Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas by Eka Kurniawan Penerbit Gramedia Pustaka Utama Mei 2011, 252 hlm. Rp58.000

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas
by Eka Kurniawan
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Mei 2011, 252 hlm.
Rp58.000

Seperti yang sudah-sudah, saya tidak pernah berhasil mereview novel Eka Kurniawan. Novel-novel beliau terlalu WAH dan mencengangkan sampai saya rasa kata-kata saya tidak akan pernah mampu menjabarkannya. Kosa kata yang saya tahu tidak akan cukup untuk mendeskripsikan seberapa bagusnya novel-novel beliau. Novel-novel Eka Kurniawan yang saya baca itu bobotnya merata di sepanjang cerita. Saya tidak bisa memilih mana bagian yang harus saya ceritakan, mana yang tidak. Semuanya terasa menarik bagi saya.

Baiklah begini saja. Anggap saja membaca review saya ini seperti acara kunjungan rumah ke salah satu rumah unik milik artis. Kita akan menjelajahi ruangan demi ruangan, kamar demi kamar, dan sekat demi sekat. Mungkin review ini akan terasa panjang sekali sebagaimana dengan kalimat pembukanya ini.

Dengan melihat sampulnya saja seharusnya pembaca sudah bisa menebak buku ini bercerita tentang apa. Bahkan blurb di sampul belakang buku ini semakin menjelaskan segalanya. Tapi memang dasar saya tuh suka meng-underestimate sebuah sampul buku karena akhir-akhir ini sampul buku nyatanya tidak cukup mendeskripsikan isi buku. Malah pernah suatu kali saya menemui sebuah buku yang sampul, judul, dan isinya tidak berhubungan sama sekali. BAH!

Saya menghela napas lega rupanya hal itu tidak terjadi pada novel Eka Kurniawan yang satu ini. O, tentu saja!

Seperti yang terlihat pada sampul depan, ada seekor burung unyu (setahu saya burung ini digambar oleh penulisnya sendiri) dengan mata terpejam yang meringkuk manja. Buku ini memang bercerita tentang burung yang tidak mau lagi bangun sejak melihat lubang yang merekah di antara kedua paha seorang wanita. Tragedi itu menimpa seorang bocah bernama Ajo Kawir. Peristiwa nahas itu terjadi saat ia dan sahabatnya, Si Tokek, sedang mengintip Rona Merah, perempuan sinting tapi cantik, yang diperkosa oleh dua orang polisi. Karena ketidakhati-hatiannya, Ajo Kawir akhirnya ketahuan mengintip oleh dua orang polisi itu. Ya, hanya Ajo Kawir saja. Sebagai hukumannya, Ajo Kawir dipaksa memasukkan penisnya ke dalam vagina Rona Merah. Sejak saat itu sang burung memutuskan untuk tidur panjang.

“Tak ada yang lebih menghinakan pelacur kecuali burung yang tak bisa berdiri.” hlm. 40

Sepanjang hidupnya, Si Tokek dirundung rasa bersalah. Bagaimanapun, dialah yang mengajak Ajo Kawir untuk main ke rumah Rona Merah dan mengintip Rona Merah mandi. Sampai akhirnya kedua polisi itu datang dan mengerjai Rona Merah yang menjadi sinting sejak suaminya mati dibunuh beberapa tahun silam. Secara tidak langsung semua adalah salahnya, begitu pikir Si Tokek. Untuk menebus rasa bersalahnya ini, Si Tokek berjanji pada dirinya sendiri. Perjanjian seperti apa yang dibuat Si Tokek dan dirinya? Wah, lebih baik Anda membacanya sendiri. Yang jelas, janji ini membuat saya terharu menyadari bahwa Si Tokek adalah tipe sahabat yang ideal. (peluuukkk Si Tokek)

Layaknya cerita dongeng, tragedi yang mengenaskan itu akhirnya mengubah kehidupan Ajo Kawir selamanya. Ia tumbuh menjadi jagoan kampung yang disegani semua orang.

“Hanya orang yang enggak bisa ngaceng bisa berkelahi tanpa takut mati.” Begitu kata Iwan Angsa, yang merupakan kalimat pertama yang akan kita jumpai dalam buku ini. Padahal Iwan Itik lebih nge-hits ya.

Iwan Angsa adalah ayah Si Tokek. Iwan Angsa, seperti Ajo Kawir juga dulunya pernah menjadi jagoan kampung. Iwan Angsa-lah yang paling gigih membantu membangunkan burung Ajo Kawir karena bagaimanapun burung Ajo Kawir jadi hibernasi begitu karena ulah anaknya. Bermacam-macam cara dicoba Iwan Angsa untuk membuat burung Ajo Kawir bergairah kembali. Namun sia-sia. Burung itu tetap terlelap dalam tidur panjangnya. Ajo Kawir lalu pasrah dan memutuskan untuk tidak memikirkannya.

“Iwan Angsa pernah bilang dunia memang tidak adil. Dan jika kita tahu ada acara untuk membuatnya adil, kita layak untuk membuatnya jadi adil.” Ajo Kawir hlm. 48

Suatu kali, Paman Gembul, anggap saja seperti bos mafia, meminta Iwan Angsa untuk membunuh Si Macan. Si Macan ini adalah kakak dari Agus Klobot. Agus Klobot ini adalah suami Rona Merah yang mati dibunuh Paman Gembul. Fyuh, complicated ya. Ok, balik lagi ke Iwan Angsa dan Si Macan. Berhubung Iwan Angsa sudah tua dan ia pun sebenarnya sudah pensiun dari urusan begitu, ia menolak tawaran Paman Gembul. Lalu Iwan Angsa menawarkan pekerjaan itu untuk Ajo Kawir. Nah, Ajo Kawir yang sejak burungnya tidur menjadi gemar mencari keributan dengan siapa saja ini, tentu menjadi bersemangat mendengar hal dia harus membunuh orang.

Maka berangkatlah ia ke kampung Si Macan. Di sana ia dicegat oleh anak buah Si Macan yang bernama Iteung. Iteung adalah perempuan jago kelahi yang kemudian membuat Ajo Kawir jatuh cinta. Kemudian Ajo Kawir mulai bersemangat lagi membangunkan burungnya.

“Enggak bisa. Aku enggak bisa menjadi kekasihmu. Kamu seperti cahaya dan aku gelap gulita, sesuatu yang kamu tak akan mengerti.” Tentu saja Ajo Kawir ingin mengatakan sesuatu yang tak terucapkan mulutnya: aku tak bisa ngaceng.

Konfliknya masih sangat panjang dan seru untuk diikuti. Tapi tentu tidak mungkin semuanya saya jabarkan di sini. Buku ini tidak melulu menceritakan bagaimana Ajo Kawir berusaha untuk membuat burungnya bangun dari tidur panjangnya. Suatu kali ada cerita Ajo Kawir pindah ke Jakarta, di sana ia menjadi sopir truk dan bertemu dengan Mono Ompong. Cerita kehidupan Ajo Kawir versi baru pun dimulai. Ibaratnya, saya habis membaca cerita Si Pitung lalu sekarang saya membayangkan adegan Advent Bangun nyupir truk. Lintas waktu banget khan…

Ending cerita ini sangat sangat sangat… duh kata apa ya yang pantas untuk menerjemahkannya. Pokoknya sukses bikin saya standing applause dan menjura buat Eka Kurniawan! Sayangnya, KENAPA NOVEL INI TIPIS BANGET??? WE WANT MORE, EKA!!! Huhuhuhuhuhu…

Tebalnya yang hanya 252 halaman mungkin memang hanya setebal kumpulan cerpen atau novel teenlit. Tapi kualitasnya jauh berbeda, Sob! Buku ini berbobot sekali. Membuat saya seperti sedang makan nasi padang ikan lele, iga bakar, jus melon, pudding cokelat, buah pisang dan susu. Huah! Kenyang. Nyang. Nyang.

Brutal. Begitu komentar sang istri, Ratih Kumala, yang ia update di salah satu jejaring sosialnya mengenai novel ini. Menurut saya tidak hanya brutal saja. Buku ini liar, vulgar, bebas merdeka, namun tetap beretika. Dalam buku ini akan kita jumpai kata seperti ** SENSOR **, kuntul, memek, perek, lonte, alih-alih penggunaan kata yang lebih halus seperti penis atau vagina. Ah, tapi Eka bilang tidak seharusnya kita membunuh kata-kata. Itu benar dan saya setuju. Selama penggunaannya pada konteks yang tepat. Ya misal saja seorang Ajo Kawir kan jagoan. Jagoan kehidupannya keras. Mana mungkin ia akan pakai kata vagina untuk menyebut alat kelamin pelacur yang ditidurinya, misalnya. Ya tho?

Tetap saja beberapa pembaca mungkin akan sedikit banyak jengah dengan cara menulis Eka yang seperti ini. Selain itu juga banyak adegan kekerasan dan adegan menjijikan yang buat sebagian orang mungkin bikin mual tapi buat saya justru di situlah letak keseruannya. Tak banyak penulis yang berani menulis jujur dan apa adanya. Kebanyakan penulis masih terlalu takut untuk mengangkat topik yang tabu dan penggunaan bahasa yang tidak lazim. Tapi tentu tidak dengan Eka Kurniawan. That’s why I like his work.

Seperti novelnya yang sudah-sudah, ada banyak tokoh dalam novel ini yang kesemuanya memliki peranan penting. Semuanya diceritakan Eka dengan sosok yang akan melekat kuat di ingatan pembaca. Seperti saya mengingat Pak Toto si guru cabul, Paman Gembul bos mafia yang ternyata bisa baik hati juga, Si Kumbang yang suka membokongi bocah laki-laki, dan lain sebagainya. Tokoh-tokoh tersebut meskipun hanya muncul sekilas dua kilas tapi mempunyai peranan yang sama pentingnya dengan para tokoh utama. Pak Toto misalnya, adalah alasan kenapa Iteung tumbuh menjadi perempuan yang jago berkelahi. Paman Gembul yang membuat Agus Klobot mati sehingga Rona Merah jadi gila dan suka diperkosa secara brutal oleh dua orang polisi yang kemudian membuat Ajo Kawir menjadi impoten. Semua tokohnya memiliki kisah yang unik dan ternyata saling berhubungan.

Menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu, bukan serba tempe (eaaa), adalah pilihan yang pas mengingat alur di buku ini adalah maju mundur. Alur ini awalnya terasa membingungkan dan menjengkelkan saya. Ada 8 bab dalam buku ini dengan banyak bab-bab kecil yang mengikutinya. Nah, bab-bab kecil ini yang membuat saya merasa sedang naik ombang ambing di Dufan. Terpental-pental oleh alur yang maju mundur. Untuk hal ini, pembaca harus berotak prima supaya bisa menangkap dengan jelas maksud penulis. Kadang, bab-bab kecil itu berfungsi untuk mempersingkat cerita. Kalau di buku sebelumnya saya ‘berjalan’ pelan bahkan terseok-seok, nah di buku ini saya ibarat kelinci lucu yang melompat-lompat sehingga lebih cepat sampai di tujuan. Mungkin inilah sebab kenapa semua isi dalam buku ini tidak ada yang tidak penting.

Buku ini juga sarat dengan humor mulai dari yang bikin cengengesan sampai yang bikin saya sakit perut menahan tawa.

Ajo Kawir: Burungku bilang aku tak boleh berkelahi
Mono Ompong: Kenapa kau selalu bertanya kepada burungmu untuk segala hal?
Ajo Kawir: Kehidupan manusia ini hanyalah impian kemaluan kita. Manusia hanya menjalaninya saja.

Si Tokek akan mengatakan, itu filsafat.

*****

Perempuan itu tak seperti namanya, sama sekali tak bisa dibilang jelita. Siapapun yang memberi nama jelita untuk perempuan ini pasti sedang membuat lelucon hebat. Perempuan ini buruk. Ia tak yakin perempuan ini berkata jujur. Lari dari suami? Apakah di atas muka bumi ini ada lelaki yang mau kimpoi dengan perempuan begini?

Salah satu adegan yang saya suka yaitu adegan saat truk Mono Ompong mencoba menyalip truk Si Kumbang. Saya tidak paham jin macam apa yang membuat Eka bisa mendeskripsikan adegan tersebut sedemikian rupa sehingga terasa nyata dalam dunia imaji saya. Sungguh, saya kehabisan kata-kata.

Juga bagaimana Iteung akhirnya mau menikah dengan Ajo Kawir padahal calon suaminya itu tidak bisa ngaceng (belakangan Ajo Kawir bersyukur dia punya jari-jari yang kuat yang kelak bisa membahagiakan Iteung.) membuat saya melongo. Manusiawi, Iteung lalu hamil entah dengan lelaki mana, membuat Ajo Kawir murka. Tapi Ajo Kawir tidak pernah bertindak KDRT terhadap Iteung. Padahal kalau saja ia mau, ia bisa saja membunuh Iteung saat itu juga. Iteung pun begitu. Ia tidak lantas menjadi wanita penjaja diri. Iteung khilaf dan sangat menyesal dan dia rela menerima Ajo Kawir yang marah besar padanya. Meski bertahun-tahun Ajo Kawir tidak pulang, Iteung tetap menunggu. Selama jauh dari Iteung, tidak sekalipun Ajo Kawir ada main dengan perempuan lain. Burungnya hanya untuk Iteung, begitu janji Ajo Kawir pada dirinya sendiri.

Eka menulis buku ini untuk istrinya, Ratih Kumala. Dan Ratih Kumala membuat fim pendeknya (based on this novel) sebagai hadiah pernikahan mereka berdua. So sweet…

2 thoughts on “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

  1. Pingback: Review Pertama Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

  2. Pingback: “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas” Terbit!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s