And The Mountains Echoed: Ada Cerita Dalam Cerita

Sebenarnya banyak faktor kenapa saya hanya memberi 2 bintang untuk buku ini.

Pertama, bisa jadi karena saya orangnya anti mainstream, jadi ketika yang lain menangis membaca buku ini, saya malah mengerutkan dahi. By the way, bukannya saya tidak menangis lho ya, hanya sekadar mata berkaca-kaca saja. Tak sampai sesenggukan atau bagaimana. Itupun hanya di bagian awal (saat si kakak dan adik berpisah) dan di akhir (saat mereka bertemu kembali). Selebihnya, saya merasa bosan.

Kedua, sebenarnya buku ini sudah saya baca sejak lama namun terhenti di tengah jalan karena saya tak merasakan feel-nya. Tapi, sebagai orang yang dinaungi zodiak Capricorn (sebetulnya gak nyambung sih), saya harus menyelesaikannya, suka atau tidak suka. Maka, saya mencoba membaca buku ini kembali dan rasanya berat sekali. Sebelumnya saya banyak membaca cerita misteri, horor, dan thriller sehingga mungkin cerita drama dalam buku ini tidak mengena ke saya.

Ketiga, saya pernah membaca cerita yang jauh lebih mengharukan dan tidak bertele-tele seperti ini, sehingga saat membaca buku ini rasanya kayak datar. Ya, apapun kemungkinannya, bisa dibilang buku ini tak terlalu saya sukai.

Ini adalah buku Khaled Hosseini pertama yang saya baca. Sempat penasaran karena banyak review yang mengatakan buku ini bikin banjir air mata. Karena saya membacanya saat bulan puasa, saya mencoba untuk membacanya malam hari. Saya pikir saya bakal mewek sesenggukan yang segimana hebohnya. Ternyata enggak tuh. Ok, jangan terlalu percaya review orang lain.

Ceritanya sebetulnya sedehana. Seorang anak perempuan bernama Pari yang harus dijual ke orang kaya demi menghidupi keluarganya. Untuk itu, Pari harus berpisah dengan kakaknya, Abdullah. Di bagian ini, tentu saya sedih. Penggambarannya begitu dalam dan merasuk. Saya seakan-akan berada di Afghanistan sana untuk menyaksikan kejadiannya secara langsung. Hal inilah yang menyeret saya untuk membaca lebih banyak lagi.

Makin ke belakang, kok saya tak melihat adanya cerita Pari dan Abdullah seperti yang saya harapkan ya? Saya malah disuguhi cerita-cerita dari POV tokoh-tokoh lain dalam buku ini. Memang sih, cerita mereka berhubungan, ah tapi apa peduli saya, saya hanya ingin penulis perbanyak cerita Abdullah dan Pari (egois, ya). Bagaimana mereka menjalani hidup remaja mereka tanpa saudara terkasih, bagaimana Abdullah bertahan setelah ditinggal Pari, yah hal-hal melankolis seperti itulah. Lagian menurut saya, cerita POV dari tokoh-tokoh lainnya tak seberapa penting kok. Hanya flashback mengenai orang tersebut. Seperti ada cerita dalam cerita. Atau memang begini gaya menulis Khaled Hosseini? Meskipun begitu, saya suka surat Nabi kepada Markos.

Setelah lelah baca kisah hidup para pemeran pendukung yang sebenarnya hanya untuk membuat tebal buku ini, tahu-tahu diceritakan Abdullah sudah berkeluarga, punya anak yang diberi nama Pari. Terus beralih ke POV lain. Yang bla bla bla, menjenuhkan. Lalu tiba-tiba kembali ke masa dewasa Pari. Yah singkatnya mereka lalu bertemu, tetapi pertemuannya ternyata tak cukup membahagiakan. Akhirnya, saya sedih lagi.

Di buku ini diceritakan kehidupan Afghanistan dengan segala kondisi perangnya. Mungkin inilah yang sebetulnya berusaha diceritakan penulis bagi pembaca. Persoalan Pari dan Abdullah sendiri tak terlalu diekspos. Penulis lebih banyak menceritakan kehidupan peran pendukungnya. Ah, AQ GMZZZ!!!

***

And The Mountains Echoed (Dan Gunung-gunung Pun Bergema) by
Khaled Hosseini
Penerbit Qanita
Terbit 2013
512 Halaman
Rating: 2 of 5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s