Kedai 1002 Mimpi

Kedai 1002 Mimpi by Valiant Budi
Penerbit GagasMedia, Mei 2014, 384 halaman.
Rating: 4 of 5

Tuhan selalu tepat waktu. Itulah yang saya rasakan ketika membaca buku ini. Jiwa saya yang sedang linglung dengan emosi yang naik turun menjadi teduh dengan membaca buku terbaru Valiant Budi ini. Lho, memangnya ini buku rohani? Jelas bukan! Tapi melalui buku ini saya secara tidak langsung ‘diajari’ Vabyo untuk lebih melihat segala sesuatu yang buruk menimpa kita dengan pandangan dan pikiran positif. Meskipun begitu, Vabyo sama sekali tidak menulis dengan cara yang menggurui atau mendikte. Entah bagaimana, saya menjadi terketuk dan tersadar saja membaca kisah-kisah yang ada di dalam buku ini.

Dibandingkan dengan buku sebelumnya, Kedai 1001 Mimpi, buku Kedai 1002 Mimpi adalah ‘oleh-oleh’ Vabyo selama berada di Arab Saudi, negeri yang ‘katanya’ suci tersebut. Ada 28 bab dalam buku ini kalau saya tidak salah. Menceritakan kehidupan penulis sepulang dari menjadi TKI di Arab. Kejadian-kejadian selama menjadi TKI rupanya masih membekas kuat dan justru menjadi semacam trauma. Mungkin buku ini bisa jadi adalah salah satu bentuk terapinya. Entahlah, saya sotoy saja sih.

Kadang penulisan Vabyo mengingatkan saya pada tulisan Djenar Mesa Ayu yang kerap berima. Misalnya;

Tentu saja aku punya
tapi aku tidak ingin banyak orang bertanya
aku lebih senang pamer hasil ketimbang pamer rencana

Ini sebabnya Vabyo sekarang sukses menjadi penulis lirik lagu. Sebut saja salah satu lagu boyband SMASH yang berjudul Ahh.

Berulang kali Vabyo sering dituduh menistakan agama, dibilang teroris, dicap pembual, dan banyak sebutan-sebutan lain yang tidak pantas mampir di telinganya. Menghadapi itu, menurut saya Vabyo luar biasa sabar dan masih mampu menyikapinya secara positif. Salut! Malah saya yang emosi dengan orang-orang itu. HIH!

Namun pernah juga saking merasa oknum-oknum itu kelewatan, ia jadi tidak nyaman (YA IYA DONG!), ia akhirnya melaporkan kejadian tidak mengenakkan itu kepada polisi. Dan bisa ketebak dong gimana reaksi polisi kita?

Untuk menyembuhkan kenangan buruk tersebut, Vabyo menyiasati dengan menyibukkan diri membuka warung makan bersama sang kakak, jalan-jalan ke Eropa, dan minum pil penenang. Di sini saya tidak ingin menghakimi (pun memang tidak berhak) sebab kalau saya yang jadi Vabyo mungkin saya bisa lebih parah stresnya. Kebayang gak, meskipun sudah jauh dari negeri itu tapi setiap tidur selalu dihantui oleh ingatan-ingatan nggak banget yang sebenarnya ingin dibuang sejauh mungkin?

Seperti biasa, Vabyo juga menyelipkan humor-humor yang cerdas dan jauh dari kata garing. Entah ini penilaian subjektif saya saja karena saya mengagumi kerendahan hati si penulis atau memang begitulah adanya.

“Nanti pas nyampe bandara, kita ada jalur khusus. Biasanya sering ada yang malakin. Udah gitu, nanti kita disuruh pulang naek bus, dimintain duit lagi sekitar tiga ratus ribuan. Nanti sama sopirnya diminta lagi lima ratus ribuan. Kalau kita gak ngasih, mereka bakal ngancem gak akan dianterin sampai rumah. Belum lagi ada ongkos rokok, ongkos makan, ongkos minum, BANYAK, MAS.”

Buset. Mendengarnya saja aku sudah merasa bokek. (Hal. 11)

***

“Lihat kopi saya, apa ini? Lihat ini, kotak-kotaknya tidak rata. Saya tidak mau meminumnya!”

Rahangku mendadak terasa longgar. Apa tadi dia bilang?

“Maksud Anda, kotak-kotak sirup karamel yang di atas foam ini?”

“YA!”

“Tidak rata itu, maksudnya Anda ingin besar kotaknya… sama?!”

“YA!”

ANDA GILA?!

PASTI IYA!

“Baiklah, akan saya perbaiki,”

“Dan, lingkaran sausnya tolong bulat sempurna!” ujar si wanita menor itu, seakan cobaan belum selesai. Jangan-jangan, dia ingin topping saus karamel ini benar-benar serapi jaring raket?

Aku pun berusaha konsentrasi memencet botol saus karamel agar sirup yang keluar menempati posisi akurat. Ya ampun, jadi barista kok gini-gini amat, ya. (Hal. 18-19)

Saya juga suka sekali dengan kalimat-kalimat yang kelihatannya ‘ringan’ tapi ternyata maknanya mendalam.

Mungkin Tuhan sengaja memberiku dingin agar siap menerima sapaan panas. (Hal. 78)

Aku jadi belajar sesuatu. Bila telanjur dituduh menyeburkan diri, sekalian saja loncat indah! (Hal. 82)

Iya, kadang memang kita tidak pernah sendiri. Dan kadang, justru itu yang menakutkan. (Hal. 265)

Membaca buku ini membuka mata dan pikiran saya tentang kehidupan TKI di luar sana. Mungkin banyak TKI yang nakal. Tapi sekali lagi, kekerasan tidak dibenarkan. Sempat berjengit ngeri dan mengelus dada membaca kisah-kisah TKI. Ada rasa haru yang menjalari tubuh saya membuat saya semakin bersyukur atas hidup yang sudah Tuhan berikan untuk saya.

Kenapa saya kasih bintang 4? Why not? Buku ini banyak informasi penting yang mungkin tidak bisa kita dapatkan di buku mana pun. Selain itu, ilustrasi-ilustrasi dalam buku ini juga menyegarkan. Di setiap pergantian bab juga ada gambar-gambar yang memanjakan mata. Konsep yang sangat kreatif dan pas dengan suasana kedai kopi saat ini.

Saya pribadi belum pernah ketemu dengan penulis, meskipun ingin sekali. Saya curiga jangan-jangan Vabyo selain menulis juga berprofesi sebagai motivator yah? Sebab kalimat-kallimatnya terasa begitu meneduhkan. Hahaha…

Terus berkarya ya, Kak! Dipuji atau dicaci akan berkarya sampai mati kan? Keep writing… ^.^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s