Istriku Seribu: Karena Poligami Dua Istri Terlalu Mainstream

image

Saya tertarik membeli buku ini karena memang niat mau mencari buku-bukunya Cak Nun. Seorang teman semangat sekali merekomendasikan agar saya baca buku-buku beliau.  Kebetulan buku ini tipis dan seukuran dengan kamus poket. Sebagai permulaan sekaligus berkenalan dengan tulisan Cak Nun, oke, aku comot.

Eh tapi selain itu, tulisan di sampul belakangnya juga bikin hati saya dag dig dug.

image

Jadi makin penasaran pengin baca, kan?

Ternyata isinya bagus lho. Saya sih suka. Kalimat-kalimatnya bernada satir yang lumayan nonjok. Cerdas dan berisi. Pembaca senantiasa diingatkan bahwa hidup ini hanya sementara dan kepada Tuhanlah kita akan kembali. Maka, tak usahlah terlalu ngoyo mengurusi hal-hal duniawi tok-tok, yang itu-itu saja.

Jangan salah sangka. Buku ini bukanlah buku tentang poligami, walaupun akan ada bahasannya juga sih. Namun, istri seribu yang dimaksud dalam buku ini adalah perumpamaan yang digunakan Cak Nun untuk menyebut hal-hal duniawi yang membuat kita konsumtif. Kita seperti seorang suami yang harus memenuhi kebutuhan para istri. Istri-istri kita itu antara lain mobil, rumah, barang-barang mewah, furniture mahal, dan sebagainya. Kita terlalu sibuk membahagiakan istri-istri kita sampai kita lupa dengan Sang Khalik.

Sebuah bacaan yang nampol dan cucok buat pembaca siraman rohani. *halah* wkwkwk

Dark Places: Kau Tak Bisa Lihat Apa yang Seharusnya Kaulihat

26048647Sudah 6 bulan nggak nulis review! Oh my, God. Malas benar saya. Bukannya saya nggak baca buku atau apa. Memang sih selain banyak baca komik, tahun lalu itu saya punya kesibukan lain yang bikin saya malas baca dan malas review. My bad. Sampai akhirnya ada e-mail dari Divisi Keanggotaan BBI yang mengingatkan bahwa blog saya harus segera di-update. Wow, thanks BBI!

Oke, so, sekarang saya pengin menulis review dengan gaya review baru. Tak ingin menuliskan dengan gamblang tentang identitas buku, tetapi akan menyelipkannya di sepanjang review, sehingga saya harap review saya betulan dibaca dari awal sampai habis! Hahaha!

Buku Dark Places karya Gillian Flynn ini adalah buku pertama yang saya selesaikan di tahun 2016. Bacanya sih sudah sejak 2015, tapi ya karena kesibukan lain itu yang bikin nggak kelar-kelar bacanya. Habis buku ini tebal banget sih, sekitar 472 halaman. Mana hurufnya kecil-kecil pula. Wkwk.

Tokoh utamanya bernama Libby Day dan yah khas Gillian banget, menggunakan multipoint of view. Kita bisa baca beberapa sudut pandang selain dari Libby, ada Ben Day kakak Libby, dan Patty Day mama Libby. Alurnya juga maju mundur, masih nggak berubah dengan gaya menulis Gone Girl kan? Hal ini salah satu yang bikin saya nggak segitunya buat kasih banyak bintang.

Ok, jadi Libby ini adalah satu-satunya survivor saat keluarganya dibantai ketika berumur 7 tahun. Bisa bayangin kan, anak kecil usia segitu selamat dari pembantaian sekeluarga yang ternyata pelakunya adalah kakaknya sendiri, Ben Day. What?

Yap, masuk akal sih soalnya si Ben ini diceritakan adalah seorang penganut sekte sesat pemuja setan. Nah, pembantaian ini diduga merupakan aksi Ben sebagai bentuk kurban untuk setan itu.

Banyak yang prihatin dengan peristiwa ini sehingga sampai berumur 32 tahun Libby hidup “cukup” atas donasi orang-orang. Sampai akhirnya uang donasi itu ternyata sudah mau habis dan bikin Libby kelimpungan mau cari duit ke mana untuk membiayain hidupnya. Lalu suatu hari seorang anggota Klub Bunuh menawarkan kerjasama pada Libby untuk membongkar kasus pembantaian keluarganya dengan iming-iming uang, sebab Klub Bunuh ini yakin Ben Day bukan pembunuh sebenarnya. Wah, tempting banget. Di satu sisi Libby pengin menyelamatkan kakaknya (seklaigus dapat uangnya dong, pastinya) tapi di sisi lain dia agak malas berurusan dengan masa lalunya. Lha kalau ternyata Ben bukan pembunuh, berarti kesaksian dia waktu berumut 7 tahun itu palsu dong? Terus gimana? Libby jadi bingung.

Singkatnya, Libby dibantu temannya untuk mengungkap misteri siapa pelaku sebenarnya pembantaian itu. Dan kutu kupret banget endingnya! Penasaran kenapa saya bilang kutu kupret? Nah, baca deh.

Adegan-adegan dalam buku ini bisa dibilang sadis sih. Saya aja sampai mengernyit menandakan ngeri bacanya sehingga beberapa deskripsi sadis saya skip baca. Hahaha. Tapi percaya deh, kalau ada filmnya, bukan jenis film yang bakal saya tonton. Cukup dibaca aja. Hehehe…

Tapi untuk keseluruhan saya hanya kasih 3 bintang. Kenapa? Ceritanya kepanjangan, menjebak banget deh. Kesel saya jadinya hahaha. Gaya menulisnya juga masih sama dengan Gone Girl, bosan aja rasanya. Tapi untuk ide cerita dan endingnya: kutu kupret!!!

Misteri Patung Garam: Menilik Kembali Kisah Idis

Misteri Patung Garam karya Ruwi Meita. Penerbit Gagas Media. Tebal 284 Halaman. Terbit: Februari 2015. Genre: Psycho-thriller. Rating: 3 of 5.

Seorang pianis ditemukan mati dengan bibir terjahit, bola matanya dicongkel, dan organ-organ tubuhnya dikeluarkan secara paksa. Mayat tersebut didandani seakan-akan sedang bermain piano dan sekujur badannya dilumuri adonan garam.

Kiri Lamiri diminta menyelesaikan kasus tersebut, setelah keberhasilannya mengusut kasus pembunuhan segitiga biru. Tak mudah bagi Kiri karena pembunuh melakukan aksinya dengan sangat rapi. Selain itu dia juga sedang punya masalah sendiri yaitu dituntut nikah sama pacarnya. Ha! Kasian..

Selagi mencari info-info, pembunuh tersebut rupanya sudah berhasil mendapatkan korban lagi. Korban-korban terus berjatuhan dan pelaku tahu Kiri mengejarnya. Sebagai gantinya, pelaku mengincar seorang fotografer yang sebentar lagi akan menggelar pameran tunggalnya. Fotografer itu pacar Kiri.

***
Bagus, tapi kurang greget.

Ide ceritanya saya suka sebab seingat saya belum ada penulis yang mengangkat tema garam sebagai motif pembunuhan (kalaupun ada, saya belum baca). Terinpirasi dari kisah Idis, istri Lot (atau Luth) yang berubah jadi patung garam karena mengabaikan perintah Tuhan. Selain itu juga kentara sekali riset yang dilakukan penulis benar-benar mendalam. Saya bahkan baru tahu kalau kata “salary” berasal dari kata “salt” sebab pada jaman dulu orang digaji menggunakan garam. Saya suka!

Hanya saja saya agak terganggu dengan penggunaan kalimat baku dalam dialog. Saya rasa ini masalah utama saya saat membaca sebuah buku. Seperti mengunyah nasi yang ada kerikilnya. Tak ada yang salah dengan penggunaan kalimat baku, memang, namun jika digunakan untuk sebuah dialog yang diucapkan oleh seorang anak stasiun yang hidup sebagai pencopet, rasanya agak mengganjal.

Lalu, saya juga kurang suka dengan pacar si tokoh utama. Kok kayaknya manja sekali hingga saya pengin mites dia saking gemasnya. Juga apa maksudnya ungkapan “kampret rebus” yang bisa dibilang ciri khas Inspektur Saut? Bikin saya kehabisan kata-kata buat komentar. Oh ya di bagian Kenes dan Ireng, jujur, saya agak skimming karena “cerita sampingan” ini gak terlalu menarik perhatian saya.
Pembunuhnya cukup mudah ditebak. Awalnya saya sempat bertanya-tanya mungkinkah ini pembunuhnya? Kalau ya, kok seakan-akan saat diinterogasi polisi, dia malah mengeluarkan penyataan yang menciptakan kecurigaan bagi dirinya? Ah, bukan.. bukan.. Pasti bukan ini pembunuhnya. Lalu, saya baca lagi dan lagi berharap bertemu tokoh baru yang bisa saya curigai. Ternyata tak ada. Ya sudah, fix lah tebakan saya. Meskipun begitu, penulis tetap menyuguhkan twist di akhir cerita (untuk yang satu ini, tak mudah ditebak).

Untuk ukuran thriller dengan kisah pencongkelan bola mata dan mumifikasi, novel ini termasuk kurang dark. Tulisannya sebatas deskripsi kondisi setelah ditemukan mati dan belum bisa bikin saya bergidik ngeri. Saya berharap bertemu bab yang menceritakan proses pembunuhan dari segi pandang pelaku alias pria lavendel. Misalnya, adegan saat ia menyayat-nyayat tubuh korbannya, kenikmatan sekaligus kesedihan yang dirasakan, dan sebagainya.

Pokoknya novel ini kurang tebal. Cerita flashback kehidupan pria lavendel di masa kecil yang berdampak pada dirinya sekarang mestinya diceritakan juga. Pasti bikin tambah menarik. Sebab agak aneh kan, di ending tahu-tahu Inspektur Kiri bisa menebak pelakunya tapi pembaca gak dibimbing berpikiran begitu. Ya, oke, ada scene saat Kiri ke RS Jiwa dan ke kampung pengasuh kecilnya, tapi tetap saja itu kurang mendukung menurut saya.

Overall, buku ini layak dibaca. Dengan riset dan eksekusi yang lebih mantap lagi, saya rasa penulis bisa menghasilkan karya baru di masa mendatang yang jauh lebih ciamik dari ini.

Winner Announcement

image

Halo!

Pagi ini saya sudah memegang 15 nama peserta giveaway Blog Tour Rahasia Lantai Keempat yang sudah siap diundi. Dari 15 peserta ini sudah saya cek apakah mengikuti rules atau tidak. Sayang sekali ada 2 blogger yaitu @ariansyahABO dan @kimzujonghee yang tidak mematuhi rules yaitu tidak mengikuti akun @rettaniea sehingga kedua nama tersebut harus didiskualifikasi.

Maka, pengundian saya lanjutkan dengan 13 peserta saja ya. Pemenang akan dimention oleh saya dan wajib merespons dalam 1×24 jam. Jika tidak, maka dengan berat hati saya akan memilih pemenang baru.

Berikut blogger-blogger yang berhak mengikuti undian:
1. Bintang
2. Lois
3. Jiah
4. Megha
5. Murniaya
6. Dhani
7. Jmnim
8. Miyung
9. Irma
10. Agnes
11. Thia
12. Ananda
13. Tasya

And the winner goes to….. (drum roll)

image

Yeaiy! Selamat buat Dhani dengan akun Twitter @DhaniRamadhani. Tunggu mention dari saya ya. Dhani berhak mendapatkan satu eksemplar buku Rahasia Lantai Keempat bertanda tangan dan Kaos Limited Edition persembahan Rettaniea dan Bukune.

Tak lupa saya ucapkan terima kasih buat teman-teman blogger yang sudah begitu antusias mengikuti blog tour ini. Buat yang belum menang, eits tenang, masih ada destinasi tour terakhir (Puncak Blog Tour) di sini.

Sampai jumpa! 😀

[Blog Tour] Rahasia Lantai Keempat by Rettania: Jangan Menengok ke Belakang!!!

Waktu saya SD, ada cerita hantu mister gepeng yang katanya mati karena kegencet pintu kamar mandi. Lalu saat SMP ada gosip hantu di toilet siswi yang kerap meminjam sisir. Pas SMA, ada hantu perempuan yang katanya bunuh diri dengan cara terjun dari lantai 3 dan sekarang arwahnya masih gentayangan menghuni toilet perempuan lantai dua. Kisah-kisah urban legend, entah sadar atau tidak, selalu ada di sekitar kita. Kisah itu tak diketahui kebenarannya jika tak menyaksikannya sendiri. Lama kelamaan kisah itu terkesan makin seram saja karena kegemaran orang-orang yang suka melebih-lebihkan cerita guna menambah intensitas kengerian. Well, benar atau tidak, pastinya kisah tersebut menarik untuk didengarkan. Namun, ada orang-orang yang tak puas hanya dengan sekadar mendengar gosip belaka. Itulah yang membawa Nikki, Fara, Randy, dan Neil akhirnya membulatkan tekad untuk menelusuri misteri di sekolah mereka.

Semua berawal dari buku yang ditemukan Fara di perpustakaan. Buku itu adalah buku dengan tulisan bergaya kuno yang berisi petunjuk untuk sampai ke lantai keempat. Ya, gosipnya, di sekolah mereka yang hanya terdiri tiga lantai itu, ada “lantai tambahan” (ya ampun, bahkan mengetik review ini saja bikin saya keringat dingin). Konon, dengan mengikuti petunjuk yang ada di buku itu, seseorang bisa sampai ke lantai empat. Celakanya, orang yang pernah mencobanya, tak pernah berhasil kembali lagi, alias menghilang. Nikki, salah satu sahabat Fara yang aktif mengikuti klub mading, berminat menjadikan cerita tersebut sebagai bahan liputannya. Mereka berempat lalu sepakat untuk mencoba ritual seperti yang tertulis di buku kuno itu.

Selain itu, di lantai empat itu kabarnya ada penunggu yang bisa mengabulkan permintaan apapun. Lalu mereka teringat dengan kisah Maria, hantu sekolah, yang dikabarkan menghilang karena mencoba menuju lantai keempat. Apakah sebenarnya yang ada di lantai keempat itu dan apa motivasi Maria sehingga berani-beraninya mencari tahu lantai empat? Benarkah ia dulu merupakan korban bully dan berharap dapat menemui penunggu tua di lantai empat untuk meminta para siswa agar tak mengganggunya lagi?

***

Rahasia Lantai Keempat

Hmph.

Izinkan saya tarik napas sebentar ya. Untunglah saya menulis review ini di siang hari. Meskipun begitu, tetap saja rasanya ada yang mengawasi saat saya mencoba menulis review ini.

Rahasia Lantai Keempat (seterusnya akan saya singkat menjadi RLK) merupakan novel misteri, horor, thriller, whatever you name it, yang bergenre remaja. Awalnya saya pikir novel ini bercerita tentang alasan kenapa di mall-mall dan di gedung-gedung tak ada lantai 4, 14, dst. Hahaha. Konyol memang. Ternyata setelah dibaca, buku ini adalah petualangan menegangkan keempat sahabat yaitu Neil, Randy, Nikki, dan Fara yang disemangati oleh jiwa muda untuk menuntaskan rasa penasaran mereka.

Percaya deh, baru baca dua halaman pertama saja saya sudah merinding disko loh. Seolah penulis ingin meyakinkan pembaca “Ini horor betulan, embrace yourself!”. Jujur, saya gak expect bahwa cerita horor remaja akan sebegini menegangkannya atau saya yang tutup mata terhadap perkembangan penulis horor remaja? Wow, salut!

Setelah baca lima halaman, saya mulai merasa paranoid. Akhirnya saya memutuskan untuk sementara menutup bukunya. Saya pikir akan lebih baik jika saya membacanya di tengah keramaian dibandingkan dengan suasana sepi di kamar seorang diri. Oh, tidak, tidak. Thanks.

Pasalnya, selain narasinya yang ditulis detail sehingga hawa mistisnya sampai ke pembaca, buku ini juga disertai ilustrasi yang… ya ampun, sumpah deh, saya nyaris saja melempar buku ini ketika membuka halaman selanjutnya!!! Hasilnya, setiap ingin bergerak ke halaman selanjutnya, saya ngintip-ngintip dulu, takut ada penampakan atau apa. Hahaha parno gila!

Saya juga merasakan teror itu terasa mencekam karena gambaran sekolah yang ditulis mirip sekali dengan gambaran sekolah saya waktu SMA dulu. Sebuah gedung tua tiga lantai, dengan koridor gelap dan perpustakaan tua yang terpisah dari gedung utama. Memiliki bagian gedung barat dan timur. Hiiyy!

Selain suasana mencekam, karena ini cerita remaja, adalah formula wajib untuk menambahkan bumbu-bumbu romance dan persahabatan khas anak SMA. Meskipun begitu, hal ini tidak menurunkan intensitas kengeriannya. Yah, pokoknya porsinya pas dan gak bikin saya jadi malas baca.

Tapi sayang sekali, ketika saya masih penasaran dengan hantu-hantunya (loh?) buku ini ternyata sudah akan habis. Huaaa rasanya gak rela pisah sama keempat sahabat ini. Soalnya saya suka karakter keempatnya. Juga meskipun mereka gak kelihatan cupu atau manja, tetap ada sifat khas anak remaja (yaitu saat Nikki menyalahkan Farad an kecemburuan Nikki terhadap Fara) yang digambarkan. Jadi rasanya saya benar-benar baca cerita remaja. Bukan baca cerita remaja yang berkelakuan kayak orang dewasa.

Satu lagi, saya agak kurang sreg sama sampulnya. Ya, paham sih ini kan buku remaja, tapi saya rasa penerbit seharusnya bisa bikin sampul depan buku yang “lebih”. Sebab sangat disayangkan jika cerita sebagus ini tak menarik hati calon pembeli karena mereka keburu gak suka dengan sampulnya.

Saya harap Rettania terus membuat cerita remaja yang seperti ini. Capek ah sama penulis teenlit yang isinya drama dan mewek-mewek karena hal gak penting. 4 of 5 stars!

***

Nah, yang namanya Blog Tour pasti gak hanya sekadar baca review buku dong. Yap, benar. Rettania dan Bukune akan bagi-bagi hadiah buat kalian pengunjung setia blog AtasNamaBuku. Caranya:

1. Follow Twitter @rettaniea

2. Follow Twitter @Bukune dan @selebvi. (optional)

2. Follow blog ini via email. Button ada di sidebar ya.

3. Kuis berlangsung selama blog tour berlangsung. (25 Juni dibuka, 1 Juli ditutup). Pengumuman pemenang selambat-lambatnya pada tanggal 6 Juli 2015 (bisa jadi lebih cepat).

4. Hanya dipilih satu pemenang yang akan diundi. Pemenang akan dihubungi via Twitter. Apabila tak ada respons selama 1×24 jam, saya akan memilih pemenang baru. Pemenang yang sudah pernah memenangkan hadiah yang sama di blog lain, tentunya tak akan dipilih lagi ya.

5. Promosikan blog tour ini. Sifatnya opsional, tapi saya akan berterima kasih sekali jika Anda bersedia melakukannya.

Kalau sudah, coba jawab tantangan saya di bawah ini ya. Jangan lupa cantumkan username Twitter kalian.

“Tuliskan urban legend di sekolah (boleh pengalaman pribadi atau sekadar dengar-dengar gosip) dalam satu paragraf pendek. Tambahkan bumbu-bumbu supaya ceritamu menimbulkan efek horor.”

Jawaban ditulis di kolom komentar ya. Tak ada bagus, tak ada jelek. Semua komentar yang masuk akan diikutkan dalam undian. Good luck!

Limited edition t-shirt + 1 eksemplar buku Rahasia Lantai Keempat bertandatangan bisa kamu menangkan!

Limited edition t-shirt + 1 eksemplar buku Rahasia Lantai Keempat bertandatangan bisa kamu menangkan!

Me Before You (Dirgahayu, BBI!)

PicsArt_1428808357127

Percayalah ini bukan postingan review salah satu bukunya Jojo Moyes. Tapi tentu judulnya gak menipu seperti headline di koran-koran kok. This is my story.

Hari ini BBI ulang tahun. Aku akui belum banyak di sekitarku yang tahu apa itu BBI. Bahkan rekan-rekan di beberapa komunitas buku lain juga kadang masih bertanya “BBI itu apa?” ketika kubilang aku member BBI. Tak hanya BBI saja, bahkan beberapa juga gak tahu apa itu Goodreads, padahal ngakunya dari komunitas pembaca buku. Hm, sejak itu saya simpulkan, mungkin bukan komunitasnya yang kurang terkenal tapi memang orang-orang di luar saja yang kurang gaul. #digamfar

Ya, habis gimana enggak. Dibandingkan dengan komunitas buku lain yang aku ikuti, (sorry ya jadi membandingkan, tapi semoga in a good ways ya, gak ada maksud merendahkan pihak mana pun) anggota-anggota BBI itu berdedikasi sekali (walaupun gak semuanya). Rajin bikin event dan sekalinya bikin event gak pernah setengah-setengah, gak pernah kayak “ya udahlah toh ini event pertama, apa adanya aja, kalau jelek, orang juga pasti maklum.” Nope! BBI gak pernah begitu. Dalam setiap kesempatan, BBI selalu berusaha yang terbaik. Kalaupun nanti hasilnya gak sesuai, bukan berarti itu karena BBI gak usaha maksimal. Sebab gimanapun, Tuhan yang menentukan. Tapi, alhamdulillah-nya, gak pernah ada masalah yang cukup berarti selama BBI menggelar event, dan jangan sampe ya. Aamiin. Itu salah satu contoh kesolidan BBI.

Anggota-anggotanya juga beneran blogger. Segala macam diposting, selama itu berhubungan dengan buku. Aku salut. Mengingat aku gak bisa jadi host event bla bla bla. Kayaknya aku blogger karbitan, heheheu.

Awal masuk BBI juga gak yakin bisa konsisten posting review. Dan tadinya gak kepikiran sama sekali buat nulis review sehabis baca. Sempat mikir “Buat apa to kita nulis review? Emang bakal ada yang baca gituh? Emang bakal ada yang peduli sama penilaian gue?” sampai akhirnya ada seseorang bilang menulis review itu memberikan feedback buat penulis, penerbit, dan pembaca lainnya. AHA! Benar juga ya. Akhirnya aku mulai gabung BBI. Orang-orang di dalamnya itu tipikal becandanya beda ama aku (faktor umur kali ye), jadi aku agak kalem kalau di BBI. Hahahahaha! #sungkemsamasesepuh

Setelah gabung BBI, bisa kenal kakak-kakak dan teman-teman semua. Yah, kadang suka dapat ilmu parenting juga. Lain waktu dapat bahasa gaul ala remaja. Wakakak. Genre juga jadi berkembang. Terutama yang tadinya malas baca buku terjemahan, sekarang si otak justru nagih baca buku terjemahan, mengingat buku-buku indo monoton aja rasanya buatku akhir-akhir ini. Lagipula sekarang juga sudah banyak penerjemah yang bagus dan cakep (terjemahannya, bukan orangnya #plaaakkk).

Di BBI, juga bisa temenan sama penulis, editor, dan orang-orang yang bekerja di bidang penerbitan maupun yang gak sama sekali. Komplit deh. Khasanah (gileee bahasa gueee) membaca jadi semakin luas dan berkembang. Tadinya kupikir genre itu cuma ada misteri, romance, dongeng. Ternyata ada juga YA, Sci-fi, dystopia, dan lain sebagainya. Wuah! Selain itu, entah harus senang atau sedih, aku jadi selalu update soal diskonan buku! Jadi pas ada pameran buku semacam sudah gak terlalu excited. Biasa saja nanggepinnya ya karena gabung di komunitas bikin saya selalu update info diskonan. Jadi gak harus nunggu pameran! Hahahahahiks #marimenimbun

BBI alhamdulillah hari ini telah mencapai usianya yang ke-4. Aku gabung BBI tahun 2012, berarti sekitar 3 tahunan ya aku di BBI. Membernya makin banyak, kalau dibikin MLM mungkin sudah bisa dapat kapal pesiar kali ya. Hahaha! BBI makin hari makin eksis terbukti dengan adanya cabang BBI yaitu BBI versi regional (BBI Jabo, Jolgosemar, dll) juga ada BBI Kroya, BBI Hayday, hahaha… seru deh jadi bisa mengakomodir hobi-hobi lain selain membaca.

Jadi, masih bisa bilang “membaca itu membosankan”?

Giveaway Winner Announcement

Hai, terima kasih bagi kalian yang sudah memberikan komentar di giveaway saya dua minggu lalu. Tercatat ada 30 partisipan. Saya harus pilih dua pemenang. Nah, supaya adil, 1 saya pilih berdasarkan opini terbaik dan satu lagi saya undi via random. org. Jika dalam 1×24 jam saya tidak mendapat respons dari pemenang, saya akan pilih pemenang lainnya ya.

Berikut adalah pemenangnya!

Opini terbaik:

menurutku cerita cinta yang nggak menye-menye itu adalah cerita cinta yang sudah masuk ke tahap pernikahan atau pelakonnya sudah pernah menikah sebelumnya seperti yang ada di novel ini. karena bagiku cerita cinta ala orang dewasa akan dijalani lebih serius dalam segala hal dan serba dipikir dengan matang. bagi yang sudah menikah juga pastinya mereka tidak ingin sampai mengulang kesalahan yang ada di pernikahan sebelumnya. Bukan kayak anak muda yang kalo pacaran itu masih kebanyakan modus dan skandal, masih banyak yang menganggap pacaran itu main-mainan, cuma buat have fun, masih memegang prinsip kita-jalani-aja-dulu atau lihat-aja-nanti-selanjutnya-gimana. ih, malesin banget kan kalo pelakonnya masih ‘ngambang’ gitu, masih nggak tahu itu hubungan mau diujungin ke mana. :/

Yap setuju banget saya sama komen di atas bahwa cerita cinta yang nggak menye-menye adalah cerita yang sudah dalam tahap yang paling serius, yaitu jenjang pernikahan. Selamat untuk, Aya Murning! Tunggu email dari saya ya! 😀

Undian via random.org:

Selamat!!!

Selamat!!!

Berdasarkan urutan komentar, No. 21

Cerita cinta yang nggak menye-menye ya cerita cinta yang pas. Gak ada yang dipaksakan, gak berlebihan juga gak kekurangan romansa. Sekalipun kata-katanya romantis tapi kesannya hal itu gak dibuat2. Itu menurutku sih. ^^

Selamat ya, buat blue. Tunggu email dari saya yah 😀

***

Kalian berdua berhak mendapatkan masing-masing 1 buku The Wind Leading to Love persembahan dari Penerbit Haru yang akan dikirim oleh langsung oleh penerbit. Saya jamin, seperti saya, kalian juga bakalan suka dengan cerita di buku ini.

Bagi yang belum beruntung, pantau terus blog saya ya. Pasti akan ada giveaway-giveaway seru lainnya, dan dijamin gak ribet syarat-syaratnya.

Sampai jumpa! 😀