Proyek Maut


Judul Buku: Proyek Maut
Penulis: Eddie Sindunata
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 11 Mei 2015
Tebal: 344 Halaman
Genre: Crime Thriller
Rating: 2 of 5

Buku ini menceritakan, ah, kalimat pembuka seperti itu tentunya sangat mainstream. Jadi saya memutuskan untuk mencari kalimat pembuka lain. Misalnya begini… Betul Indonesia gersang dengan bacaan-bacaan. bergenre thriller (oke, ini kayaknya kalimat yang cool). Namun nampaknya Proyek Maut (PM) belum cukup dapat menghapus kegersangan itu. Saya berpendapat demikian karena saya merasakan kelelahan dan kejengkelan yang mendalam saat membaca buku ini. Terlepas dari yang saya pahami, menulis sebuah buku memang tak mudah.

Hal utama yang disorot adalah adanya permainan kotor para konglomerat-konglomerat di negeri ini berkolaborasi dengan pejabat dan pihak kepolisian. Proyek Mega Subway yang merupakan proyek rahasia akhirnya mulai diketahui Hardi, seorang komisaris polisi, sejak terjadinya kasus pembunuhan seorang konglomerat. Selama menyelidiki kasus pembunuhan tersebut, kasus-kasus kotor lain mulai terbongkar. Sudah, itu saja sinopsisnya. Saya lebih tertarik membahas cara penulis bercerita ketimbang bahas jalan ceritanya (bahkan saya tidak terlalu peduli dengan endingnya).

Pertama, sejak awal membaca buku ini, saya gatal dengan penggunaan bahasa yang begitu kaku. Bahkan seorang tukang bakso dan tukang warteg pun dibikin dialog dengan bahasa yang kaku. Okelah, mungkin penulis bermaksud menghasilkan suatu karya yang baku sesuai kaidah EYD dan sebagainya tapi saya sebagai pembaca jadi merasa seperti robot. Tak nyaman dan natural rasanya. Kayak naik ojek mendaki Gunung Pangrango. Gajruk-gajruk gitu. Ya, saya gak pernah naik ojek ke gunung juga sih.

Kedua, karakterisasi tokoh-tokoh di dalamnya. Saya tak mau bahas soal teknis menciptakan karakter atau apa, hanya saja pandangan saya sebagai pembaca awam, tokoh-tokoh dalam buku ini tidak membekas dengan baik di ingatan saya. Sejatinya (ya, ini mengadopsi kata-kata yang suka diucapkan Feni Rose) saya tak peduli apakah nama tokoh itu begitu populer seperti Bianca, Reinald, Alexandra, atau Voldemort. Jadi sah-sah saja kalau penulis ingin menamai tokoh-tokohnya dengan nama yang “endonesa biyanget” seperti Hardi, Santi, Eko, dsb tapi please buatlah karakter yang kuat bagi setiap tokoh sehingga pembaca bisa dengan mudah memvisualisasikannya dalam imaji mereka. Sampai akhir cerita, saya tak tahu apakah Hardi ini gendut kayak pak polisi yang suka di lampu merah itu atau gagah kayak robocop. Saya juga tak tahu apakah Santi ini bentuk badannya kutilang atau kayak Kim Kardashian.

Ketiga, membaca dialog dalam buku ini seperti melihat pertandingan bulutangkis. Hanya ada tektok dan tanya jawab ibarat saya lagi isi kuesioner psikologi. “Apakah Anda merokok?” Tidak. “Apakah Anda punya pacar?” Kepo ih. “Apakah pacar Anda manusia?” Vampir! Yah, sebagai pembaca saya tentu mengharapkan percakapan yang mengalir dan terkesan alami. Jadi agak gak bersemangat melanjutkan membacanya karena penulisan dialog yang begitu kaku.

Keempat, saya kayaknya tidak satu frekuensi dengan penulis soal logika. Menurut saya, seorang atasan polisi agak aneh kalau harus ber-aku kamu dengan bawahannya. Lalu juga saat adegan polisi menyamar dan mendatangi sebuah warteg, padahal kan sudah dibilang “saya polisi” lah kok masih saja dipanggil “Mas” sama tukang warteg. Entah ya, mungkin hasil observasi penulis demikian adanya tapi kalau saya sih otomatis akan memanggil polisi manapun dengan sebutan “Pak”. Bukan Mas Polisi. Ya kecuali suami saya nanti seorang polisi. Etapi saya gak mau punya suami seorang polisi. Iya, ok, gak curhat lagi deh habis ini.

Kelima, cover bukunya relatif mirip dengan cover buku thriller punya penerbit sebelah. Yah, 5 aja deh. Karena Allah kan suka yang ganjil-ganjil dan balonku ada 5 tapi hatiku cuma ada 1. Monggo dibaca sendiri supaya bisa menilai juga. Juga 2 bintang untuk ide dan usahanya menulis buku bergenre thriller.

Semoga genre ini makin berkembang di Indonesia ya. Kalau pembaca lain setelah membaca buku ini mungkin akan berhadapan dengan pertanyaan “Kira-kira betulan sekotor ini atau enggak ya?”, saya justru sejak awal memilih untuk tak peduli. Konspirasi di dunia ini terlalu banyak dan rumit dan saya tak ingin sepanjang hidup saya habiskan buat bernegative thinking dan menerka-nerka sekalipun memang. ada beberapa bukti.

Advertisements

Me Before You (Dirgahayu, BBI!)

PicsArt_1428808357127

Percayalah ini bukan postingan review salah satu bukunya Jojo Moyes. Tapi tentu judulnya gak menipu seperti headline di koran-koran kok. This is my story.

Hari ini BBI ulang tahun. Aku akui belum banyak di sekitarku yang tahu apa itu BBI. Bahkan rekan-rekan di beberapa komunitas buku lain juga kadang masih bertanya “BBI itu apa?” ketika kubilang aku member BBI. Tak hanya BBI saja, bahkan beberapa juga gak tahu apa itu Goodreads, padahal ngakunya dari komunitas pembaca buku. Hm, sejak itu saya simpulkan, mungkin bukan komunitasnya yang kurang terkenal tapi memang orang-orang di luar saja yang kurang gaul. #digamfar

Ya, habis gimana enggak. Dibandingkan dengan komunitas buku lain yang aku ikuti, (sorry ya jadi membandingkan, tapi semoga in a good ways ya, gak ada maksud merendahkan pihak mana pun) anggota-anggota BBI itu berdedikasi sekali (walaupun gak semuanya). Rajin bikin event dan sekalinya bikin event gak pernah setengah-setengah, gak pernah kayak “ya udahlah toh ini event pertama, apa adanya aja, kalau jelek, orang juga pasti maklum.” Nope! BBI gak pernah begitu. Dalam setiap kesempatan, BBI selalu berusaha yang terbaik. Kalaupun nanti hasilnya gak sesuai, bukan berarti itu karena BBI gak usaha maksimal. Sebab gimanapun, Tuhan yang menentukan. Tapi, alhamdulillah-nya, gak pernah ada masalah yang cukup berarti selama BBI menggelar event, dan jangan sampe ya. Aamiin. Itu salah satu contoh kesolidan BBI.

Anggota-anggotanya juga beneran blogger. Segala macam diposting, selama itu berhubungan dengan buku. Aku salut. Mengingat aku gak bisa jadi host event bla bla bla. Kayaknya aku blogger karbitan, heheheu.

Awal masuk BBI juga gak yakin bisa konsisten posting review. Dan tadinya gak kepikiran sama sekali buat nulis review sehabis baca. Sempat mikir “Buat apa to kita nulis review? Emang bakal ada yang baca gituh? Emang bakal ada yang peduli sama penilaian gue?” sampai akhirnya ada seseorang bilang menulis review itu memberikan feedback buat penulis, penerbit, dan pembaca lainnya. AHA! Benar juga ya. Akhirnya aku mulai gabung BBI. Orang-orang di dalamnya itu tipikal becandanya beda ama aku (faktor umur kali ye), jadi aku agak kalem kalau di BBI. Hahahahaha! #sungkemsamasesepuh

Setelah gabung BBI, bisa kenal kakak-kakak dan teman-teman semua. Yah, kadang suka dapat ilmu parenting juga. Lain waktu dapat bahasa gaul ala remaja. Wakakak. Genre juga jadi berkembang. Terutama yang tadinya malas baca buku terjemahan, sekarang si otak justru nagih baca buku terjemahan, mengingat buku-buku indo monoton aja rasanya buatku akhir-akhir ini. Lagipula sekarang juga sudah banyak penerjemah yang bagus dan cakep (terjemahannya, bukan orangnya #plaaakkk).

Di BBI, juga bisa temenan sama penulis, editor, dan orang-orang yang bekerja di bidang penerbitan maupun yang gak sama sekali. Komplit deh. Khasanah (gileee bahasa gueee) membaca jadi semakin luas dan berkembang. Tadinya kupikir genre itu cuma ada misteri, romance, dongeng. Ternyata ada juga YA, Sci-fi, dystopia, dan lain sebagainya. Wuah! Selain itu, entah harus senang atau sedih, aku jadi selalu update soal diskonan buku! Jadi pas ada pameran buku semacam sudah gak terlalu excited. Biasa saja nanggepinnya ya karena gabung di komunitas bikin saya selalu update info diskonan. Jadi gak harus nunggu pameran! Hahahahahiks #marimenimbun

BBI alhamdulillah hari ini telah mencapai usianya yang ke-4. Aku gabung BBI tahun 2012, berarti sekitar 3 tahunan ya aku di BBI. Membernya makin banyak, kalau dibikin MLM mungkin sudah bisa dapat kapal pesiar kali ya. Hahaha! BBI makin hari makin eksis terbukti dengan adanya cabang BBI yaitu BBI versi regional (BBI Jabo, Jolgosemar, dll) juga ada BBI Kroya, BBI Hayday, hahaha… seru deh jadi bisa mengakomodir hobi-hobi lain selain membaca.

Jadi, masih bisa bilang “membaca itu membosankan”?

Giveaway Winner Announcement

Hai, terima kasih bagi kalian yang sudah memberikan komentar di giveaway saya dua minggu lalu. Tercatat ada 30 partisipan. Saya harus pilih dua pemenang. Nah, supaya adil, 1 saya pilih berdasarkan opini terbaik dan satu lagi saya undi via random. org. Jika dalam 1×24 jam saya tidak mendapat respons dari pemenang, saya akan pilih pemenang lainnya ya.

Berikut adalah pemenangnya!

Opini terbaik:

menurutku cerita cinta yang nggak menye-menye itu adalah cerita cinta yang sudah masuk ke tahap pernikahan atau pelakonnya sudah pernah menikah sebelumnya seperti yang ada di novel ini. karena bagiku cerita cinta ala orang dewasa akan dijalani lebih serius dalam segala hal dan serba dipikir dengan matang. bagi yang sudah menikah juga pastinya mereka tidak ingin sampai mengulang kesalahan yang ada di pernikahan sebelumnya. Bukan kayak anak muda yang kalo pacaran itu masih kebanyakan modus dan skandal, masih banyak yang menganggap pacaran itu main-mainan, cuma buat have fun, masih memegang prinsip kita-jalani-aja-dulu atau lihat-aja-nanti-selanjutnya-gimana. ih, malesin banget kan kalo pelakonnya masih ‘ngambang’ gitu, masih nggak tahu itu hubungan mau diujungin ke mana. :/

Yap setuju banget saya sama komen di atas bahwa cerita cinta yang nggak menye-menye adalah cerita yang sudah dalam tahap yang paling serius, yaitu jenjang pernikahan. Selamat untuk, Aya Murning! Tunggu email dari saya ya! 😀

Undian via random.org:

Selamat!!!

Selamat!!!

Berdasarkan urutan komentar, No. 21

Cerita cinta yang nggak menye-menye ya cerita cinta yang pas. Gak ada yang dipaksakan, gak berlebihan juga gak kekurangan romansa. Sekalipun kata-katanya romantis tapi kesannya hal itu gak dibuat2. Itu menurutku sih. ^^

Selamat ya, buat blue. Tunggu email dari saya yah 😀

***

Kalian berdua berhak mendapatkan masing-masing 1 buku The Wind Leading to Love persembahan dari Penerbit Haru yang akan dikirim oleh langsung oleh penerbit. Saya jamin, seperti saya, kalian juga bakalan suka dengan cerita di buku ini.

Bagi yang belum beruntung, pantau terus blog saya ya. Pasti akan ada giveaway-giveaway seru lainnya, dan dijamin gak ribet syarat-syaratnya.

Sampai jumpa! 😀

[Blog Tour] The Wind Leading to Love by Ibuki Yuki (GIVEAWAY Inside!)

Judul Buku: The Wind Leading to Love Penulis: Ibuki Yuki Penerbit: Haru Tahun Terbit: Februari 2015 Tebal: 342 Halaman Genre: Romance Dewasa Rating: 4 of 5

Judul Buku: The Wind Leading to Love
Penulis: Ibuki Yuki
Penerbit: Haru
Tahun Terbit: Februari 2015
Tebal: 342 Halaman
Genre: Romance Dewasa
Rating: 4 of 5

Kalau kamu merasa lelah dengan cerita cinta anak remaja yang cenderung monoton dan menye-menye, tetapi juga tetap ingin membaca romance, maka Wind Leading to Love inilah jawabannya. Menceritakan tentang perjalanan cinta seorang pria dan wanita berusia 40 tahun. Masing-masing pernah memiliki kisah masa lalu yang berdampak kepada keadaan mereka di masa kini. Masing-masing hidup dalam depresi dengan stress yang mengabadi. Sampai Tuhan akhirnya mempertemukan mereka dengan cara yang tak terduga, sehingga terjalin keterikatan satu sama lain.

Suga Tetsuji adalah seorang pria, kalau bisa saya bilang, cendekia. Depresi karena bermasalah dengan sang istri membuatnya ingin menyepi ke pesisir kota, ke rumah peninggalan ibunya. Di perjalanan, ia bertemu dengan seorang wanita yang super duper cerewet ceriwis bawel kepo bernama Fukui Kimiko. Kekepoannya itu kerap bikin Tetsuji kesal karena dianggap terlalu mencampuri urusan orang lain. Yah coba saja bayangkan jika kamu ingin menyendiri tapi malah diikuti oleh orang bawel yang tak hentinya menanyakan ini itu dan sebagainya. Tetapi Kimiko tetaplah Kimiko. Menurutnya, dia bukanlah kepo dan mau tahu saja urusan orang lain, melainkan hanya peduli. Bagi Tetsuji, Kimiko tak lebih dari wanita riweuh. Pada awalnya.

Dalam depresinya, Tetsuji pernah mencoba bunuh diri. Saat itulah Kimiko menyelamatkannya sehingga Tetsuji merasa berhutang. Alih-alih ingin dibayar dengan uang, Kimiko malah minta diajari music klasik seperti hobi anaknya dulu. Dari situlah chemistry di antara keduanya pelan-pelan tumbuh dan menjadikan alur cerita buku ini menarik untuk dibaca sampai habis.

blogtourWLTLSatu hal yang saya cari setiap membaca novel Jepang adalah “Buku ini ada adegan/cerita bunuh dirinya atau gak ya?”. Dan ternyata di buku ini ada. Barulah saya bisa bilang bahwa buku ini Jepang bangetzzz. Entah kenapa hal-hal random seperti itu muncul. Tetapi yah setidaknya menurut saya memang begitulah ciri khas novel Jepang. Terlepas dari itu, Ibuki Yuki mampu menuliskan sesuatu yang dewasa sekaligus manis. Kita yang mungkin masih muda-muda diajak untuk mengetahui bagaimana romansa orang dewasa. Meskipun begitu, namanya cinta tidak mengenal usia dan tingkat pendidikan sehingga kadang kisah cinta yang terjadi ya konyol juga. Dalam buku ini juga terdapat adegan dewasa yang menurut saya tak terlalu vulgar namun dikemas dengan porsi yang baik untuk mendukung kualitas cerita.

Alurnya maju dengan sudut pandang orang ketiga serba tahu. Mostly berisi dialog-dialog sehingga buku setebal 342 halaman ini tak membosankan untuk dibaca. Sampul depannya pun “Haru bangetzzz gitu loh”. Dengan melihat covernya saja, orang pasti tahu bahwa itu buku terbitan Haru. Covernya teduh dilihat dan sangat pas dengan isinya.

Terjemahan buku ini, seperti saya sudah beberapa kali membaca buku-buku dari Penerbit Haru, sangat enak untuk dicerna (thanks to Mohammad Ali, sang penerjemah). Bahkan pembaca mendapatkan footnote yang informatif sehingga sampai akhir pembaca tak mengalami kejanggalan karena semuanya terinci dengan baik. Di halaman-halaman akhir saya menemukan ada satu typo “melihat: tertulis “mellihat” tapi sungguh tak masalah dan tak mengurangi kenikmatan membaca.

Buku ini saya rekomendasikan bagi kamu yang menyukai cerita romance yang gak menye-menye. 4 of 5!

***

GIVEAWAY!!!

Hai! Penerbit Haru berbaik hati memberikan 2 eksemplar buku The Wind Leading to Love by Ibuki Yuki nih 😀

Caranya gampang:

1. Tuliskan versimu pada kolom komentar tentang “Cerita Cinta Gak Menye-menye” dalam satu paragraf pendek saja. Menurutmu, seperti apakah cerita cinta yang gak menye-menye itu. Jangan lupa sertakan alamat email untuk dihubungi jika kamu menang 😀

2. Jangan lupa follow blog ini via email atau follow button.

3. Follow juga akun Twitter @penerbitharu.

4. Jawaban saya tunggu sampai tanggal 9 April 2015. Pemenang akan dihubungi via email. Jika dalam 1×24 jam tak ada respon, saya akan memilih pemenang lainnya. Jadi, pantau terus ya emailmu! Hihihi..

Oh, ya. Penerbit Haru juga mengadakan kuis Finale lho. Caranya tinggal mengumpulkan huruf demi huruf yang bisa ditemukan di blog-blog peserta blog tour ini.

1. Inge:  http://bacaaninge.blogspot.com

2. Biondy Alfian: http://kireinasekai.blogspot.com/

3. Adinda Putri Citradewi: surgabukuku.blogspot.com

4. Febriyani Syafri: anotherfromme.blogspot.com

5. Dini Y. Nurhasanah: http://dhynhanarun.blogspot.com

6. Ria Destriana: www.girlwithwritingproblems.wordpress.com

7. Maya Floria Yasmin: http://floriayasmin.blogspot.com

Ini dia huruf buatmu!

windS2

The Ghost Bride: Lebih Sulit Dari Pertanyaan “Kapan Kawin?”

Judul Asli: The Ghost Bride – Judul Terjemahan: Pengantin Arwah – Penulis: Yangsze Choo – Penerjemah: Angelic Zai Zai – Penerbit: Qanita – Tahun Terbit: 2014 – Tebal: 486 Halaman – Rating: 3 of 5

Judul postingan di atas rasanya tepat mengingat pertanyaan “kapan kawin?” tidak seberapa ngeri dibandingkan dengan permintaan seorang ayah yang meminta anaknya untuk menikah dengan arwah. Coba bayangkan!

“Pada suatu malam, ayahku bertanya apakah aku mau menjadi pengantin arwah.” – hal. 9

Li Lan, seorang perempuan China berusia 18 tahun, sedang berada dalam kondisi yang tidak menguntungkan. Ia sejak kecil ternyata telah dijodohkan dengan seorang laki-laki dari keluarga Lim yang kaya raya. Seingat ayah Li Lan, ia dijodohkan dengan keponakan Tuan Lim yang bernama Tian Bai, bukan Lim Tian Ching, yang sekarang sudah menjadi arwah. Rupanya ada kesalahpahaman yang disengaja, mengingat kondisi finansial keluarga Li Lan juga sedang di ambang kehancuran. Li Lan berusaha mati-matian membatalkan pernikahan dengan arwah Lim Tian Ching hingga ia terjebak di Dunia Akhirat dan saat ingin kembali, ternyata tubuhnya sudah ada yang menghuni. Roh perempuan bernama Fan, yang tak lain adalah teman Li Lan saat di Padang Arwah. Tetapi, Amah (pengasuh Li Lan sejak kecil) tahu bahwa Li Lan bukanlah Li Lan. Ia memanggil medium untuk mengusir Fan. Sementara Li Lan terperangkap di Padang Arwah, mencoba mengungkap misteri keluarganya, dibantu Er Lang, yang juga punya misi khusus terkait Lim Tian Ching.

Dibuka dengan kalimat yang mencengangkan, mengingatkan saya pada Metamorfosa karya Franz Kafka. Eka Kurniawan juga pernah menulis dalam blog pribadinya bahwa kalimat pertama adalah kunci dari isi. Maka, bisa saya katakan, Yangsze Choo berhasil melakukannya.

Mungkin agak geli membayangkan bagaimana mungkin manusia menikah dengan arwah. Rasanya hanya orang gila saja yang sudi melakukannya. Tapi, lewat buku ini kita tidak diminta untuk berpandangan demikian. Bagaimanapun pada masa lalu pernah ada tradisi menikah dengan arwah karena tujuan tertentu, misalnya demi ketenangan sang arwah, dan alasan-alasan tradisional lainnya. Baru-baru ini saya juga menonton drama Korea berjudul “Master’s Sun” yang dibintangi oleh Akang saya So Ji Sub. Dalam drama tersebut rupanya masih ada pernikahan arwah, hanya saja yang dinikahkan adalah arwah dengan arwah. Unbelieveable, rupanya masih ada hal-hal macam itu di dunia serba modern begini, ya.

Terlepas dari segala keheranan saya dengan konflik utamanya, buku ini sangat memberikan informasi seputar tradisi orang-orang China pada masa dulu, yang saya yakin sampai sekarang beberapa tradisi masih dipertahankan karena alasan tertentu. Sangat menarik untuk diketahui, meski buku ini masuk kategori buku fiksi fantasi.

Dengan latar belakang daerah Malaka tahun 1893, buku ini seperti mesin waktu yang mengantarkan saya ke masa itu. Padang Arwah dan Dunia Akhirat mengingatkan saya dengan sinema Kera Sakti yang pernah diputar di salah satu televisi swasta nasional beberapa tahun silam.

Menggunakan sudut pandang orang pertama tunggal dengan kata ganti “aku”, yaitu Li Lan. Alurnya konstan maju, dengan sedikit demi sedikit rahasia keluarga Li Lan mulai terkuak.

Di buku ini tidak ada satu pun tokoh yang suka. Tian Bai itu nggragas, Amah baik hati tapi bawel, Lim Tian Ching egois, Er Lang sok iye, Li Lan menye-menye, yah pokoknya begitu dah.

Terjemahannya sangat baik dan rapi. Hampir tanpa typo. Hanya saja kualitas kertasnya kok kasta paria sekali rasanya. Tapi font type dan size-nya tidak masalah kok. Masih nyaman dibaca.

Nah, bagi kalian yang mencari referensi tentang pengetahuan budaya China dengan cara yang fun, buku ini tentu bisa dijadikan pilihan. Nama-nama tokohnya, meskipun banyak, namun mudah diingat sehingga tak akan mengurangi kenikmatan membaca.

Simple Miracles: Doa dan Arwah

Simple Miracles: Doa dan Arwah Penulis: Ayu Utami Penerbit KPG Tahun Terbit: 2014 Tebal: 177 Halaman Genre: Non Fiksi

Simple Miracles: Doa dan Arwah
Penulis: Ayu Utami
Penerbit KPG
Tahun Terbit: 2014
Tebal: 177 Halaman, Rating: 4 of 5
Genre: Non Fiksi

 

It can be miracle, when you believe, begitu nyanyian seorang Mariah Carey. Ya, buku yang saya baca ini mengambil isu yang cukup serius, yaitu keyakinan. Keyakinan siapa? Tentu saja keyakinan sang penulis, yaitu Ayu Utami, dalam memandang sesuatu yang spiritual seperti Tuhan dan hantu. Dua hal yang saya sebutkan itu tak ada bedanya satu sama lain. Sama-sama tidak bisa dilihat, sama-sama tak “terjamah”, namun kita bisa merasakan kehadirannya (tentu saja ini hanya berlaku bagi mereka yang percaya!).

Simple Miracles terdiri dari tiga bab besar yaitu hantu, tuhan, tahun. Apa yang dirasakan penulis tentunya juga saya rasakan. Terutama tentang bagaimana sikap kita memandang sesuatu yang (katanya) hanya bisa dilihat oleh indra keenam. Persis! Saya sama halnya seperti penulis, awal-awal berada pada fase skeptis sampai waktu pada akhirnya mengajak saya untuk menelaahnya lebih dalam sebab waktu pula lah yang memberikan saya kejadian-kejadian yang sejujurnya tidak bisa dinalar dengan akal sehat. Tapi kemudian ketika kejadian “spiritual” tersebut terjadi pada kita (atau kita melihatnya dengan mata kepala kita sendiri), mau tak mau suka tak suka kita jadi mengimani apa yang kita alami itu. Tentu saja setelah sebelumnya saya berusaha menepis dengan segala logika-logika yang saya pahami. Pada akhirnya, logika itu patah, karena satu dan lain hal yang tidak bisa kita terima dengan nalar. Itulah yang saya asumsikan sebagai keajaiban.

Kadang sesuatu hadir begitu sederhana, sehingga kita enggan mengakuinya.

Banyak pemikiran-pemikiran bagus yang Ayu Utami tulis dalam buku ini (well, sebenarnya agak rancu menyebutnya “pemikiran bagus” atau hanya karena saya sepemikiran dengannya). Pemikiran-pemikiran ini tidak menggurui. Ayu Utami sekadar berbagi cerita hidupnya yang menurut saya menarik sekali untuk diketahui, tanpa ada kalimat merendahkan siapapun. Kentara sekali dalam buku ini, meskipun Ayu Utami terlihat cuek, namun sebenarnya ialah sosok perempuan yang perasa dan sayang keluarga. Bedanya, mungkin, Ayu menjalani hidup tanpa menye-menye. Jika diibaratkan dengan berjalan, Ayu menjalani hidup dengan derap kaki seorang prajurit; tegap, kokoh, langkah pasti. Tidak seperti seorang perempuan yang jalannya ngesot (eh, ini mah suster yak).

Kita sering bertanya kenapa sih si itu mati begitu cepat, atau kenapa si ini tidak mati-mati padahal sakitnya sudah menahun, misalnya. Buku ini memberikan jawaban yang sebenarnya sudah saya yakini sejak lama; seseorang belum dipanggil Tuhan kalau tugasnya di bumi belum selesai. Yah, bukankah kita semua ini adalah khalifah di bumi yang mengemban tugas masing-masing? Kenapa juga orang baik biasanya dipanggil begitu cepat? Sebab Tuhan menyayanginya lebih dari kita menyayangi mereka. Bukankah Tuhan Maha Tahu?

Imanmu menyelamatkanmu. Tapi iman juga bisa mencelakakanmu. – hal. 97

Maafkan kalau review saya terkesan agak bias karena memang saya salah seorang penyuka tulisan dan pemikiran Ayu Utami. Tapi saya yakin apa yang ditulis Ayu Utami dalam buku ini bisa memberikan pembaca pandangan baru terhadap sesuatu yang “halus-halus”. Agaknya menarik jika punya sahabat seperti Ayu Utami, yang meskipun terlihat sibuk dengan ceritanya sendiri tapi pendengarnya bakalan betah meladeninya sebab diceritakan dengan bahasa dan tutur kata yang ekspresif sekaligus halus. Saya suka sekali dengan sikap penulis sewaktu bertemu dengan “paranormal-paranormal”. Cara nyinyir khas Ayu Utami bikin saya ngakak sekaligus menggumam “gue banget nih!”. Maksudnya, kalau saya jadi Ayu Utami, mungkin saya juga akan bereaksi demikian. Terasa orisinil!

Di satu sisi, tulisan Ayu yang diawali dengan kalimat “Hal yang paling menakutkan adalah Ibu mati.” langsung membuat saya merinding. Sebab ibu saya juga sedang sakit dan sekarang sedang menjalani terapi hemodialisis. Mau tidak mau, setiap kali Penulis menceritakan tentang ibunya, saya jadi ikut terbawa haru.

Tuhan, perkenankanlah aku menemani ibuku saat ia menyambut ajal… – hal. 123

Di belakang buku, Penulis menyisipkan cerita yang menarik perihal latar belakang penulisan buku ini. Bahwa ia sebenarnya menulis untuk memperingati 40 hari meninggalnya sang ibu, namun kemudian tidak bisa selesai tepat waktu. Lalu sang bibi (disebut Bibi Gemuk) wafat dalam penulisan sehingga akhirnya buku ini dipersembahkan untuk kedua wanita itu. So sweet… Kelak kita tahu siapa Nata dan Ghavi yang tertulis di halaman awal buku.

Kendati buku ini beraliran nonfiksi, tentunya ada beberapa penyesuaian di sana sini sehingga nikmat dibaca. Hal ini disampaikan Penulis di akhir halaman juga.

Nampaknya buku ini akan dibuat menjadi serial. Wah, untuk yang satu ini saya tidak ingin berharap terlalu banyak sebab Ayu Utami nampaknya punya beberapa tulisan yang belum naik cetak sejak setahun lalu (Seri Zodiak, misalnya).

Sedikit tip dari saya, bacalah buku ini dengan pikiran terbuka dan biarkan setiap kalimatnya dicerna otak sehingga tidak tertelan mentah-mentah. Bagaimanapun, hal-hal yang spiritual tetap harus dikritisi.

Spiritualisme Kritis adalah sikap terbuka (penghargaan) pada yang spiritual tanpa mengkhianati nalar kritis. – Ayu Utami

 

PS: buku ini salah satu buku hadiah dari Santa. Terima kasih, ya. *smooch*

 

Menyelami Getirnya Hidup Seorang Agnes Magnusdottir

Burial Rites (Ritus-ritus Pemakaman) by Hannah Kent Penerjemah Tanti Lesmana Penerbit Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit 2014 Tebal 416 Halaman Rating 4 of 5

Saya selalu kesal dengan buku yang menceritakan kisah orang-orang yang bodoh karena cinta. Ya, buku ini contohnya. Karena cinta, ia jadi buta dan sekarang harus tersiksa bahkan sampai harus mati. Yah, saya bisa saja bilang begini. Tapi saya tahu tidak ada yang bisa menolak kekuatan cinta. Jadi saya sedikit banyak mengerti bagaimana dilema yang dialami oleh Agnes Magnusdottir, perempuan paruh baya yang sedang menanti ajalnya, yaitu hukuman mati (penggal kepala)  atas tuduhan membunuh Natan Ketilsson, majikannya.

Kata mereka, aku harus mati. Kata mereka, aku mencuri nyawa orang jadi sekarang mereka harus mencuri nyawaku. – Prolog

Sepanjang cerita kita akan disuguhkan dengan cerita masa lalu Agnes dan alasan-alasan mengenai tuduhannya. Benarkah Agnes membunuh Natan? Kalau ya, apa alasannya? Saya rasa hal ini yang mengikat pembaca.

Awal kisah dibuka dengan surat perintah untuk Jon, seorang aparat daerah, yang diminta menampung Agnes, seorang tahanan yang akan dihukum pancung sebentar lagi. Tidak ada penjara yang menampungnya sehingga Agnes diputuskan untuk tinggal sementara bersama keluarga Jon. Mendengar kabar itu, keluarga Jon (Margret – sang istri, dua anak perempuannya Steina dan Lauga) tentu saja kaget bukan main. Tak pernah terbayang dalam benak mereka akan tinggal satu atap dengan seorang pembunuh yang mungkin saja saat malam merambat datang, salah satu dari mereka bisa ikut terbunuh juga. Wew!

Tapi berhubung itu perintah pemerintah pusat, Jon tidak bisa berbuat apa-apa. Sekalipun telah dikirimkan petugas keamanan untuk berjaga-jaga di sekitar rumah, tetap saja Margret khawatir. Apalagi Jon sering dinas keluar kota.

Di rumah Margret, Agnes diperlakukan seperti pembantu. Yah, Agnes memang dasarnya pembantu jadi sambil menunggu kapan waktunya ia mati, tak ada salahnya ia ikut membantu pekerjaan rumah. Margret memperlakukannya dengan baik dan sewajarnya.

Selama penantian hukuman mati buat Agnes, keluarga Margret lama-lama tersentuh dan menyadari bahwa Agnes tidak sejahat yang mereka kira. Agnes sama sekali tidak jahat. Mungkin pandangannya dingin dan tajam. Mungkin sikapnya aneh atau apalah. Tapi itu semata-mata karena ia menyimpan beban hidup yang tidak mudah dan tak pernah ia bagi kepada siapapun. Bahkan, Agnes sangat membantu kehidupan mereka.

Rupanya sejak dulu sudah kelihatan bagaimana pedasnya mulut tetangga-tetangga yang suka mencampuri urusan orang lain. Tergambar dari sikap Rosalin yang berbicara hal tidak benar tentang kehidupan Agnes.

Cerita ini berlatar belakang daerah Islandia, yang mana seingat saya, ini buku pertama tentang Islandia yang saya baca. Ya, saya akhirnya jalan-jalan ke Islandia. Kaya betul kan saya? Dengan setting tahun 1800-an, saya kira penulis cukup mampu membuat saya mengimajinasikan bagaimana kondisi Islandia kala itu. Dengan rinci dijelaskan bagaimana kontur alamnya, bentuk rumahnya, pakaiannya, keadaan ladang-ladangnya, cuacanya, pemerintahannya, dan sebagainya. Bagus sekali.

Selain menjelaskan hal-hal teknis seputar Islandia, antara lain deskripsi kota Kornsa, Illugastadir, dan Hvammur, saya akui Hannah Kent sangat piawai memerinci bagaimana perasaan Agnes sehingga secara tidak sadar saya sudah sangat merasa kasihan dengan Agnes. Saya seperti merasakan penderitaan yang Agnes alami. Sangat sedih dan muram. Mengingatkan saya dengan Tsukuru Tazaki-nya Haruki Murakami. Suram sekali hidupnya. Tapi di satu sisi saya juga gemas kenapa Agnes tidak mencoba menjelaskan di pengadilan bahwa tuduhan itu tidak benar. Agnes malah lebih suka cerita ke Pendeta Toti, padahal pendeta itu tugasnya untuk mempersiapkan rohani Agnes dalam rangka menghadap Tuhan.

Pendeta, apakah menurutmu aku berada di sini karena waktu masih kecil aku pernah bilang aku ingin mati? Sebab, dulu waktu mengatakannya aku bersungguh-sungguh. Aku mengucapkannya seperti mengucap doa. Kuharap aku mati saja. Apakah aku sendiri yang telah menentukan nasibku, waktu itu? – hal. 186

Dari sini kita juga tahu bahwa Agnes bukannya tidak percaya Tuhan. Ia hanya skeptis dengan orang-orang yang mengaku dirinya suci dan beragama namun sama sekali tidak menunjukkan perilaku yang manusiawi. Sebenarnya apa agama itu, dibahas tanpa menyudutkan pihak mana pun. Saya suka sekali.

Banyak quotes bagus yang bikin kepala saya jadi angguk-angguk tanda setuju dan sangat menancap di hati. Agaknya buku ini kurng tepat dimasukkan ke genre romance seperti yang tertera di sampul belakang buku. Sebab lebih ke historical romance sih. Bukan romance yang biasanya menye-menye itu.

Lalu, ada dua sudut pandang yang digunakan yaitu sudut pandang narator dan dari Agnes sendiri. Dari buku ini saya juga jadi tahu bahwa jika anak perempuan, nama belakangnya akan ditambahkan -dottir, misalnya Agnes Magnusdottir, artinya Agnes si anak Magnus. Begitu juga dengan laki-laki akan ditambahkan -sson, misalnya Thorvardur Jonsson, artinya Thorvardur si anak Jon. Informasi-informasi seperti ini yang saya suka. Selain itu juga penggunaan huruf di Islandia sedikit tidak umum. Tak bisa saya tulis di sini sebab keyboard saya tak capable. Semua penjelasannya terdapat di halaman awal. Ada juga peta Islandia sebagai gambaran letak daerah. Di halaman belakang kelak pembaca bisa tahu bahwa cerita ini adalah cerita fiksi yang disarikan dari kisah nyata seorang Agnes Magnusdottir sebagai orang terakhir yang dihukum pancung di Islandia. Salut sekali dengan riset yang dilakukan penulis! Alurnya campuran antara maju dan mundur, cukup cepat di awal sehingga saya gak mengantuk namun agak membosankan menjelang akhir.

Penulis menceritakan hal-hal yang tidak bisa saya dapatkan dengan mudah dan itu seperti memberikan nafas segar buat saya saat membacanya.

Sebenarnya masih banyak hal yang ingin saya tuliskan tentang buku ini. Misalnya tentang pelecehan seksual yang dilakukan seorang majikan terhadap pembantunya, kecemburuan karena cinta, dan pembalasan dendam akibat kemarahan yang meluap. Selain itu kita juga akan mengetahui penerimaan Agnes tentang cibiran orang-orang di sekitarnya dan betapa ia menerima itu semua tanpa perlawanan bukan karena ia tak mampu melainkan karena ia berpikir opini mereka tidak penting. Tapi rasanya akan jadi sangat panjang kalau saya ceritakan semuanya. Hahahaha, so lebih baik baca sendiri ya bukunya.

***

SECRET SANTA

Dear, my Santa.

Actually, I haven’t discovered yet who are you based on your riddle. But I got the information about the circle. You must be know about it, right.

It’s not easy for me at all. Your riddle were lead me to nothing. I had no idea about it. Please don’t get me wrong, I have tried my best to resolve but it ends up with failure.

Capek ah ngomong bahasa Inggris. Puhahaha!

Yah, intinya saya gak bisa nebak siapa santa saya. Susah amat sih abisnya hahahaha… cluenya sedikit amat, sih, Santa. Hiks…

Awalnya saya tebak Mbak Ika Kartika. Tapi kayaknya bukan. Iya, saya nyerah nih, Santa. Please, tell me now who you are.

Anyway thanks for the books. I really like it.

Cheers,

Selvi

***

PS Miss PHP bukan sih santa saya? *oops