Sabtu bersama Bapak

Sabtu bersama Bapak karya Adhitya Mulya. Diterbitkan pertama kali oleh Gagas Media pada 10 Juni 2014. Tebal 278 halaman. Rate: 5 of 5

Sabtu bersama Bapak karya Adhitya Mulya. Diterbitkan pertama kali oleh Gagas Media pada 10 Juni 2014. Tebal 278 halaman.
Rate: 5 of 5

Kalau seseorang bertanya pada saya apa buku yang sudah mengubah hidup saya, tentu buku Sabtu bersama Bapak akan menjadi jawaban saya. Buku ini membuka pikiran saya tentang bagaimana menjadi ibu yang baik, istri yang baik, perempuan yang baik yang kelak disukai laki-laki baik.

Di awal novel ini ada tulisan persembahan Kang Adhit untuk istri dan anak-anak tercinta. So sweet dan sukses bikin iri saya yang masih jomblo. Puas, Kang, puas? ;p

“Ka, istri yang baik gak akan keberatan diajak melarat.”

“Iya, sih. Tapi, mah, suami yang baik tidak akan tega mengajak istrinya untuk melarat.”

Bercerita tentang sebuah keluarga kecil Gunawan Gernadi yang hidupnya tidak akan lama lagi karena menderita kanker. Itu berarti dia akan meninggalkan seorang istri, Itje, dan dua orang laki-laki yang masih kecil bernama Satya dan Cakra. Meskipun sebentar lagi dia sudah tidak ada di dunia ini, ia ingin anak-anaknya tetap hidup dan berproses dengan bimbingannya. Karena itu ia membuat rekaman video yang kelak harus diputar Itje setiap hari Sabtu, untuk ditonton kedua anaknya.

Satya tumbuh menjadi bapak dan suami yang temperamen dan doyan marah-marah. Untungnya ia memiliki Rissa, istri yang cantik dan sabar, meski tidak jago masak. Cakra tumbuh menjadi pemuda sukses tapi kesulitan mendapatkan jodoh. Saat ada yang suka, dia gak suka. Saat ada yang dia sukai, orangnya sudah suka sama orang lain. Nah, video-video rekaman Bapak itulah yang akhirnya membantu Satya dan Cakra sehingga akhirnya mereka menjadi laki-laki yang lebih baik lagi.

“Ini adalah video terakhir Bapak.
Tugas Bapak membimbing kalian, selesai di sini.
Terima kasih sudah membahagiakan Bapak.
Untuk terakhir kalinya, Bapak ucapkan, Bapak sayang kalian.”

Novel ini sarat makna. Tanpa terkesan mendikte, Kang Adhit sukses menjejalkan pesan dan nilai-nilai moral bagi pembacanya. beberapa hal baru juga sukses menggelitik konsep yang saya yakini. Di antaranya pembahasan mengenai anak sulung. Saya anak sulung, tadinya mikir kalau kelak saya punya anak, saya akan mendidik anak saya seperti orangtua saya mendidik saya, yaitu membuat anak berpikir bahwa anak sulung itu harus jadi panutan. Tapi Kang Adhit mengubah konsep itu dan anehnya saya lebih setuju kata-kata Kang Adhit ketimbang diri saya sendiri. Selain itu, perihal IPK yang dianggap tidak lebih penting daripada softskill, juga adalah yang selama ini saya yakini namun Kang Adhit memiliki jawaban lain yang saya angguki. Salut.

Menjadi panutan bukan tugas anak sulung kepada adik-adiknya.
Menjadi panutan adalah tugas orangtua untuk semua anak.

Sepanjang baca, saya sukses dibikin iri setengah mati sama Ayu dan Rissa yang beruntung bisa dicintai laki-laki seperti Satya dan Cakra. Sampai-sampai waktu Ayu lebih memilih Salman ketimbang Cakra, saya spontan bergumam, “Mas Cakra sama saya aja deh, hiks,” (desperate detected)

Pagi, Pak Cakra
Pagi, Wati
Udah sarapan, Pak?
Udah, Wati
Udah punya pacar, Pak?
Diam kamu, Wati

Pagi, Pak
Pagi, Firman
Pak mau ngingetin dua hal aja, Bapak ada induksi untuk pukul 9 nanti di ruang meeting
Oh, iya. Thanks. Satu lagi apa?
Mau ngingetin aja, Bapak masih jomblo
Enyah, kamu.

Memang sih, awal membaca outline ceritanya, jadi teringat sama Tina di Kuch Kuch Hota Hai yang menulis surat untuk anaknya, Anjali, dan dibuka setiap dia berulang tahun. Juga mengingatkan saya dengan unofficial video klip LDR milik Raisa di Youtube. Ah tapi tenang. Buku ini beda banget kok. Jauh lebih bagus dan berisi tentunya! Bisa dibilang buku ini adalah buku paket komplit. Berikut akan saya rangkum beberapa bagian yang bisa membuat pembaca menangis meraung-raung maupun ngakak gegulingan.

Part ‘ngakak’:
…sopir Mamah dan doa ustad
…9 pertanyaan di halaman 14
…email-email rekan kerja Cakra
…Cakra memimpin rapat
pokoknya proses Cakra PDKT sama Ayu deh

Part ‘mewek’:
… di setiap rekaman Bapak! Pasti!

Part ‘sweet’:
semua adegan yang Satya lakukan buat istri dan anaknya
…waktu Satya memperkenalkan calon istrinya ke Bapak
…hari pernikahan Itje dan Gunawan
…part Ayu belajar masak

Masih ada beberapa typo yang ganggu tapi gak mengurangi penilaian saya. Sekadar buat bahan revisi ketika cetak ulang nanti.

Kesimpulannya, Sabtu bersama Bapak ini adalah buku yang berapa kalipun saya baca tetap akan bikin saya menangis. Menangis bukan dalam arti cengeng. Tapi lebih ke arah introspeksi diri. Sangat layak dibaca siapa saja. Anak, bapak, ibu, suami, istri, pacar, gebetan, pria, wanita, tua, muda, ABG, dan sebagainya

Oh iya, mungkin ini kelihatannya aneh tapi entah kenapa saya suka dengan tulisan Kang Adhit yang mampu menghadirkan suasana keluarga sunda dengan gaya bicara yang halus dan penuh sopan santun. Bikin saya adem bacanya.

Saya menutup buku ini dengan air mata lagi. Sedih karena terharu dengan rekaman terakhir dari Bapak dan sedih karena harus berhenti membaca buku yang belum tentu 5 tahun lagi saya bisa baca yang sama berkualitasnya seperti ini. Terima kasih kepada Kang Adhit, sudah menulis buku yang sebegini inspiratifnya.

SEMOGA SEGERA DIFILMKAN!!!

2 thoughts on “Sabtu bersama Bapak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s