Apa Maksud Setuang Air Teh

Apa Maksut Setuang Air Teh by Syahmedi Dean Penerbit Gramedia Pustaka Utama 2009, 304 hlm.

Apa Maksut Setuang Air Teh by Syahmedi Dean
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
2009, 304 hlm.

Atas nama jodoh dan takdir akhirnya saya bisa ketemu lagi dengan AMSAT ini. Sudah sejak lama sebenarnya saya lihat buku ini di suatu bazaar buku. Karena melihat judulnya yang (boleh dibilang) aneh dan sampulnya yang dark, saya sama sekali tidak terpikir untuk membeli buku ini. Barulah di kemudian hari saya tahu bahwa ternyata buku ini merupakan buku ke-4 dari tetralogi fashion yang sekarang punya edisi cetak ulang dengan sampul yang jauh lebih ciamik dibandingkan seri lamanya ini. Kalau sampul lama, coba lihat deh, alih-alih buku metropop, siapapun yang melihat cover ini pasti bakal mikir kalau ini adalh novel misteri pembunuhan or somekind like that. Judulnya juga unik. Apa maksud setuang air teh. Hem, kira-kira apa maksudnya ya? Kenapa harus air teh dan bukan air susu? Sudah itu, penulisannya disingkat pula seperti judul-judul dalam seri sebelumnya. Sungguh unik.

Membaca isi ceritanya, yang ternyata lebih unik lagi, membuat saya bergumam beginilah seharusnya metropop. Syahmedi Dean menulis dengan sangat baik. Saya ulangi; sangat baik. Meskipun untuk ukuran metropop, novel ini kebanyakan narasi ketimbang dialog, tetapi saya malah suka lho. Karena narasi dan deskripsi yang ditulis Syahmedi ini kalimatnya asyik banget buat dicerna pelan-pelan. Nikmat gitu. konfliknya beragam mulai dari yang bikin jidat saya mengerut saking herannya sampai yang bikin saya melongo karena kaget dan tidak menyangka arah konflik tersebut akan berujung di sana. Tetralogi fashion ini adalah jenis metropop yang tidak menye-menye. Orang bilang buku ini membosankan karena terlalu banyak menyebut merek kosmetik dan produk fashion branded lainnya. Tetapi buat saya justru di situlah kerennya. Pembaca jadi tahu dunia fashion yang notabene sulit terjamah oleh orang-orang awam. Berbahagialah yang membaca tetralogi ini karena jadi tahu seluk beluk dunia fashion tanpa harus nyemplung langsung ke dalamnya.

Suatu kali saya berkesempatan bertemu dengan penulisnya dan ada teman saya yang bertanya kenapa judul novelnya kok singkatan semua. Kemudian Syahmedi Dean menjelaskan bahwa di kalangan fashion sangat identik dengan singkatan-singkatan seperti LV, BCBG, D&G, dsb. Maka jadilah tetralogi fashion ini dinamai sesuai ciri khas dunia fashion tersebut. Kreatif dan unik sekali!

Kebetulan juga saya seorang follower Syahmedi Dean @deanmedi saya sering kagum dengan cara beliau ngetwit. Semua twitnya menghibur sekaligus menyindir dengan gaya yang nyentil. Terlihat dari situ, bagaimana kreatifnya seorang Syahmedi Dean yang pandai bermain dengan kata-kata sehingga menjadi kalimat yang nikmat untuk dibaca. Semuanya tertuang dalam buku ini.

Saya sendiri sih baru baca buku kesatu, kedua, lalu lompat yang keempat ini. Selama membaca saya merasa ada scene yang saya lewatkan di buku ketiga tapi itu tidak terlalu memusingkan saya dalam membaca buku keempatnya ini. Semua ceritanya tetap dapat diikuti bahkan kerapkali penulis membimbing kita mengetahui cerita sebelumnya dengan menjelaskan ulang kepada pembaca di buku ini. Sungguh penulis yang budiman. Sesuai dengan tokoh utama dalam novel ini yang bernama Alif.

Overall, saya tidak ada masalah dengan cerita yang missed, konflik yang ‘apaan sih ni’, dan hal menye-menye sebagainya karena bisa dikatakan saya sudah cukup terpuaskan dengan cara penulis bercerita. Melalui buku ini saya jadi tahu bagaimana kehidupan para sosialita yang ternyata ada lho jasa menyewakan tas branded demi tampil di sebuah acara kemudian difoto dan dijadikan bahan tulisan media (saya pernah baca di buku Kocok! Uncut by Nadia Mulya). Saya juga sempat tercengang dengan keputusan gila Alif yang tetiba menjadi liar lantaran masalah demi masalah terus menderanya. Wait, bukannya Alif tipikal orang yang relijius ya? Kenapa malah melampiaskan dengan cara yang negative bukannya dengan mendekatkan diri pada Tuhan. Untuk hal ini, penulis boleh dibilang agak memaksakan konflik, menurut saya. Juga penampilan Raisa dan Saidah yang mencengangkan di akhir cerita. Kisah kelanjutan karier Didi. Kehamilan Nisa. Semuanya campur aduk dan buku ini memberi contoh pandangan-pandangan umum masyarakat Indonesia perihal kehidupan yang tidak lazim semisal kehidupan dunia fashion yang identik dengan gaya glamour.

Akhir kata, 4 dari 5 bintang untuk buku ini. Asal tahu saja, saya sudah mulai ketagihan membaca buku-bukunya Syahmedi Dean. Penulis yang satu ini sangat pandai meramu kata-kata. Keep up the good work, Bang Dean!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s