Teen Spirit: Tiga

Teen Spirit: Tiga by Agung Rusmana Penerbit Elex Media Komputindo Tahun Terbit: 7 Mei 2014 216 Halaman Rating: 3 of 5

Teen Spirit: Tiga by Agung Rusmana
Penerbit Elex Media Komputindo
Tahun Terbit: 7 Mei 2014
216 Halaman
Rating: 3 of 5

Actually judulnya menggunakan angka 3 sih. Tapi itu bukan masalah.

Sebelumnya saya mau cerita sedikit dulu. Nah, begini ceritanya…

Pada suatu hari di linimasa Twitter, saya dikagetkan dengan update-an teman saya yang bernama Agung. Ternyata dia sekarang sudah berhasil menerbitkan buku, di penerbit mayor pula! Wah ini berita yang ‘sesuatu’. Pasalnya, dia bergerak smooth banget kayak buaya di rawa-rawa. Diam-diam lalu tiba-tiba mengezutkan. Saya tahu sih Agung ini memang suka menulis. Tapi 100% gak nyangka kalau dia akhirnya bikin buku. Soalnya saya biasa lihat dia aktif dengan pekerjaannya di dunia media dan film-film pendek yang dibuatnya ketimbang buku bacaannya.

Tentunya, buku debut ini membuat saya tertampar sebab sampai detik ini saya belum menghasilkan novel apapun. Hiks… Silakan dibaca dan nilai sendiri apakah saya mereviewnya secara bias atau gak, mengingat penulisnya adalah teman saya sewaktu kuliah dulu. Hehehe…

Buku ini bergenre teenlit. Diawali dengan kisah persahabatan antara Ghaza, Bani, dan Yama pada epilog yang saya pikir bakal jadi konflik yang menghasilkan klimaks namun kelak saya ketahui ternyata tidak. Kecewa? Ya.

Kemudian masuk ke bagian perkenalan tokoh-tokohnya dengan sudut pandang orang pertama dengan kata ganti ‘aku’. Ini cara menulis yang so last year sih menurut saya. Mestinya Agung bisa menuliskan karakter-karakternya secara implisit dan tersebar dalam isi cerita. Tidak perlu menyediakan part khusus begini. Besides, karakter masing-masing tokoh kurang menonjol. Bikin saya susah membedakan mana Igor, mana Ghaza, mana Abbi. Semua cara ngomongnya sama. Sikapnya sama.

Saya juga merasa datar dengan cerita-cerita yang ada di dalam buku ini. Ya sebab buku ini terlalu lite buat saya yang usianya tidak masuk kategori teen lagi. Just not my cup of tea. Tapi kalau boleh saya melihat dari sudut pandang remaja (saya masih punya jiwa remaja sedikit-sedikit lho, tolong dicatat), buku ini lumayan menghibur kok. Karakter-karakternya mengingatkan saya pada teman-teman saya di jaman SMP-SMA dulu. Candaan dan lawakan yang terjadi di antara tokoh-tokohnya itu orisinil dan sama sekali gak mengada-ada. Nostalgia banget pokoknya.

Plusnya lagi, meskipun berisi kisah remaja, buku ini memuat quotes yang bagus dan ngena buat remaja. Jadi gak hanya kisah menye-menye doang tapi juga pelajaran hidup.

Sayangnya lagi, buku ini terkesan ditulis secara terburu-buru. Saya belum selesai menikmati kisah cinta Abbi dan Gwen, eh sudah dihadapkan dengan persoalan Dara dan Igor. Padahal harapan saya, penulis bisa mendeskripsikan hal-hal yang lebih romantis sehingga hubungan yang dijalin bisa sampai dengan baik ke hati pembaca. Bukan sekadar lewat doang. Seperti yang saya bilang di awal postingan, jangan berharap bakal ada klimaks di buku ini.

Juga ada hal yang menurut saya kurang logis. Misalnya sifat Abbi yang awalnya sangat bangga dan mendukung Gwen untuk ikut kontes menari di Aceh namun begitu H-1 Abbi memaksa Gwen untuk tidak pergi dan membuat pilihan-pilihan sulit buat Gwen. Ngerti sih. Namanya juga remaja pasti labil. Tapi kayaknya ga begitu-begitu amat deh. Harapan saya sih mestinya dijelaskan dulu lebih detail tentang ketakutan Abbi yang gak bisa jauh dari Gwen. Itu akan jadi poin penting untuk membuat pembaca merasa maklum dengan kelabilan Abbi.

Kembali membahas unsur ektrinsik, tulisan dalam buku ini cukup nyaman dibaca. Kavernya pun remaja sekali dan saya suka. Maaf, biasanya Elex ini suka bikin kaver yang kurang menarik, But, untuk buku ini, Elex melakukannya dengan baik.

Melalui buku ini, saya juga bisa melihat bahwa Agung adalah penulis yang jujur dan berani. Kayaknya next time perlu dicoba tulisan yang lebih serius deh, Gung. Dijamin nyastra deh… Saya tahu Agung mampu menulis serius sebab saya pernah baca karya-karyanya yang lain dan saya suka banget. saya bahkan masih ingat salah satu fiksi Agung favorit saya itu berjudul Paralel. Dulu, saya masih terlalu bodoh untuk mencerna jalan ceritanya dan ketika saya sadar cerita itu ternyata amazing, saya jadi merasa kecil. Bahwa ketika saya masih bodoh, Agung sudah mampu menghasilkan karya yang WOW.

Kabarnya penulis juga lagi menggarap buku kedua? Hm, semoga lancar ya sampai dengan buku tersebut terbit dan tentunya saya berharap ke depannya saya bisa membaca tulisan Agung yang lebih ciamik lagi.

Keep writing, Gunkz! ;p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s