Hate That I Love Toru Watanabe

Norwegian Wood by Haruki Murakami

Norwegian Wood by Haruki Murakami

Setelah selesai membaca dua novel Murakami, Sputnik Sweetheart dan Norwegian Wood, sepertinya aku jadi tahu beliau memiliki kecenderungan untuk menulis buku yang judulnya menjurus ke judul lagu atau buku. Aku sendiri baru tahu kalau Norwegian Wood yang dimaksud dalam buku ini adalah judul lagu band legendaris The Beatles. Sedikit informasi yang mungkin gak begitu penting, aku saat ini sedang membaca Tsukuru Tazaki and His Years Pilgrimage, di mana ‘His Years Pilgrimage’ yang dimaksud di sini ternyata judul sebuah lagu. Ommo!

Toru Watanabe tiba-tiba merasa dunia melemparnya kembali ke masa lalu ketika ia mendengarkan lagu Norwegian Wood di pesawat dalam perjalanan menuju Jerman. Masa lalu itu menggambarkan tragedi cinta yang terjadi antara Naoko, Kizuki, dan dirinya. Mereka bertiga bersahabat. Naoko dan Kizuki adalah sepasang kekasih sedangkan Toru sendiri menyukai Naoko secara diam-diam.

Suatu hari Naoko dan Toru mendapati kenyataan bahwa Kizuki bunuh diri. Naoko terguncang hebat. Tingkah lakunya jadi aneh dan seperti orang gila. Sebenarnya ini peluang untuk Toru mendekati Naoko. Namun, sepertinya tidak semudah yang dibayangkan, Naoko ternyata masih belum bisa move on dari Kizuki.

Kira-kira begitulah sinopsis singkatnya.

Menurutku, Murakami adalah penulis sekaligus penghipnotis. Cerita yang dia tulis selalu sederhana namun karena kejeniusannya merangkai kata-kata, entah kenapa aku selalu betah baca karya-karyanya. Padahal kalau dipikir-pikir premis utamanya tidak begitu WAH. Simpel saja.

Karakter-karakter yang digunakan juga rata-rata sama. Tidak pernah ada laki-laki yang 80% adalah laki-laki baik. Hampir semua tokoh laki-laki yang Murakami ciptakan pendiam, pintar, cool tapi suka tidur sama perempuan. Aku gak tahu apakah hal ini adalah tradisi pergaulan di Jepang sana sehingga menjadi sesuatu yang amat biasa, atau tidak. Murakami suka sekali menulis hal-hal yang berbau seksual, kupikir. Aku hampir saja menyerahkan 100% cintaku untuk Toru Watanabe kalau saja dia gak plin plan dan gak suka tidur sama perempuan stranger, apalagi sampai tukar pasangan. Hate that I love Toru Watanabe.

Hal-hal seksual yang diangkat Murakami dalam setiap novelnya bukan hal-hal yang bisa dikesampingkan atau sering disebut sebagai bumbu penyedap saja. Justru sepertinya hal-hal itu menjadi hal esensial dalam setiap bukunya.

Seperti Naoko yang kelaminnya gak bisa ‘basah’ saat berhubungan seks dengan Toru (aku gak tahu ini kenapa, mungkin karena Naoko gak ada ‘rasa’ sama Toru). Juga kecenderungan Midori, gadis ceria yang baru dikenal Toru di sebuah kafe, yang doyan banget bahas hal-hal bokep sama Toru tanpa merasa malu atau jaim sedikitpun. Argh, this book really drives me crazy. Jadi bertanya-tanya apakah di Jepang hal-hal begitu tuh adalah hal-hal yang lumrah yah? Kalau ya, aku harus bilang “WOW”.

Bukan berarti di Jakarta gak ada perempuan yang suka bahas hal-hal bokep sama teman laki-lakinya sih. Tapi yang dibicarakan Midori dan Toru ini adalah something yang, kalau buat aku sih, amazing. Seperti misalnya Midori pernah meminta Toru onani sambil membayangkan dirinya. Eh, ya ampyun…

Meskipun isinya vulgar, jujur lho aku sama sekali tidak merasa bahwa Murakami sedang berusaha membuat cerita mesum. It’s just simply telling me about how ‘sick’ the people on this beautiful earth when it comes to love. Aku bisa membayangkan bagaimana merananya jadi Naoko yang tidak bisa merasakan cinta lagi sejak ditinggal mati Kizuki. Juga bagaimana rasanya jadi Toru yang mencintai dua orang perempuan di saat bersamaan namun dia tidak bisa memutuskan siapa yang dia pilih karena kondisinya amat sangat tidak memungkinkan. Aku paham rasanya jadi Midori yang harus sabar menghadapi Toru yang dingin.

Ini karena Murakami menulisnya dengan cara yang super junior, eh.. jenius.

Mungkin itu sih yang bikin buku ini jadi buku Murakami yang fenomenal, meskipun aku bilang mah karya-karya Murakami tipikal. Hahaha //ditoyor fansnya om murakami//

Membaca karya-karya Murakami tidak begitu jauh dengan mendayung di atas danau seperti adegan di film Heart ketika Acha Septriasa dan Irwansyah (cie..mantan..cie) sedang memadu kasih. Tenang dan tidak ada naik turun sama sekali. Gak ada klimaks. Jadi yang mengikat pembaca hanya misteri tentang kesehatan mental si tokoh utama yang SERINGNYA berujung absurd. //banting buku//

Kekuatan Murakami gak lebih adalah karena kepandaiannya menciptakan kalimat-kalimat yang bagus dalam setiap ceritanya. Juga tokoh-tokoh utama yang menarik yang doyan ngobrol. Sering juga Murakami menghadirkan satu orang yang perannya gak begitu penting, tapi obrolan-obrolan dan koneksi yang terjadi antara si-peran-gak-begitu-penting dengan si tokoh utama ternyata berperan penting pada satu titik tertentu dalam hidupnya. Misalnya, teman satu kamar Toru yang gila kebersihan. Yang akhirnya bikin Toru juga jadi gila kebersihan. Atau Nagasawa dan pacarnya (serius deh, kalaupun part ini dihilangkan, gak bakal ada masalah berarti terhadap alur cerita, kupikir). Yah, hal-hal semacam itulah, pasti bisa kau temukan dan nilai sendiri nanti setelah selesai membaca beberapa buku Murakami. Pola dan gayanya akan terbaca dari situ.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s