Dark Places: Kau Tak Bisa Lihat Apa yang Seharusnya Kaulihat

26048647Sudah 6 bulan nggak nulis review! Oh my, God. Malas benar saya. Bukannya saya nggak baca buku atau apa. Memang sih selain banyak baca komik, tahun lalu itu saya punya kesibukan lain yang bikin saya malas baca dan malas review. My bad. Sampai akhirnya ada e-mail dari Divisi Keanggotaan BBI yang mengingatkan bahwa blog saya harus segera di-update. Wow, thanks BBI!

Oke, so, sekarang saya pengin menulis review dengan gaya review baru. Tak ingin menuliskan dengan gamblang tentang identitas buku, tetapi akan menyelipkannya di sepanjang review, sehingga saya harap review saya betulan dibaca dari awal sampai habis! Hahaha!

Buku Dark Places karya Gillian Flynn ini adalah buku pertama yang saya selesaikan di tahun 2016. Bacanya sih sudah sejak 2015, tapi ya karena kesibukan lain itu yang bikin nggak kelar-kelar bacanya. Habis buku ini tebal banget sih, sekitar 472 halaman. Mana hurufnya kecil-kecil pula. Wkwk.

Tokoh utamanya bernama Libby Day dan yah khas Gillian banget, menggunakan multipoint of view. Kita bisa baca beberapa sudut pandang selain dari Libby, ada Ben Day kakak Libby, dan Patty Day mama Libby. Alurnya juga maju mundur, masih nggak berubah dengan gaya menulis Gone Girl kan? Hal ini salah satu yang bikin saya nggak segitunya buat kasih banyak bintang.

Ok, jadi Libby ini adalah satu-satunya survivor saat keluarganya dibantai ketika berumur 7 tahun. Bisa bayangin kan, anak kecil usia segitu selamat dari pembantaian sekeluarga yang ternyata pelakunya adalah kakaknya sendiri, Ben Day. What?

Yap, masuk akal sih soalnya si Ben ini diceritakan adalah seorang penganut sekte sesat pemuja setan. Nah, pembantaian ini diduga merupakan aksi Ben sebagai bentuk kurban untuk setan itu.

Banyak yang prihatin dengan peristiwa ini sehingga sampai berumur 32 tahun Libby hidup “cukup” atas donasi orang-orang. Sampai akhirnya uang donasi itu ternyata sudah mau habis dan bikin Libby kelimpungan mau cari duit ke mana untuk membiayain hidupnya. Lalu suatu hari seorang anggota Klub Bunuh menawarkan kerjasama pada Libby untuk membongkar kasus pembantaian keluarganya dengan iming-iming uang, sebab Klub Bunuh ini yakin Ben Day bukan pembunuh sebenarnya. Wah, tempting banget. Di satu sisi Libby pengin menyelamatkan kakaknya (seklaigus dapat uangnya dong, pastinya) tapi di sisi lain dia agak malas berurusan dengan masa lalunya. Lha kalau ternyata Ben bukan pembunuh, berarti kesaksian dia waktu berumut 7 tahun itu palsu dong? Terus gimana? Libby jadi bingung.

Singkatnya, Libby dibantu temannya untuk mengungkap misteri siapa pelaku sebenarnya pembantaian itu. Dan kutu kupret banget endingnya! Penasaran kenapa saya bilang kutu kupret? Nah, baca deh.

Adegan-adegan dalam buku ini bisa dibilang sadis sih. Saya aja sampai mengernyit menandakan ngeri bacanya sehingga beberapa deskripsi sadis saya skip baca. Hahaha. Tapi percaya deh, kalau ada filmnya, bukan jenis film yang bakal saya tonton. Cukup dibaca aja. Hehehe…

Tapi untuk keseluruhan saya hanya kasih 3 bintang. Kenapa? Ceritanya kepanjangan, menjebak banget deh. Kesel saya jadinya hahaha. Gaya menulisnya juga masih sama dengan Gone Girl, bosan aja rasanya. Tapi untuk ide cerita dan endingnya: kutu kupret!!!