86

86 by Okky Madasari Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Maret 2011 256 halaman

86 by Okky Madasari
Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Maret 2011
256 halaman

Rasanya buku ini lebih seram dari cerita horror manapun. Selama membaca, saya bisa merasakan kengerian terus menerus menyerang saya. Ya, korupsi adalah yang paling mengerikan di muka bumi ini. Pekerjaan saya sekarang juga identik dengan uang panas dan sebagainya. Tapi tetap saja semua pilihan ada di tangan kita; mau ikut jadi koruptor atau tidak.

Saya memilih untuk berkata dan bertindak ‘tidak’.

Bukan sok suci. Saya hanya merasa korupsi saya sudah sedemikian banyak. Korupsi waktu, korupsi fasilitas kantor, dsb. Sudahlah itu saja korupsi yang harus saya perbaiki. Jangan lagi terlibat korupsi-korupsi yang akibatnya pelik dan sangat laten. Astaghfirullah!

Novel 86 ini sukses menyajikan cerita tentang gambaran korupsi di Negara kita, khususnya di ranah hukum. Instansi yang digadang-gadang sebagai penegak keadilan nyatanya malah sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan proses hukum yang baik. Kalau uang sudah berbicara, lunturlah hukum. Hukum bisa dibeli, begitu kata orang banyak. Lihat saja itu koruptor yang di selnya bisa setara dengan kenyamanan hotel berbintang. Atau para koruptor yang melewati masa hukuman yang begitu singkat. Coba bandingkan dengan maling ayam di kampung sana. Ironis. Dan hal ini nampaknya sudah bukan hal yang mengejutkan lagi buat Negara kita.

Di buku ini dijelaskan bagaimana seorang yang polos seperti Arimbi saja akhirnya bisa tergiur untuk melakukan praktik haram itu. Alasannya sederhana. Karena ia ingin menjadi orang yang bisa membanggakan orangtu dan membahagiakan orang yang dia sayang. Juga dia berpikir kalau dia kaya dia bisa membantu banyak orang susah. Ya sebenarnya niatnya mulia. Sayang saja nniat mulia itu harus ditempuh dengan cara korupsi.

Akibatnya tidak tanggung-tanggung. Seperti yang sering dilihat di televisi, Arimbi akhirnya masuk penjara. Di penjara pun ia sebenarnya menyesali perbuatannya, hanya saja penulis ingin memberi penglihatan kepada pembaca bahwa korupsi tak ubahnya seperti lingkarang setan yang terus menerus mengekang manusia yang pernah sekali terjun ke dalamnya sehingga tidak bisa keluar lagi. Di penjara, si tokoh utama ini malah ditawari bisnis kotor lagi. Yaitu menjual sabu-sabu. 86, katanya. Alias semua beres. Cincai. Malah di penjara, praktik penjualan sabu-sabu ini lebih aman dibandingkan kalau dijual di luar penjara. Sudah gila kan!

Melalui bukunya ini, saya rasa Okky mencoba menyampaikan kepada pembaca tentang dunia hitam hokum di Indonesia, ih, sampai bergidik ngeri saya membaca kalimat demi kalimat dalam buku ini.

Tidak satu pun tokoh di buku ini bisa menarik simpati saya. Semuanya sama saja. Terlihat baik di luar padahal aselinya ya busuk-busuk juga. Mulanya berniat ingin menawarkan bantuan gak tahunya malah nggetok di belakang. Selalu begitu. Ada harga yang harus dibayar untuk sebuah kebebasan. Begitu dalihnya.

Benar-benar mengerikan jika kita sudah menjadi budak uang. Dan hal ini tersampaikan dengan baik oleh penulis melalui buku ini. Seorang pegawai negeri gajinya memang tidak seberapa, tapi dengan seragam yang mereka kenakan, mereka kerapkali memanfaatkan seragamnya itu untuk ‘membantu’ melicinkan segala urusan orang-orang. Dari situlah mereka mendapat penghasilan tambahan yang hasilnya jauh di luar gaji bulanan bahkan bisa sampai sering-sering berlubur ke luar negeri padahal sejak jam dua belas siang saja sudah tidak ada di kantor.
Entah pergi ke salon mana, ke mall mana. Tanpa maksud menjelekkan pegawai negeri di Indonesia, itulah kenyataannya. Hal ini saya temui nyata-nyata ketika saya ke Pontianak minggu lalu. Saya pergi ke kantor dinas perhubungan dan tidak mendapati ada petugas yang saya cari. Pegawai lain bilang orang yang saya cari sedang istirahat padahal itu baru pukul 10.30. luar biasa. jam kerja pun dikorupsi. Yah seperti saya ini yang mengetik review ini dengan computer kantor dan mengetik di jam kerja. *ditembak meriam*

Buku ini membuat saya gemas. Sudah sedemikian kotor ternyata pemerintahan kita. Saya membayangkan kalau buku ini dibaca oleh para koruptor-koruptor negeri ini. Apakah merekan akan sibuk menyangkal, mesam-mesem saja, atau malah bergumam “Ah, ini sih belum seberapa!”

Wah wah wah. 4 dari 5 bintang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s