Catatan Mantan Playboy

Catatan Mantan Playboy by Tri Em, Penerbit Indie Book Corner (self-publishing), 2014, 258 halaman. Rating: 3/5

Catatan Mantan Playboy by Tri Em, Penerbit Indie Book Corner (self-publishing), 2014, 258 halaman.
Rating: 3/5

Pertama, saya ingin mengucapkan selamat buat teman saya yang akhirnya sukses menelurkan satu anak. Semoga ini bukan yang pertama dan terakhir.

Gosh! adalah kata pertama yang saya ucapkan selesai membaca buku ini. Tidak bisa membayangkan bagaimana bisa di dunia ini ada cowok yang sebegitu mudahnya berpindah dari satu hati ke hati yang lain.

Terakhir kali saya baca buku tentang cowok yang mudah berpindah hati adalah buku Balada Si Roy karya Gol A Gong. Entah kenapa saya sulit percaya dengan orang-orang yang begitu mudah sembuh dari patah hatinya. Mereka punya kekuatan super atau apa? Sebab kalau ya, saya juga mau. Atau karena mereka ini laki-laki ya, sehingga tidak terlalu memusingkan yang sudah lalu seperti wanit? Dunno.

Sayangnya, saya tidak bisa bilang penulis mengada-ada karena buku ini, boleh dibilang, adalah kisah nyatanya. Mata saya mendelik. Ternyata teman saya seorang (mantan) playboy. TIDAAAAAAAAAKKK! >,<

Tokoh utama dalam buku ini bernama Gunawan. Saya bocorkan ya, sebenarnya teman saya itu pernah bilang bahwa dia ingin menuliskan namanya sendiri sebagai tokoh utama, namun ternyata ditentang oleh editor. Katanya, nama aslinya kurang oke. Well, untuk alasan itu, nama Gunawan juga menurut saya kurang oke. Sekalian saja Justin Bieber atau Syaiful Jamil.

Semua kisah bermula sejak Gunawan SMP yang menyukai seorang perempuan bernama Anis. Seperti remaja pada umumnya, mereka pacaran lalu putus. Lalu Gunawan curhat ke guru BP dan sang guru bilang “Kalau pacaran buat memotivasi belajar, ya setiap putus cari pacar saja lagi,”. Begitu kira-kira saran si guru BP. Namanya juga naluri anak muda, Gunawan menurut. Sejak saat itu, Gunawan tidak pernah pusing setiap habis putus dengan pacar karena toh dia akan segera cari yang baru. AHA! Sampai di sini mungkiin pembaca akan bertanya-tanya “Gunawan ini punya hati atau enggak sih?” Hahahaha…

Kalau mau dihitung (silakan saja bagi yang waktunya senggang), nampaknya ada 2048 gadis yang Gunawan pacari. Kebanyakan dari semua cerita itu, proses jadiannya cepat dan putusnya juga cepat. Semakin membuat saya percaya bahwa sesuatu yang mudah didapat makan akan mudah hilang juga.

Baca buku ini juga sedikit mengingatkan saya akan memori-memori cinta monyet ketika SMP dulu. Masa MOS, ikut ekskul karena igin selalu dekat sama gebetan, dan lain sebagainya. Banyak juga quotes bagus bertebaran yang bikin saya melongo karena tidak menyangka teman saya ini ternyata punya sisi yang bijak juga. Hahaha…

“Terkadang perlu menjadi bodoh untuk memahami suatu hal yang baru. Suatu hal yang tanpa sadar akan berlalu.” – hal. 25

Cerita dalam buku ini menurut saya masih datar. Tidak ada konflik yang akan bikin emosi pembaca naik turun (kecuali kalau kamu baca buku ini sambil naik Bianglala di Dufan). Pembaca disuguhi kisah-kisah Gunawan dan para kekasihnya yang pada akhirnya berujung kepedihan (sabar, ya, Bro). Bisa dibilang, buku ini menggali rasa penasaran saya terhadap petualangan cinta Gunawan. Perpindahan cerita juga masih kurang smooth menurut saya. Bahkan kadang saya bingung kok tiba-tiba yang tadinya pacaran sama si A sekarang sudah jadian sama si B. masih terlalu cepat, memberikann kesan bahwa penulis masih terburu-buru menuliskannya.

Tapi hal yang bikin saya betah baca buku ini adalah humor-humornya yang lumayan bikin saya ngakak. Sebenarnya ngakak di sini adalah karena bentuk ngakak kasihan karena ternyata Gunawan punya pacar yang sikapnya aneh-aneh. Gak heran sih, soalnya si Gunawan ini juga aneh. Hahahaha…

Salah satu adegan yang bikin saya ngakak adalah ketika Gunawan curhat sama Guru BP perihal putusnya hubungan dengan Anis. Guru BP ini manggil Anis ke Ruang BP dan terjadilah dialog yang kocak. Dasar anak SMP! =))

Ini bukan buku indie pertama yang saya baca. Jujur, saya tidak pernah menaruh ekspektasi banyak terhadap cetakan penerbit indie. Seperti yang sudah-sudah, biasanya akan muncul problem seperti typo dan tulisan dengan tingkat editing yang menyedihkan sampai rasanya saya pengin membenamkan kepala ke dalam tanah saja. Tadinya, saya berpikir begitu. Namun, terbitan Indie Book Corner ini mencengangkan saya. Tulisannya bisa dibilang rapi dengan layout yang cukup baik, meskipun tidak bisa saya pungkiri memang masih ada beberapa kekurangan. But, overall, ini adalah buku terbitan indie pertama yang saya baca dengan hasil tulisan yang serapi ini. Good job, Mr. Editor!

Selain itu, kualitas kertas buku ini juga tidak kalah dengan buku-buku lain yang ada di toko buku. Dengan jenis font dan spasi yang serasi, tidak membuat mata pembaca lelah. So far, secara fisik buku ini sangat oke untuk kategori buku terbitan indie. (Sumpah, saya bukan buzzer Indie Book Corner!) >,<

Uniknya, di buku ini juga disajikan lagu-lagu karya penulis. Sayangnya, tidak disertakan CD lagu. Padahal menurut saya akan lebih bagus kalau tidak hanya sekadar lirik tapi juga lagu-lagunya sehingga pembaca bisa menikmati kedua aspek tersebut secara maksimal.

Buku ini saya rekomendasikan bagi mereka yang masih dalam pencarian cinta, sekaligus Anda yang susah move on. Contohlah si Gunawan ini yang nggak kapok jatuh cinta lagi, patah hati lagi, demi merasakan hal baru. Mumpung masih muda, Cyin!

Sebab cinta tidak hanya dia seorang.

Sebab cinta bisa ditemukan di mana saja.

Keep writing and improving, Mpus!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s