Sepuluh Anak Negro

Judul Asli: And There Were None Judul Terjemahan: Sepuluh Anak Negro Penulis: Agatha Christie Tahun Terbit: 2004 Tebal: 264 Halaman Genre: Misteri, Teka-teki Rating: 5 of 5

Review pertama di tahun 2015. Yeay! -btw, udah kayak ABG kekinian belom? :p-

Buku ini sudah cukup lama saya dengar gaungnya -halah, gaung opo- di dunia flora dan fauna, eh maksudnya dunia perbukuan. Sejak kuliah seorang teman pernah merekomendasikan ke saya, tapi saat itu saya tolak mentah-mentah lantaran saya dulu belum terlalu suka baca terjemahan, sekalipun ini Agatha Christie lho. Entahlah, mungkin lagi malas mikir kali ya. Akhirnya, setelah masuk kerja, mulai ikut komunitas buku dan saya baru ngeh bahwa ternyata buku ini fenomenal syekali ulala cetarrr.

Menyesal? Ya, dulu sih, sempat. Tapi begitu mau baca, rupanya buku ini sudah termasuk buku langka karena merupakan salah satu karya masterpiece Agatha Christie. Saya jadi kesulitan mendapatkannya sampai-sampai saya pasrah. Eh, masih mau lanjut baca review saya atau mau baca curhatan saya dulu? -eaaa-

Curhat dulu deh dikit lagi. -maksa-

Terus beberapa waktu lalu saya juga baru nonton drama korea yang menyinggung-nyinggung buku ini. Jadilah saya kayak orang yang bentol dan gatalnya sudah hilang tapi lalu gak sengaja digaruk -nggg, kalau belum pernah ngerasain, gak usah dipaksa bayangin-.

Semakin makin makin dan makin timbullah rasa penasaran saya. Terus sekelebat lihat buku ini ada di pasar buku di Blok M Square. Tapi sayangnya saya lagi bokek. Argh… okelah, pikir saya, jodoh gak ke mana. Saya sudah sempat pasrah saat itu. Ndilalahnya, pas lagi jalan-jalan ke tret e-book di Kaskus, nemu buku ini dalam bahasa Indonesia. Wiii… jodoh betulan! >.<

REVIEW BETULAN INI. SUNGGUH.

Ada sepuluh orang yang diundang oleh seseorang yang disebut-sebut Mr atau Ms atau Mrs Owen, entahlah gimana bentuk kelaminnya, ke sebuah pulau yang bernama Pulau Negro. Pulau Negro ini terkenal, tapi ya jangan cari di peta juga sih. Makanya, begitu ada undangan untuk datang ke Pulau Negro ini, ke sepuluh orang tersebut langsung tertarik. Apalagi ada imbalan yang cukup besar. Banyak duitlah si Owen ini. Anehnya, gak ada satupun yang pernah bertemu Owen ini.

Pada saat makan malam, gramafon memutarkan rekaman aneh berisi daftar kejahatan masing-masing tamu, termasuk sepasang pembantu suami istri yang melayani para tamu undangan. Kejahatan-kejahatan itu berupa pembunuhan-pembunuhan yang tidak terjamah hukum negara dan dibiarkan menguap begitu saja. Nah, nampaknya si Owen ini bermaksud membuat penghakimannya sendiri. Sadis memang kedengarannya. Padahal Owen sendiri tidak punya kepentingan apa-apa terhadap orang-orang yang dibunuhnya ini. Psiko? Ember!

Setelah dibacakannya daftar kejahatan itu, yang pertama mati adalah istri pembantu yang juga seorang pembantu. Saat itu, Mrs. Roger namanya, shock mendengar suara yang diputar dari gramafon, akhirnya dia disuruh beristirahat oleh Dr. Armstrong, yang memang seorang dokter. Dr. Armstrong memberinya obat penenang, tak berapa lama Mrs Roger mati. Tertuduhlah Dr. Armstrong. Namun belum selesai tuduhan itu, rupanya kejadian kematian menimpa orang lain lagi. Yang lainnya jadi bingung, jika memang Dr. Armstrong yang membunuh, bagaimana mungkin dia bisa membunuh sedangkan sejak tadi mereka selalu bersama-sama?

Hm, intinya satu persatu dari mereka akhirnya mati. Polisi bahkan tidak bisa mengungkapkan kasus pembunuhan ini. Semua kuncinya ada di orang yang bernama Owen. Sialnya, rupanya Owen itu sendiri ada di antara mereka.

Kalau sering baca buku detektif atau misteri pastinya gak akan kaget dengan modus yang dilakukan si pembunuh bernama Owen ini. Saya sejak awal menduga Owen ada di antara mereka dan saya tahu saya pasti dikecohkan oleh urutan kematian. Uniknya, ada satu sajak yang menjadi kode pembunuhan mereka. Begini bunyinya:

Sepuluh anak Negro makan malam;
Seorang tersedak, tinggal sembilan.

Sembilan anak Negro bergadang jauh malam;
Seorang ketiduran, tinggal delapan.

Delapan anak Negro berkeliling Devon;
Seorang tak mau pulang, tinggal tujuh.

Tujuh anak Negro mengapak kayu;
Seorang terkapak, tinggal enam.

Enam anak Negro bermain sarang lebah;
Seorang tersengat, tinggal lima.

Lima anak Negro ke pengadilan;
Seorang ke kedutaan, tinggal empat.

Empat anak Negro pergi ke laut;
Seorang dimakan ikan herring merah, tinggal tiga.

Tiga anak Negro pergi ke kebun binatang;
Seorang diterkam beruang, tinggal dua.

Dua anak Negro duduk berjemur;
Seorang hangus, tinggal satu.

Seorang anak Negro yang sendirian;
Menggantung diri, habislah sudah.

Pikir saya, dari dua pembunuhan yang terjadi, mestinya para tawanan yang tersisa bersiap dong. Nah, di buku ini kurang diceritakan seperti itu. Hanya sekali saja saat salah seorang dari mereka mati disengat lebah beracun. Sebelum-sebelumnya tidak ada penjelasan. Saya jadi jengkel sendiri dengan tokoh-tokohnya. Namun setelah saya baca lagi syair anak negro tersebut, rupanya bisa jadi tidak ditulis Agatha karena kasusnya tidak sama persis. Tidak ada yang ke kebun binatang. Tidak ada yang berjemur, dsb. Sampai sini, oke. Breath-taking banget pokoknya.

Sepanjang baca, kita gak akan dikasih tahu secara keseluruhan mereka mati dengan cara apa dan bagaimana bisa. Terutama yang soal racun sianida itu. Atau sayanya saja yang missed ya? BUt, overall cukup bisa dinikmati walau ada bolong sedikit.

Meskipun gak ada pemecahan kasusnya, kita gak akan dibikin bingung kok dengan pembunuh sebenarnya. Kenapa? Ya baca saja pokoknya. Saya kasih 5 dari 5 bintang untuk buku ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s