Wonderstruck

Wonderstruck by Brian Selznick, Penerbit Bentang Pustaka, 2013, 648 hlm.

Wonderstruck by Brian Selznick, Penerbit Bentang Pustaka, 2013, 648 hlm.

Pernah membaca buku setebal 640 hanya dalam waktu satu jam saja? I just did it!

Tentu saja bisa, sebab buku yang saya baca adalah graphic novel terbaru karya Brian Selznick yang berjudul Wonderstruck. Kalau dilihat dari sampulnya, mungkin Anda akan berpikir bahwa buku ini menceritakan fenomena alam yaitu sambaran kilat. Tidak sepenuhnya salah sih namun perlu diketahui juga bahwa wonderstruck yang dimaksud di sini bukanlah kilat melainkan sebuah buku tentang kilat. Buku inilah yang akan membawa Ben, bocah laki-laki tuli berumur berumur 9 tahun, nekat kabur dari rumah sakit dan pergi ke New York untuk mencari ayahnya.

Petualangan mencari sang ayah nyatanya tidak semudah yang ia kira. Petunjuk yang dibawanya, sebuah bandul kalung dengan foto seorang laki-laki dan sebuah nama yaitu Danny, ternyata tidak membuat orang-orang yang ditanyainya kenal ayah Ben. Apalagi Ben tuli membuatnya semakin sulit berkomunikasi dengan orang-orang yang ditemuinya. Dalam masa pencariannya itu, ia bertemu dengan Jamie, anak laki-laki seumurannya, yang akhirnya membantu Ben mencari sang ayah.

Kalau boleh saya bilang, buku ini terbagi menjadi 3 bagian. Bagian satu berupa narasi yang menceritakan kehidupan Ben, bagian dua berupa ilustrasi yang menggambarkan kehidupan seorang anak perempuan yang juga tuli, dan yang bagian ketiga merupakan gabungan dari dua bagian sebelumnya. Hal inilah yang sanggup menyeret saya untuk tetap membaca buku ini sampai habis tanpa merasa bosan sedikitpun. Brilliant si Selznick ini!

Membaca buku ini berarti jalan-jalan ke New York. Seru rasanya membayangkan jadi Ben yang dengan modal nekat berani pergi dari Dhilut ke New York seorang diri. Kemudian saat dia mengira sudah tidak ada harapan untuk bertemu ayahnya, ia bertemu dengan Jamie yang akhirnya membuat Ben yakin kembali tentang rencana awalnya sehingga untuk sementara di New York ia tinggal di museum. Tinggal di museum, bayangkan!

Yang paling saya suka dari buku ini, selain ilustrasinya tentu saja, adalah bagaimana Selznick mengikat saya untuk tetap membaca buku ini dengan memberikan alur yang misterius. Rasa penasaran pastinya akan menyelimuti pikiran pembaca dan untungnya (atau hebatnya?) penulis mampu memberikan ending yang klimaks dan mencengangkan. Saya bahkan sempat menitikkan airmata memasuki halaman-halaman terakhir ketika rahasia dan masa lalu pelan-pelan mulai terkuak. Seperti Hugo, buku ini menyimpan banyak misteri dan kisah masa lalu yang berdampak ke masa kini.

Tidak ada alasan untuk tidak memberikan 5 bintang buat buku ini. Meskipun memang ada beberapa kejanggalan, saya rasa itu tidak mengurangi kenikmatan buku ini. Bravo, Selz! *sok akrab*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s