Menyelami Getirnya Hidup Seorang Agnes Magnusdottir

Burial Rites (Ritus-ritus Pemakaman) by Hannah Kent Penerjemah Tanti Lesmana Penerbit Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit 2014 Tebal 416 Halaman Rating 4 of 5

Saya selalu kesal dengan buku yang menceritakan kisah orang-orang yang bodoh karena cinta. Ya, buku ini contohnya. Karena cinta, ia jadi buta dan sekarang harus tersiksa bahkan sampai harus mati. Yah, saya bisa saja bilang begini. Tapi saya tahu tidak ada yang bisa menolak kekuatan cinta. Jadi saya sedikit banyak mengerti bagaimana dilema yang dialami oleh Agnes Magnusdottir, perempuan paruh baya yang sedang menanti ajalnya, yaitu hukuman mati (penggal kepala)  atas tuduhan membunuh Natan Ketilsson, majikannya.

Kata mereka, aku harus mati. Kata mereka, aku mencuri nyawa orang jadi sekarang mereka harus mencuri nyawaku. – Prolog

Sepanjang cerita kita akan disuguhkan dengan cerita masa lalu Agnes dan alasan-alasan mengenai tuduhannya. Benarkah Agnes membunuh Natan? Kalau ya, apa alasannya? Saya rasa hal ini yang mengikat pembaca.

Awal kisah dibuka dengan surat perintah untuk Jon, seorang aparat daerah, yang diminta menampung Agnes, seorang tahanan yang akan dihukum pancung sebentar lagi. Tidak ada penjara yang menampungnya sehingga Agnes diputuskan untuk tinggal sementara bersama keluarga Jon. Mendengar kabar itu, keluarga Jon (Margret – sang istri, dua anak perempuannya Steina dan Lauga) tentu saja kaget bukan main. Tak pernah terbayang dalam benak mereka akan tinggal satu atap dengan seorang pembunuh yang mungkin saja saat malam merambat datang, salah satu dari mereka bisa ikut terbunuh juga. Wew!

Tapi berhubung itu perintah pemerintah pusat, Jon tidak bisa berbuat apa-apa. Sekalipun telah dikirimkan petugas keamanan untuk berjaga-jaga di sekitar rumah, tetap saja Margret khawatir. Apalagi Jon sering dinas keluar kota.

Di rumah Margret, Agnes diperlakukan seperti pembantu. Yah, Agnes memang dasarnya pembantu jadi sambil menunggu kapan waktunya ia mati, tak ada salahnya ia ikut membantu pekerjaan rumah. Margret memperlakukannya dengan baik dan sewajarnya.

Selama penantian hukuman mati buat Agnes, keluarga Margret lama-lama tersentuh dan menyadari bahwa Agnes tidak sejahat yang mereka kira. Agnes sama sekali tidak jahat. Mungkin pandangannya dingin dan tajam. Mungkin sikapnya aneh atau apalah. Tapi itu semata-mata karena ia menyimpan beban hidup yang tidak mudah dan tak pernah ia bagi kepada siapapun. Bahkan, Agnes sangat membantu kehidupan mereka.

Rupanya sejak dulu sudah kelihatan bagaimana pedasnya mulut tetangga-tetangga yang suka mencampuri urusan orang lain. Tergambar dari sikap Rosalin yang berbicara hal tidak benar tentang kehidupan Agnes.

Cerita ini berlatar belakang daerah Islandia, yang mana seingat saya, ini buku pertama tentang Islandia yang saya baca. Ya, saya akhirnya jalan-jalan ke Islandia. Kaya betul kan saya? Dengan setting tahun 1800-an, saya kira penulis cukup mampu membuat saya mengimajinasikan bagaimana kondisi Islandia kala itu. Dengan rinci dijelaskan bagaimana kontur alamnya, bentuk rumahnya, pakaiannya, keadaan ladang-ladangnya, cuacanya, pemerintahannya, dan sebagainya. Bagus sekali.

Selain menjelaskan hal-hal teknis seputar Islandia, antara lain deskripsi kota Kornsa, Illugastadir, dan Hvammur, saya akui Hannah Kent sangat piawai memerinci bagaimana perasaan Agnes sehingga secara tidak sadar saya sudah sangat merasa kasihan dengan Agnes. Saya seperti merasakan penderitaan yang Agnes alami. Sangat sedih dan muram. Mengingatkan saya dengan Tsukuru Tazaki-nya Haruki Murakami. Suram sekali hidupnya. Tapi di satu sisi saya juga gemas kenapa Agnes tidak mencoba menjelaskan di pengadilan bahwa tuduhan itu tidak benar. Agnes malah lebih suka cerita ke Pendeta Toti, padahal pendeta itu tugasnya untuk mempersiapkan rohani Agnes dalam rangka menghadap Tuhan.

Pendeta, apakah menurutmu aku berada di sini karena waktu masih kecil aku pernah bilang aku ingin mati? Sebab, dulu waktu mengatakannya aku bersungguh-sungguh. Aku mengucapkannya seperti mengucap doa. Kuharap aku mati saja. Apakah aku sendiri yang telah menentukan nasibku, waktu itu? – hal. 186

Dari sini kita juga tahu bahwa Agnes bukannya tidak percaya Tuhan. Ia hanya skeptis dengan orang-orang yang mengaku dirinya suci dan beragama namun sama sekali tidak menunjukkan perilaku yang manusiawi. Sebenarnya apa agama itu, dibahas tanpa menyudutkan pihak mana pun. Saya suka sekali.

Banyak quotes bagus yang bikin kepala saya jadi angguk-angguk tanda setuju dan sangat menancap di hati. Agaknya buku ini kurng tepat dimasukkan ke genre romance seperti yang tertera di sampul belakang buku. Sebab lebih ke historical romance sih. Bukan romance yang biasanya menye-menye itu.

Lalu, ada dua sudut pandang yang digunakan yaitu sudut pandang narator dan dari Agnes sendiri. Dari buku ini saya juga jadi tahu bahwa jika anak perempuan, nama belakangnya akan ditambahkan -dottir, misalnya Agnes Magnusdottir, artinya Agnes si anak Magnus. Begitu juga dengan laki-laki akan ditambahkan -sson, misalnya Thorvardur Jonsson, artinya Thorvardur si anak Jon. Informasi-informasi seperti ini yang saya suka. Selain itu juga penggunaan huruf di Islandia sedikit tidak umum. Tak bisa saya tulis di sini sebab keyboard saya tak capable. Semua penjelasannya terdapat di halaman awal. Ada juga peta Islandia sebagai gambaran letak daerah. Di halaman belakang kelak pembaca bisa tahu bahwa cerita ini adalah cerita fiksi yang disarikan dari kisah nyata seorang Agnes Magnusdottir sebagai orang terakhir yang dihukum pancung di Islandia. Salut sekali dengan riset yang dilakukan penulis! Alurnya campuran antara maju dan mundur, cukup cepat di awal sehingga saya gak mengantuk namun agak membosankan menjelang akhir.

Penulis menceritakan hal-hal yang tidak bisa saya dapatkan dengan mudah dan itu seperti memberikan nafas segar buat saya saat membacanya.

Sebenarnya masih banyak hal yang ingin saya tuliskan tentang buku ini. Misalnya tentang pelecehan seksual yang dilakukan seorang majikan terhadap pembantunya, kecemburuan karena cinta, dan pembalasan dendam akibat kemarahan yang meluap. Selain itu kita juga akan mengetahui penerimaan Agnes tentang cibiran orang-orang di sekitarnya dan betapa ia menerima itu semua tanpa perlawanan bukan karena ia tak mampu melainkan karena ia berpikir opini mereka tidak penting. Tapi rasanya akan jadi sangat panjang kalau saya ceritakan semuanya. Hahahaha, so lebih baik baca sendiri ya bukunya.

***

SECRET SANTA

Dear, my Santa.

Actually, I haven’t discovered yet who are you based on your riddle. But I got the information about the circle. You must be know about it, right.

It’s not easy for me at all. Your riddle were lead me to nothing. I had no idea about it. Please don’t get me wrong, I have tried my best to resolve but it ends up with failure.

Capek ah ngomong bahasa Inggris. Puhahaha!

Yah, intinya saya gak bisa nebak siapa santa saya. Susah amat sih abisnya hahahaha… cluenya sedikit amat, sih, Santa. Hiks…

Awalnya saya tebak Mbak Ika Kartika. Tapi kayaknya bukan. Iya, saya nyerah nih, Santa. Please, tell me now who you are.

Anyway thanks for the books. I really like it.

Cheers,

Selvi

***

PS Miss PHP bukan sih santa saya? *oops

4 thoughts on “Menyelami Getirnya Hidup Seorang Agnes Magnusdottir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s