Me Before You (Dirgahayu, BBI!)

PicsArt_1428808357127

Percayalah ini bukan postingan review salah satu bukunya Jojo Moyes. Tapi tentu judulnya gak menipu seperti headline di koran-koran kok. This is my story.

Hari ini BBI ulang tahun. Aku akui belum banyak di sekitarku yang tahu apa itu BBI. Bahkan rekan-rekan di beberapa komunitas buku lain juga kadang masih bertanya “BBI itu apa?” ketika kubilang aku member BBI. Tak hanya BBI saja, bahkan beberapa juga gak tahu apa itu Goodreads, padahal ngakunya dari komunitas pembaca buku. Hm, sejak itu saya simpulkan, mungkin bukan komunitasnya yang kurang terkenal tapi memang orang-orang di luar saja yang kurang gaul. #digamfar

Ya, habis gimana enggak. Dibandingkan dengan komunitas buku lain yang aku ikuti, (sorry ya jadi membandingkan, tapi semoga in a good ways ya, gak ada maksud merendahkan pihak mana pun) anggota-anggota BBI itu berdedikasi sekali (walaupun gak semuanya). Rajin bikin event dan sekalinya bikin event gak pernah setengah-setengah, gak pernah kayak “ya udahlah toh ini event pertama, apa adanya aja, kalau jelek, orang juga pasti maklum.” Nope! BBI gak pernah begitu. Dalam setiap kesempatan, BBI selalu berusaha yang terbaik. Kalaupun nanti hasilnya gak sesuai, bukan berarti itu karena BBI gak usaha maksimal. Sebab gimanapun, Tuhan yang menentukan. Tapi, alhamdulillah-nya, gak pernah ada masalah yang cukup berarti selama BBI menggelar event, dan jangan sampe ya. Aamiin. Itu salah satu contoh kesolidan BBI.

Anggota-anggotanya juga beneran blogger. Segala macam diposting, selama itu berhubungan dengan buku. Aku salut. Mengingat aku gak bisa jadi host event bla bla bla. Kayaknya aku blogger karbitan, heheheu.

Awal masuk BBI juga gak yakin bisa konsisten posting review. Dan tadinya gak kepikiran sama sekali buat nulis review sehabis baca. Sempat mikir “Buat apa to kita nulis review? Emang bakal ada yang baca gituh? Emang bakal ada yang peduli sama penilaian gue?” sampai akhirnya ada seseorang bilang menulis review itu memberikan feedback buat penulis, penerbit, dan pembaca lainnya. AHA! Benar juga ya. Akhirnya aku mulai gabung BBI. Orang-orang di dalamnya itu tipikal becandanya beda ama aku (faktor umur kali ye), jadi aku agak kalem kalau di BBI. Hahahahaha! #sungkemsamasesepuh

Setelah gabung BBI, bisa kenal kakak-kakak dan teman-teman semua. Yah, kadang suka dapat ilmu parenting juga. Lain waktu dapat bahasa gaul ala remaja. Wakakak. Genre juga jadi berkembang. Terutama yang tadinya malas baca buku terjemahan, sekarang si otak justru nagih baca buku terjemahan, mengingat buku-buku indo monoton aja rasanya buatku akhir-akhir ini. Lagipula sekarang juga sudah banyak penerjemah yang bagus dan cakep (terjemahannya, bukan orangnya #plaaakkk).

Di BBI, juga bisa temenan sama penulis, editor, dan orang-orang yang bekerja di bidang penerbitan maupun yang gak sama sekali. Komplit deh. Khasanah (gileee bahasa gueee) membaca jadi semakin luas dan berkembang. Tadinya kupikir genre itu cuma ada misteri, romance, dongeng. Ternyata ada juga YA, Sci-fi, dystopia, dan lain sebagainya. Wuah! Selain itu, entah harus senang atau sedih, aku jadi selalu update soal diskonan buku! Jadi pas ada pameran buku semacam sudah gak terlalu excited. Biasa saja nanggepinnya ya karena gabung di komunitas bikin saya selalu update info diskonan. Jadi gak harus nunggu pameran! Hahahahahiks #marimenimbun

BBI alhamdulillah hari ini telah mencapai usianya yang ke-4. Aku gabung BBI tahun 2012, berarti sekitar 3 tahunan ya aku di BBI. Membernya makin banyak, kalau dibikin MLM mungkin sudah bisa dapat kapal pesiar kali ya. Hahaha! BBI makin hari makin eksis terbukti dengan adanya cabang BBI yaitu BBI versi regional (BBI Jabo, Jolgosemar, dll) juga ada BBI Kroya, BBI Hayday, hahaha… seru deh jadi bisa mengakomodir hobi-hobi lain selain membaca.

Jadi, masih bisa bilang “membaca itu membosankan”?

Advertisements

Giveaway Winner Announcement

Hai, terima kasih bagi kalian yang sudah memberikan komentar di giveaway saya dua minggu lalu. Tercatat ada 30 partisipan. Saya harus pilih dua pemenang. Nah, supaya adil, 1 saya pilih berdasarkan opini terbaik dan satu lagi saya undi via random. org. Jika dalam 1×24 jam saya tidak mendapat respons dari pemenang, saya akan pilih pemenang lainnya ya.

Berikut adalah pemenangnya!

Opini terbaik:

menurutku cerita cinta yang nggak menye-menye itu adalah cerita cinta yang sudah masuk ke tahap pernikahan atau pelakonnya sudah pernah menikah sebelumnya seperti yang ada di novel ini. karena bagiku cerita cinta ala orang dewasa akan dijalani lebih serius dalam segala hal dan serba dipikir dengan matang. bagi yang sudah menikah juga pastinya mereka tidak ingin sampai mengulang kesalahan yang ada di pernikahan sebelumnya. Bukan kayak anak muda yang kalo pacaran itu masih kebanyakan modus dan skandal, masih banyak yang menganggap pacaran itu main-mainan, cuma buat have fun, masih memegang prinsip kita-jalani-aja-dulu atau lihat-aja-nanti-selanjutnya-gimana. ih, malesin banget kan kalo pelakonnya masih ‘ngambang’ gitu, masih nggak tahu itu hubungan mau diujungin ke mana. :/

Yap setuju banget saya sama komen di atas bahwa cerita cinta yang nggak menye-menye adalah cerita yang sudah dalam tahap yang paling serius, yaitu jenjang pernikahan. Selamat untuk, Aya Murning! Tunggu email dari saya ya! 😀

Undian via random.org:

Selamat!!!

Selamat!!!

Berdasarkan urutan komentar, No. 21

Cerita cinta yang nggak menye-menye ya cerita cinta yang pas. Gak ada yang dipaksakan, gak berlebihan juga gak kekurangan romansa. Sekalipun kata-katanya romantis tapi kesannya hal itu gak dibuat2. Itu menurutku sih. ^^

Selamat ya, buat blue. Tunggu email dari saya yah 😀

***

Kalian berdua berhak mendapatkan masing-masing 1 buku The Wind Leading to Love persembahan dari Penerbit Haru yang akan dikirim oleh langsung oleh penerbit. Saya jamin, seperti saya, kalian juga bakalan suka dengan cerita di buku ini.

Bagi yang belum beruntung, pantau terus blog saya ya. Pasti akan ada giveaway-giveaway seru lainnya, dan dijamin gak ribet syarat-syaratnya.

Sampai jumpa! 😀