A Pocket Full of Rye: Sebait Naskah Kematian

Published 1st January 2000 by Signet (first published 1953) 220 Pages Genre: Mystery, Thriller, Family Rating: 2 of 5

Seri Miss Marple pertama yang saya baca.

Menceritakan tentang Keluarga Fortescue yang  kaya raya. Cerita tentang keluarga kaya tentu tak sedap tanpa percikan drama keluarga seperti yang sering terlihat di televisi.

Rex Fortescue adalah seorang pengusaha kaya yang mati saat meminum teh racikannya sendiri, seperti sebagaimana kebiasaannya begitu tiba di kantor. Rex tak memiliki penyakit apapun dan tak ada berita ia seorang pasien rumah sakit manapun sehingga polisi sampai pada kesimpulan: Rex keracunan (dan/atau diracun orang). Mulanya, para juru ketik di kantornya menjadi sorotan, namun belakangan diketahui bahwa racun itu bukan berasal dari teh yang diminumnya melainkan sudah sejak ia sarapan di rumah. Kecurigaan Inspektur Neele, detektif yang menangani kasus Fostescue ini, berpindah ke rumah mewah yang berisi istri kedua Rex, anak sulung laki-laki Rex dan istrinya, anak perempuan Rex, dan seorang wanita tua, ipar Rex, yang tinggal terpisah di paviliun belakang rumah.

Awalnya, Inspektur Neele mencurigai Adele, istri kedua Rex yang usianya masih sangat muda. Neele berasumsi Adele pasti menikahi Rex karena mengincar uangnya. Tapi seperti kebanyakan cerita detektif lainnya, satu pembunuhan tentu tak cukup dan terlalu dini untuk pembaca mengetahui pembunuhnya, maka terjadilah kematian selanjutnya yaitu Adele yang juga karena racun. Inspektur Neele kebingungan karena dugaannya salah. Dia juga belum menemukan jawaban dari misteri kenapa ada rye di saku Rex padahal tak ada indikasi yang mengarah ke sana (dan kenapa harus rye?). Apakah itu pesan kematian yang menunjukkan identias pembunuhnya? Selagi mencari tahu, terjadilah pembunuhan ketiga yaitu seorang gadis muda pembantu rumah itu yang ditemukan gantung diri.

Berita kematian gadis muda itu sampai ke telinga  Miss Marple, karena ternyata gadis muda itu adalah mantan anak didik Miss Marple. Penasaran dengan apa yang terjadi, Miss Marple datang ke rumah itu dan setuju untuk membantu Inspektur Neele.

***

Saya tidak terlalu menikmati membacanya karena yang saya baca adalah buku terbitan Signet yang menggunakan Bahasa Inggris yang entah jadul entah sastra lama, pokoknya bikin saya bolak-balik buka tutup kamus. Selain itu ceritanya juga terkesan agak dipaksakan. Saya tak bisa cerita “dipaksakan” bagaimana yang dimaksud di sini karena nanti saya dianggap spoiler.

Lagi-lagi, seperti biasanya, saya gagal menebak pelakunya. Kunci pembunuhan ini adalah lagu Sing a Song of Sixpence yang dalam salah satu baitnya berbunyi “a pocket full of rye”. Cocok dengan kondisi Rex saat mati. Tapi tetap saja Inspektur Neele tak menyadari bagaimana itu bisa menjadi pesan kematian jika bukan atas penjelasan Miss Marple.

Endingnya agak menggantung. Dan pembunuhnya juga gak ngaku. Jadi seakan-akan Miss Marple menyimpan jawabannya untuk kepuasan diri saja. Tak sesuai ekspektasi saya. Konsep pembunuhan mengingatkan saya dengan novel Agatha Christie lain, yaitu And Then There Were None, yang sama-sama berdasarkan lagu.

Saya tak kapok baca Miss Marple. Hanya saja untuk yang satu ini saya tidak terlalu menikmati (atau apakah karena saya terus menerus baca cerita detektif ya sehingga otak saya merasa jenuh dan menolak untuk memahami?). Entahlah.

Proyek Maut


Judul Buku: Proyek Maut
Penulis: Eddie Sindunata
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 11 Mei 2015
Tebal: 344 Halaman
Genre: Crime Thriller
Rating: 2 of 5

Buku ini menceritakan, ah, kalimat pembuka seperti itu tentunya sangat mainstream. Jadi saya memutuskan untuk mencari kalimat pembuka lain. Misalnya begini… Betul Indonesia gersang dengan bacaan-bacaan. bergenre thriller (oke, ini kayaknya kalimat yang cool). Namun nampaknya Proyek Maut (PM) belum cukup dapat menghapus kegersangan itu. Saya berpendapat demikian karena saya merasakan kelelahan dan kejengkelan yang mendalam saat membaca buku ini. Terlepas dari yang saya pahami, menulis sebuah buku memang tak mudah.

Hal utama yang disorot adalah adanya permainan kotor para konglomerat-konglomerat di negeri ini berkolaborasi dengan pejabat dan pihak kepolisian. Proyek Mega Subway yang merupakan proyek rahasia akhirnya mulai diketahui Hardi, seorang komisaris polisi, sejak terjadinya kasus pembunuhan seorang konglomerat. Selama menyelidiki kasus pembunuhan tersebut, kasus-kasus kotor lain mulai terbongkar. Sudah, itu saja sinopsisnya. Saya lebih tertarik membahas cara penulis bercerita ketimbang bahas jalan ceritanya (bahkan saya tidak terlalu peduli dengan endingnya).

Pertama, sejak awal membaca buku ini, saya gatal dengan penggunaan bahasa yang begitu kaku. Bahkan seorang tukang bakso dan tukang warteg pun dibikin dialog dengan bahasa yang kaku. Okelah, mungkin penulis bermaksud menghasilkan suatu karya yang baku sesuai kaidah EYD dan sebagainya tapi saya sebagai pembaca jadi merasa seperti robot. Tak nyaman dan natural rasanya. Kayak naik ojek mendaki Gunung Pangrango. Gajruk-gajruk gitu. Ya, saya gak pernah naik ojek ke gunung juga sih.

Kedua, karakterisasi tokoh-tokoh di dalamnya. Saya tak mau bahas soal teknis menciptakan karakter atau apa, hanya saja pandangan saya sebagai pembaca awam, tokoh-tokoh dalam buku ini tidak membekas dengan baik di ingatan saya. Sejatinya (ya, ini mengadopsi kata-kata yang suka diucapkan Feni Rose) saya tak peduli apakah nama tokoh itu begitu populer seperti Bianca, Reinald, Alexandra, atau Voldemort. Jadi sah-sah saja kalau penulis ingin menamai tokoh-tokohnya dengan nama yang “endonesa biyanget” seperti Hardi, Santi, Eko, dsb tapi please buatlah karakter yang kuat bagi setiap tokoh sehingga pembaca bisa dengan mudah memvisualisasikannya dalam imaji mereka. Sampai akhir cerita, saya tak tahu apakah Hardi ini gendut kayak pak polisi yang suka di lampu merah itu atau gagah kayak robocop. Saya juga tak tahu apakah Santi ini bentuk badannya kutilang atau kayak Kim Kardashian.

Ketiga, membaca dialog dalam buku ini seperti melihat pertandingan bulutangkis. Hanya ada tektok dan tanya jawab ibarat saya lagi isi kuesioner psikologi. “Apakah Anda merokok?” Tidak. “Apakah Anda punya pacar?” Kepo ih. “Apakah pacar Anda manusia?” Vampir! Yah, sebagai pembaca saya tentu mengharapkan percakapan yang mengalir dan terkesan alami. Jadi agak gak bersemangat melanjutkan membacanya karena penulisan dialog yang begitu kaku.

Keempat, saya kayaknya tidak satu frekuensi dengan penulis soal logika. Menurut saya, seorang atasan polisi agak aneh kalau harus ber-aku kamu dengan bawahannya. Lalu juga saat adegan polisi menyamar dan mendatangi sebuah warteg, padahal kan sudah dibilang “saya polisi” lah kok masih saja dipanggil “Mas” sama tukang warteg. Entah ya, mungkin hasil observasi penulis demikian adanya tapi kalau saya sih otomatis akan memanggil polisi manapun dengan sebutan “Pak”. Bukan Mas Polisi. Ya kecuali suami saya nanti seorang polisi. Etapi saya gak mau punya suami seorang polisi. Iya, ok, gak curhat lagi deh habis ini.

Kelima, cover bukunya relatif mirip dengan cover buku thriller punya penerbit sebelah. Yah, 5 aja deh. Karena Allah kan suka yang ganjil-ganjil dan balonku ada 5 tapi hatiku cuma ada 1. Monggo dibaca sendiri supaya bisa menilai juga. Juga 2 bintang untuk ide dan usahanya menulis buku bergenre thriller.

Semoga genre ini makin berkembang di Indonesia ya. Kalau pembaca lain setelah membaca buku ini mungkin akan berhadapan dengan pertanyaan “Kira-kira betulan sekotor ini atau enggak ya?”, saya justru sejak awal memilih untuk tak peduli. Konspirasi di dunia ini terlalu banyak dan rumit dan saya tak ingin sepanjang hidup saya habiskan buat bernegative thinking dan menerka-nerka sekalipun memang. ada beberapa bukti.

Sepuluh Anak Negro

Judul Asli: And There Were None Judul Terjemahan: Sepuluh Anak Negro Penulis: Agatha Christie Tahun Terbit: 2004 Tebal: 264 Halaman Genre: Misteri, Teka-teki Rating: 5 of 5

Review pertama di tahun 2015. Yeay! -btw, udah kayak ABG kekinian belom? :p-

Buku ini sudah cukup lama saya dengar gaungnya -halah, gaung opo- di dunia flora dan fauna, eh maksudnya dunia perbukuan. Sejak kuliah seorang teman pernah merekomendasikan ke saya, tapi saat itu saya tolak mentah-mentah lantaran saya dulu belum terlalu suka baca terjemahan, sekalipun ini Agatha Christie lho. Entahlah, mungkin lagi malas mikir kali ya. Akhirnya, setelah masuk kerja, mulai ikut komunitas buku dan saya baru ngeh bahwa ternyata buku ini fenomenal syekali ulala cetarrr.

Menyesal? Ya, dulu sih, sempat. Tapi begitu mau baca, rupanya buku ini sudah termasuk buku langka karena merupakan salah satu karya masterpiece Agatha Christie. Saya jadi kesulitan mendapatkannya sampai-sampai saya pasrah. Eh, masih mau lanjut baca review saya atau mau baca curhatan saya dulu? -eaaa-

Curhat dulu deh dikit lagi. -maksa-

Terus beberapa waktu lalu saya juga baru nonton drama korea yang menyinggung-nyinggung buku ini. Jadilah saya kayak orang yang bentol dan gatalnya sudah hilang tapi lalu gak sengaja digaruk -nggg, kalau belum pernah ngerasain, gak usah dipaksa bayangin-.

Semakin makin makin dan makin timbullah rasa penasaran saya. Terus sekelebat lihat buku ini ada di pasar buku di Blok M Square. Tapi sayangnya saya lagi bokek. Argh… okelah, pikir saya, jodoh gak ke mana. Saya sudah sempat pasrah saat itu. Ndilalahnya, pas lagi jalan-jalan ke tret e-book di Kaskus, nemu buku ini dalam bahasa Indonesia. Wiii… jodoh betulan! >.<

REVIEW BETULAN INI. SUNGGUH.

Ada sepuluh orang yang diundang oleh seseorang yang disebut-sebut Mr atau Ms atau Mrs Owen, entahlah gimana bentuk kelaminnya, ke sebuah pulau yang bernama Pulau Negro. Pulau Negro ini terkenal, tapi ya jangan cari di peta juga sih. Makanya, begitu ada undangan untuk datang ke Pulau Negro ini, ke sepuluh orang tersebut langsung tertarik. Apalagi ada imbalan yang cukup besar. Banyak duitlah si Owen ini. Anehnya, gak ada satupun yang pernah bertemu Owen ini.

Pada saat makan malam, gramafon memutarkan rekaman aneh berisi daftar kejahatan masing-masing tamu, termasuk sepasang pembantu suami istri yang melayani para tamu undangan. Kejahatan-kejahatan itu berupa pembunuhan-pembunuhan yang tidak terjamah hukum negara dan dibiarkan menguap begitu saja. Nah, nampaknya si Owen ini bermaksud membuat penghakimannya sendiri. Sadis memang kedengarannya. Padahal Owen sendiri tidak punya kepentingan apa-apa terhadap orang-orang yang dibunuhnya ini. Psiko? Ember!

Setelah dibacakannya daftar kejahatan itu, yang pertama mati adalah istri pembantu yang juga seorang pembantu. Saat itu, Mrs. Roger namanya, shock mendengar suara yang diputar dari gramafon, akhirnya dia disuruh beristirahat oleh Dr. Armstrong, yang memang seorang dokter. Dr. Armstrong memberinya obat penenang, tak berapa lama Mrs Roger mati. Tertuduhlah Dr. Armstrong. Namun belum selesai tuduhan itu, rupanya kejadian kematian menimpa orang lain lagi. Yang lainnya jadi bingung, jika memang Dr. Armstrong yang membunuh, bagaimana mungkin dia bisa membunuh sedangkan sejak tadi mereka selalu bersama-sama?

Hm, intinya satu persatu dari mereka akhirnya mati. Polisi bahkan tidak bisa mengungkapkan kasus pembunuhan ini. Semua kuncinya ada di orang yang bernama Owen. Sialnya, rupanya Owen itu sendiri ada di antara mereka.

Kalau sering baca buku detektif atau misteri pastinya gak akan kaget dengan modus yang dilakukan si pembunuh bernama Owen ini. Saya sejak awal menduga Owen ada di antara mereka dan saya tahu saya pasti dikecohkan oleh urutan kematian. Uniknya, ada satu sajak yang menjadi kode pembunuhan mereka. Begini bunyinya:

Sepuluh anak Negro makan malam;
Seorang tersedak, tinggal sembilan.

Sembilan anak Negro bergadang jauh malam;
Seorang ketiduran, tinggal delapan.

Delapan anak Negro berkeliling Devon;
Seorang tak mau pulang, tinggal tujuh.

Tujuh anak Negro mengapak kayu;
Seorang terkapak, tinggal enam.

Enam anak Negro bermain sarang lebah;
Seorang tersengat, tinggal lima.

Lima anak Negro ke pengadilan;
Seorang ke kedutaan, tinggal empat.

Empat anak Negro pergi ke laut;
Seorang dimakan ikan herring merah, tinggal tiga.

Tiga anak Negro pergi ke kebun binatang;
Seorang diterkam beruang, tinggal dua.

Dua anak Negro duduk berjemur;
Seorang hangus, tinggal satu.

Seorang anak Negro yang sendirian;
Menggantung diri, habislah sudah.

Pikir saya, dari dua pembunuhan yang terjadi, mestinya para tawanan yang tersisa bersiap dong. Nah, di buku ini kurang diceritakan seperti itu. Hanya sekali saja saat salah seorang dari mereka mati disengat lebah beracun. Sebelum-sebelumnya tidak ada penjelasan. Saya jadi jengkel sendiri dengan tokoh-tokohnya. Namun setelah saya baca lagi syair anak negro tersebut, rupanya bisa jadi tidak ditulis Agatha karena kasusnya tidak sama persis. Tidak ada yang ke kebun binatang. Tidak ada yang berjemur, dsb. Sampai sini, oke. Breath-taking banget pokoknya.

Sepanjang baca, kita gak akan dikasih tahu secara keseluruhan mereka mati dengan cara apa dan bagaimana bisa. Terutama yang soal racun sianida itu. Atau sayanya saja yang missed ya? BUt, overall cukup bisa dinikmati walau ada bolong sedikit.

Meskipun gak ada pemecahan kasusnya, kita gak akan dibikin bingung kok dengan pembunuh sebenarnya. Kenapa? Ya baca saja pokoknya. Saya kasih 5 dari 5 bintang untuk buku ini.

Badut Oyen

Badut Oyen, Gramedia Writing Project Penulis: Marisa Jaya, Dwi Ratih Ramadhany, Rizki Novianti, 2014, 224 hlm. Rating: 4/5

Badut Oyen, Gramedia Writing Project
Penulis: Marisa Jaya, Dwi Ratih Ramadhany, Rizki Novianti, 2014, 224 hlm.
Rating: 4/5

Pria yang mati gantung diri di rumahnya dengan mengenakan kostum badut itu bernama Oyen. Warga sekitar tidak menyangka Oyen akan mengakhiri hidupnya dengan cara yang demikian tragisnya. Padahal selama ini Oyen dikenal selalu baik terhadap siapapun (terutama anak-anak) sekalipun banyak yang memperlakukan Oyen dengan tidak baik.

Sehari-hari Oyen bekerja sebagai badut panggilan. Pekerjaannya itu selalu ia lakukan dengan ikhlas walau kadang ada saja pemesan yang menunggak bayaran buat Oyen. Dan Oyen dengan segala kerendahanhatinya tentu tidak tega menagih utang kendati dia sendiri sangat butuh uang untuk membiayai utang-utangnya yang semakin lama semakin membengkak lantaran berurusan dengan rentenir bernama Syamsul.

Setiap harinya, Oyen dibantu Suparni. Perempuan yang satu ini dulu adalah teman sekampus Oyen. Selama Oyen bekerja, ialah yang membantu Oyen menjaga toko perlengkapan badutnya. Suparni sudah seperti saudara bagi Oyen karena setiap saat hidupnya selalu diurus Suparni. Mulai dari bebenah rumah hingga menyiapkan makanan buat Oyen. Suparni sebenarnya sudah lama memiliki rasa pada Oyen. Namun Oyen tampak tidak menyadarinya.

Maka, wajarlah kalau di hari tewasnya Oyen, Suparni adalah orang yang paling terpukul dan syok berat. Ia sampai pulang ke kampung halamannya untuk menenangkan diri. Sampai akhirnya desa tempat Oyen geger karena kematian beberapa penduduknya yang tidak wajar dan semua bukti-bukti mengarah pada Oyen yang sudah mati seminggu lalu.

Hantu Oyen menuntut balas. Satu persatu penduduk desa mati. Pak RT harus segera cari cara supaya teror ini berhenti. Benarkah hantu Oyen pelakunya? Pak RT ragu.

Sampai di tengah cerita saya masih berpikir bahwa ini novel horor (hantu). Ternyata mendekati akhir cerita, mulai terkuak satu per satu kebenaran yang sukses mengecoh pembaca dan akhirnya saya bisa bilang bahwa ini novel thriller.

Novel ini merupakan salah satu novel hasil Gramedia Writing Project yang ditulis oleh 3 orang. Editor novel ini adalah Anastasia Aemilia yang menulis Katarsis, salah satu novel thriller yang sangat saya suka. Walaupun tidak segelap Katarsis, novel ini recommended buat pembaca horor dan thriller. Saya, meskipun tidak terlalu, sukses merinding membaca ceritanya. Sepertinya hantu Oyen benar-benar ada di sekitar saya! Hiii…

Soal penuturan, saya tidak bisa komentar banyak. Yang jelas tidak ada yang terlalu istimewa dalam gaya penulisan. Kalimat-kalimatnya sangat ringan dan mudah dipahami. Keseruannya adalah menebak ada apa sebenarnya di balik kematian Oyen dan teror yang menghantui desa.

Meskipun ditulis oleh 3 penulis berbeda, saya tidak merasa ada gaya bercerita yang berbeda. Tapi justru menurut saya ini bagus mengingat akan aneh sekali bila tiba-tiba kita membaca satu cerita dengan gaya bercerita yang beda. Perpindahannya akan terasa sangat mengganggu pastinya.

Bicara soal fisik buku ini, desain sampulnya adalah salah satu faktor yang membuat saya akhirnya menyukai buku ini. Sebuah siluet badut yang memegang martil di tangan kanannya. Martil itu sepertinya meneteskan darah. Tapi sayang sekali di dalam buku ini tidak ditemukan satu pun adegan dengan martil kalau saya tidak salah ingat. Jadi, kenapa harus ada martil di kaver depan?

Buku ini juga memiliki ketebalan yang cukup dengan jumlah 224 halaman yang sanggup mengikat Anda untuk tetap diam di tempat menuntaskan buku ini sampai selesai sambil sibuk menerka-nerka misteri di baliknya.

Jadi, menurut Anda, kenapa Oyen gantung diri?

Konspirasi Kemakmuran???

Rencana Besar

Rencana Besar

Rencana Besar by Tsugaeda
Paperback, 384 pages
Published 2013 by Penerbit Bentang (PT Bentang Pustaka)
ISBN139786027888654. Rating 5 of 5

Sebelumnya saya ingin sedikit bercerita tentang proses mendapatkan buku ini. Buku ini saya dapat dari giveaway yang diadakan penulis, Tsugaeda, di salah satu thread di Goodreads. Saya sendiri padahal, jujur, tidak aktif dan rajin mengunjungi Group GRI. Waktu itu, seorang teman, Mas Tezar, yang terlihat di newsfeed saya tercatat habis mengomentari sebuah thread giveaway. Maka, mampirlah saya ke sana. Ternyata syaratnya cukup mudah. Hanya memposting di thread tersebut bahwa saya menginginkan buku itu dan selanjutnya oenulis yang akan menilai. Hmmm, saya tidak terlalu berharap, saat itu. Jadi yah nothing to lose saja. Buku ini sebelumnya sudah saya timang-timang ketika tempo hari saya ke toko buku.

Melihat sinopsis di belakangnya dan judulnya yang terkesan misterius membuat saya tertarik sehingga langsung memasukkan buku ini dalam wishlist saya. Sebelumnya, saat saya membaca nama penulisnya, saya kira ini novel terjemahan dari Jepang. Ternyata, lho kok? Nama tokoh-tokohnya Indonesia sekali? Hehehehe… Kemudian ndilalah, Tuhan mengabulkan doa saya, sehingga saya bisa membaca buku ini dan kemudian mereviewnya di sini. Entah apa yang membawa saya sebagai pemenang. Faktor keberuntungan, mungkin? Alhamdulillah dan terima kasih, Mas Tsugaeda ^.^

Anyway, saya rasa bukan saya saja yang penasaran dengan nama si penulis yang kejepang-jepangan. Betul? :-P

Oke. Cukup ceritanya. Sekarang saya akan mengulas buku ini secara keseluruhan berdasarkan sudut pandang saya.

Sinopsis

Kalau Anda bertanya kepada saya apakah di Negara kita ini ada profesi sebagai detektif, saya akan jawab tidak. Kenapa? Hmmm, saya pernah menanyakan hal ini kepada seorang yang saya yakini dia pintar, dan dia bilang begitu. Jadi pada dasarnya saya hanya meng-copy jawaban dia saja. Hahahaha. Eh, tapi benar ‘kan tidak ada profesi detektif di Indonesia? *make sure*

Seperti tokoh utama dalam buku ini, namanya Makarim Ghanim. Makarim bukan seorang detektif, tapi pengalamannya dalam memberi masukan bagi perusahaan-perusahaan besar dan pemerintah membuatnya cukup dikenal. Salah satunya, Agung Sudiatma. Agung adalah seorang wakil direktur sebuah bank yang bernama Universal Bank of Indonesia (UBI), ia meminta bantuan kepada Makarim untuk menyelesaikan kasus lenyapnya uang sebesar 17 milyar dari laporan keuangan UBI secara misterius.

Tersebutlah tiga nama karyawan UBI Cabang Surabaya.

Rifad Akbar.

Amanda Suseno

Dan, Reza Ramaditya.

Continue reading

Katarsis

Speechless!
Seandainya 5 bintang sudah cukup untuk mendeskripsikan bagaimana kerennya buku ini. Sayang saja, sepertinya kalian masih akan menuntutku untuk bercerita apa kerennya buku ini.
17786536Judul Buku: Katarsis
Penulis: Anastasia Aemilia
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2013
Tebal: 264 halaman
Genre: Psychology Thriller
Rate: 5 of 5

Aduh saya sebenarnya bingung mau mulai mereview dari mana. Buku ini bagusnya gila-gilaan! *tuhkan belum apa-apa, udah lebai* -_-“ Tapi aseli saya bingung mau nulis apa.

Buku ini perfect di mata saya. Mulai dari desain kaver sampai ke jeroan-jeroannya. Percaya atau nggak, awalnya saya sama sekali nggak tertarik buat baca buku ini. Bahkan waktu salah seorang teman mengadakan giveaway buku ini di blognya, saya seratus persen nggak ada minat buat ikutan. Karena apa coba? Karena saya pikir “Katarsis” itu semacam istilah kimia. Tapi dodol bin dudul, yang istilah kimia itu adalah Katalis bukan Katarsis. Hahahaha… *headbang*

Kemudian karena penasaran dengan arti kata Katarsis, layaknya manusia modern masa kini *sedap*, saya googling. Inilah yang saya temukan:
Katarsis: merujuk pada upaya pembersihan atau penyucian diri, pembaharuan rohani dan pelepasan diri dari ketegangan. – wikipedia

Saatnya untuk bilang WOW!

Continue reading

Ending yang Tidak Terduga

Judul Buku : Pintu Terlarang
Penulis : Sekar Ayu Asmara
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 264 Halaman
Tahun Terbit : 2009 (sebelumnya pernah diterbitkan oleh PT Andal Krida Nusantara [AKOER] tahun 2004)
Harga : Rp10,000 (Bazaar Buku Gramedia)

Suatu hari aku pernah ngetweet “paling sulit mereview buku yang kelewat bagus dan buku yang ancur ketulungan”. Nah, menurut aku, Pintu Terlarang masuk ke kategori yang pertama. Kelewat bagus. Entah apa karena aku begitu menyukai genre psychology thriller sehingga review cenderung tidak objektif.

Jika boleh saya katakan, buku ini terbagi dalam 3 (tiga) bagian. Di bagian awal buku, pembaca diajak untuk membaca kisah tentang seorang anak kecil berumur 9 tahun korban child abuse kedua orangtuanya. Karena memuntahkan makanan, si anak dihukum orangtuanya. Hukuman yang diberikan juga tidak main-main. Ibunya menyabet muka si anak dengan serbet dan mulut si anak dijejali kecoak! Si anak dipaksa menelan serangga kotor itu! Yaiks!

Di bab berikutnya dituturkan kisah tentang Gambir dan Talyda, sepasang suami istri yang saling mencintai. Kedua cinta mereka satu sama lain begitu besar. Gambir adalah seorang pematung terkenal. Sedang Talyda seorang direktur sebuah perusahaan. Di balik kesuksesan Gambir, Talyda ternyata memegang peranan besar. Perempuan itu menyimpan misteri tersendiri. Perempuan yang selalu mengenakan kalung dengan kunci sebagai liontinnya. Ya, kunci sebuah pintu terlarang.

Bagian ketiga memaparkan tentang kehidupan Ranti, seorang jurnalis sebuah majalah metropolitan, yang sedang melakukan penelitian atas artikel yang akan dimuat. Di sini ia bertemu dengan sosok “dia” yang selama 18 tahun mendekam di sel isolasi sebuah rumah sakit jiwa.

Selintas memang terkesan gak ada hubungan di antara ketiga bagian di atas. Eits, tapi sebenernya ada banget! Dan pembaca pasti akan terbingung-bingung selama membuka halaman demi halaman. Sulit untuk menebak apa yang sebenarnya terjadi dengan Gambir? Apa rahasia yang disembunyikan Talyda di balik pintu terlarang? Siapa sebenernya sosok “dia” yang ditemui Ranti dan apa hubungannya dengan anak kecil yang mengalami child abuse itu? Semua menjadi misteri.

Sampai aku akhirnya di bagian akhir cerita yang bahkan sampai tersisa dua halaman pun tetep belum ketebak misterinya! Benar-benar menggemaskan! Dan begitu segala rahasia terkuak, aku merinding. Satu kata untuk novel ini : gila!

Gila, karena novel ini bikin mikir, dan itu seru. dibanding novel yang datar-datar saja.

Gila karena nama tokohnya yang sangat njawi dan aku suka itu.

Gila karena di dalam novel ini dideskripsikan adegan violence dan seksual yang lumayan bikin mual.

Melihat kavernya sudah bisa terasa kesan mistis. Sayang, mungkin orang akan ilfil duluan enggan mengambil buku ini dari deretan rak di toko buku karena desainnya yang agak njadul. Oh, iya, gak perlu khawatir soal huruf yang rapat-rapat yang cenderung akan membuat pembaca bosan, karena buku ini ditulis dengan jenis dan size huruf yang friendly. Dijamin gak cepat bikin mata lelah.

Dengan alur maju mundur yang ditata apik dan tidak biasa membuat novel ini begitu menarik untuk dibaca. Recommended buat Anda pecinta thriller dan misteri. Penulis dengan lihai memainkan kata-kata sehingga sukses bikin saya penasaran sampai akhir cerita, menebak-nebak akan seperti apa endingnya yang ternyata WOW!

p.s : Ini termasuk kategori NOVEL DEWASA. Novel ini juga pernah difilmkan. Walaupun aku sendiri belum pernah nonton, tapi pas baca synopsis di Wikipedia, bisa ketahuan kalau film dan bukunya ini beda banget, meski secara garis besar jalan ceritanyanya sama. Nama tempat berbeda dan ada pembelokan cerita yang lumayan jauh berbeda.

Cetak Ulang Edisi Kaver Film