Opini: Mengetahui Rasa

Dalam salah satu acara bedah buku, Sabtu, 21 Juni lalu, ada perkataan dari perwakilan penerbit yang cukup menggelitik saya. Beliau berkata, “Bagaimana dia bisa tahu soal Paris kalau tidak pernah ke Paris? Bagaimana dia bisa menggambarkan situasi luar negeri kalau tidak pernah ke luar negeri?”

Well, saya agak sinis mendengarnya. Memancing perdebatan dalam pikiran saya. Rasanya ingin sekali menjawabnya dengan, “Please, deh, Anda nggak pernah dengar yang namanya riset?” tapi di satu sisi saya tidak kuat kalau acara bedah buku dilanjutkan lebih lama lagi karena pikiran saya melayang ke bioskop terdekat.

Nah, sehubungan dengan hal-yang-menggelitik-namun-tidak-bisa-saya-ungkapkan itu, akhirnya saya memutuskan untuk menumpahkan unek-unek saya di sini saja.

Menurut saya, kita tidak perlu mencoba narkoba untuk tahu dampak negative dari produk itu. Kita tidak perlu menjadi pembunuh untuk bisa merasakan bagaimana rasanya membunuh. Jelas bahwa kita tidak akan pernah bisa merasakan kalau kita tidak pernah melakukan atau mengalaminya langsung tapi kita tetap bisa kok kalau hanya sekadar merasakan.

Saya tahu bagaimana peliknya peristiwa di tahun 1965 tanpa harus masuk ke mesin waktu. Saya bersyukur bisa melihat. Ada televisi, ada bioskop. Kau bisa lihat itu Menara Eiffel dan Menara Pisa. Ya, memang saya hanya sekadar tahu tapi itu berarti, at least, saya bukan sama sekali tidak bisa menggambarkan.

Jadi, menanggapi pertanyaan, “Bagaimana dia bisa tahu soal Paris kalau tidak pernah ke Paris? Bagaimana dia bisa menggambarkan situasi luar negeri kalau tidak pernah ke luar negeri?” sebenarnya perkara mudah. Itu bukan pertanyaan retoris. Jelas sekali bahwa penulis berperan penting dalam hal ini (Ya tentu saja sebab penulis adalah tuhan bagi karyanya sendiri). Ada riset, ada teman yang bisa ditanya, ada internet, ada buku-buku lain yang bisa dijadikan referensi. Jadi menurut saya, tak harus ke Paris baru kau bisa tahu soal Paris. Saya rasa pembaca bisa menilai sendiri.

And sorry for being cynical. Habisnya saya gemas. Seolah-olah mengotak-kotakkan imajinasi padahal sah-sah saja tho, namanya juga fiksi. Jika nyatanya taman di Paris tidak seindah dengan yang ada di film-film, ya itu lain soal dong.

Ah, kenapa hal-hal semacam itu bisa terlontar dari mulut seorang petinggi penerbit sih? Anggota organisasi terkenal pula, yang baru-baru ini menggelar pameran buku di Senayan.

Sigh.

One thought on “Opini: Mengetahui Rasa

  1. Hai salam kenal😊
    Blog yang menarik dan sangat menyenangkan untuk dibaca😊
    Saya setuju bahwa untuk menulis seotentik mungkin tidak harus merasakan sendiri pengalaman tersebut.
    Seram kalau seseorang yang menulis tentang pembunuhan harus menjadi pembunuh dulu.
    Saya rasa sebagai produk imajinasi tidak terbatas dengan apa yang bisa ditangkap indra kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s