Extraordinary Life of Samsa

The Metamorphosis by Franz Kafka

The Metamorphosis by Franz Kafka

Bohong kalau saya bilang buku ini gak aneh. Bohong juga kalau saya bilang saya menikmati membaca buku ini. Well, saya gak begitu paham esensi sastra yang disuguhkan. Tetapi, saya bisa menangkap pesan moral yang coba disampaikan Kafka dalam buku ini.

Bangun tidur dan mendapati tubuhnya berubah menjadi seekor kutu raksasa (sebagian bilang kecoak) tentu jadi pukulan yang berat buat Gregor Samsa. Bagaimana ia bisa bekerja? Bagaimana keluarga dan teman-temannya bisa menerima perubahannya? Semua itu berkecamuk di pikiran Gregor pada suatu pagi.

Gregor tinggal bersama kedua orangtua dan adiknya, Grete. Gregor bekerja sebagai salesman dan ia adalah tulang punggung keluarga. Meskipun begitu, Gregor tidak mendapat perhatian khusus layaknya perlakuan seorang tulang punggung. Sebaliknya, ia sering tidak dipedulikan oleh kedua orangtuanya, terutama ayahnya. Grete, adiknya, untung saja tidak begitu. Ia selalu baik pada Gregor bahkan ketika ia tahu Gregor berubah menjadi kutu.

My dear parents, things can not go on any longer in this way. Maybe, if you don’t understand that, well, I do. I will not utter my brother’s name in front of this monster, and thus I say only that we must try to get rid of it. We have tried what is humanly possible to take care of it and to be patient. I believe that no one can criticize us in the slightest. (p. 47)

Sekian lama hidup sebagai serangga, memberi efek psikologis tersendiri yang mendalam bagi Gregor. Betapa orangtuanya tidak bisa ikhlas menerima keadaannya dan malah nyaris membunuhnya adalah salah satu alasan yang membuat Gregor depresi, meskipun Grete satu-satunya orang yang penuh perhatian pada kakaknya.

Hidup Gregor berakhir tragis dan ketika itu pula keluarganya tidak nampak berduka. Ya, berduka, tetapi hanya seperlunya. Can you imagine if someday you have a life like Gregor’s life? What would you do?

Saya membaca edisi bahasa inggris dan saya akui saya agak kesusahan memahami kalimat-kalimatnya. Mungkin karena ditulis dengan gaya sastra lama, maklum saja akhir tahun 1800-an. Atau juga bisa jadi karena memang ilmu saya gak nyampe buat menikmati buku ini. Buku ini juga tipis kok. Saya selesai membacanya dalam waktu kurang dari satu jam.

Saya sih bacanya merasa kurang greget. Kurang dramatis. Sudah gitu, gak dijelaskan pula kenapa Gregor suddenly berubah jadi serangga. Banyak kejanggalan-kejanggalan yang sekarang menari-nari di pikiran saja meminta jawaban. Tapi agaknya percuma kalau saya tuliskan di sini. Harus cari teman diskusi untuk meluruskan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s