ideal. (peluuukkk Si Tokek)

Layaknya cerita dongeng, tragedi yang mengenaskan itu akhirnya mengubah kehidupan Ajo Kawir selamanya. Ia tumbuh menjadi jagoan kampung yang disegani semua orang.

“Hanya orang yang enggak bisa ngaceng bisa berkelahi tanpa takut mati.” Begitu kata Iwan Angsa, yang merupakan kalimat pertama yang akan kita jumpai dalam buku ini. Padahal Iwan Itik lebih nge-hits ya.

Iwan Angsa adalah ayah Si Tokek. Iwan Angsa, seperti Ajo Kawir juga dulunya pernah menjadi jagoan kampung. Iwan Angsa-lah yang paling gigih membantu membangunkan burung Ajo Kawir karena bagaimanapun burung Ajo Kawir jadi hibernasi begitu karena ulah anaknya. Bermacam-macam cara dicoba Iwan Angsa untuk membuat burung Ajo Kawir bergairah kembali. Namun sia-sia. Burung itu tetap terlelap dalam tidur panjangnya. Ajo Kawir lalu pasrah dan memutuskan untuk tidak memikirkannya.

“Iwan Angsa pernah bilang dunia memang tidak adil. Dan jika kita tahu ada acara untuk membuatnya adil, kita layak untuk membuatnya jadi adil.” Ajo Kawir hlm. 48

Suatu kali, Paman Gembul, anggap saja seperti bos mafia, meminta Iwan Angsa untuk membunuh Si Macan. Si Macan ini adalah kakak dari Agus Klobot. Agus Klobot ini adalah suami Rona Merah yang mati dibunuh Paman Gembul. Fyuh, complicated ya. Ok, balik lagi ke Iwan Angsa dan Si Macan. Berhubung Iwan Angsa sudah tua dan ia pun sebenarnya sudah pensiun dari urusan begitu, ia menolak tawaran Paman Gembul. Lalu Iwan Angsa menawarkan pekerjaan itu untuk Ajo Kawir. Nah, Ajo Kawir yang sejak burungnya tidur menjadi gemar mencari keributan dengan siapa saja ini, tentu menjadi bersemangat mendengar hal dia harus membunuh orang.

Maka berangkatlah ia ke kampung Si Macan. Di sana ia dicegat oleh anak buah Si Macan yang bernama Iteung. Iteung adalah perempuan jago kelahi yang kemudian membuat Ajo Kawir jatuh cinta. Kemudian Ajo Kawir mulai bersemangat lagi membangunkan burungnya.

“Enggak bisa. Aku enggak bisa menjadi kekasihmu. Kamu seperti cahaya dan aku gelap gulita, sesuatu yang kamu tak akan mengerti.” Tentu saja Ajo Kawir ingin mengatakan sesuatu yang tak terucapkan mulutnya: aku tak bisa ngaceng.

Konfliknya masih sangat panjang dan seru untuk diikuti. Tapi tentu tidak mungkin semuanya saya jabarkan di sini. Buku ini tidak melulu menceritakan bagaimana Ajo Kawir berusaha untuk membuat burungnya bangun dari tidur panjangnya. Suatu kali ada cerita Ajo Kawir pindah ke Jakarta, di sana ia menjadi sopir truk dan bertemu dengan Mono Ompong. Cerita kehidupan Ajo Kawir versi baru pun dimulai. Ibaratnya, saya habis membaca cerita Si Pitung lalu sekarang saya membayangkan adegan Advent Bangun nyupir truk. Lintas waktu banget khan…

Ending cerita ini sangat sangat sangat… duh kata apa ya yang pantas untuk menerjemahkannya. Pokoknya sukses bikin saya standing applause dan menjura buat Eka Kurniawan! Sayangnya, KENAPA NOVEL INI TIPIS BANGET??? WE WANT MORE, EKA!!! Huhuhuhuhuhu…

Tebalnya yang hanya 252 halaman mungkin memang hanya setebal kumpulan cerpen atau novel teenlit. Tapi kualitasnya jauh berbeda, Sob! Buku ini berbobot sekali. Membuat saya seperti sedang makan nasi padang ikan lele, iga bakar, jus melon, pudding cokelat, buah pisang dan susu. Huah! Kenyang. Nyang. Nyang.

Brutal. Begitu komentar sang istri, Ratih Kumala, yang ia update di salah satu jejaring sosialnya mengenai novel ini. Menurut saya tidak hanya brutal saja. Buku ini liar, vulgar, bebas merdeka, namun tetap beretika. Dalam buku ini akan kita jumpai kata seperti ** SENSOR **, kuntul, memek, perek, lonte, alih-alih penggunaan kata yang lebih halus seperti penis atau vagina. Ah, tapi Eka bilang tidak seharusnya kita membunuh kata-kata. Itu benar dan saya setuju. Selama penggunaannya pada konteks yang tepat. Ya misal saja seorang Ajo Kawir kan jagoan. Jagoan kehidupannya keras. Mana mungkin ia akan pakai kata vagina untuk menyebut alat kelamin pelacur yang ditidurinya, misalnya. Ya tho?

Tetap saja beberapa pembaca mungkin akan sedikit banyak jengah dengan cara menulis Eka yang seperti ini. Selain itu juga banyak adegan kekerasan dan adegan menjijikan yang buat sebagian orang mungkin bikin mual tapi buat saya justru di situlah letak keseruannya. Tak banyak penulis yang berani menulis jujur dan apa adanya. Kebanyakan penulis masih terlalu takut untuk mengangkat topik yang tabu dan penggunaan bahasa yang tidak lazim. Tapi tentu tidak dengan Eka Kurniawan. That’s why I like his work.

Seperti novelnya yang sudah-sudah, ada banyak tokoh dalam novel ini yang kesemuanya memliki peranan penting. Semuanya diceritakan Eka dengan sosok yang akan melekat kuat di ingatan pembaca. Seperti saya mengingat Pak Toto si guru cabul, Paman Gembul bos mafia yang ternyata bisa baik hati juga, Si Kumbang yang suka membokongi bocah laki-laki, dan lain sebagainya. Tokoh-tokoh tersebut meskipun hanya muncul sekilas dua kilas tapi mempunyai peranan yang sama pentingnya dengan para tokoh utama. Pak Toto misalnya, adalah alasan kenapa Iteung tumbuh menjadi perempuan yang jago berkelahi. Paman Gembul yang membuat Agus Klobot mati sehingga Rona Merah jadi gila dan suka diperkosa secara brutal oleh dua orang polisi yang kemudian membuat Ajo Kawir menjadi impoten. Semua tokohnya memiliki kisah yang unik dan ternyata saling berhubungan.

Menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu, bukan serba tempe (eaaa), adalah pilihan yang pas mengingat alur di buku ini adalah maju mundur. Alur ini awalnya terasa membingungkan dan menjengkelkan saya. Ada 8 bab dalam buku ini dengan banyak bab-bab kecil yang mengikutinya. Nah, bab-bab kecil ini yang membuat saya merasa sedang naik ombang ambing di Dufan. Terpental-pental oleh alur yang maju mundur. Untuk hal ini, pembaca harus berotak prima supaya bisa menangkap dengan jelas maksud penulis. Kadang, bab-bab kecil itu berfungsi untuk mempersingkat cerita. Kalau di buku sebelumnya saya ‘berjalan’ pelan bahkan terseok-seok, nah di buku ini saya ibarat kelinci lucu yang melompat-lompat sehingga lebih cepat sampai di tujuan. Mungkin inilah sebab kenapa semua isi dalam buku ini tidak ada yang tidak penting.

Buku ini juga sarat dengan humor mulai dari yang bikin cengengesan sampai yang bikin saya sakit perut menahan tawa.

Ajo Kawir: Burungku bilang aku tak boleh berkelahi
Mono Ompong: Kenapa kau selalu bertanya kepada burungmu untuk segala hal?
Ajo Kawir: Kehidupan manusia ini hanyalah impian kemaluan kita. Manusia hanya menjalaninya saja.

Si Tokek akan mengatakan, itu filsafat.

*****

Perempuan itu tak seperti namanya, sama sekali tak bisa dibilang jelita. Siapapun yang memberi nama jelita untuk perempuan ini pasti sedang membuat lelucon hebat. Perempuan ini buruk. Ia tak yakin perempuan ini berkata jujur. Lari dari suami? Apakah di atas muka bumi ini ada lelaki yang mau kimpoi dengan perempuan begini?

Salah satu adegan yang saya suka yaitu adegan saat truk Mono Ompong mencoba menyalip truk Si Kumbang. Saya tidak paham jin macam apa yang membuat Eka bisa mendeskripsikan adegan tersebut sedemikian rupa sehingga terasa nyata dalam dunia imaji saya. Sungguh, saya kehabisan kata-kata.

Juga bagaimana Iteung akhirnya mau menikah dengan Ajo Kawir padahal calon suaminya itu tidak bisa ngaceng (belakangan Ajo Kawir bersyukur dia punya jari-jari yang kuat yang kelak bisa membahagiakan Iteung.) membuat saya melongo. Manusiawi, Iteung lalu hamil entah dengan lelaki mana, membuat Ajo Kawir murka. Tapi Ajo Kawir tidak pernah bertindak KDRT terhadap Iteung. Padahal kalau saja ia mau, ia bisa saja membunuh Iteung saat itu juga. Iteung pun begitu. Ia tidak lantas menjadi wanita penjaja diri. Iteung khilaf dan sangat menyesal dan dia rela menerima Ajo Kawir yang marah besar padanya. Meski bertahun-tahun Ajo Kawir tidak pulang, Iteung tetap menunggu. Selama jauh dari Iteung, tidak sekalipun Ajo Kawir ada main dengan perempuan lain. Burungnya hanya untuk Iteung, begitu janji Ajo Kawir pada dirinya sendiri.

Eka menulis buku ini untuk istrinya, Ratih Kumala. Dan Ratih Kumala membuat fim pendeknya (based on this novel) sebagai hadiah pernikahan mereka berdua. So sweet…

86

86 by Okky Madasari Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Maret 2011 256 halaman

86 by Okky Madasari
Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Maret 2011
256 halaman

Rasanya buku ini lebih seram dari cerita horror manapun. Selama membaca, saya bisa merasakan kengerian terus menerus menyerang saya. Ya, korupsi adalah yang paling mengerikan di muka bumi ini. Pekerjaan saya sekarang juga identik dengan uang panas dan sebagainya. Tapi tetap saja semua pilihan ada di tangan kita; mau ikut jadi koruptor atau tidak.

Saya memilih untuk berkata dan bertindak ‘tidak’.

Bukan sok suci. Saya hanya merasa korupsi saya sudah sedemikian banyak. Korupsi waktu, korupsi fasilitas kantor, dsb. Sudahlah itu saja korupsi yang harus saya perbaiki. Jangan lagi terlibat korupsi-korupsi yang akibatnya pelik dan sangat laten. Astaghfirullah!

Novel 86 ini sukses menyajikan cerita tentang gambaran korupsi di Negara kita, khususnya di ranah hukum. Instansi yang digadang-gadang sebagai penegak keadilan nyatanya malah sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan proses hukum yang baik. Kalau uang sudah berbicara, lunturlah hukum. Hukum bisa dibeli, begitu kata orang banyak. Lihat saja itu koruptor yang di selnya bisa setara dengan kenyamanan hotel berbintang. Atau para koruptor yang melewati masa hukuman yang begitu singkat. Coba bandingkan dengan maling ayam di kampung sana. Ironis. Dan hal ini nampaknya sudah bukan hal yang mengejutkan lagi buat Negara kita.

Di buku ini dijelaskan bagaimana seorang yang polos seperti Arimbi saja akhirnya bisa tergiur untuk melakukan praktik haram itu. Alasannya sederhana. Karena ia ingin menjadi orang yang bisa membanggakan orangtu dan membahagiakan orang yang dia sayang. Juga dia berpikir kalau dia kaya dia bisa membantu banyak orang susah. Ya sebenarnya niatnya mulia. Sayang saja nniat mulia itu harus ditempuh dengan cara korupsi.

Akibatnya tidak tanggung-tanggung. Seperti yang sering dilihat di televisi, Arimbi akhirnya masuk penjara. Di penjara pun ia sebenarnya menyesali perbuatannya, hanya saja penulis ingin memberi penglihatan kepada pembaca bahwa korupsi tak ubahnya seperti lingkarang setan yang terus menerus mengekang manusia yang pernah sekali terjun ke dalamnya sehingga tidak bisa keluar lagi. Di penjara, si tokoh utama ini malah ditawari bisnis kotor lagi. Yaitu menjual sabu-sabu. 86, katanya. Alias semua beres. Cincai. Malah di penjara, praktik penjualan sabu-sabu ini lebih aman dibandingkan kalau dijual di luar penjara. Sudah gila kan!

Melalui bukunya ini, saya rasa Okky mencoba menyampaikan kepada pembaca tentang dunia hitam hokum di Indonesia, ih, sampai bergidik ngeri saya membaca kalimat demi kalimat dalam buku ini.

Tidak satu pun tokoh di buku ini bisa menarik simpati saya. Semuanya sama saja. Terlihat baik di luar padahal aselinya ya busuk-busuk juga. Mulanya berniat ingin menawarkan bantuan gak tahunya malah nggetok di belakang. Selalu begitu. Ada harga yang harus dibayar untuk sebuah kebebasan. Begitu dalihnya.

Benar-benar mengerikan jika kita sudah menjadi budak uang. Dan hal ini tersampaikan dengan baik oleh penulis melalui buku ini. Seorang pegawai negeri gajinya memang tidak seberapa, tapi dengan seragam yang mereka kenakan, mereka kerapkali memanfaatkan seragamnya itu untuk ‘membantu’ melicinkan segala urusan orang-orang. Dari situlah mereka mendapat penghasilan tambahan yang hasilnya jauh di luar gaji bulanan bahkan bisa sampai sering-sering berlubur ke luar negeri padahal sejak jam dua belas siang saja sudah tidak ada di kantor.
Entah pergi ke salon mana, ke mall mana. Tanpa maksud menjelekkan pegawai negeri di Indonesia, itulah kenyataannya. Hal ini saya temui nyata-nyata ketika saya ke Pontianak minggu lalu. Saya pergi ke kantor dinas perhubungan dan tidak mendapati ada petugas yang saya cari. Pegawai lain bilang orang yang saya cari sedang istirahat padahal itu baru pukul 10.30. luar biasa. jam kerja pun dikorupsi. Yah seperti saya ini yang mengetik review ini dengan computer kantor dan mengetik di jam kerja. *ditembak meriam*

Buku ini membuat saya gemas. Sudah sedemikian kotor ternyata pemerintahan kita. Saya membayangkan kalau buku ini dibaca oleh para koruptor-koruptor negeri ini. Apakah merekan akan sibuk menyangkal, mesam-mesem saja, atau malah bergumam “Ah, ini sih belum seberapa!”

Wah wah wah. 4 dari 5 bintang.

Wonderstruck

Wonderstruck by Brian Selznick, Penerbit Bentang Pustaka, 2013, 648 hlm.

Wonderstruck by Brian Selznick, Penerbit Bentang Pustaka, 2013, 648 hlm.

Pernah membaca buku setebal 640 hanya dalam waktu satu jam saja? I just did it!

Tentu saja bisa, sebab buku yang saya baca adalah graphic novel terbaru karya Brian Selznick yang berjudul Wonderstruck. Kalau dilihat dari sampulnya, mungkin Anda akan berpikir bahwa buku ini menceritakan fenomena alam yaitu sambaran kilat. Tidak sepenuhnya salah sih namun perlu diketahui juga bahwa wonderstruck yang dimaksud di sini bukanlah kilat melainkan sebuah buku tentang kilat. Buku inilah yang akan membawa Ben, bocah laki-laki tuli berumur berumur 9 tahun, nekat kabur dari rumah sakit dan pergi ke New York untuk mencari ayahnya.

Petualangan mencari sang ayah nyatanya tidak semudah yang ia kira. Petunjuk yang dibawanya, sebuah bandul kalung dengan foto seorang laki-laki dan sebuah nama yaitu Danny, ternyata tidak membuat orang-orang yang ditanyainya kenal ayah Ben. Apalagi Ben tuli membuatnya semakin sulit berkomunikasi dengan orang-orang yang ditemuinya. Dalam masa pencariannya itu, ia bertemu dengan Jamie, anak laki-laki seumurannya, yang akhirnya membantu Ben mencari sang ayah.

Kalau boleh saya bilang, buku ini terbagi menjadi 3 bagian. Bagian satu berupa narasi yang menceritakan kehidupan Ben, bagian dua berupa ilustrasi yang menggambarkan kehidupan seorang anak perempuan yang juga tuli, dan yang bagian ketiga merupakan gabungan dari dua bagian sebelumnya. Hal inilah yang sanggup menyeret saya untuk tetap membaca buku ini sampai habis tanpa merasa bosan sedikitpun. Brilliant si Selznick ini!

Membaca buku ini berarti jalan-jalan ke New York. Seru rasanya membayangkan jadi Ben yang dengan modal nekat berani pergi dari Dhilut ke New York seorang diri. Kemudian saat dia mengira sudah tidak ada harapan untuk bertemu ayahnya, ia bertemu dengan Jamie yang akhirnya membuat Ben yakin kembali tentang rencana awalnya sehingga untuk sementara di New York ia tinggal di museum. Tinggal di museum, bayangkan!

Yang paling saya suka dari buku ini, selain ilustrasinya tentu saja, adalah bagaimana Selznick mengikat saya untuk tetap membaca buku ini dengan memberikan alur yang misterius. Rasa penasaran pastinya akan menyelimuti pikiran pembaca dan untungnya (atau hebatnya?) penulis mampu memberikan ending yang klimaks dan mencengangkan. Saya bahkan sempat menitikkan airmata memasuki halaman-halaman terakhir ketika rahasia dan masa lalu pelan-pelan mulai terkuak. Seperti Hugo, buku ini menyimpan banyak misteri dan kisah masa lalu yang berdampak ke masa kini.

Tidak ada alasan untuk tidak memberikan 5 bintang buat buku ini. Meskipun memang ada beberapa kejanggalan, saya rasa itu tidak mengurangi kenikmatan buku ini. Bravo, Selz! *sok akrab*

7 Divisi

7 Divisi Ayu Welirang, 3rd March 2014 Gramedia Pustaka Utama, 202 pages

7 Divisi
Ayu Welirang, 3rd March 2014
Gramedia Pustaka Utama, 202 pages

7 Divisi merupakan salah satu novel pemenang PSA (Publisher Searching for Authors) yang digelar oleh Grasindo beberapa waktu lalu. Novel ini bergenre petualangan dan misteri. Membaca novel ini mengingatkan saya kepada momen-momen ketika dulu saya mendaki gunung di Jawa Barat bersama teman-teman kuliah saya. Mungkin bedanya, dulu kami adalah pendaki dadakan. Alias sekumpulan orang yang mengaku-aku mencintai alam tanpa melewatkan pelatihan khusus sebelumnya. Kalau di buku ini, ketujuh tokohnya digambarkan sebagai pemuda-pemudi yang terlatih. Ada yang memang anggota pecinta alam di sekolah atau kampus bahkan sampai ada yang sudah menjadi anggota Walagri (saya rasa ini plesetan dari Wanadri).

7 orang tersebut adalah Gitta, Ichan, Tom, Dom, Ambar, Salman, dan Bima. Setiap dari mereka mewakili satu divisi yang biasanya terbentuk jika sekelompok orang ingin mendaki gunung sebagai sebuah tim.

Gitta – Climbing

Ichan – Mountaineering

Salman – P3K

Bima – Navigasi

Tom – Penyebrangan

Dom – Shelter

Ambar – Survival

Mereka direkrut dengan cara yang misterius oleh seseorang bernama Rudolf untuk melakukan sebuah ekspedisi yang ternyata tanpa mereka sadari membawa petaka bagi mereka semua. Buku ini seolah diciptakan khusus bagi siapa saja yang menyukai kegiatan mendaki (seperti halnya sang penulis juga). Semua istilah yang biasa digunakan komunitas pecinta alam disisipkan dan diberi footnote dengan baik, membuat pembaca tidak bingung. Buku ini benar-benar memberikan pengetahuan tentang mountaineering dan sebagainya dan saya jamin tidak menyesatkan. Semakin pro mendaki, mereka justru semakin memikirkan keselamatan jiwa mereka. Bukannya malah semakin tidak peduli terhadap peralatan mendaki dan obat-obatan. Saya juga senang mendapati novel ini ternyata menyinggung masalah budaya nasional dan sedikit sejarah. Saya juga tidak heran dengan Ichan yang dalam beberapa hari saja sudah bisa menyukai Gitta. Karena memang biasanya kalau di gunung, kita tidak perlu waktu lama untuk mengenal seseorang. Bahkan katanya hanya butuh 3 hari mendaki bersama untuk mengenal kepribadian seseorang dibandingkan dengan mereka yang sudah kenal bertahun-tahun tapi tidak pernah mendaki.

Sebenarnya saya bisa saja memberi buku ini 5 bintang. Tapi sayangnya banyak hal-hal kecil yang sukses membuat penilaian saya drop. Seperti misalnya deskripsi 7 divisi yang tidak ditulis secara explicit oleh penulis. Pembaca diminta memikirkan sendiri kira-kira apa saja 7 divisi itu. Juga ketika tiba-tiba Ichan menjadi ketua tim. Kapan dipilihnya? Tidak dijabarkan. Belakangan saya tahu bahwa karena Ichan berdiri di atas divisi mountaineering, di mana divisi inilah yang membawahi seluruh divisi. Tapi tetap saja, lebih baik dikasih tahu ketimbang disuruh mikir. Iya tho?

Juga waktu awal mereka ditawari melakukan ekspedisi ini. Kayaknya saya ga menemukan penjelasan mereka dibayar berapa sehingga mereka bahkan rela mempertaruhkan nyawa mereka demi ekspedisi ini.

Kalau soal typo, sudahlah saya tidak mau komentar banyak. Sebab di semua buku pastilah kecacatan ini terjadi. Di buku ini pun tidak banyak typo yang mengganggu. Tapi saya kurang sreg dengan kata “haha” atau “hehe” sebagai ungkapan ekepresi tawa alih-alih dijelaskan dengan kalimat “Ia tertawa” atau “Mereka terbahak-bahak”. Untungnya tidak ada “Wkwkwk” ditulis di buku ini.

Menurut saya masih banyak logika yang missed. Namun sebagai debut di dunia kepenulisan dengan penerbit mayor, pemikiran Ayu Welirang patut diacungkan jempol. Penulis berani dan mampu menghadirkan genre baru di tengah ramainya genre romance yang makin hari makin membuat jidat saya mengkerut lantaran sering berjengit heran. Saya harap ke depannya tulisan Ayu bisa lebih rapi. Sebab sayang sekali kalau konsep ceritanya sudah sedemikian fresh namun tidak melalui proses pengeditan yang baik jatuhnya akan jadi buku yang biasa-biasa saja.

Buku dengan sampul warna hijau daun ini (suaraaa dengarkanlah akuuu) mungkin bisa jadi salah satu alasan kenapa buku ini menarik untuk dibaca. Plus cara penulisan judulnya “7 divisi” yang mengingatkan saya pada acara televisi petualangan “Jelajah” dan “Jejak Petualang”. Sangat pas! Hanya saja ukuran buku ini agak sedikit tidak lazim dengan bentuk yang lebih panjang dari buku-buku pada umumnya. Sehingga membuat pembaca tertahan lebih lama pada satu halaman karena lebarnya space yang disesaki oleh kalimat-kalimat dalam cerita, memberi kesan penuh. Entahlah mungkin buku ini ingin menghemat biaya produksi atau bagaimana saya kurang tahu. Yang jelas, saya sebagai pembaca merasa kurang nyaman dengan ukuran buku ini.

Akhir kata, 3 dari 5 bintang untuk buku ini. Semoga ke depannya, buku Ayu bisa lebih rapi lagi. Selamat!