Anekdot: Pada Suatu Sore

Di teras rumah, pada suatu sore.

Ibu: Katanya kamu jualan buku. Kok itu raknya masih penuh buku?

Saya: Kan bukunya dijual buat beli buku lagi, Bu (nyengir lebar)

Ibu: (tepok jidat)

Advertisements

Sputnik Sweetheart

Sputnik Sweetheart by Haruki Murakami, Vintage Publishing, first published 1999, 223 pages. Rating: 3 of 5

Sputnik Sweetheart by Haruki Murakami, Vintage Publishing, first published 1999, 223 pages.
Rating: 3 of 5

Ini adalah buku Murakami pertama yang selesai saya baca. Saya masih ada After Dark di rak buku currently-reading di Goodreads yang saya tangguhkan karena tidak cukup menahan saya untuk tidak berpaling ke buku lain meskpiun bukunya menarik untuk diikuti.

Jujur saja saya gagal menangkap esensi dari novel ini. Cenderung datar dan konfliknya pun serasa tidak punya klimaks. Mungkin saya saja ya yang kurang cerdas buat menangkap hal-hal sastrawi dalam buku ini.

Ceritanya ada seorang perempuan berumur 22 tahun yang menyukai perempuan juga berumur 39 tahun. Gadis itu bernama Sumire dan si perempuan yang disukainya bernama Miu. Sumire kemudian bekerja pada Miu dan melakukan perjalanan ke Eropa. Di sana lah peristiwa itu terjadi. Peristiwa yang mengesalkan hati saya dan mulai terasa absurd sampai-sampai saya sendiri tidak tahu harus menulis apa pada review kali ini. Hahahaha!

Saya menyukai semua tokoh yang ada dalam buku ini, termasuk sang narator yang disebut dengan nama K saja. Tanpa embel-embel. Karakter-karakter yang ada di buku ini melambangkan karakter yang mencintai kesunyian. Sedikit banyak seperti melihat refleksi diri sih sebenarnya.

Sebuah kisah cinta yang complicated. K menyukai Sumire. Sumire menyukai Miu. Tapi Miu tidak. Miu hanya menganggap Sumire seperti anak-anak yang hanya butuh kasih sayang dan dimanja. Miu mencoba untuk mengerti keadaan Sumire. Sepanjang buku ini, pembaca akan disuguhkan pertanyaan-pertanyaan dan keheranan Sumire tentang what is sexual desire and should she ever tell Miu how she feels about her.

Meskipun buku ini belum ada edisi terjemahannya, namun edisi terjemahan Jepang ke English oleh Penerbit Vintage sangat mudah dipahami oleh orang yang bahasa inggrisnya pas-pasan seperti saya.

Saya suka cara Murakami menciptakan tokoh-tokohnya. Sumire seorang yang terobsesi menjadi penulis dan tidak cocok bekerja kantoran. Hidupnya bebas dan mengalir. Saya iri dengan hidup Sumire.

Sudah ah, saya bingung mau nulis apa lagi. Saya harap ada yang sudi diskusi sama saya mengenai ending buku ini yang amat sulit saya pahami. Semoga ending After Dark juga tidak ngawang ya.

Salam.

 

 

 

 

 

PS: saya curiga Sputnik Sweetheart memang tidak ditulis Murakami untuk memuaskan pembaca dengan ending yang memukau tetapi ditulis bagi mereka yang mencari apa makna sebenarnya dari orientasi seksual. Buku ini juga masuk ke list 1001 buku yang wajib dibaca sebelum wafat.

Opini: Mengetahui Rasa

Dalam salah satu acara bedah buku, Sabtu, 21 Juni lalu, ada perkataan dari perwakilan penerbit yang cukup menggelitik saya. Beliau berkata, “Bagaimana dia bisa tahu soal Paris kalau tidak pernah ke Paris? Bagaimana dia bisa menggambarkan situasi luar negeri kalau tidak pernah ke luar negeri?”

Well, saya agak sinis mendengarnya. Memancing perdebatan dalam pikiran saya. Rasanya ingin sekali menjawabnya dengan, “Please, deh, Anda nggak pernah dengar yang namanya riset?” tapi di satu sisi saya tidak kuat kalau acara bedah buku dilanjutkan lebih lama lagi karena pikiran saya melayang ke bioskop terdekat.

Nah, sehubungan dengan hal-yang-menggelitik-namun-tidak-bisa-saya-ungkapkan itu, akhirnya saya memutuskan untuk menumpahkan unek-unek saya di sini saja.

Menurut saya, kita tidak perlu mencoba narkoba untuk tahu dampak negative dari produk itu. Kita tidak perlu menjadi pembunuh untuk bisa merasakan bagaimana rasanya membunuh. Jelas bahwa kita tidak akan pernah bisa merasakan kalau kita tidak pernah melakukan atau mengalaminya langsung tapi kita tetap bisa kok kalau hanya sekadar merasakan.

Saya tahu bagaimana peliknya peristiwa di tahun 1965 tanpa harus masuk ke mesin waktu. Saya bersyukur bisa melihat. Ada televisi, ada bioskop. Kau bisa lihat itu Menara Eiffel dan Menara Pisa. Ya, memang saya hanya sekadar tahu tapi itu berarti, at least, saya bukan sama sekali tidak bisa menggambarkan.

Jadi, menanggapi pertanyaan,¬†“Bagaimana dia bisa tahu soal Paris kalau tidak pernah ke Paris? Bagaimana dia bisa menggambarkan situasi luar negeri kalau tidak pernah ke luar negeri?” sebenarnya perkara mudah. Itu bukan pertanyaan retoris. Jelas sekali bahwa penulis berperan penting dalam hal ini (Ya tentu saja sebab penulis adalah tuhan bagi karyanya sendiri). Ada riset, ada teman yang bisa ditanya, ada internet, ada buku-buku lain yang bisa dijadikan referensi. Jadi menurut saya, tak harus ke Paris baru kau bisa tahu soal Paris. Saya rasa pembaca bisa menilai sendiri.

And sorry for being cynical. Habisnya saya gemas. Seolah-olah mengotak-kotakkan imajinasi padahal sah-sah saja tho, namanya juga fiksi. Jika nyatanya taman di Paris tidak seindah dengan yang ada di film-film, ya itu lain soal dong.

Ah, kenapa hal-hal semacam itu bisa terlontar dari mulut seorang petinggi penerbit sih? Anggota organisasi terkenal pula, yang baru-baru ini menggelar pameran buku di Senayan.

Sigh.

Catatan Mantan Playboy

Catatan Mantan Playboy by Tri Em, Penerbit Indie Book Corner (self-publishing), 2014, 258 halaman. Rating: 3/5

Catatan Mantan Playboy by Tri Em, Penerbit Indie Book Corner (self-publishing), 2014, 258 halaman.
Rating: 3/5

Pertama, saya ingin mengucapkan selamat buat teman saya yang akhirnya sukses menelurkan satu anak. Semoga ini bukan yang pertama dan terakhir.

Gosh! adalah kata pertama yang saya ucapkan selesai membaca buku ini. Tidak bisa membayangkan bagaimana bisa di dunia ini ada cowok yang sebegitu mudahnya berpindah dari satu hati ke hati yang lain.

Terakhir kali saya baca buku tentang cowok yang mudah berpindah hati adalah buku Balada Si Roy karya Gol A Gong. Entah kenapa saya sulit percaya dengan orang-orang yang begitu mudah sembuh dari patah hatinya. Mereka punya kekuatan super atau apa? Sebab kalau ya, saya juga mau. Atau karena mereka ini laki-laki ya, sehingga tidak terlalu memusingkan yang sudah lalu seperti wanit? Dunno.

Sayangnya, saya tidak bisa bilang penulis mengada-ada karena buku ini, boleh dibilang, adalah kisah nyatanya. Mata saya mendelik. Ternyata teman saya seorang (mantan) playboy. TIDAAAAAAAAAKKK! >,<

Tokoh utama dalam buku ini bernama Gunawan. Saya bocorkan ya, sebenarnya teman saya itu pernah bilang bahwa dia ingin menuliskan namanya sendiri sebagai tokoh utama, namun ternyata ditentang oleh editor. Katanya, nama aslinya kurang oke. Well, untuk alasan itu, nama Gunawan juga menurut saya kurang oke. Sekalian saja Justin Bieber atau Syaiful Jamil.

Semua kisah bermula sejak Gunawan SMP yang menyukai seorang perempuan bernama Anis. Seperti remaja pada umumnya, mereka pacaran lalu putus. Lalu Gunawan curhat ke guru BP dan sang guru bilang “Kalau pacaran buat memotivasi belajar, ya setiap putus cari pacar saja lagi,”. Begitu kira-kira saran si guru BP. Namanya juga naluri anak muda, Gunawan menurut. Sejak saat itu, Gunawan tidak pernah pusing setiap habis putus dengan pacar karena toh dia akan segera cari yang baru. AHA! Sampai di sini mungkiin pembaca akan bertanya-tanya “Gunawan ini punya hati atau enggak sih?” Hahahaha…

Kalau mau dihitung (silakan saja bagi yang waktunya senggang), nampaknya ada 2048 gadis yang Gunawan pacari. Kebanyakan dari semua cerita itu, proses jadiannya cepat dan putusnya juga cepat. Semakin membuat saya percaya bahwa sesuatu yang mudah didapat makan akan mudah hilang juga.

Baca buku ini juga sedikit mengingatkan saya akan memori-memori cinta monyet ketika SMP dulu. Masa MOS, ikut ekskul karena igin selalu dekat sama gebetan, dan lain sebagainya. Banyak juga quotes bagus bertebaran yang bikin saya melongo karena tidak menyangka teman saya ini ternyata punya sisi yang bijak juga. Hahaha…

“Terkadang perlu menjadi bodoh untuk memahami suatu hal yang baru. Suatu hal yang tanpa sadar akan berlalu.” – hal. 25

Cerita dalam buku ini menurut saya masih datar. Tidak ada konflik yang akan bikin emosi pembaca naik turun (kecuali kalau kamu baca buku ini sambil naik Bianglala di Dufan). Pembaca disuguhi kisah-kisah Gunawan dan para kekasihnya yang pada akhirnya berujung kepedihan (sabar, ya, Bro). Bisa dibilang, buku ini menggali rasa penasaran saya terhadap petualangan cinta Gunawan. Perpindahan cerita juga masih kurang smooth menurut saya. Bahkan kadang saya bingung kok tiba-tiba yang tadinya pacaran sama si A sekarang sudah jadian sama si B. masih terlalu cepat, memberikann kesan bahwa penulis masih terburu-buru menuliskannya.

Tapi hal yang bikin saya betah baca buku ini adalah humor-humornya yang lumayan bikin saya ngakak. Sebenarnya ngakak di sini adalah karena bentuk ngakak kasihan karena ternyata Gunawan punya pacar yang sikapnya aneh-aneh. Gak heran sih, soalnya si Gunawan ini juga aneh. Hahahaha…

Salah satu adegan yang bikin saya ngakak adalah ketika Gunawan curhat sama Guru BP perihal putusnya hubungan dengan Anis. Guru BP ini manggil Anis ke Ruang BP dan terjadilah dialog yang kocak. Dasar anak SMP! =))

Ini bukan buku indie pertama yang saya baca. Jujur, saya tidak pernah menaruh ekspektasi banyak terhadap cetakan penerbit indie. Seperti yang sudah-sudah, biasanya akan muncul problem seperti typo dan tulisan dengan tingkat editing yang menyedihkan sampai rasanya saya pengin membenamkan kepala ke dalam tanah saja. Tadinya, saya berpikir begitu. Namun, terbitan Indie Book Corner ini mencengangkan saya. Tulisannya bisa dibilang rapi dengan layout yang cukup baik, meskipun tidak bisa saya pungkiri memang masih ada beberapa kekurangan. But, overall, ini adalah buku terbitan indie pertama yang saya baca dengan hasil tulisan yang serapi ini. Good job, Mr. Editor!

Selain itu, kualitas kertas buku ini juga tidak kalah dengan buku-buku lain yang ada di toko buku. Dengan jenis font dan spasi yang serasi, tidak membuat mata pembaca lelah. So far, secara fisik buku ini sangat oke untuk kategori buku terbitan indie. (Sumpah, saya bukan buzzer Indie Book Corner!) >,<

Uniknya, di buku ini juga disajikan lagu-lagu karya penulis. Sayangnya, tidak disertakan CD lagu. Padahal menurut saya akan lebih bagus kalau tidak hanya sekadar lirik tapi juga lagu-lagunya sehingga pembaca bisa menikmati kedua aspek tersebut secara maksimal.

Buku ini saya rekomendasikan bagi mereka yang masih dalam pencarian cinta, sekaligus Anda yang susah move on. Contohlah si Gunawan ini yang nggak kapok jatuh cinta lagi, patah hati lagi, demi merasakan hal baru. Mumpung masih muda, Cyin!

Sebab cinta tidak hanya dia seorang.

Sebab cinta bisa ditemukan di mana saja.

Keep writing and improving, Mpus!

7 Kebiasaan Orang yang Nyebelin Banget

Sepintas, buku ini mungkin terlihat seperti buku nonfiksi ecek-ecek biasa. Namun, begitu saya membaca kata pengantar yang ditulis oleh penulisnya, ternyata buku ini ditulis dengan riset dan survey yang bisa dibilang cukup serius.

Dengan melibatkan para followers-nya di Twitter, Henry Manampiring merangkum survey yang dibuat menjadi sebuah buku yang menarik untuk dibaca yang berisi 7 kebiasaan orang yang nyebelin. Beberapa dari kita mungkin suka bergumam atau alih-alih menegur orang yang nyebelin itu, kita malah mengeluh di jejaring sosial yang kita punya. Nah, nampaknya buku ini ingin menyadarkan siapapun bahwa kalau ada orang yang menyebalkan sebaiknya ditegur dan semoga pelaku menyadari bahwa tindakannya itu nyebelin tanpa perlu sikapnya dikonfrontasi oleh korban. Good point.

Membaca judulnya, mengingatkan saya pada buku Stephen Covey yang berjudul 7 Habits of Highly Effective People. Memang penulis mengakui kalau bukunya kali ini terinspirasi dari buku Stephen Covey itu, hanya saja bukunya ini dalam versi yang sedikit lebih ringan. 7 kebiasaan yang dimuat dalam buku ini mencakup 7 kebiasaan nyebelin di kampus/ sekolah, di kantor, di jalan raya/ angkutan umu, di mall/ tempat umum lainnya, di acara keluarga, di socmed, dan saat berpacaran.

Selama membaca saya sepertinya sering mengangguk-anggukkan kepala mengingat betapa yang ditulis dalam buku ini adalah fakta dan kejadian nyata yang sering kita jumpai sehari hari. Misalnya saja ada teman yang suka bertanya di saat jam kuliah hampir habis, atau mungkin rekan kerja yang suka carmuk ke atasan, juga perilaku kampungan para pengguna jalan raya yang seringkali membahayakan semua orang. Banyak kejadian yang saya yakin Anda pasti menyetujuinya bahwa memang buku ini isinya seputar orang-orang yang nyebelin. Harapannya, setelah tahu beberapa kebiasaan nyebelin, kita yang tadinya nyebelin lantas memperbaiki diri untuk tidak lagi bersikap nyebelin. Sebab, menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan negara sepertinya sulit, so, hayuklah kita cukup menjadi orang yang gak menyebalkan.

Yang membuat buku ini menarik antara lain karena buku ini dicetak dengan beberapa halaman berwarna kuning dan dilengkapi dengan ilustrasi yang apik. O, tentu saja. Sebab ilustrator yang diajak Henry adalah ilustrator kelas mancanegara. Wow! Selain itu, huruf yang digunakan juga tidak membuat mata lelah. Komposisinya ukuran font dengan spasi begitu pas. Terlebih, Henry menggunakan bahasa yang nge-pop dan tidak kaku sehingga membuat buku ini terasa seperti novel.

Keterangan buku:
7 Kebiasaan Orang yang Nyebelin Banget by Henry Manampiring
Penerbit Kompas, April 2014, 224 halaman.
Rating: 4 of 5

Kedai 1002 Mimpi

Kedai 1002 Mimpi by Valiant Budi
Penerbit GagasMedia, Mei 2014, 384 halaman.
Rating: 4 of 5

Tuhan selalu tepat waktu. Itulah yang saya rasakan ketika membaca buku ini. Jiwa saya yang sedang linglung dengan emosi yang naik turun menjadi teduh dengan membaca buku terbaru Valiant Budi ini. Lho, memangnya ini buku rohani? Jelas bukan! Tapi melalui buku ini saya secara tidak langsung ‘diajari’ Vabyo untuk lebih melihat segala sesuatu yang buruk menimpa kita dengan pandangan dan pikiran positif. Meskipun begitu, Vabyo sama sekali tidak menulis dengan cara yang menggurui atau mendikte. Entah bagaimana, saya menjadi terketuk dan tersadar saja membaca kisah-kisah yang ada di dalam buku ini.

Dibandingkan dengan buku sebelumnya, Kedai 1001 Mimpi, buku Kedai 1002 Mimpi adalah ‘oleh-oleh’ Vabyo selama berada di Arab Saudi, negeri yang ‘katanya’ suci tersebut. Ada 28 bab dalam buku ini kalau saya tidak salah. Menceritakan kehidupan penulis sepulang dari menjadi TKI di Arab. Kejadian-kejadian selama menjadi TKI rupanya masih membekas kuat dan justru menjadi semacam trauma. Mungkin buku ini bisa jadi adalah salah satu bentuk terapinya. Entahlah, saya sotoy saja sih.

Kadang penulisan Vabyo mengingatkan saya pada tulisan Djenar Mesa Ayu yang kerap berima. Misalnya;

Tentu saja aku punya
tapi aku tidak ingin banyak orang bertanya
aku lebih senang pamer hasil ketimbang pamer rencana

Ini sebabnya Vabyo sekarang sukses menjadi penulis lirik lagu. Sebut saja salah satu lagu boyband SMASH yang berjudul Ahh.

Berulang kali Vabyo sering dituduh menistakan agama, dibilang teroris, dicap pembual, dan banyak sebutan-sebutan lain yang tidak pantas mampir di telinganya. Menghadapi itu, menurut saya Vabyo luar biasa sabar dan masih mampu menyikapinya secara positif. Salut! Malah saya yang emosi dengan orang-orang itu. HIH!

Namun pernah juga saking merasa oknum-oknum itu kelewatan, ia jadi tidak nyaman (YA IYA DONG!), ia akhirnya melaporkan kejadian tidak mengenakkan itu kepada polisi. Dan bisa ketebak dong gimana reaksi polisi kita?

Untuk menyembuhkan kenangan buruk tersebut, Vabyo menyiasati dengan menyibukkan diri membuka warung makan bersama sang kakak, jalan-jalan ke Eropa, dan minum pil penenang. Di sini saya tidak ingin menghakimi (pun memang tidak berhak) sebab kalau saya yang jadi Vabyo mungkin saya bisa lebih parah stresnya. Kebayang gak, meskipun sudah jauh dari negeri itu tapi setiap tidur selalu dihantui oleh ingatan-ingatan nggak banget yang sebenarnya ingin dibuang sejauh mungkin?

Seperti biasa, Vabyo juga menyelipkan humor-humor yang cerdas dan jauh dari kata garing. Entah ini penilaian subjektif saya saja karena saya mengagumi kerendahan hati si penulis atau memang begitulah adanya.

“Nanti pas nyampe bandara, kita ada jalur khusus. Biasanya sering ada yang malakin. Udah gitu, nanti kita disuruh pulang naek bus, dimintain duit lagi sekitar tiga ratus ribuan. Nanti sama sopirnya diminta lagi lima ratus ribuan. Kalau kita gak ngasih, mereka bakal ngancem gak akan dianterin sampai rumah. Belum lagi ada ongkos rokok, ongkos makan, ongkos minum, BANYAK, MAS.”

Buset. Mendengarnya saja aku sudah merasa bokek. (Hal. 11)

***

“Lihat kopi saya, apa ini? Lihat ini, kotak-kotaknya tidak rata. Saya tidak mau meminumnya!”

Rahangku mendadak terasa longgar. Apa tadi dia bilang?

“Maksud Anda, kotak-kotak sirup karamel yang di atas foam ini?”

“YA!”

“Tidak rata itu, maksudnya Anda ingin besar kotaknya… sama?!”

“YA!”

ANDA GILA?!

PASTI IYA!

“Baiklah, akan saya perbaiki,”

“Dan, lingkaran sausnya tolong bulat sempurna!” ujar si wanita menor itu, seakan cobaan belum selesai. Jangan-jangan, dia ingin topping saus karamel ini benar-benar serapi jaring raket?

Aku pun berusaha konsentrasi memencet botol saus karamel agar sirup yang keluar menempati posisi akurat. Ya ampun, jadi barista kok gini-gini amat, ya. (Hal. 18-19)

Saya juga suka sekali dengan kalimat-kalimat yang kelihatannya ‘ringan’ tapi ternyata maknanya mendalam.

Mungkin Tuhan sengaja memberiku dingin agar siap menerima sapaan panas. (Hal. 78)

Aku jadi belajar sesuatu. Bila telanjur dituduh menyeburkan diri, sekalian saja loncat indah! (Hal. 82)

Iya, kadang memang kita tidak pernah sendiri. Dan kadang, justru itu yang menakutkan. (Hal. 265)

Membaca buku ini membuka mata dan pikiran saya tentang kehidupan TKI di luar sana. Mungkin banyak TKI yang nakal. Tapi sekali lagi, kekerasan tidak dibenarkan. Sempat berjengit ngeri dan mengelus dada membaca kisah-kisah TKI. Ada rasa haru yang menjalari tubuh saya membuat saya semakin bersyukur atas hidup yang sudah Tuhan berikan untuk saya.

Kenapa saya kasih bintang 4? Why not? Buku ini banyak informasi penting yang mungkin tidak bisa kita dapatkan di buku mana pun. Selain itu, ilustrasi-ilustrasi dalam buku ini juga menyegarkan. Di setiap pergantian bab juga ada gambar-gambar yang memanjakan mata. Konsep yang sangat kreatif dan pas dengan suasana kedai kopi saat ini.

Saya pribadi belum pernah ketemu dengan penulis, meskipun ingin sekali. Saya curiga jangan-jangan Vabyo selain menulis juga berprofesi sebagai motivator yah? Sebab kalimat-kallimatnya terasa begitu meneduhkan. Hahaha…

Terus berkarya ya, Kak! Dipuji atau dicaci akan berkarya sampai mati kan? Keep writing… ^.^

Guilty Pleasure

Guillty Pleasure karya Christian Simamora. Diterbitkan oleh GagasMedia, April 2014. Tebal 410 halaman. Rating: 3 of 5

Guillty Pleasure karya Christian Simamora. Diterbitkan oleh GagasMedia, April 2014. Tebal 410 halaman.
Rating: 3 of 5

Ini buku ke-11 karya Christian Simamora. Entah ekspresi apalagi yang bisa aku tunjukkan mengetahuinya. Masalahnya (atau hebatnya?), Bang Chris ini produktif sekali dan tentunya karyanya nggak sekadar karya ecek-ecek. Juga nggak seperti penulis lain yang entah kenapa gemar sekali menulis kalimat-kalimat puitis di belakang sampul buku, alih-alih melakukan itu, Bang Chris malah ngasih tahu gimana awal mulanya kisah cinta terjalin di antara dua tokoh utamanya.

Novel Bang Chris yang satu ini bisa disetarakan dengan novel-novel comedy-romance impor. Bahasanya mudah dicerna sehingga meskipun buku ini tebalnya mancapai 410 halaman, dijamin nggak akan bikin pembaca bosan. Ciri khasnya yaitu selalu ada semacam polisi tidur di menjelang akhir cerita mengingatkan kita semua bahwa semanis-manisnya kisah cinta itu nggak ada yang mulus!

Tokoh-tokoh utama dalam novel ini juga datang dari ‘dunia yang berbeda’. Julien seorang pengusaha buah dan Devika seorang aktris sinetron spesialis pemeran antagonis (terinspirasi dari Dinda Kanya Dewi, mungkin?). Kalau dari segi konflik, tipikal romance deh ya. Ga ada sesuatu yang baru di bawah langit ini. Semua hanya gimana pintar-pintar kita menyajikannya menjadi sesuatu yang seru dan layak untuk dinikmati. Tapi aku bisa bayangkan gimana beratnya menjalani hidup sebagai Julien yang ditinggal mati pacarnya yang hampir ia nikahi. Wajar banget kalau dia merasa berat melepaskan perempuan itu. Sampai kemudian Devika hadir dalam hidupnya dan membuatnya seperti dihadapkan pada jalan yang bercabang. (Ya ampun, ngakak baca tulisan sendiri).

Yang bikin aku senang adalah, Bang Chris nggak menulis dengan cara yang asal-asalan. Tetap ada riset yang harus dijalani. Hal ini terlihat kok dari banyaknya info-info mengenai dunia perbuahan dan dunia selebritas. Setiap habis membaca buku ChrisMor, aku selalu merasa tambah pintar (HAHAHA). Sebab kebanyakan novel romance yang aku baca cuma berisi kisah-kisah romantis yang menye-menye tapi gak ada isi dan informasi pentingnya. Kayaknya hal ini yang bikin orang enggan malas baca buku romance.

Kemudian untuk urusan NANANINA (kata Delisa), menurutku GePe lebih HOT dibandingkan All You Can Eat. Great job, Bang! Karena itu yang selalu aku nanti-nantikan dalam setiap bukumu. Hahahaha… Adegan demi adegan dideskripsikan dengan sangat baik sampai-sampai aku ketakutan sendiri membacanya karena langsung memunculkan imajinasi liar di kepalaku. Nyahaha >,<

Tapi tetap, untuk keseluruhan, aku cuma kasih bintang tiga. Sebab aku pengin sesuatu yang lebih dan anti mainstream. Hm misalnya, percintaan manusia dengan dinosaurus itu lho, Bang. Gyahahaha… #dikemplang