Dongeng, Warisan, dan Hal-hal yang Seksuil

Judul: Aksara Amananunna Penulis: Rio Johan Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia Tahun Terbit: 2014 Tebal: 240 Halaman Genre: Kumpulan Cerpen Rating: 3.5 dari 5

Judul: Aksara Amananunna
Penulis: Rio Johan
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun Terbit: 2014
Tebal: 240 Halaman
Genre: Kumpulan Cerpen
Rating: 3.5 dari 5

Agaknya penulis muda Indonesia yang menghasilkan tulisan (yang suka saya sebut dengan) sastra mulai banyak bermunculan belakangan ini. Sedikit melegakan hati ternyata penulis muda tidak melulu terjebak dalam koridor novel teenlit yang cenderung galau dan menye-menye. Hanya saja memang saya lebih sering menjumpai penulis pemuda ketimbang pemudi.

Lepas dari persoalan gender tersebut, saya bertanya-tanya dalam hati. Kiranya apa yang membuat buku ini bisa masuk ke dalam list 10 besar KLA 2014, disandingkan dengan karya penulis-penulis senior semisal Remy Silado, Ayu Utami, dan Eka Kurniawan. Benar saja, rupanya buku ini memang punya sesuatu. Kendatipun nama Rio Johan terasa asing bagi saya.

Terdiri dari 12 cerita pendek yang dibuka dengan Undang-undang Antibunuhdiri, sukses mengikat saya untuk terus membaca halaman demi halaman berikutnya padahal sebelumnya saya sempat su’udzon buku ini punya kemungkinan besar akan membosankan. Dalam cerpen pertama ini terlihat bagaimana pemerintah kerepotan menghadapi suatu permasalahan sehingga undang-undang dibuat namun pada akhirnya undang-undang itu sejatinya tidak mengatur apa-apa.

Kemudian seperti banyak penulis sastra lainnya yang gemar mengangkat tema seks, Rio pun melakukannya juga pada beberapa cerpennya dalam buku ini. Antara lain potret BDSM dalam Komunitas, gulat syahwat dalam Robbie Jobbie, dan jalan hidup Ben yang jadi budak seks oleh Tuan Cuddon dalam Riwayat Benjamin. Isu gender nampaknya juga ingin diangkat oleh Rio. Tengok saja cerpen Ginekopolis, sebuah kota yang dipimpin oleh Nona Agung dan para wanita lainnya, juga cerita tentang Kevalier D’Orange yang mempertahankan harga dirinya mati-matian, dan benar saja, sampai dia mati.

Dalam Aksara Amananunna yang menjadi judul kumcer ini, ada tema yang sama dengan cerpen Pisang Tidak Tumbuh di Atas Salju dan “Apa Iya Hitler Kongkalingkong dengan Alien?”, yaitu warisan. Yang pertama mewariskan bahasa, yang kedua mewariskan ilmu, sedangkan yang ketiga mewariskan cerita. Saya sendiri masih penasaran kenapa Aksara Amananunna dijadikan judul utama kumcer ini padahal menurut saya ceritanya tidak sedemikian wow. Memang sih mengingatkan saya pada kisah Ada, dan Hawa sebagai awal mula peradaban manusia di muka bumi yang akhirnya terkhianati oleh buah hatinya sendiri.

Sedangkan pada cerpen Ketika Mubi Bermimpi Menjadi Tuhan yang Melayang di Angkasa tak lebih seperti cerita dongeng anak-anak yang memiliki twist-end. Seolah ingin memberi pelajaran pada mereka yang gemar berandai-andai jadi tuhan. Cerpen Tidak Ada Air untuk Mikhail sebenarnya cerita yang paling mudah dinikmati karena dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Di cerpen ini saya baru tahu ada kata “buli” yang seolah resmi menjadi kata serapan bully. Jujur saja saya belum mengecek KBBI terbaru untuk membuktikannya. Di satu sisi, cerpen ini seperti paradoks “bagaimana mungkin Mikhail tidak kebagian air padahal ia adalah malaikat penurun rejeki berupa hujan?”.

Kumcer ini ditutup dengan Susanna! Susanna! yang merupakan cerita paling panjang dalam buku ini. Wajar mengingat nampaknya banyak hal yang ingin dituangkan penulis melalui cerpen ini.

Saya suka sampul buku ini sebab terlihat elegan dengan warna biru yang tidak pasaran dan sebatang pohon yang daunnya sempurna meranggas memberikan kesan etnik. Burung-burung kecil berwarna oranye yang mengitarinya juga terasa pas dipandang meski saya masih gagal merumuskan apa filosofinya.

Catatan penting bagi penerbit; buku ini terlalu banyak typo sampai tingkat yang tak termaafkan. Siapa pun yang membaca buku ini pasti merasa gerah dengan typo di dalamnya dan gatal ingin mencoretnya (atau saya saja?). Saya tidak paham apakah juri KLA hanya fokus ke cerita (isi) sehingga melupakan kenyamanan pembaca atau bagaimana. Walau memang, terlepas dari typo itu, ceritanya nikmat dan menarik.

Gaya penulisan Rio Johan juga asyik. Tidak terasa kaku sama sekali meski kebanyakan menggunakan bahasa yang baik dan baku. Saya sangat yakin buku ini ditulis dengan riset yang serius dan mendalam. Wajarlah kalau buku mampu mejeng di list 10 besar KLA 2014. Harapan saya, penulis segera menetaskan sebuah novel.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s