Benci yang Mengakar, Dendam yang Menjalar

Judul: Lelaki Harimau Penulis: Eka Kurniawan Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit: 2004 (first published), 2014 (republish) Tebal: 195 Halaman Genre: Sastra/ Novel (Dewasa) Rating: 4 dari 5

Judul: Lelaki Harimau
Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2004 (first published), 2014 (republish)
Tebal: 195 Halaman
Genre: Sastra/ Novel (Dewasa)
Rating: 4 dari 5

Anda bisa saja mengatakan bahwa Margio sakit jiwa atau apalah karena ia sudah membuat mati Anwar Sadat dengan cara menggigit putus urat lehernya. Sebuah cara membunuh yang tidak bisa dianggap lazim (yeah, walaupun kegiatan membunuh itu sendiri sebenarnya tidak normatif). Namun yang sebenarnya terjadi adalah luapan emosi yang sudah mengendap sekian lama dalam diri Margio yang biasa ia lampiaskan pada babi-babi yang ia giring bersama Mayor Sadrah. Terlepas dari keyakinan bahwa sebenarnya tubuhnya dirasuki seekor harimau.

Pembaca tahu, kita tidak mungkin sepenuhnya menyalahkan Margio atas apa yang terjadi pada Anwar Sadat. Margio sendiri sepertinya bingung harus menyalahkan siapa. Keinginan untuk membunuh tiba-tiba muncul begitu saja saat Anwar Sadat mengatakan sesuatu yang membuat (harimau di dalam tubuh) Margio bangkit dan marah. Hal ini dituangkan Eka Kurniawan tepat di halaman terakhir.

Saya merasakan penasaran yang mengunci selama saya membaca buku ini. Alur cerita yang berjalan mundur secara perlahan membuat saya mengerti kondisi psikologis yang dialami Margio dan orang-orang di sekitarnya. Tragedi pembunuhan yang dilakukan Margio atas Anwar Sadat semata-mata dilakukan Margio atas cintanya yang begitu besar pada sang ibunda. Pada akhirnya saya bisa memaklumi kenapa (harimau di dalam tubuh) Margio melakukan itu.

Kebencian Margio sejak kecil terhadap Komar bin Syueb, ayahnya, nampaknya menjadi akar pembunuhan Anwar Sadat. Selaknat apapun sikap Komar, Margio meneguhkan diri agar jangan sampai ia membunuh ayahnya. Margio kerap menjadi saksi pemukulan yang dilakukan Komar terhadap istrinya. Ia juga pernah secara tak sengaja melihat ibunya itu sedang digagahi dengan cara yang tidak manusiawi.

Psikologi Nuraeni, ibu Margio, menarik juga untuk ditilik. Sangat bisa dipahami kenapa Nuraeni yang belakangan diketahui suka berbincang-bincang dengan panci dan wajan-wajan di dapur menjadi lebih cerah sejak bekerja di rumah Anwar Sadat.

Saya dibuat membenci Komar di awal cerita (hari di saat Marian, adik Margio mati, Komar sangat tidak peduli dan bukannya mengurus pemakaman malah tidur pulas di rumah), namun dibuat iba di tengah cerita. Sosok Komar tak lebih dari seorang suami yang merasa dirinya adalah raja di rumah. Sampai suatu ketika ia sadar bahwa sikapnya itu salah dan ia menyesali perbuatannya di waktu yang sudah sangat terlambat. Begitu juga dengan tokoh Nuraeni, awalnya saya iba namun belakangan saya malah jijik dengan sikapnya.

Kisah percintaan Margio dan Maharani, anak Anwar Sadat, yang tidak bisa bersatu akibat perbuatan orang tuanya nampaknya juga mengesalkan hati Margio sehingga tambah-tambahlah jengkel di pikirannya.

Kenapa Komar tidak peduli dengan kematian Marian?
Kenapa Maharani dan Margio tidak bisa berpacaran?
Yang terpenting, apa tepatnya motif Margio menggigit putus urat leher Anwar Sadat?

Tahan rasa penasaran Anda untuk tidak membuka halaman 190. Nikmatilah diksi-diksi indah dan konflik yang sarat komplikasi yang disuguhkan oleh Eka yang bisa membuat Anda bergidik ngeri dan berbagai macam sensasi dari fantasi yang timbul.

Novel ini adalah novel kedua Eka setelah Cantik Itu Luka. Katakanlah ini novel mistis-psikologis-realis, atau suka-suka Anda deh ingin menyebutnya bagaimana. Mayoritas ditulis dalam bentuk narasi-deskripsi dan sangat sedikit bentuk dialog.

Telah terbit Agustus lalu dengan sampul baru yang menurut saya lebih kece dibandingkan sampul lamanya. Simpel dengan warna dasar merah dan kepala seekor harimau yang saya tebak mungkin digambar oleh penulis sendiri.

Saran saya, kalau suatu hari Anda tidak sengaja menginjak kaki seseorang di bus, jangan mengaku Anda kerasukan siluman gajah ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s