Teater Boneka

Judul Buku: Teater Boneka Penulis: Emilya Kusnaidi, Orinthia Lee, Ayu Rianna Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit: 2014 Tebal: 320 halaman Genre: Metropop Rating: 3/5

Judul Buku: Teater Boneka
Penulis: Emilya Kusnaidi, Orinthia Lee, Ayu Rianna
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2014
Tebal: 320 halaman
Genre: Metropop
Rating: 3/5

Sudah lama selesai baca buku ini. Karena load kerja lagi menurun, aku sempatkan diri menulis review. Kebetulan sudah lama gak update dan menulis apa-apa. Hehehe…

Premisnya ialah ada seorang perempuan bernama Erin yang jatuh bangun mempertahankan teater boneka warisan kakeknya. Lalu ada laki-laki misterius yang tiba-tiba hadir dalam hidupnya dan sudi membantu Erin memperjuangkan teater bonekanya.

Sampai situ, kelihatannya menarik. Sampai ada hal-hal seperti berikut yang lumayan mengganggu nalar saya:

1. Kemunculan Awan yang terlalu tiba-tiba itu totally strange. Kendati dia punya masa lalu dengan teater itu, tetap saja aku merasa aneh dengan cara dia memohon agar dipekerjakan di  teater. Ah, dia pasti modus aja itu karena lihat ownernya cantik… ya khan…

2. Kenapa Erin mati-matian mempertahankan Poppenkast (nama teater boneka itu) tapi bapaknya Erin malah kayaknya adem ayem saja. Iya, ini agak aneh menurutku. Kirain Erin hidup sebatang kara dan hanya teater itu tempat dia bergantung. Eh, ternyata dia punya bapak… selow pula…

3. Perjalanan romansa Erin dan Awan masih kurang bisa kurasakan. Mungkin karena aku terlalu apatis dengan romance yang begitu-begitu saja. //eits, curhat//

Juga, aku agak bingung dengan label metropop yang tercetak di sampulnya. Dalam imejku, metropop itu hal-hal yang kekinian banget, sedangkan latar belakang teater boneka sama sekali tidak mencerminkan itu. Rasa metropop baru terasa ketika terjadi adegan sinetron Awan dan om-nya. Aih, sumpah ini sinitrin bingit. Tapi kurang intrik sih. Mestinya om-nya menyuruh pembunuh bayaran buat menghabisi Awan sehingga si om bisa jadi direktur. Muhahaha! //ketahuan deh siapa yang sebenarnya suka nonton sinetron//

Buku ini juga terlalu tebal untuk ukuran buku metropop yang akhirnya membuatku menutup buku dengan ekspresi datar. Hal yang patut diapresiasi adalah kemampuan ketiga penulis menulis suatu karya secara estafet namun aku tidak merasa ada polisi tidur di perjalanannya yang menandakan pergantian penulis atau cara penulisan. Semuanya terasa smooth dan aku rasa ini penting kalau sebuah buku ditulis estafet. Kebayang gak, kalau di bab satu gaya penulisnya kayak Dewi Kharisma Michellia terus di bab dua berasa ada penulis lain yang merusaknya sehingga jadi tulisan yang alay?

Untuk sampulnya sendiri, kayaknya gak nyambung dengan deskripsi bentuk boneka yang ada pada isi cerita. Jadi, mending ga usah ada gambar boneka di sampul. Itu akan merusak imajinasi pembaca. Seriously. Aku sepanjang baca buku mentah-mentah membayangkan bahwa teater boneka yang Erin kelola adalah teater boneka dengan wujud seperti ada di sampul depan. Bertali-tali dan butuh keterampilan khusus untuk menggerakkannya.

Atau akunya saja yang bodoh? Siapa suruh berpikir begitu? HIH!

Eh tapi untuk layout sampulnya, aku suka sih.

Berhubung sudah agak lama bacanya jadi kalau ada hal-hal yang salah, tolong ditegur saja. Aku sebetulnya gak begitu ingat lagi detailnya. Hahaha //keplak//

Buku ini merupakan buku kedua Gramedia Writing Project yang aku baca. Ada Hujan Daun-daun yang belum dibaca.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s